<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417</id><updated>2011-08-29T06:42:53.853-07:00</updated><title type='text'>Cahaya Spiritual</title><subtitle type='html'>Menjala Cahaya Hati Lewat Kata</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>111</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6246782457599679124</id><published>2011-05-09T22:44:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T22:47:16.515-07:00</updated><title type='text'>SEKULARISASI GAYA BARU</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kita mengambil tajuk mengenai sekuler. Apa sih sekuler itu? Kemudian apa berbedaan titik aksentuasi dengan pluralisme yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di kancah aktivis nasional?  Pluralisme menekankan akan keragaman budaya, bahkan keragaman agama yang dibingkai dalam kesamaan, sehingga timbul kesan bahwa seluruh agama sama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Adapun sekular memaknai agama dan dunia sebagai domain yang berbeda, sehingga agama tak berhak mengintervensi dimensi dunia. Agama hanya bergerak dalam lingkup ritual-seremonial, tidak boleh memasuki ruang aktivitas sosial. Karenanya, agama terkesan terisolasi dari kehidupan masyarakat, dan hanya bisa digalakkan di masjid dan mushalla. Penyempitan peran agama, membikin agama sebagai channel penebar rahmat tidak bisa mengejawantah secara optimal.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Penulis sendiri pernah membaca secuil ulasan tentang sekularisasi yang pernah dipopulerkan oleh Nurcholish Madjid di tahun 70-an, yang kemudian memunculkan konsep praksis, “Agama Yes, Partai Islam No.” Partai dipersepsi bukan bagian dari agama, tetapi diletakkan sebagai entitas di luar domain agama. Demikian gambaran ide praksis Nurcholish Madjid yang menggemparkan jagat keagamaan  di Indonesia, dan memancing perdebatan yang sengit dari aktivis muslim saat itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kini, kendati sekularisasi gaya Nurcholish Madjid masih diteruskan oleh generasi muda yang nyentrik, Ulil Abshar Abdallah, tetap sebagai hidangan lama, yang hanya berubah bungkus saja. Tanpa kita sadari, kita sedang disuguhi gaya sekularisme baru yang dibidani kelompok ekstrim kanan, yang menjuluki dirinya sebagai penegak agama secara murni dan konsekuen, dan gampang melontarkan cercaan bid’ah pada golongan yang lain, bahkan tak segan-segan mengklaim orang lain sesat, dan masuk neraka. Seakan lisensi  dan paspor menuju “negeri surga dan neraka” ada di tangan mereka. Mereka memandang dirinya sebagai ahlun nur (ahli cahaya), sehingga merasa terjamin masuk surga, dan yang lain sebagai ahlun naar (ahli neraka), karenanya dipandang layak memasuki neraka. Apakah mereka memang the owner kingdom of heaven and hell (pemilik sah kerajaan surga dan neraka)? Saya tidak mengerti, yang saya pahami surga dan neraka adalah milik Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kelompok ini dengan gampangnya—tanpa merasa bersalah—menganggap amal saudaranya berbau bid’ah, dan diklaim amal itu menyeret orang ke neraka. Pembacaan Qasidah maulid—saluran mengekspresikan cinta pada Rasulullah Saw—dianggap bid’ah, zikir bersama disebut bid’ah, bahkan kalau ada orang shalat tidak mengikuti gerakan seperti yang direkomendasikan mereka, dicap bid’ah. Gamblangnya, seluruh kebudayaan yang diramu dengan nilai-nilai agama oleh para ulama’ salaf terdahulu tiba-tiba dilabeli bid’ah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mantra bid’ah yang dilemparkan tersebut cukup membuat kebudayaan yang diwarnai nilai-nilai agama mengalami kemandekan. Bayangkan, kelompok remaja yang terbiasa membaca Diba’ saban malam jum’at perlahan tergerus dan punah. Malam Jum’at tak lagi menjadi tempo yang dimuliakan dan memancing kegembiraan, bahkan diidentikkan dengan pocong dan hantu sebagaimana ditayangkan oleh televisi. Jadinya, malam jumat dikesankan bukan malam yang menyajikan kegembiraan, malah sebagai malam yang menakutkan dan menyeramkan. Bahkan, tak jarang kalangan remaja muslim, mengalihkan hiburan dengan menjajal malam minggu. Pacaran pun marak menjadi budaya baru yang memasuki ceruk kehidupan kaum muda muslim. Tak sedikit kaum muda muslim yang terseret ke dalam perzinahan, dan menganggap lumrah adanya free-sex. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kita tak bisa mengulas fenomena aneh ini, bagaimana mungkin sebuah sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Ormas Islam menghelat pertunjukkan musik Rock and Roll. Di sisi lain, mereka membid’ahkan kegiatan keagamaan yang dikemas sebagai hiburan yang memiliki muatan dakwah, seperti group hadrah, group shalawat, namun melegalkan kegiatan musik yang sama sekali tidak bermuatan nilai agama, bahkan mendekonstruksi nilai-nilai agama. Sebuah fenomena aneh yang tak bisa dilogikakan. Orang awam pun mungkin ikut mengerutkan dahi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kelompok pemilik mantra bid’ah ini telah melakukan dekonstruksi terhadap bangunan budaya keagamaan di Nusantara, tetapi tidak bisa menyajikan alternatif yang tepat. Karenanya, agama kian jumud tidak bisa merembes ke seluruh rongga-rongga kehidupan masyarakat, bahkan agama dikesankan sebagai musuh peradaban (vis a vis civilization). Padahal, dari rahim agama peradaban yang humanis dan luhur bisa dilahirkan. Karena domain agama kian dipersempit, tak ayal gerak kebaikan pun semakin menyempit. Fenomena inilah yang kita sebut sebagai sekularisasi gaya baru yang didukung oleh orang-orang yang sering mengemukakan kata-kata menawan, “kembali pada al-Qur’an dan hadist.” Sehingga dia mengalami keterputusan dengan sejarah dan guru-guru terdahulu yang tak sedikit telah mencapai waliyullah. Bagaimana mungkin mereka mengapresiasi pandangan waliyullah, wong  mereka sendiri tidak mengakui adanya waliyullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Agama diturunkan ke dunia untuk mengekspansi kebaikan, sebagaimana Rasululah Saw diutus untuk menebar rahmat ke seluruh alam. Ketahuilah, induk sunnah adalah menebar kebaikan. Kalau orang telah menyempitkan bahkan turut membuntukan kebaikan, berarti telah memblokade sunnah atau jejak Rasulullah Saw.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-style: italic;"&gt;Tulisan ini bukan untuk mengundang kontroversi, hanya hendak menuangkan kegelisahan yang dirasakan penulis tentang cahaya agama yang kian redup, dan agama kini dijadikan sebagai monster yang menakutkan. Marilah kita pulihkan kepercayaan masyarakat tentang keluhuran dan keagungan Islam dan umat Islam.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6246782457599679124?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6246782457599679124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/05/sekularisasi-gaya-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6246782457599679124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6246782457599679124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/05/sekularisasi-gaya-baru.html' title='SEKULARISASI GAYA BARU'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6287129838699893593</id><published>2011-05-09T22:32:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T22:38:03.330-07:00</updated><title type='text'>PIRAMIDA CINTA (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Mutiara agama mengkristalisasi dalam iman. Tanpa iman yang menghunjam, berarti agama esensi tidak tumbuh dari lubuk hati manusia. Iman sendiri mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu, dan pertumbuhan biji iman tersebut berperan memperluas medan kebahagiaan manusia. Iman disini tidak sebatas percaya, tetapi terkait dengan kekuatan cinta. “…Orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Andaikan iman hanya percaya, maka Iblis amatlah percaya akan adanya Allah SWT, karena ia pernah beraudiensi dengan Allah. Namun, ia membangkang terhadap perintah Allah untuk sujud pada Nabi Adam AS, pada akhirnya ia harus keluar dari surga. Lantaran Iblis keluar dari surga (cinta), ia selalu berada dalam penderitaan, bahkan selalu berbagi penderitaan dengan manusia yang jauh dari Allah SWT. Orang yang terkurung dalam kebencian—alias terpental dari medan cinta—akan selalu terjerat dalam penderitaan tak berujung. Agama dihadirkan ke muka bumi ini untuk bisa mengungkit, menumbuhkan, dan merawat potensi cinta yang terpendam dalam diri manusia tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Keagungan manusia berbanding lurus dengan keluasan medan cintanya. Dalam kanvas sejarah peradaban dunia, kita tidak pernah menemukan orang-orang agung yang membaktikan cinta hanya bagi diri dan keluarganya belaka. Mereka memiliki keluasan cinta yang menembus batas-batas etnis, bahkan negara. Orang yang telah berhasil menyorongkan cahaya cintanya pada komunitas lebih luas akan bisa mereguk kebahagiaan terus-menerus, bahkan mendapatkan keagungan yang abadi di dunia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Waliyullah yang diturunkan ke Nusantara, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, berikut saudara-saudaranya yang lain—semoga mendapati maqam tertinggi di hadapan Allah SWT—sosok yang berhasil melebarkan sayap cintanya pada seluruh umat. Beliau diharu-biru kerisauan yang begitu mendalam melihat keadaan umat, sehingga beliau tak pernah berhenti dan jeda untuk mendakwahkan agama dengan kelembutan dan kesantunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pemimpin Nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti Pak Karno, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Muhammad Hatta menjadi sosok lekatan dan inspiratif hingga hari ini, lantaran mereka selalu memikirkan kebangkitan bangsa agar bisa mencapai kemerdekaan yang utuh. Saking besarnya perhatian terhadap bangsa ini, konon dikabarkan Pak Karno tidak sempat membangun rumah sendiri, hingga anak-anak beliau dibelikan rumah hunian oleh Umar Wirahadikusuma, Wakil Presiden pada era pemerintahan HM. Soeharto. Seluruh hidupnya dikorbankan untuk bangsa dan negara, hingga melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Adakah pemimpin negara saat ini yang menghiasi dirinya dengan karakter agung Pak Karno?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Keluasan medan cinta memengaruhi pada keluasan horizon kebahagiaan di hati manusia. Berbincang mengenai cinta manusia,  bisa diulas dalam bentuk piramida cinta, semakin ke atas semakin agung cinta yang disuguhkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pertama, cinta untuk diri sendiri. Sosok ini lebih mengenal aku adalah diri, dan diri adalah aku. Tak ayal, seluruh tindakan, sikap, dan keputusan-keputusannya harus menguntungkan bagi aku. Inilah potret pribadi yang tersekap dalam aku individu. Pribadi yang dianugerahi cinta jenis ini, serupa dengan ruang yang begitu sempit, dan tak mendapatkan radiasi cahaya matahari secercah pun. Ketahuilah, tanpa disadari orang tersebut tidak mencintai dirinya, karena yang menjadi acuannya hanyalah diri yang palsu, diri seperti yang diproyeksikan pikiran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Andaikan orang tersebut berkeluarga, maka perhatian dan kepeduliaan tak fokus pada keluarga, selalu memperhatikan kepentingan sendiri. Sehingga terkesan menjadi sosok yang tak bertanggung jawab pada keluarganya sendiri, pun tak terbebani secara moral untuk mendidik anak-anaknya. Ia telah dikuasai slogan yang bersinggasana di pikirannya, “gue gue, loe loe” “emang gue pikiran” “kalau tidak karena aku, dia tidak akan tertolong.” Kata, idiom, dan term yang diungkapkan lebih menjurus pada kepentingan dirinya sendiri. Andaikan dia berteman bahkan berkeluarga selalu dijejali pikiran untuk mengeksploitasi orang lain demi pemenuhan kepentingan dirinya. Kendati dia berkeluarga, tidak pernah memahami dan menghayati makna kita, dia lebih lekat dengan istilah aku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kedua, cinta untuk keluarga. Sosok ini lekat dengan slogan, aku adalah keluarga, keluarga adalah aku. Mungkin sehari-hari dia menghabiskan waktunya untuk bekerja, dari pagi hingga malam. Dia tidak mengenal acara kampung, undangan tetangga, bahkan tak menghayati makna silaturrahim. Ia baru tergerak bersilaturrahim kalau bisa memberikan keuntungan secara materi, yang ujung-ujungnya bisa menambahi nafkah keluarga. Andaikan ada perhelatan bersih kampung, mungkin dia memilih berekreasi untuk kebutuhan keluarga. Tragisnya, sosok yang keluarga sentris ini jarang bisa meradar dan memahami akan keberadaan tetangga kanan-kirinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang yang cintanya hanya untuk keluarga dibilang sebagai “wong somahan,” atau orang rumahan. Dia membangun rumah dengan gaya elegan, disertai ornament yang memukau, namun jarang sekali berbagi cinta dengan lingkungan sekitar. Karena itu, ia mendapati kebahagiaan manakala diantara keluarga itu memeroleh kenikmatan. Dia tak bisa merasakan kebahagiaan oleh karena kebahagiaan orang lain. Pun dia tidak pernah bisa menghayati kesedihan orang lain. Kendati demikian, orang ini sedikit mendapatkan cahaya, karena dia tidak benar-benar tersekap dalam tempurung keakuan. Ia sudah berlatih dan menghayati kita kendati dalam lingkup keluarga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketiga, cinta untuk karyawan dan orang yang berada dalam tanggungannya. Orang ini telah lekat dengan pemahaman tentang golongan, kelompok, group, atau jamaah. Ia telah mengalami keterbukaan diri dengan merasa mengemban tanggung jawab sosial kendati hanya dalam lingkup komunitas. Misalnya, seorang pengusaha berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi para karyawannya. Tak ingin karyawannya mengalami kesulitan ekonomi, karenanya dia berusaha mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi karyawannya itu. Bahakan, demi keberlanjutan gaji karyawan, dia berani menyisihkan kepentingan diri dan keluarganya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Adalah seorang pengusaha sablon, pernah mengalami sepi order, sehingga karyawannya juga tidak bekerja. Ia berpikir, kalau mereka tidak bekerja, maka gaji karyawan akan macet. Karena itu, pengusaha tersebut mencari order ke sebuah instansi, dan dia pun menemukan order, walau dalam perhitungan bisnis, dia tidak mendapatkan keuntungan secara pribadi. Demi karyawannya tetap bekerja dan bisa meraup gaji, maka dia mengambil order tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hanya saja pemahaman ini tidak bijaksana kalau dipergunakan oleh pemimpin agama। Andaikan ada pemimpin agama yang hanya memikirkan golongannya sendiri, maka dia belum benar-benar pemimpin otentik. Bagaimana mungkin agama yang turun sebagai rahmat Lil Alamin hanya bisa dirasakan di lingkup golongan tertentu. Adalah orang miskin memohon bantuan dana pada sebuah Yayasan Dana Sosial, kemudian ditanya oleh Yayasan itu tentang latar belakang orang miskin tersebut, setelah diketahui bahwa dia bukan dari golongannya,  tak ayal institusi urung berkenan menolong si miskin. Orang miskin yang datang itu beragama Islam dan Yayasan itu juga berlabel Islam, hanya karena berbeda aliran, bantuan pun urung diberikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pentranskripsi: Khalili Anwar&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6287129838699893593?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6287129838699893593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/05/piramida-cinta-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6287129838699893593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6287129838699893593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/05/piramida-cinta-1.html' title='PIRAMIDA CINTA (1)'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-8986349589292634082</id><published>2011-04-26T23:08:00.000-07:00</published><updated>2011-04-26T23:14:26.293-07:00</updated><title type='text'>TELAGA CINTA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kehidupan di bumi tak akan berlangsung tanpa tersedianya air. Hasil riset mengemukakan, 80% tubuh manusia terdiri dari air. Itu artinya, air tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, bahkan kehidupan bumi ini terus terjaga lantaran adanya air yang diturunkan Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Seperti diurai pada tulisan sebelumnya, air hanyalah metafor dari cinta. Jika bumi ini tidak dialiri spirit cinta, masihkah di bumi ada kehidupan. Tak bisa dibayangkan kalau Arsy berada di atas air. Singgasana Allah berada di atas air (cinta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;“dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya…” (QS. Hud [11]: 7)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Maka, kalau hati kita ingin dijadikan ‘arsy Allah, jadikanlah hati dipenuhi dengan cinta tanpa syarat dan tanpa batas.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bayangkan, bagaimana potret sebuah negara—sebagai   lingkup yang kecil—yang miskin dengan cinta, niscaya akan timbul kerusakan dan demoralisasi di berbagai lapisan masyarakat. Pejabat sudah saling curiga diantara pejabat, pengusaha juga mencurigai sesama pengusaha, di masyarakat juga merebak distrust terhadap pejabat publik. Ketercukupan materi tanpa disertai cinta, kehidupan berjejal dengan kebencian, karena seluruh masyarakat berorientasi individualisme. Dampaknya, gunung kebahagiaan negeri gampang tergerus. Bahkan boleh jadi akan menyeruak kekacauan sosial yang tak tertangguhkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kini, di sebuah negara yang hampir mengalami kerusakan di setiap struktur, dirasa perlu kebangkitan spirit cinta, agar masyarakat Indonesia bisa kembali mereguk kebahagiaan dari telaga cinta. Cinta dirintis oleh orang-orang yang telah dianugerahi cinta, yakni yang telah memeroleh kedekatan cinta pada Allah SWT, seperti ulama’. Ulama selaku hati (pusat kekuatan spiritual) umat dan bangsa dituntut rajin mengakses air cinta agar nantinya bisa mendonasikan kasih. Bukankah hanya hati yang telah tergenangi kasih yang bisa berbagi kasih dengan kehidupan? Serupa dengan orang yang punya uang yang bisa berbagi uang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketahuilah, keagungan pribadi manusia bertaut dengan keluasan medan cintanya. Jiwa yang telah digenangi spirit cinta, akan terbang tinggi, dan semakin jauh dari gravitasi duniawi. Manakala manusia terlalu cinta pada duniawi, berarti tidak akan terpantik rasa kasihnya pada kehidupan. Lenyapnya cinta duniawi dalam hatinya akan membawa orang terbang menuju istana-istana kebahagiaan dan kemuliaan. Keagungan jiwa manusia bergantung seberapa jauh dirinya dari gravitasi duniawi, tidak terikat dengan duniawi. Kehidupan duniawi telah berada dalam kekuasaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bangsa ini mengenal gelar-gelar agung yang disematkan pada tokoh-tokohnya, seperti Hamengku Buwono,  Paku Alam, Raden, Ngabai dan beberapa gelar lainnya. Hamengku Buwono berarti pemangku jagat. Inilah sosok yang bisa mengemong jagat, dan jiwanya telah dibasuh sehingga luntur dari kotoran keakuan. Paku Alam, salah satu gelar yang disematkan pada Kanjeng Sunan Giri, sosok yang diserahi sebagai tiang jagat. Beliau dihadirkan sebagai pemelihara agar kehidupan tetap berjalan secara seimbang. Raden berasal dari kata roh adi, atau jiwa yang besar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Siapapun yang merasa mendapatkan julukan Raden harusnya memiliki jiwa besar, dan hidup yang dijalani bukan untuk dirinya, tetapi dipersembahkan bagi kehidupan. Andaikan kita menemukan ada seorang bergelar Raden, namun hidupnya hanya dibaktikan bagi diri dan keluarganya, berikut menutup diri dengan lingkungan sosial, maka tanpa disadari gelar raden telah tercopot darinya. Pribadi yang telah bergelar Raden adalah sosok orang berjiwa besar, yang tak gampang menyerah dengan keadaan. Memiliki semangat membaja untuk menggapai cita-cita hidup yang mulia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang yang berjiwa besar serupa dengan rumah besar yang bisa memasukkan banyak orang. Kalau hanya kamar kecil, tentu saja hanya sedikit orang yang bisa masuk ke ruang tersebut. Andaikan dia membongkar kamar itu, kemudian disulap menjadi aula yang begitu besar, makin banyak orang yang bisa berhimpun di ruang itu. Seorang raden tidak hanya memiliki jiwa seluas aula pertemuan, tetapi memiliki jiwa seluas ruang yang mampu merengkuh seluruh kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Raden bisa juga disebut sebagai Adiatma, yakni jiwa yang besar. Kebesaran jiwa bukan terkait dengan prestasi-prestasi yang digapainya, tetapi seberapa luas medan cinta yang menghias hatinya, terlihat semakin luas medan kontribusinya bagi kehidupan. Ia pun gampang memaafkan orang, tidak pernah menyimpan kebencian apalagi dendam di dalam hati. Adiatma memancarkan kekuatan cinta pada bangsa, bahkan seluruh umat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Adapun yang lebih agung dari Adiatma adalah Mahatma, berarti jiwa yang agung. Boleh jadi, secara fisik dia bukanlah masuk orang gagah, tetapi cintanya meresap ke seluruh bangsa. Ia tidak ingin meletup kezaliman di medan kemanusiaan, sehingga tergerak untuk berjuang menghapus segala bentuk kejahatan di dunia dengan cara-cara kelembutan. Sosok ini tak sempat berpikir tentang dirinya, dia tetap menjalani hidup supersederhana, sembari dia memancarkan kasih tanpa batas pada kehidupan. Bahkan dia memilih menghadirkan cinta pada orang yang nyata-nyata menebar kezaliman. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dia meyakini menghapus penjajahan tidak harus dengan kekerasan, dengan kelembutan pun bisa menyingkirkan penjajahan, terlebih jiwa penjajah yang melekat di hati manusia. Serupa dengan cahaya yang melulu hadir untuk menerangi kehidupan, walhasil dengan sendirinya kegelapan menjadi sirna. Jiwa Mahatma lekat dengan waliyullah yang hatinya hanya digenangi kasih sayang tanpa batas pada kehidupan. Dia telah menjelma sebagai telaga-telaga kecil yang tersambung pada telaga besar, yakni telaga Sayyidina Muhammad Saw yang air cintanya merembes ke seluruh semesta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Peringkat yang lebih agung dari Mahatma adalah Wijayatma, jiwa successful, sosok yang telah berbalutkan cahaya kesempurnaan. Jiwa ini meliputi Nabi Muhammad Saw. Inilah telaga al-Kautsar yang kita kenal lewat hadist. Dimana kala mereguk telaga al-Kautsar ini, maka manusia tidak akan lagi dilanda kehausan. Telaga al-Kautsar semacam telaga cinta Rasulullah Muhammad Saw yang memenuhi jagat semesta, hanya manusia-manusia yang telah dihinakan yang gagal mereguk telaga cinta Sayyidina Muhammad Saw. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Diriwayatkan, telaga al-Kautsar tersambung dengan telaga Haudh yang ada di luar surga, dan digambarkan pula bahwa di pinggir telaga al-Kautsar tersedia cangkir-cangkir untuk menyauk air yang ada di telaga al-Kautsar. Ketahuilah, telaga Haudh juga bersumber dari telaga al-Kautsar, itulah telaga Nabi Muhammad Saw. Orang yang telah digenangi cinta, berarti dia telah tersambung dengan telaga cinta semesta, Dialah Nabi Muhammad Saw. Walau demikian, seluruh air itu akhirnya akan bermuara pada laut, itulah yang disebut dengan lautan ketunggalan (bahrul wahdah), Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Jika manusia telah meminum telaga Haudh, maka dia tak akan lagi tertimpa kehausan. Siapa yang bakal ditimpa penderitaan, jika hatinya hanya dipenuhi cinta dan kasih sayang. Bukankah cinta turut menghapus seluruh kegelisahan, kecemasan, dan kedukaan bagi setiap manusia? Yang terbit dari cinta hanya kebahagiaan tanpa batas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bagaimana kita bisa mereguk air telaga Haudh itu. Kita bisa mereguk telaga haudh (cinta) tersebut dengan cara menanggalkan keakuan, karena yang membendung kita untuk bisa mereguk cinta itu hanyalah keakuan. Demi bisa menjebol bendungan keakuan, maka air cinta itu akan mengalir deras ke dalam hati kita. Kian terkikis keakuan, semakin banyak cinta yang mengalir ke hati kita, pun semakin banyak kasih sayang yang bisa kita donasikan pada sesama dan kehidupan. Ketahuilah telaga Haudh itu berada dalam diri kita sendiri, di saat kita telah digenangi air cinta. Dan kalau kita telah digenangi cinta, maka kita bisa mengalirkan cinta pada hati yang lain, berikut menginspirasi orang untuk bisa menemukan telaga cinta di dalam dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kini tugas kita, menjebol keakuan, agar kita tersambung dengan telaga cinta Nabi Muhammad Saw, sehingga kita bisa menjadi telaga-telaga kecil yang turut merembeskan cinta kemana-mana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pentranskripsi: Khalili Anwar&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-8986349589292634082?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/8986349589292634082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/telaga-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8986349589292634082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8986349589292634082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/telaga-cinta.html' title='TELAGA CINTA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7168096806728740681</id><published>2011-04-26T23:01:00.000-07:00</published><updated>2011-04-26T23:04:48.041-07:00</updated><title type='text'>IZINKAN KELEMBUTAN BERBICARA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Kini, kita berada di medan kehidupan yang begitu gersang dan tandus, ditandai semakin tergerusnya spirit kasih sayang di tubuh bangsa ini. Kebanyakan orang didorong gairah pemenuhan kepentingannya sendiri-sendiri. Kehidupan nafsi-nafsi telah merebak di seluruh sendi-sendi sosial. Mungkinkah ini pertanda kiamat akan segera menyapa kita? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Kita temukan di berbagai dimensi kehidupan diranggasi kegersangan jiwa, diliputi permusuhan tak berkesudahan, informasi yang ditebar media minus pesan-pesan empatik yang menyejukkan hati. Kita lebih sering mendapatkan asupan “informasi api” yang membakar, ketimbang air yang menyejukkan. Apakah ini menandai semakin membatunya hati manusia, padahal batu yang dipukul oleh Nabi Musa AS saja bisa memancarkan air yang menyegarkan tenggorokan? Apakah dari hati manusia tak lagi berpeluang dihadirkan air yang menyejukkan ruhani, membuat jiwa bisa bertumbuh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Bisa dijelajah bagaimana kondisi kemanusiaan saat ini. Ditilik dari ekonomi, kita hanya mendapati suguhan konglomerasi yang kian menuhankan ekonomi. Tak jarang, kelompok berekonomi kuat dengan mudah mengganyang kelompok berekonomi lemah. Politik pun dipenuhi dengan fitnah tak berkesudahan. Kawan seperjuangan bisa menjerat teman sendiri. Sungguh, kekuasaan telah melumpuhkan kemanusiaan, yang berbicara setiap saat hanya uang dan kekuasaan. Bahkan, tak bisa dibayangkan agama juga ditampilkan dengan wajah yang keras, menakutkan, seperti monster yang siap mencabik-cabik manusia yang berlaku jahat. Ringkasnya, seluruh sisi kehidupan telah diliputi kegelapan yang kian pekat. Kalau demikian, dari mana cahaya kasih itu bisa kita peroleh? Bagaimana kita bisa menumbuhkan hati yang tandus dari kasih sayang? Apa yang membuat hati tandus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Benih cahaya kasih telah disediakan dalam diri manusia, hanya karena tertindih pengaruh eksternal yang lebih besar, walhasil benih kasih ini tidak tumbuh dengan baik. Malah, yang tumbuh adalah benih-benih keras yang memandu manusia menuju ketidakbahagiaan. Watak keras muncul dikarenakan manusia merespons keadaan dengan cara sporadis agar bisa berubah secepatnya. Padahal, menegakkan agama memerlukan kesabaran dan kekuatan hati. Orang kuat bukan orang yang gampang mendaratkan pukulan pada pelaku yang berbuat ingkar, tetapi orang yang mampu menahan diri untuk tidak mendaratkan pukulan, malah dia mencurahkan kasih sayang tanpa tepi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber cahaya kasih tersedia dalam diri manusia. Makin sering kita menggali kedalaman diri, maka akan ditemukan cahaya kasih dalam diri kita. Tidak terpantiknya spirit kasih dalam diri lantaran kita lebih sering fokus pada sisi eksternal. Kalau cahaya kasih itu bersumber di dalam diri kita, bagaimana cara menguak the power luar biasa itu? Pertama, mengontrol pikiran. Demi merealisasi cahaya kasih dalam diri adalah dengan mengontrol pikiran, bukankah pikiran ini yang menjebak manusia dalam jalinan dualitas yang tak berujung. Jika Anda berhasil melampaui pikiran, artinya tak lagi dikuasai pikiran, insya Allah Anda bisa menguak potensi cahaya kasih dalam diri Anda. Pelampauan Anda terhadap pikiran akan membuahkan damai yang kemudian mengkristalisasi sebagai kasih dalam diri Anda. Ketika kau melampaui pikiran, akan Anda temukan hidup yang hampa kepentingan diri, hati tak lagi dikotori kepentingan individu. Bukankah kepentingan individu inilah yang menjebak manusia ke lembah kesengsaraan? Manakala manusia telah berhasil menyisihkan kekuatan individualism yang mematahkan jaringan-jaringan kasih dalam dirinya, disana akan tumbuh cinta yang membawanya terbang menuju cahaya kebahagiaan tak bertepi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bertindak mengikuti hati nurani. Tindakan berdasarkan hati nurani insya Allah akan selalu menunjukkan manusia ke istana kebahagiaan. Sekali Anda mengikuti suara nurani, kau bakal dicurahi ketenangan dan kedamaian di dalam jiwamu, karena kau berhasil mengalami simfoni atau keserasian ke dalam. Hati nurani seperti cahaya, kalau kau menyalakan setitik cahaya, perlahan-lahan cahaya itu kian membesar, menerangi medan sekitarnya. Cahaya itu menjadi petunjuk yang akan mengantarkan Anda melewati cahaya yang lebih agung, yang pada akhirnya akan sampai pada Cahaya Di Atas Cahaya, selaku sumber dari seluruh cahaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Pengikut cahaya akan diperjumpakan dengan cahaya. Dan cahaya itu sejatinya selalu menyala dalam diri manusia, namun kadangkala manusia tidak terlalu tertarik dengan cahaya itu. Dia lebih tertarik dengan petunjuk kegelapan yang menjanjikan kesenangan sementara. Adapun jalan cahaya harus melampaui proses pendakian yang begitu panjang, seperti halnya Nabi Musa AS yang berjalan menuju cahaya yang ada di bukit Tursina. Pada mulanya, cahaya itu terlihat kecil, tetapi setelah didekati cahaya itu kian membesar, semakin dekat dia tertelan oleh cahaya itu, dan akhirnya dia tersungkur di depan cahaya itu. Berlatih setiap hari, Anda mengikuti petunjuk cahaya yang ada di dalam dirimu, berupa hati nurani, agar engkau perlahan-lahan bisa bertemu dengan sumber cahaya itu.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menerangi hati dengan zikirullah. Zikir berfungsi sebagai penerang bagi medan hati yang dikuasai kegelapan. Pun bisa melembutkan hati yang kesat membatu. Zikir yang dimaksud tidak sembarang zikir, tetapi zikir yang diwariskan dari seorang guru yang memiliki pertalian keilmuan hingga Sayyidina Muhammad SAW. Kekuatan zikir telah merubah Sayyidina Umar bin Khattab ra yang berperangai keras dan temperamental menjadi sosok yang lembut dan lekas menangis. Zikir amat ampuh untuk melunakkan hati yang keras, selain telah mendapakan ijazah dari guru yang memiliki pertalian rahasia zikir hingga Sayyidina Muhammad Saw, juga dijalani secara istiqamah. Ketekunan atau istiqamah berzikir menjadi jembatan untuk mengukir hati yang lembut, berikut membentuk perangai dan perilaku yang memesona.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bagi pemula, diawali dengan menekuni zikir pagi-petang. Zikir pagi petang akan menghapus seluruh kegelapan hati, diganti dengan cahaya damai. Zikir pagi-petang yang ditekuni dengan serius begitu ampuh menghilangkan pelbagai bentuk kotoran yang melekat di hati, berupa kedengkian, riya’, dan sombong. Ingatlah, sesungguhnya kegelapan yang berarak di dalam hati adalah berupa sifat dengki, riya’, sombong. Tiga tentara kegelapan itu bisa dimusnahkan dengan kekuatan zikir yang istiqamah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tiga cara yang disodorkan, berupa mengontrol pikiran, mengikuti hati nurani, dan menekuni zikir pagi petang, bisa menjadi suluh cahaya yang segera menerangi mata batin kita, dan akan membentuk perangai, perkataan, dan perbuatan melulu diliputi kelembutan. Insya Allah.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7168096806728740681?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7168096806728740681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/izinkan-kelembutan-berbicara_26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7168096806728740681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7168096806728740681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/izinkan-kelembutan-berbicara_26.html' title='IZINKAN KELEMBUTAN BERBICARA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7608876906774996762</id><published>2011-04-19T22:28:00.000-07:00</published><updated>2011-04-19T22:29:49.759-07:00</updated><title type='text'>KATA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Berkata terasa mudah. Menurut orang bijaksana, “belajar berkata lebih mudah ketimbang belajar mendengarkan.” Siapa yang sering berkata, semakin banyak ihwal dirinya yang terbabar pada orang lain, sementara orang yang tekun mendengarkan semakin kaya pemahamannya tentang orang lain, berikut kian mendalam kepekaannya pada sesama. Yang diucapkan dan didengarkan sama-sama kata, tetapi setiap kata mencerminkan keadaan hati. Bahkan semakin banyak orang berkata, semakin banyak kesalahan yang terlontar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sayyidina Ali Kw berdawuh, “kalau kau hendak menakar nilai seseorang, bisa dilihat dari kata-kata yang dilontarkan.” Dengan kata, popularitas dan kemuliaan seseorang menjulang tinggi, dengan kata pula kehinaan dan kenistaan gampang menindih seseorang. Makanya, kita harus berhati-hati dalam berkata. Dan kata yang sulit dikelola adalah kata-kata yang terucapkan lewat lisan. Kalau kata yang dituliskan, mungkin masih bisa dikelola, karena masih bisa memasuki tahap editing penulisnya. Tapi, apakah engkau bisa meng-edit ulang kata-kata yang sudah terlontar, dan kadung sudah terdengar telinga orang lain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kata-kata seakan sebuah ejaan yang sederhana, tetapi mengandung muatan yang bernilai tinggi, tetapi juga menghimpun kehinaan yang begitu rendah. Bermula dari kata-kata, dua remaja bisa menjalin hubungan kasih. Keduanya bermain dan saling berbalas prosa dan kata-kata sastra, pun bermula dari kata kedua remaja itu putus cinta, bahkan mengalami broken home. Kata cinta yang terucapkan lewat lisan mengundang cinta bagi sesama, tetapi kata-kata kebencian akan membuahkan permusuhan. Betapa anggunnya orang yang selalu berusaha menularkan kata-kata cinta yang meneguhkan jiwa, menyalakan optimisme, dan membuka gerbang kesadaran setiap manusia. Kata memberikan efek yang besar, Ir. Soekarno bersama kawan-kawannya mendulang kemerdekaan Indonesia lewat kekuatan kata-kata yang menggugah spirit kebangsaan pada jiwa bangsa Indonesia, berikut membikin penjajah gentar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Di medan keagamaan, kata-kata juga sangat dihargai. Hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat orang telah ditahbiskan sebagai muslim, dan kalau dia mengingkari kedua kalimat syahadat langsung dicap sebagai syirik, bahkan kafir. Sepasang lelaki-perempuan yang haram berhubungan merubah menjadi halal karena diikat dengan kata-kata yang tersimpul dalam akad nikah. Pun demikian, sepasang suami-istri menjadi haram berhubungan karena diputus oleh kata pula, yakni kata cerai. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sepatutnya kita berhati-hati melontarkan perkataan, karena bisa berpengaruh pada nasib kita sendiri. Sepadan dengan sabda Nabi Muhammad Saw, “Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik, atau diam.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Rasulullah Muhammad Saw adalah sosok terdepan di kalangan orang alim di bumi ini, beliau menyabdakan hal itu dilatari pemahaman yang mendalam soal kekuatan kata. Kata yang dilontarkan tak bisa ditarik lagi, serupa dengan menjilat kembali ludah yang kadung menyemburat ke wajah orang lain. Bagi orang dewasa, kata-kata bengis dan sarkastis lebih menyakitkan ketimbang pukulan tangan. Kalau pukulan tangan mungkin hanya sekadar menyakiti tubuh, tetapi kata-kata bengis bisa menyakiti pusat kesadaran manusia yang bernama hati. Sementara orang yang menyakiti hati manusia, tanpa disadari telah merobek-robek rumah Allah yang bertempat pada diri hamba-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kita tak hanya belajar agar terampil berbicara, tetapi juga terampil mengendalikan setiap pembicaraan. Harapannya, setiap kata yang terlontar bak mutiara yang menyuguhkan kebahagiaan di hati setiap manusia, atau seperti embun pagi, kendati sedikit tetapi membuat seluruh tubuh menjadi sejuk. Kecerdasan seorang bukan diukur dengan panjangnya kata-kata yang diungkapkan, tetapi seberapa menggugah dan merubah kata-kata yang dilontarkan. Betapa indahnya, orang yang dialiri perkataan yang penuh kharisma dan menginspirasi orang menuju kedekatan pada Allah SWT. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Walau demikian, kau jangan terlalu berharap banyak pada kata yang dirakit lewat tulisan ini, karena belum tentu kebaikan berhimpun di dalamnya. Kau tetap memahami kebaikan kata lewat suara hatimu yang murni. Semoga kita diselamatkan dari perkataan yang menerkam kita sendiri. Insya Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7608876906774996762?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7608876906774996762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/kata_19.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7608876906774996762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7608876906774996762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/kata_19.html' title='KATA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-5884848315922819063</id><published>2011-04-03T22:31:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T22:34:24.062-07:00</updated><title type='text'>BOLEHKAH PUTUS ASA?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Seorang adik yang belum lulus kuliah berkunjung ke kos-kosan, sembari meminta nasihat ringan dari hamba yang bodoh ini. Dia terbilang remaja yang bisa dibanggakan, karena dengan keberanian tinggi melanjutkan studi ke kota, tanpa meminta dana dari orang tuanya. Kini, dia semester akhir—setiap semester akhir mengandung rahasia, biasanya tinggal skripsi—di sebuah kampus yang pernah mendidik hamba. Dia sedang berpikir keras bagaimana bisa menyelesaikan kuliahnya untuk mempersembahkan suatu yang turut membanggakan orang tuanya. Hanya saja dia terhambat masalah finansial, sehingga dia memutuskan untuk mengambil cuti kuliah dalam waktu yang belum ditentukan. Karena memandang finansial sebagai kendala, dia menjelajah perusahaan yang mungkin menyediakan lowongan, siapa tahu ada yang mau menerimanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dia meminta tolong hamba untuk mencarikan lowongan kerja. Ada sebagian teman yang hamba hubungi, mungkin memiliki daftar lowongan kerja. Maklum, hamba juga tidak pernah menginjakkan kaki di dunia kerja. Kecuali kalau ke sawah, hamba sudah berpengalaman menginjak-injakkan kaki hingga berjamur. Dalam proses mencari lowongan, dia bercerita ringan pada hamba. Dulu, pada saat masih aktif di organisasi mahasiswa—tepatnya HMI—dia menggapai karir yang melambung tinggi, seakan bisa menjaga jangkar idealisme yang dibangun sejak remaja. Setelah lepas dari dunia organisasi kemahasiswaan, dia merasa disalip teman-teman sebayanya, terkait dengan pertumbuhan ekonomi. Kini, dia menyadari berada di dunia ril, karenanya harus berpikir ril. Dia merasa tak boleh lagi terpasung oleh idealisme. Memang, kebutuhan perut cenderung tidak mengenal idealisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Teman sebayanya bisa mengalami laju ekonomi yang cepat, lantaran disupport oleh seniornya yang pernah mendidiknya di organisasi dulu. Sementara dia masih terbilang stagnan, dan tak mendapatkan support oleh karena dia dikenal sebagai pribadi yang terlalu vocal, kritis, dan keras terhadap keputusan yang bersinggungan dengan spirit idealisme. Dia mengira, orang idealisme akan mati masa depannya, dan orang yang mampu menangkap realitas dengan jiwa oportunis akan bisa bertahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dia bercerita, ada salah satu temannya yang telah berhasil membuka gerai usaha Loundry tanpa modal pribadi sedikit pun. Murni support dana dari seniornya di HMI. Sekarang, bisnis temannya tersebut mengalami perkembangan yang begitu pesat. Demi melihat kenyataan itu, dia menyesal dengan sikap keras yang ditampilkan saat berorganisasi, andaikan tidak terlalu vocal dan kritis, dia berasumsi akan mendapatkan kesempatan yang sama seperti temannya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hamba terus mendengarkan dengan seksama setiap untaian kalimat yang disampaikan. Dia mengira, andai tidak bersikap kritis terhadap seniornya, akan mendapatkan nasib sama seperti yang diterima temannya. Kata “andaikan” sepertinya sudah tidak cocok lagi bagi orang yang hendak melaju cepat ke depan. Dengan kata “andaikan” inilah orang telah menyediakan dirinya dibajak oleh masa lalu. Masa lalu janganlah dijadikan tujuan, hanya tempat bercermin agar kita terus melangkah dengan jiwa besar menuju masa depan yang terang-benderang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hamba hanya menyampaikan, orang yang hidup berdasarkan nilai-nilai akan menemukan kemerdekaan dan pembebasan. Bukankah yang diharapkan manusia hanyalah kemerdekaan dan pembebasan? Bahkan manusia diciptakan oleh Allah untuk mengalami pembebasan. Pembebasan disini dalam konteks pembebasan ruhani dari belenggu-belenggu duniawi. Orang yang telah mengalami kemerdekaan ruhani akan terbang di cakrawala tanpa batas, dan selalu menyatu dengan pengalaman-pengalaman indah yang tak terlukiskan. Kalau Anda mendapatkan nasib buruk lantaran idealisme Anda, berarti Anda diperkuat agar tetap berada di jalan benderang. Kalau Anda mendapatkan nasib baik karena Anda telah mencopot idealisme Anda, berarti di depan Anda tersedia jebakan-jebakan yang membuat Anda akan tertimbun di dalamnya. Lebih dari itu, kata hamba, janganlah Anda menganggap nasibmu hari ini sebagai suatu yang permanen, buntet, minus perubahan. Stagnan. Anda tetap bertumbuh menuju pembuahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Manusia, serupa pohon, bertumbuh terus yang pada ujungnya berbuah. Manusia juga dilahirkan ke bumi agar bisa berbuah. Kalau manusia sudah berbuah, dia hanya berusaha berbagi pada kehidupan ini. Kalau Anda merespons keadaan hari ini dengan positif, sembari terus berusaha, perlahan-lahan Anda akan mengalami pertumbuhan berikut berbuah. Memang semuanya memerlukan latihan dan keteguhan hati. Orang yang keyakinannya goyah tidak akan mengalami pertumbuhan yang pesat. Pun, orang tidak bisa berbuah jika tidak terpandu tujuan yang jelas plus istiqamah. Serupa dengan pohon, ia akan mengalami pertumbuhan jika akarnya menghunjam ke tanah, dan menetap di medan tersebut. Kalau pohon itu dipindah ke tempat yang lain, justru akan mempersulit pertumbuhan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kita telah dianugerahi pengenalan akan talenta, potensi, dan keterampilan yang dikarunia Allah, tinggal apakah kita serius mengeksplorasi dan menekuni bakat inti tersebut atau tidak? Kalau Anda telah mendeteksi diri berbakat sebagai negosiator bisnis misalnya, maka Anda bisa melatih kemampuan tersebut secara serius. Anda menemukan bakat itu mengalami aktualisasi secara luar biasa, sehingga bisa menebar manfaat yang luas bagi kehidupan. Yang penting kita terus bertumbuh sejalan dengan bakat, potensi, dan karakter khas yang ada pada diri kita. Jika orang mengenali betapa melimpahnya anugerah Allah yang dikaruniakan pada dirinya, niscaya ia tidak akan disalak perasaan bimbang, apalagi pesimis dalam menjalani kehidupan ini. Hanya orang yang tertutup dari cahaya potensi dirinya yang selalu terjerat perasaan bimbang, pesimis, bahkan putus asa dalam mengarungi kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Putus asa bukan sikap orang muslim, hanya pantas dinisbatkan pada orang kafir. Orang kafir layak berputus asa oleh karena mereka tidak meyakini akan keperkasaan dan kekuasaan Allah Yang Maha Tak Terbatas. Sementara orang muslim dibalik kelemahan dan kekurangan dirinya, selalu menghadapkan hatinya pada belas kasih Allah Yang Maha Kuasa, walhasil ia merasa aman dalam menjalani kehidupan yang dikitari tantangan ini. Modal utama mengarungi kehidupan adalah keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Tak terbatas, niscaya Allah akan membimbing kita untuk menggali potensi cemerlang yang tersimpan dalam diri. Tanpa keyakinan, orang yang penuh potensi akan mengalami ketertutupan, sehingga tidak bisa mengerahkan secara optimal potensi tersebut. Ingatlah, Allah akan menganugerahkan prestasi pada kita sebanding dengan kualitas keyakinan kita pada-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang beriman benar-benar yakin akan kekuasaan Allah Yang tak terbatas, dan tak bisa dipatahkan oleh rekayasa manusia. Jika Allah hendak memberikan manfaat pada seseorang, maka seandainya seluruh makhluk berkumpul untuk menghambat datangnya manfaat tersebut, niscaya mereka tidak akan berhasil menghalangi-halanginya. Sebaliknya, andaikan Allah hendak memberikan mudharat, maka tak seorang pun mampu menangkalnya. Kekuasaan Allah tak bisa dihambat siapapun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setelah kita meresapi makna tauhid tersebut, harusnya kita putus asa dengan sesuatu selain Allah. Janganlah berharap pada selain-Nya. Tangan boleh bergerak menjalin kerjasama bisnis, kaki melangkah mencari nafkah, lisan boleh berbicara mempresentasikan pemikiran-pemikiran bernas, namun hati selalu bersama Allah. Tenangkan hati bersama Allah, sehingga seluruh gerak-gerik fisik kita terkontrol menuju keridhaan-Nya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Janganlah kita memiliki harapan sedikit pun pada makhluk, karena hati yang melekatkan harapan pada makhluk akan gampang merasa disakiti. Hanya orang yang berharap pada makhluk yang mudah tersentuh perasaan kecewa dan bahkan jengkel. Berarti, perasaan jengkel, benci, penuh keluhan lantaran hati manusia terlalu lengket pada sesama. Dalam konteks ini, putus asa diperbolehkan, yakni putus asa pada selain Allah. Putus asa berarti putus harapan pada makhluk, lantaran seluruh harapan kita dikerahkan pada Allah SWT. Kita belajar tidak mengharap apa yang ada di tangan makhluk, tetapi berharap sungguh-sungguh apa yang ada di tangan Allah. Suatu yang ada di tangan Allah lebih mulia dan luhur ketimbang yang di tangan makhluk. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang yang telah mencapai hakikat tauhid, tidak pernah menambatkan hatinya pada makhluk. Di hatinya dipenuhi kesadaran tentang Tuhan semata-mata. Ketahuilah, kala orang hanya berharap pada Allah, maka Dia akan membuktikan diri-Nya sebagai sebaik-baik harapan. Dan siapa yang berharap pada-Nya akan selalu berada dalam keberuntungan. Kalau kau menyumbat lubang harapan yang tertuju pada seluruh makhluk, pintu agung akan terbuka bagi Anda, yakni pintu Allah SWT. Mengibalah di pintu Allah Yang Maha Kasih dari Yang Pengasih. Mengemislah dalam perasaan fakir di pintu Allah, Anda akan mendapatkan berlimpah rahmat dari-Nya. Kalau Anda secara total menyerahkan urusan bahkan diri Anda pada Allah, maka Anda akan merasakan Allah sebagai penjamin Yang Amat Terpercaya (al-Mukmin). Jika Anda percaya pada Allah, maka Allah akan melulu memberikan keamanan dalam hati Anda. Dan orang yang percaya plus yakin pada Allah, dia akan selalu merasa disertai Allah dimana saja. Adakah kecemasan yang mengusik hati orang yang merasa disertai Yang Maha Kuasa, Maha Belas Kasih, Lagi Maha Luhur?     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-5884848315922819063?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/5884848315922819063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/bolehkah-putus-asa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5884848315922819063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5884848315922819063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/bolehkah-putus-asa.html' title='BOLEHKAH PUTUS ASA?'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-858104524779275098</id><published>2011-04-03T22:16:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T22:21:40.221-07:00</updated><title type='text'>INSPIRASI DARI LANGIT</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Langit identik dengan ketinggian. Ada slogan umum yang masih membekas, “gantungkan cita-citamu setinggi langit.”Orang yang memandang langit tanpa batas akan selalu terpancari perasaan optimis. Demi menatap langit, seakan seluruh kegelisahan, keresahan, dan kesusahan yang menyumbat hati ini terlepas dan terbang. Kita belajar optimisme dari ketinggian langit, dan warna langit tak berubah. Mungkin dipenuhi mendung hitam dan putih. Aneka warna itu tidak turut mempengaruhi keaslian langit. Langit tetap hadir dengan warna aslinya yang luas. Otentisitas langit tak pernah bisa dijarah oleh mendung yang menghampirinya. Hanya saja, penglihatan kita terhijab untuk memandangi kemurnian langit oleh karena kehadiran mendung itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Selain itu, langit sebagai simbol ruang tanpa batas. Mungkinkah orang mengukur batas langit? Ketakterbatasan langit bisa menampung sekian juta gemintang dan berbagai galaksi. Langit memendam kekayaan yang amat berharga, walau dia sendiri tidak pernah terikat dengan suatu yang menempel padanya. Dia tetap merasa nyaman dengan wajah aslinya berwarna biru. Dialah ruang yang zuhud tidak lekat dengan pernak-pernik, tetapi hiasan-hiasan indah menyelimuti langit, seperti gemintang, bahkan pancaran sinar matahari turut memantulkan warna memukau pada langit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Selain tinggi, ruang tak terbatas, langit melambangkan terang terus tanpa dihiasi kegelapan, dan langit tidak pernah bisa dipengaruhi keadaan di luar dirinya. Kegelapan hanya menghuni bumi, sementara langit hanya dihuni oleh terang cahaya. Terang cahaya telah menjadi kekayaan langit, karenanya bumi membutuhkan tentara “terang” berupa cahaya matahari, rembulan, dan gemintang yang notabena berasal dari langit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dari uraian sekilas tentang sifat-sifat langit tersebut, kita berusaha menginternalisasi jiwa langit ke medan kesadaran kita. Bukankah manusia sebangsa mikrokosmos yang menyimpan seluruh khazanah makrokosmos. Manusia harusnya bisa mengaktualisasikan jiwa semesta plus, agar bisa menanjak menuju maqam yang tinggi dan luhur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pertama, langit lambang ketinggian. Ketahuilah manusia berasal dari ketinggian (surga), kemudian diturunkan ke bumi agar mereka menekuni pendakian menuju ketinggian kembali. Jadi, manusia berasal dari bibit unggul tanpa kecuali, hanya saja apakah manusia bisa menumbuhkan bibit unggul dan luhur itu agar bisa kembali memasuki istana ketinggian, memasuki kembali kuil-kuil surga yang begitu indah. Orang yang menguak karakter “ketinggian” dalam dirinya, niscaya dia tidak terlalu melekat dengan materi duniawi. Kita mendapatkan kehidupan surgawi (di hati) setelah mampu melepaskan diri dari jeratan-jeratan duniawi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kalau ditelusuri dari cikal-bakal kejadian, seluruh manusia berasal dari ruh yang tinggi (ruhul ‘aliyyah) yang ditiupkan, yakni ruh Allah. Kalau kita bisa mengoptimalisasi ruh Ilahi yang tertiup ke dalam diri kita, insya Allah kita selalu dihiasi kebahagiaan setiap saat. Namun, jika kita memilih melekatkan hati dengan kehidupan duniawi yang serba semu ini, niscaya kita akan selalu menderita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dalam konteks ini, Anda perlu memahami perbedaan orang yang kaya, dan orang yang terikat hatinya dengan kekayaan. Perbedaan orang yang mencari dunia dengan orang yang terikat hatinya dengan kekayaan duniawi. Sehingga tidak menyangka orang yang kaya raya dipandang sebagai orang yang berorientasi harta duniawi, dan orang miskin tidak berorientasi duniawi. Orientasi itu melekat di hati dan terlahir dari cara pandang. Kendati orang kaya raya, namun hatinya tidak melekat dengan kehidupan duniawi, sejatinya dia sedang terbang menuju cakrawala. Sebaliknya, kendati orang dijerat kemiskinan, tetapi hatinya melekat dengan kehidupan duniawi, dia tetap landing di bumi, dan tidak akan pernah terbang menuju langit kesadaran yang tinggi. Jadi, kalau kau hendak terbang menuju langit ketinggian, maka lepaskan keterikatan hati pada kehidupan duniawi menuju kesadaran akan Ilahi. Berangkat dari kesadaran duniawi melintasi kesadaran akhirat, dan puncaknya menuju kesadaran Ilahi. Hati manusia yang dipantik kesadaran Ilahi selalu berada dalam kebahagiaan tanpa batas. Hanya orang yang telah terbang menuju kesadaran langit (ketinggian) yang bakal bersentuhan dan mengalami kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kedua, ruang tak terbatas. Ruang langit tak bisa disentuh dan diukur, tetapi dia bisa memasukkan seluruh hiasan di sisinya. Begitulah, lukisan dari rahmat Allah. Rahmat Allah itu tanpa batas, hanya saja kebanyakan manusia menangkap rahmat Allah seluas rumah yang berdiri di bumi. Andaikan manusia belajar pada ruang yang menghias bumi ini, kita sama-sama bisa mengambil pelajaran betapa tidak terbatasnya rahmat Allah. Kalau kita meyakini betapa luasnya rahmat Allah, maka stamina hidup kita tidak akan terkikis oleh sikap pesimisme. Manusia yang bergantung pada dirinya sendiri akan gampang disalak pesimisme bahkan frustasi. Namun, bagi orang yang bergantung sepenuhnya pada Allah, niscaya akan selalu terbang dalam cakrawala optimisme tanpa batas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pikiran perlambang bumi yang dijadikan alat untuk mengungkap khazanah yang ada di bumi. Karena pikiran manusia didesain terbatas, manusia sering membatasi keluasan rahmat Allah, walhasil kebahagiaan yang direguk juga terasa begitu terbatas. Tak jarang pula, kita menemukan manusia yang terpasung kehidupan diri yang amat sempit, seakan tak ada ruang yang tersedia baginya untuk mereguk udara kebahagiaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kalau kita terpasung oleh ukuran bumi, maka kita melihat bumi telah di-kavling oleh manusia. Seakan rahmat telah dibagi-bagi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan bagi orang yang tidak memiliki rumah, berarti dia tidak mendapati rahmat Allah. Peng-kavling-an bermula dari kesepakatan-kesepakatan yang terbentuk diantara manusia. Sehingga kita menemukan, ada orang yang memiliki rumah yang banyak, dinilai sebagai orang yang mendapatkan rahmat Allah yang banyak. Adapun gelandangan, pengemis, dan pengamen yang tidak memiliki hunian dinilai orang yang tidak mendapati rahmat Allah. Apakah berarti rahmat Allah hanya bisa dikeruk oleh orang kaya, dan orang miskin minus rahmat Allah. Rahmat Allah begitu luas—seluas langit dan seluas ruang—dan tanpa disadari kita selalu dipayungi rahmat Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Belajar dari langit, rahmat Allah itu tak terbatas. Kini, bergantung seberapa luas hati manusia menerima rahmat Allah. Jika hatinya telah dipersempit, rahmat Allah tidak bisa menghuni hati manusia. Kalau rahmat Allah tak terbatas, harusnya hati kita juga dibuat luas tak terbatas, agar rahmat Allah bisa dicakup hati kita. Bukankah Allah pernah berfirman dalam hadist Qudsi, “Aku tak bisa dicakup oleh bumi, Aku hanya bisa dicakup oleh hati hamba-Ku yang beriman.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Buatlah hati kita seluas langit, maka rahmat Allah akan mengalir dan menggenangi hati kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketiga, langit melambangkan terang terus dan terus terang. Siang-malam hanya dirasakan oleh penduduk bumi. Dan siangnya matahari membutuhkan tentara langit berupa matahari, ketika matahari tenggelam, malam merangkak meliputi bumi. Bergantinya malam bukan berarti matahari tidak lagi memancar, matahari tetap memancarkan sinarnya, hanya tertutup, sehingga bumi tidak mendapati pancaran matahari. Adapun di langit, manusia selalu berada dalam keadaan terang. Jika hatimu telah mendapati kesadaran (langit), maka kau tidak akan pernah diharu-biru oleh keadaan cuaca yang berada di sekitarmu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketahuilah, nikmat-musibah, sehat-sakit, untung-rugi, dipuji-dicaci serupa putaran siang-malam yang datang silih berganti. Kalau hati manusia masih terjebak dengan keadaan luar yang silih berganti ini, berarti masih lekat dengan kesadaran bumi. Dia selalu dipingpong oleh keadaan. Berbeda halnya, orang yang hatinya tak lagi melekat dengan kesadaran bumi (materi duniawi), dia selalu berada dalam keadaan damai. Dia menyadari, siang dan malam bukan suatu yang kekal, mengalami pergantian terus-menerus, dan berkunjung silih berganti. Mengapa kita terlalu risau dengan suatu yang tidak kekal?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Manakala kesadaran manusia telah dipendari karakter langit, maka dia tak lagi berjungkir balik dalam susah-senang. Ia telah berhasil melampaui keadaan dualitas, yang tersisa dan mengkristalisasi dalam hatinya hanya damai. Hati menjadi tenang karena selalu dipendari cahaya terang yang tak pernah redup. Bahkan hati telah menjadi pusat cahaya yang terus menerangi, sebagaimana dari langit cahaya mengalami terbit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Keempat, langit tidak berubah. Sejak diciptakan hingga sekarang, langit tetap berwarna biru. Kendati berkali-kali dihinggapi awan hitam, ia tidak ikut hitam. Dan andaikan dihinggapi awan putih, langit tak bisa dibekasi warna putih. Warna putih dan hitam hanya menyelimuti langit, tapi tidak akan pernah merubah warna langit yang cerah. Berarti, langit tak bisa disulap warnanya berubah lantaran dicat. Langit tak tersentuh perubahan warna. Dia selalu hadir dengan jiwanya yang otentik. Langit tetap cerah bagi dirinya, dan membuat cerah bagi orang yang memandangnya. Jika Anda bisa menginternalisasi jiwa langit, maka kau tidak akan pernah diperkuda oleh kenyataan dualitas yang hadir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketahuilah, pada sejatinya hati manusia itu berada dalam kondisi damai, yang membuat hati tidak damai, karena terpengaruh pada sisi eksternal, berupa dualitas yang disuguhi keadaan bumi. Namun, kalau manusia tak terikat dengan kondisi dualitas tersebut, maka yang tersisa hanya terang, dan itu berarti dia telah bersama dengan kemurnian dirinya yang tak pernah berubah. Ya, kemurnian yang tak pernah berubah seperti warna langit yang tak pernah berubah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Langit sebagai simbol dari kesadaran ruhani yang berpusat pada hati manusia. Karena itu, kita ciptakan hati yang bersih sebersih langit, tak tersentuh pengaruh di luar dirinya. Hati telah merengkuh kedamaian dan terang yang holistik. Hati yang mendapatkan maqam ketinggian, yakni tidak melekat dengan materi duniawi, luas, selalu terang, dan selalu tampil otentik sebagai kombinasi karakter yang mewakili sifat-sifat langit. Semoga Allah menghias hati kita dengan jiwa langit. Insya Allah.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-858104524779275098?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/858104524779275098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/inspirasi-dari-langit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/858104524779275098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/858104524779275098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/04/inspirasi-dari-langit.html' title='INSPIRASI DARI LANGIT'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-8970956247376505141</id><published>2011-03-29T23:01:00.000-07:00</published><updated>2011-03-29T23:03:51.443-07:00</updated><title type='text'>MANIFESTO PENYERAHAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Marilah berjalan dengan bertitik tolak pada firman Allah di atas, berikut memasuki tahap-tahap menuju Islam secara integral. Sudah barang tentu, Anda ingin memasuki rumah Islam tidak sebatas di halamannya, namun bisa menduduki jantung rumah itu hingga bisa mendulang substansi agama. Andaikan rumah, maka Darul Islam bisa disebut rumah penyerahan. Dari rumah penyerahan ini, didapati pilar-pilar penyerahan yang menginspirasi kita agar berserah diri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sekarang, kita akan mengupas pilar-pilar penyerahan yang tersimpul dalam 5 rukun Islam plus Jihad fi Sabilillah. Rukun Islam menginspirasi dan mengarahkan kita agar menggapai penyerahan diri secara total pada Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pertama, Syahadat. Syahadat manifestasi penyerahan hati pada Allah dan Rasulullah Muhammad Saw. Syahadat cermin peneguhan, Allah dan Rasulullah SAW berada di tataran prioritas yang paling dicintai dalam hidupnya. Walhasil, seruan Allah dan Rasul-Nya mengalahkan seruan lainnya. Ketetapan Allah dan Rasul-Nya sebagai preferensi utama setiap gerak-geriknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;“dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33]: 36).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mengapa dia mau menyerahkan hatinya, berarti rela melakukan baiat, pada Allah dan Rasul-Nya? Karena meyakini, kebenaran itu hanya bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Sehingga, ia mengikatkan diri pada Allah sebagai tujuan satu-satunya, berikut memposisikan Sayyidina Muhammad Saw sebagai model par excellent.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kedua, shalat. Shalat menjadi manifestasi penyerahan jasad. Bayangkan, orang melakukan shalat dengan seluruh badannya. Gerak shalat dari takbir hingga salam, turut menggerakkan seluruh badan. Itu berarti, badan berserah pada perintah Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketiga, puasa. Puasa menjadi manifestasi penyerahan kesenangan nafsu. Puasa tidak hanya melatihmu menghindar dari suatu yang haram dan makruh, bahkan menghindari, sebagai medan pengendalian diri, suatu yang mubah. Hawa nafsu menyukai makan-minum di siang hari, puasa mengendalikanmu agar tidak makan-minum di siang hari. Kala engkau terlatih meninggalkan perihal mubah yang berlebih-lebihan, insya Allah terpandu meninggalkan perbuatan yang haram. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Keempat, zakat. Zakat menjadi manifestasi penyerahan harta. Lewat zakat Anda dilatih melepaskan keterikatan terhadap harta duniawi. Bukankah harta akan ditinggalkan juga? Akan tetapi, jika jiwa zakat belum menelusup ke hatimu, berarti begitu banyak rantai penghambat kerelaanmu mengeluarkan harta. Padahal, kebahagiaan berbanding lurus dengan besarnya penyerahan (pelepasan).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kelima, Haji. Haji menjadi manifestasi penyerahan akal. Jika engkau analisis dari perspektif akal pikiran, tidak akan ditemukan kesimpulan logis dari rangkaian ibadah yang mewarnai haji. Bayangkan, jemaah haji diperintah mengenakan pakaian ihram. Kain putih tak berjahit. Pakaian nyentrik ini tidak mungkin suka Anda kenakan di rumah, pesta, apalagi untuk berbelanja ke plaza. Selanjutnya, diperintah memutari batu, berikut lari dari bukit ke bukit. Kemudian, wukuf, yang diisi dengan duduk saja. Sesampai di muzdalifah, diperintah mengumpulkan kerikil, untuk kemudian di Mina kerikil-kerikil itu dilemparkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Haji sering dijadikan bahan kritik oleh orientalis untuk menyudutkan Islam sebagai agama tidak rasional. Ketahuilah saudaraku, substansinya, haji mendidik manusia agar menyerahkan selubung akal pikiran yang membuatnya merasa eksis. Pakaian putih yang dikenakan jemaah haji melambangkan penyerahan diri. Makanya, kala orang menunaikan ibadah haji, harus menyerahkan akal pikiran pada kehendak Allah. Bukankah pilihan-pilihan bersumber dari akal pikiran? Dan pikiran yang berserah pada Allah berarti menyerahkan seluruh pilihannya pada pilihan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Keenam, Jihad Fi Sabilillah. Jihad menjadi manifestasi penyerahan puncak dari segala bentuk penyerahan. Menyerahkan seluruh akumulasi keterikatan yang kerap lengket pada manusia. Jika Anda masuk ke tataran jihad, seperti dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, berarti menyerahkan segala bentuk hal yang masih terikat pada diri Anda. Menyerahkan hati, jasad, harta, dan akal. Jihad menghimpun seluruh penyerahan, berpuncak pada menyerahkan penyerahan, atau mengorbankan pengorbanan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pilar-pilar penyerahan diri itu berdiri di atas seluruh rukun Islam. Kalau begitu, sejatinya rukun Islam mendidik dan melatih kita agar perlahan-lahan melepaskan keterikatan, atau menyerahkan apapun yang masih melekat pada diri kita. Pada ujungnya, melepaskan keterikatan pada diri sendiri menuju keterikatan secara total pada Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Keterikatan secara total pada Allah akan mengarahkan orang menuju samudera kedamaian yang hakiki. Artinya, telah menggapai penyerahan diri yang kaffah (total). Dia telah melenyapkan keterikatan pada siapapun, bahkan pada dirinya sendiri. Kecuali terus mengikatkan diri pada Allah. Bukankah Allah hanya menerima hamba-Nya yang bersih? Ya, bersih dari segala bentuk keterikatan kecuali pada-Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Penyerahan Diri secara total&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Berserah diri bukanlah kedudukan ruhani yang mudah dicapai manusia. Dibutuhkan perjuangan serius untuk berserah diri, yakni berjuang dengan pikiran yang disesaki beragam pemilahan dan pilihan. Orang yang dikepung dan dijerat oleh pilihannya tanpa disadari telah membuat penghalang baginya berserah diri pada Allah Swt. Jika Anda tidak bisa berserah diri, akan mengalami kesulitan tersambung pada Allah. Siapa yang kesadarannya tidak tersambung pada Allah, niscaya tidak bisa menyerap kebahagiaan holistik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Berarti, engkau diperintahkan berserah diri pada Allah agar bisa menyelam ke dalam samudera kebahagiaan. Bukankah tujuan Allah hanya ekspansi kebahagiaan? Makanya, seluruh perintah Allah yang dirangkum dalam rukun Islam mengarahkan orang agar bisa mereguk kebahagiaan. Akan tetapi, kebahagiaan tidak bisa dicerap, jika penegakan rukun Islam itu tak dilandasi kesadaran penyerahan diri pada Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketahuilah saudaraku, modal Anda datang di hadapan Allah adalah berserah diri. Ya, menyerahkan diri. Anda mendatangi Allah tidak dituntut menyetorkan amal yang menggunung, karena Allah sendiri sebagai himpunan kebaikan. Kau tak perlu datang di hadapan Allah dengan tumpukan ilmu, apalagi hadir dengan membawa pundi-pundi kekayaan. Allah adalah gudangnya ilmu dan harta kekayaan. Seluruh apa yang ada di bumi dan langit tergenggam dalam kekuasan-Nya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Namun demikian, janganlah engkau salah tafsir pada konsep ini, sehingga kau berkesimpulan tidak perlu beramal. Saudaraku, engkau harus beramal berlandaskan ilmu yang benar, ikhlas, dan istiqamah. Akan tetapi, janganlah hatimu sedikit pun bergantung pada amal dan ilmumu. Hal yang paling dihargai di hadapan Allah adalah hati bersih, bersih dari segala bentuk keterikatan pada selain Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;“(Yaitu) di hari, harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syuara [26]: 88-89).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Secara gamblang, modal utama kita menghadap Allah adalah berserah diri. Orang yang berserah diri, tak hanya sebatas menyerahkan hati, jasad, harta, dan akal pikiran, bahkan menyerahkan dirinya pada Allah Azza Wajallah. Tak ada yang tersisa sedikit pun di benaknya, kecuali Allah selaku samudera penyerahan diri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pentranskripsi: Khalili Anwar&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-8970956247376505141?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/8970956247376505141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/03/manifesto-penyerahan_29.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8970956247376505141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8970956247376505141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/03/manifesto-penyerahan_29.html' title='MANIFESTO PENYERAHAN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-5048429064863029792</id><published>2011-03-29T22:26:00.000-07:00</published><updated>2011-03-29T22:27:57.263-07:00</updated><title type='text'>THE POWER OF OK!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tulisan ini diilhami seorang sahabat senior yang kerap menjadi teman berbagi di jalan cahaya. Dialah seorang pencari yang tak pernah memperlihatkan keletihan, kebosanan, apalagi kegundahan di medan sunyi-sepi ini. Hamba hanya melihat gurat-gurat senyum selalu menghiasi wajahnya. Dia selalu berkata OK, sebagai respons akan setiap perkataan yang disampaikan orang lain. Darimana kata OK itu berasal, seolah menjadi power  yang mematri jiwanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setelah ditelusuri, slogan OK itu bermula dari sang guru yang mendapatkan SMS beraneka pesan dari santri-santrinya. Semua pesan yang diterima, cukup dibalas dengan OK! Mungkin bagi orang yang memerlukan penjelasan detail, kata OK terkesan meremehkan, tetapi sejatinya bagi orang yang hendak menangkap dengan ketajaman rasa, kata OK mengandung kedalaman rasa. Bermula dari peristiwa SMS itu, maka sahabat senior ini kian akrab dengan ekspresi OK. Tentu OK itu tidak hanya respons atas perkataan orang, tetapi dia berani mengatakan OK pada Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;OK menyimpan kekuatan menghadirkan damai, dan membawa orang selalu berbalut kebahagiaan. OK sebagai pantulan kata yang terlontar dari jiwa yang melulu menerima keadaan dan realitas yang berkunjung di hadapannya. Kalau the power of OK telah meresap dan menginternalisasi di medan kesadaran, hati hanya selalu tersenyum pada setiap keadaan. Karena semua realitas sebagai kunjungan Tuhan padanya. Apakah kita harus menolak Tuhan? Bukankah diam-diam kita merindukan pertemuan dengan Tuhan? Tuhan mengada diantara pergantian siang dan malam. Karenanya siang-malam dihadirkan agar manusia bisa mengingat (wilayah kesadaran) dan bersyukur ( wilayah pengalaman). Bukankah hanya dengan ingat dan syukur orang bisa mereguk kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;“dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan [25]: 62)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bukankah setiap realitas itu melekat dan menempel pada siang dan malam. Kalau kita ingat dan bersyukur dalam perputaran siang-malam, berarti kita mensyukuri akan muatan yang ada di dalamnya. Ketahuilah, di perputaran siang-malam Tuhan selalu hadir, menengok respons kita terhadap realitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tak jarang, Tuhan bersembunyi dari suatu yang tidak kita sukai. Karena itu, jangan menaruh kebencian terhadap suatu obyek, boleh jadi Allah mengada dari realitas yang kau benci itu. Bahkan, ketahuilah setiap realitas sebagai bentuk konser Tuhan. Adakah konser Tuhan yang kurang berbobot, bukankah Allah selalu menghidangkan yang terbaik. Hidangan Allah terkesan tidak baik lantaran dilihat dari perspektif yang tidak bening.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Orang yang sering berkata OK pada setiap keadaan akan lebih sering menyerap nutrisi kebahagiaan lewat keadaan tersebut. Namun, orang yang sering berkata NO pada realitas yang mengemuka di hadapannya, dia hanya bisa mengakses penderitaan lewat kenyataan itu. Kebiasaan orang yang mengkritik keadaan, cenderung tidak bisa menemukan hikmah agung dari realitas yang melintas. Kalau negeri dibanjiri kritik, apalagi kritik yang berusaha menguak aib orang lain, niscaya negeri ini tidak akan pernah bangkit dari kegelapan menuju cahaya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bayangkan, sudah berapa tahun negeri ini berperang dan melawan korupsi, alih-alih korupsi terkikis, malah semakin merebak luas di berbagai instansi pemerintah, baik pusat apalagi daerah, bahkan mengalami tingkat imunitas yang tak bisa disembuhkan. Orang yang pada mulanya malu melakukan korupsi juga ikut melakukan korupsi. Aneh, korupsi semakin dilawan, semakin menaik grafiknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Baru saja kita mengenal istilah NARKOBA, dulu orang hanya mengenal minuman keras. Semakin sering dipublikasikan, berikut tertuang larangan akan NARKOBA, bukan mengurangi pengguna dan pengedar NARKOBA, banyak orang tertarik menggunakan dan bahkan mengedarkan NARKOBA sebagai bisnis sarat gengsi. Penolakan bukan membuat orang kehilangan fokus pada apa yang ditolak, malah semakin membuat orang fokus, dan selalu memikirkankannya. Tak aneh, kalau ada orang yang bergabung dalam gerakan anti-NARKOBA juga terjebak menggunakan dan mengedarkan NARKOBA. Bukankah dia menolak akan NARKOBA, mengapa dia juga ikut tersudut di medan penuh cela dan aib itu? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Iklan rokok selain menampilkan tentang  rokok sebagai gengsi, juga terselip pesan larangan merokok. Kendati ada larangan morokok, ternyata tidak mengurangi jumlah perokok di negeri ini, bahkan kian melonjak dan merambat pada komunitas remaja, bahkan anak di bawah umur. Memang, suatu yang memuat larangan memiliki daya magnet orang untuk mencobanya. Serupa dengan seorang adik yang otaknya dipenuhi rasa ingin tahu tinggi, tiba-tiba ibunya berkata padanya, “jangan kau buka lemari itu”. Kalimat larangan itu tidak menghentikan gerak anak tersebut untuk membuka lemari, malah timbul penasaran mengapa dilarang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kenyataan itu serupa dengan kisah sekelompok manusia yang didekati ular naga. Saat ular mendekat, mereka masih menyempatkan menghelat seminar kecil-kecilan untuk mencari solusi bagaimana menyerang ular tersebut. Seminar belum menghasilkan kesimpulan, mereka semua telah dipatok ular naga itu. Harusnya mereka tak perlu berseminar tentang ular naga, langsung saja berlari, menyelamatkan diri menuju tempat aman, dan kalau sempat datanglah pada orang yang piawai menjinakkan ular naga. Yang terpenting arahkan pikiran pada suatu yang OK saja, sehingga kita bisa melulu menyerap cahaya kebahagiaan. Setiap orang mendapatkan apa yang menjadi fokusnya. Dan hidup itu terasa indah (life is beautiful) kalau orang selalu merasa OK dengan kehidupan ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dengan OK berarti orang tidak pernah bersikap resistens terhadap realitas yang terhidang di hadapannya. Mengapa harus resistens, bukankah seluruh realitas sebagai hidangan yang disuguhkan Allah? Adakah suguhan Allah yang tidak lezat, kecuali orang yang hatinya masih berpenyakitan? Allah serupa dengan koki terbaik dari setiap realitas yang terhidang di hadapan kita, dan setiap suguhan hasil racikan Allah pasti mengandung kebaikan. Mengapa kita harus resistens? Katakan OK saja pada realitas yang hadir, insya Allah kita akan menemukan berjuntai hikmah yang tergelar lewat realitas tersebut. Orang yang mencapai kematangan jiwa, selalu dengan tenang mengatakan OK pada setiap keadaan. Sosok ini tidak lagi terpengaruh dengan realitas, karena dia telah fokus pada penghadir realitas, Dialah Allah Azza Wajallah.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-5048429064863029792?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/5048429064863029792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/03/power-of-ok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5048429064863029792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5048429064863029792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/03/power-of-ok.html' title='THE POWER OF OK!'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-9091408070756550469</id><published>2011-03-27T06:32:00.000-07:00</published><updated>2011-03-27T06:35:34.110-07:00</updated><title type='text'>BENARKAH KITA TENGAH MENUHANKAN AGAMA?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Agama serupa gudang yang menyimpan kebajikan. Ya, setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk berbuat bajik di dalam hidupnya. Kasih, cinta, dan kelembutan menjadi pengajaran agung yang disajikan agama. Agama terasa begitu sakral, suci, kudus, karenanya energi keburukan tak boleh menyelubungi agama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tiada cela yang bisa mengendus agama, karena agama sendiri telah mengalami kemurnian. Kendati demikian, agama bukanlah tujuan yang harus diagung-agungkan, sehingga kita terjebak menuhankan agama. Agama sebagai kanal yang disediakan Tuhan agar hamba-Nya kembali pada-Nya dengan keadaan murni berbusanakan cinta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kita tidak berhenti di agama sebagai sebuah istilah dan jalan, namun apa yang menjadi maksud agung dibalik kehadiran agama? Betapa sering orang cekcok karena perbedaan cara pandang dalam agama. Agama hadir tidak sebatas disadari sebagai ikon ruhani, tetapi menjadi medan kudus yang harus dialami dan direguk saripatinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Agama menjadi alat yang menunjukkan jalan Anda menuju Tuhan Yang Maha Agung. Serupa kendaraan, agama digunakan saat orang berjalan menuju alamat yang dituju. Mungkinkah orang masih menggunakan kendaraan, apalagi bertempat tinggal di kendaraan tersebut, kala sudah sampai pada tujuan. Karenanya saat orang berada di akhirat, ibadah sebagai jalan menuju Tuhan sudah tidak ada lagi. Yang ada sekadar medan pertanggungjawaban akan amal perbuatan manusia saat di dunia. Untuk itu, kita tidak perlu mengklaim apik dan tidak apiknya agama, tetapi apa capaian yang direguk dari agama? Adakah perubahan perilaku? Sudahkah sirna kezaliman di dalam kehidupan kita? Andaikan kezaliman dan keingkaran masih sering menjejali kepribadian kita, berarti cahaya agama belum bersinar di hati kita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kita menemukan sosok manusia yang bertengkar soal agama, bahkan berani melakukan kekerasan demi agama. Dia berpikir bahwa kekerasan yang dilatari agama bisa membuat wajah agama kian anggun dan memesona? Malah dengan perilaku kekerasan yang dipraktikkan para pemeluknya membuat agama kian menakutkan, sehingga orang semakin apati dengan agama. Agama itu indah, kudus, anggun, dan menyejukkan hati, kalau ada orang tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari agama, bahkan membuat kesan agama itu hanya sumber keangkuhan, maka agama tak lagi hadir sebagai solusi jitu bagi umat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tak jarang, kelompok pencari masih penasaran—di tengah matinya ruh agama dalam kehidupan—mungkinkah ada agama lain yang bisa memandu umatnya menuju jalan kebahagiaan yang hakiki. Kini, banyak orang menghias agama hanya sebatas permukaan semata-mata, sehingga mudah berubah-ubah. Dia tidak berusaha menguak agama di kandungan terdalamnya, yang disana ada spirit cinta, kasih, dan kelembutan. Semua orang akan menemukan keteduhan di dalam naungan pribadi yang telah disepuh agama. Kini, kita menghadapi sebuah era paradoksal, semakin banyak orang yang bisa menghafal hadist dan al-Qur’an, hanya saja kita menemukan sedikit sekali orang yang hatinya disepuh hadist dan al-Qur’an agar bisa menjadi tempat berlindung orang yang terjerat kesengsaraan batin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Munculnya aliran kepercayaan baru yang menyempal dari Islam, serupa dengan Ahmadiyah versi Qodian, Wahidiyah, Bestari berikut aliran nyentrik lainnya, hanya sebagai demonstrasi rasa penasaran yang menyelinap di hati mereka, mungkinkah ada ajaran selain Islam yang bisa memberikan solusi efektif di akhir zaman. Mengapa mereka disusupi distrust terhadap Islam? Lantaran, para pemeluk Islam, terlebih orang yang dipercaya menjaga nilai-nilai agama, ternyata tidak memiliki komitmen kuat untuk menegakkan agama dalam kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tak jarang, kita temukan kyai, alih-alih komitmen terhadap nilai-nilai, mereka cenderung komitmen terhadap materi duniawi. Orang bisa mereguk kedamaian manakala telah berhasil melepaskan diri dari keterikatan duniawi? Sementara kyai yang begitu terikat dengan kehidupan duniawi yang semu ini, justru dia keluar dari gerbang kedamaian menuju gerbang kesengsaraan. Kalau demikian, bagaimana orang yang tidak digenangi kedamaian di hatinya bisa berbagi kedamaian pada kemanusiaan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Andaikan merebak aliran baru, kyai tidak hanya berteriak keras menentang ajaran tersebut, tetapi harus bisa menggali akar permasalahan meruyaknya serbaneka aliran tersebut. Boleh jadi, kharisma ulama kini telah memudar, lantaran memiliki spirit serupa pebisnis dan pengusaha yang mengarahkan hidupnya untuk menangguk uang sebanyak-banyaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Selain itu agama hanya menjadi simbol-simbol luaran, belum menghunjam sebagai spirit agung dalam setiap jiwa manusia। Kita terpesona dengan cangkang agama, dan menganggap setiap cangkang mewakili mutiara. Padahal, tidak setiap cangkang berisikan mutiara. Ketika agama sudah lepas dari ruhnya, berupa cinta, niscaya agama tidak kembali memiliki kekuatan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Untuk itu, agama tak hanya mengandung syariat, tetapi juga hakikat. Kini, orang repot mengurus syariat agama, tetapi tidak berusaha menyelam kemurnian agama yang menghidupkan. Apa kiranya pesan yang terliput dalam shalat, sudahkah kita merealisasikan pesan murni yang terkandung dalam shalat berupa syukur? Sudahkah kita berlatih mengekspresikan syukur di setiap berkunjungnya realitas? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Demi bisa menguatkan kembali spirit agama, kita dituntut menghidupkan hakikat agama। Karena itulah, ruh agama। Ruh agama itu mewujud sebagai akhlak. Orang yang telah mencapai hakikat agama, perlahan-lahan akan mengalami pertumbuhan pesat, yang kemudian melahirkan buah, yakni akhlak yang mulia. Jika buah agama berupa akhlak telah menghias kehidupan pribadi mukmin, insya Allah setiap perilaku yang ditampilkan hanya kelembutan dan memesona setiap orang. Hanya orang-orang berbuah yang gampang memesona orang untuk mengikuti jalan yang ditempuhnya. Nabi pun menebarkan agama tak hanya dengan retorika belaka, dikombinasi dengan akhlak yang luhur. Betapa banyak orang yang terpikat masuk Islam lantaran kemuliaan dan keagungan akhlak yang membalut pribadi Nabi Muhammad Saw. Insya Allah.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-9091408070756550469?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/9091408070756550469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/03/benarkah-kita-tengah-menuhankan-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/9091408070756550469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/9091408070756550469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/03/benarkah-kita-tengah-menuhankan-agama.html' title='BENARKAH KITA TENGAH MENUHANKAN AGAMA?'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6027322406175976053</id><published>2011-03-27T06:26:00.000-07:00</published><updated>2011-03-27T06:29:26.005-07:00</updated><title type='text'>KAFIR DALAM CINTA</title><content type='html'>Manusia telah dianugerahi cinta hakiki di lubuk hatinya. Cinta itulah yang mengilhami manusia menuju istana kebahagiaan. Namun, kendati jiwa telah lekat dengan cinta, kebanyakan manusia salah tafsir tentang cinta, karenanya mereka sering dikendalikan oleh hawa nafsu. Yang subur adalah cinta yang menyeruak dari lubang hawa nafsu, bukan hati nurani. Tak ayal, cinta yang mengejawantah bukan cinta yang turut membuka gerbang kebahagiaan, malah mencaploknya ke dataran penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena salah merespons seruan cinta yang bergema dari jiwa, mereka sering terjebak pada cinta yang bermula dari tarikan eksternal. Setiap keindahan, kenyamanan, dan kesenangan yang bersifat eksternal dipandang sebagai suatu yang harus dicintai. Mereka men-surfing kebahagiaan di tataran eksternal. Bagaimana mungkin orang bisa menggapai kebahagiaan lewat kondisi eksternal, bukankah di tataran eksternal selalu terbatas, membosankan, dan fana’. Memang, kalau orang melulu dipicu oleh ketertarikan eksternal, ia tidak bisa mereguk kebahagiaan abadi dan hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering kita temukan orang yang mencintai harta benda, sehingga dia mengorbankan seluruh waktu dan tenaga untuk pencapaian harta benda itu. Kemewahan dan kemegahan yang dijanjikan harta benda, telah membuatnya lalai, dan tak tahu arah kemana perahu kehidupannya harusnya berlayar. Dia terus berputar-putar di tengah lautan ketidakpastian, dan digerogoti perasaan kurang yang terus-menerus. Bayangkan, 24 jam terasa kurang baginya untuk memburu harta, tak ayal seluruh waktu dihabiskan untuk mendulang harta yang melimpah, walau pada hakikatnya semakin mengempis dan mengurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bertanya pada seorang penjaga warung. Warung itu dijadikan pusat cangkruk anak muda. Memang, warung itu tidak pernah sepi dari remaja yang suka kongkow-kongkow. Dia selalu disibukkan dengan pengunjung yang datang. Saat sepi, saya mampir ke tempat tersebut, sembari memesan secangkir kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana keadaan warungnya, rame ya mas?” tanyaku, “Alhamdulillah, tidak pernah sepi dari pengunjung, kendati tidak berdesak-desakan,”balasnya santun. “warung ini dibuka selama berapa jam sehari?”kembali kubertanya.&lt;br /&gt;“24 jam mas, non stop,” katanya dengan gaya santai anak muda.&lt;br /&gt;“emang yang jaga berapa orang mas?” selaku.&lt;br /&gt;“ada 2 orang mas, jadi gantian pagi dan sore,” ucapnya.&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan ibadahnya, apa ada kesempatan?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Waduh mas, waktunya tidak cukup untuk beribadah,” katanya dengan dahi mengerut, walau terlihat tanpa beban.&lt;br /&gt;“Mas, kita di dunia hanya sementara mas, hanya numpang ngombe, selebihnya kita di akhirat. Imbangilah mas investasi dunia dan akhirat,” kataku.&lt;br /&gt;“Insya Allah Mas,”tanggapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala otak dan hati telah tertembus virus duniawi, membikin orang lupa pada persoalan ukhrawi. Mereka melakukan itu, karena memandang duniawi lebih penting ketimbang ukhrawi. Bukankah duniawi sebagai tuntutan ril di hari ini. Semakin nampak peran kedudukan duniawi saat ini. Cinta akan menggerakkan orang padanya. Ketika orang mencintai dunia, maka dia akan selalu digerakkan untuk menambang sebanyak-banyaknya kekayaan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 jam yang disediakan Tuhan dirasa kurang bagi orang yang hanya tertuju pada duit dan duit. Betapa sering orang tidak bisa menikmati harta benda yang telah berada di genggaman. Dia hanya menyimpan seluruh perolehan harta itu di bank, sembari terus memburu  harta sebanyak-banyaknya. Padahal tiada kenikmatan yang dianugerahkan pada manusia kecuali untuk dinikmati. Kenikmatan itu harusnya dinikmati sebagai kebutuhan sehari-hari, dinikmati untuk menumbuhkan kelembutan hati dengan memberikannya pada sesama. Kala orang telah terjebak dalam mencintai selain Allah, pasti dia tidak bisa mereguk kebahagiaan yang hakiki. Semuanya hanya sebuah ilusi yang karenanya ia gampang digerogoti perasaan bosan.&lt;br /&gt;Kini, dengan uang yang dimiliki dia bisa membeli mobil yang paling mewah, tetapi berapa lama dia bisa menikmati keindahan mobil tersebut? Setelah lama dia menggunakan mobil tersebut, diam-diam menyembul rasa bosan, apalagi jika meluncur tipe mobil baru yang lebih mewah serta menawarkan kenyamanan super।&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orang tidak akan pernah menemukan kebahagiaan yang hakiki dan abadi pada suatu yang semu dan sementara। Maka hati ini sejatinya hanya mencintai satu, yakni Allah SWT. Sementara kecintaan pada dimensi lain sebagai ekspresi atau refleksi dari rasa cinta pada Allah. Itu berarti, mencintai dunia tidak terlarang, sepanjang cinta dunia itu didasari rasa cinta yang kuat pada Allah SWT. Bercintalah karena Allah, niscaya Anda tidak pernah disergap perasaan kecewa setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan orang yang kau cintai tidak berperilaku seperti yang Anda harapkan, ketenangan tidak pernah terungkit dari hati Anda. Karena ketenangan Anda disandarkan pada Allah SWT. Ingat perasaan cinta pada sesuatu selain Allah, akan membawanya pada keadaan yang selalu dirundung perasaan cemas. Cemas, jika yang dicintai hilang dan lepas darinya. Kita terlalu mencintai harta, diam-diam mengalir perasaan cemas, bagaimana kalau hartanya itu lepas bahkan hilang. Kendati harta itu telah diamankan di bank, pasti sedikit ada kecemasan, bagaimana kalau bank itu mengalami pailit, sehingga tidak bisa memenuhi hak-hak nasabah dengan baik. Namun, berbeda orang yang mencintai sesuatu karena Allah, maka dia menyerahkan apa yang dicintai pada Allah, menyerahkan penjagaannya pada Allah. Bukankah benteng Allah begitu kokoh untuk menjaga setiap apa yang hendak dijaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan Allah sebagai poros kecintaanmu, dan perasaan cintamu yang lain tidak boleh lepas dari poros ini agar kau selalu selamat dalam bercinta. Ingatlah, kalau kau benar-benar mencintai Allah, maka kau selalu menyatu dengan kehendak Allah. Andaikan Anda lepas dari apa yang kau cintai, kau tidak pernah mengurangi stok cintamu pada Allah. Karena Allah melakukan seperti itu juga dilandasi cinta, hanya saja saking lembutnya rahasia dibalik perbuatan itu Anda belum mampu meradar makna cinta dibalik perbuatan tersebut. Pandanglah setiap realitas dengan cinta, maka rahasia-rahasia suci dari Allah akan mengalir dibalik realitas itu, sehingga Anda bisa terus menangguk air kearifan dimana saja. Insya Allah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6027322406175976053?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6027322406175976053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/03/kafir-dalam-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6027322406175976053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6027322406175976053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/03/kafir-dalam-cinta.html' title='KAFIR DALAM CINTA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7798396472282422012</id><published>2011-02-09T19:31:00.000-08:00</published><updated>2011-02-09T19:31:00.180-08:00</updated><title type='text'>BERKUASA MAKIN TIDAK AMAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya teringat dengan kesederhanaan dibalik keagungan khalifah Umar Ibn Khattab. Saat beliau memangku jabatan sebagai khalifah, dia hidup untuk melayani umat sepenuhnya. Hampir tak ada waktu untuk beristirahat. Kata beliau, bagaimana saya bisa istirahat, di siang hari saya harus memenuhi hak-hak rakyat, di malam hari saya harus memenuhi hak-hak Allah SWT. Kekuasaan yang diperoleh tidak membuat beliau hidup dalam suasana santai, tetapi merasa memangku beban dan tanggung jawab yang amat berat. Beliau telah melepaskan seluruh kepentingan dirinya, dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat secara keseluruhan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Karena kekuasaan tidak untuk memenuhi kepentingan diri, maka beliau selalu merasa aman berada di mana saja. Bahkan dia kadang beristirahat dengan cara berteduh di bawah pohon. Bagaimana mungkin seorang khalifah yang notabena pemimpin seluruh umat Islam berteduh di bawah pohon untuk sekadar istirahat tanpa pengamanan seorang pun. Apakah tidak takut ditikam atau tertusuk tombak atau panah? Beliau tidak hanya menjadi penguasa bagi rakyat, tetapi beliau juga telah menguasai dirinya sendiri. Beliau telah menyerahkan seluruh kehidupan ini pada Allah. Dalam hatinya hanya ada rasa takut pada Allah, tidak pernah terbersit sedikit pun takut pada makhluk. Suasana hati itulah yang membuat beliau tidak pernah meminta pengamanan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bayangkan dengan penguasa zaman ini. Sungguh kita akan menemukan realitas yang kontras, betapa makin tinggi sebuah kekuasaan, niscaya makin terdera rasa takut. Mengapa dia begitu takut? Ya karena dia tidak bergantung pada Allah, tetapi bergantung pada kedudukan. Saat insan bergantung pada selain Allah, niscaya dia mulai menemukan kerapuhan dalam dirinya. Dia takut kedudukan lenyap dari dirinya, walau sesungguhnya kedudukan pada saatnya akan lenyap. Apakah dirinya terlebih dahulu yang meninggalkan kedudukan dengan datangnya kematian, atau kedudukan itu sendiri yang bakal menghilang dengan adanya pergantian kekuasaan, atau demo rakyat yang memicu meruyaknya kudeta atas kekuasaannya. Sungguh aneh, orang makin berkuasa, makin merasakan tidak aman. Lebih aneh lagi, mengapa banyak orang mengejar kekuasaan yang hanya membuatnya dia makin dikuasai rasa takut.  Orang yang berkuasa membutuhkan keamanan, maka dia meminta pengamanan dari pihak keamanan. Saat dia meminta keamanan, siapa yang berkuasa sebenarnya? Apakah yang menjaga keamanan atau yang dijaga keamanannya? Siapa pelayan yang sebenarnya? Apakah yang  memberikan pelayanan atau yang meminta pelayanan? Di zaman akhir ini, kita menjadi rabun untuk mengertikan dengan jelas tentang siapa pelayan dan yang dilayani. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Suatu kenyataan yang menggelikan, mengapa saat orang memiliki kedudukan makin tidak bebas untuk mendapatkan kenyamanan hidup. Kemanapun pasti ada orang yang mengikutinya. Dipandu dalam kegiatan protokoler. Hal itu tidak hanya berlaku pada orang yang memiliki kekuasaan tersebut, namun juga berimbas pada keluarganya. Kalau biasanya anaknya bisa bermain bebas dengan sebayanya, sekarang terus saja disertai pengamanan. Seakan terpisah dengan ruang kebebasan. Sungguh tidak masuk akal, ketika orang diberi kekuasaan ternyata makin tidak aman dan bebas. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7798396472282422012?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7798396472282422012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/02/berkuasa-makin-tidak-aman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7798396472282422012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7798396472282422012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2011/02/berkuasa-makin-tidak-aman.html' title='BERKUASA MAKIN TIDAK AMAN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-728974484101810633</id><published>2010-12-01T04:48:00.000-08:00</published><updated>2010-12-01T04:51:00.182-08:00</updated><title type='text'>MENELAAH MUSIBAH DARI PERSPEKTIF CINTA</title><content type='html'>Bangsa Indonesia diterpa prahara bertubi-tubi, dari banjir Wasior di Papua, Gunung Merapi di Jawa Tengah, dan Gempa di Mentawai, Sumatera Barat, bersambung oleh gejala aktifnya Gunung Anak  Krakatau. Patut kiranya aneka peristiwa menggetirkan itu menjadi bahan refleksi nasional, berikut menginspirasi kesadaran kebangsaan, agar tergerak menjadi negeri yang dilimpahi keberkahan dari langit dan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana yang menimpa berbagai daerah, janganlah hanya dianggap sebagai bencana untuk wilayah tersebut dan menjadi bahan  pikiran bagi korban semata, tetapi diharapkan bisa mengetuk kesadaran seluruh bangsa agar bersikap simpati, empati, bahkan berusaha menyelami perasaan mereka yang ditimpa musibah. Bagaimana perasaan anak-anak yang tidak berdosa? Bagaimana perasaan perempuan yang ditinggalkan suaminya? Bagaimana perasaan anak-anak yang ditinggal ayah dan ibunya? Keadaan itu perlu mengetuk kesadaran kita sebagai satu bangsa dan satu umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaku satu bangsa apalagi sesama umat Islam, kita jangan pernah menghakimi korban sebagai orang yang berdosa. Ingatlah, dosa manusia berada dalam rahasia Allah. Kita tidak boleh mengklaim orang lain berlumur dosa. Kita belajar melihat dari jendela belas kasih, sehingga yang terpantul dari setiap sikap kita hanya belas kasih semata pada orang-orang yang berada di lingkaran musibah. Kita, selaku umat Islam, tidak patut berburuk sangka pada saudara sendiri, karena di beberapa tempat yang mengalami bencana, pasti juga ada komunitas muslim. Padahal berburuk sangka pada sesama adalah suatu yang tidak disukai Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan pahit itu layaknya menjadi bahan introspeksi bagi kita, bukan bahan ekstrospeksi orang lain. Yakinilah, orang tidak pernah bisa menggali hikmah di balik kejadian buruk, kalau dialiri spirit menghakimi dan menyalahkan orang lain. Carilah terang di setiap makhluk Allah, niscaya kita bisa menambang hikmah melimpah. Adapun sikap pada diri sendiri, kita harus menjelajah titik gelap yang menodai diri, berikut dibersihkan, agar kian hari hati menjadi lebih bening dan terang. Bukankah di rumah yang terang orang bakal memeroleh keterangan-keterangan agung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menelaah musibah dalam perspektif cinta? Ketika hati kita penuh cinta, tiada yang terpantul dari setiap tindakan kita kecuali dijiwai cinta. Semesta ini terlahir dari cinta, serupa manusia terlahir dari rahim ibu, maka sejatinya semesta terlahir dari sifat “rahim” Allah SWT. Berarti, seluruh kehidupan terlahir dari spirit cinta. Kalau terlahir dari spirit cinta, tiada yang menyertai kehidupan makhluk kecuali cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang meletup akhir-akhir ini pasti terpancar dari mata air kasih sayang Allah yang tanpa batas. Karena itu, diharapkan kejadian tersebut membuat orang bisa kembali pada Allah SWT. Semua menyeru dan bergerak kembali pada Allah, pun kita bersemangat kembali pada Allah dengan cara terus menelaah dan mengintrospeksi diri sendiri, bagaimana hubungan kita dengan Allah SWT. Boleh jadi, lewat kejadian pahit ini sejatinya Allah hendak memancing bagaimana kerekatan persaudaraan kita sebagai bangsa atau sesama umat Islam? Apakah kita lebih suka menghakimi orang lain, atau hati kita tersentuh untuk berbagi dan menolong mereka? Bagaimana andaikan kita tak bisa membantu dalam bentuk materi? Ya, setidaknya ada spirit yang menggenangi jiwa kita untuk menjadi bagian solusi atas musibah yang menerpanya, minimal mendoakan mereka sebagai sesama muslim atau satu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghakiman, berburuk sangka, apalagi kutukan tidak menambah terang keadaan yang diliputi gelap, malah membuat keadaan makin pekat. Karena itu, bagaimana kita hadir menjadi orang yang bisa mengantarkan suluh cahaya belas kasih bagi mereka, sehingga mereka merasa memiliki saudara. Mereka tidak sendirian, mereka memiliki saudara sebangsa. Tetapi, kalau keakuan dalam bentuk individualism atau chauvinisme masih menebal di tubuh batin bangsa, justru yang meruyak semangat menyalahkan dan berburuk sangka. Padahal, boleh jadi kenyataan tersebut sebagai cara Allah untuk menumbuhkan spirit persaudaraan sesama muslim dan kebangsaan. Spirit menghakimi dan berburuk sangka sendiri rentan merapuhkan persaudaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ketika sebagian komponen bangsa sakit, semua komponen bangsa merasa sakit? Atau kepekaan negeri ini semakin tajam? Apakah kepekaan pemimpinnya tetap tumpul? Apakah pemimpin negeri ini lebih meluangkan waktu untuk merasakan dan memperhatikan apa yang diderita rakyatnya, atau lebih sibuk mempertahankan kedudukan dan citra diri? Masihkah pemimpin sibuk memikirkan citra diri ketika harus berhadapan dengan musibah yang memedihkan rakyat kecil itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian besar itu tidak hanya tertuju pada satu daerah terdampak, tetapi diharapkan bisa membuka kesadaran dan mata hati seluruh bangsa, dari rakyat kecil hingga pemimpin bangsa. Ketika seluruh komponen bangsa merenungi dan memikirkan pelajaran agung dibalik kejadian tersebut, insya Allah kejadian itu bisa menginspirasi bangsa mengalami kebangkitan bersama. Diharapkan timbul kembali rasa gotong royong yang kini perlahan-lahan memudar, tenggelam oleh sikap individualisme yang lahir dari perut kapitalisme. Bisakah kejadian ini memutus mata rantai individualism yang sudah begitu kuat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tugas yang dipikulkan pada kita dari kejadian besar tersebut. Selayaknya bangkit semangat membantu, perlahan-lahan tergerus spirit keakuan yang masih bersemi di dada anak bangsa. Kita bisa bercermin pada peristiwa Gempa Tsunami yang melanda Aceh beberapa tahun silam. Kejadian itu tak hanya bisa memanggil kebersamaan anak bangsa, bahkan bangsa-bangsa luar pun turut terinspirasi berbagi kemanusiaan di Aceh. Ketika setiap komponen negeri telah berhasil menyatukan jiwanya dalam jiwa bangsa, insya Allah disanalah identitas kebangsaan akan mengejawantah secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, kasih sayang Allah melampaui kemurkaan-Nya. Kalau kasih sayang Allah melampuai kemurkaan-Nya, mengapa kita tidak mengutamakan kasih sayang ketimbang kutukan. Allah mencintai hamba-Nya, lebih dari kecintaan ibu pada anaknya. Lalu mengapa kita tidak berusaha menempa spirit cinta selaras dengan cinta yang dicontohkan Allah dan Sayyidina Muhammad SAW pada korban kejadian yang menimpa negeri kita tercinta? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi&lt;br /&gt;Ditranskripsi: Khalili Anwar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-728974484101810633?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/728974484101810633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/12/menelaah-musibah-dari-perspektif-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/728974484101810633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/728974484101810633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/12/menelaah-musibah-dari-perspektif-cinta.html' title='MENELAAH MUSIBAH DARI PERSPEKTIF CINTA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-8804874159285636766</id><published>2010-12-01T04:33:00.000-08:00</published><updated>2010-12-01T04:39:30.106-08:00</updated><title type='text'>BERSABAR DALAM IMAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Keyakinan memantulkan sikap hidup, sabar, syukur, ridha, dan tawakkal. Seluruh sikap itu menandai adanya iman atau keyakinan di hati. Andaikan tidak ada sabar di jagat batin kita, menandai spirit iman belum menghunjam di lubuk hati. Kita berusaha meneguhkan keyakinan sehingga memancar aneka sikap elok yang menjembatani kita makin dekat pada yang kita yakini. Pada mulanya kita belum melihat apa yang kita yakini, tetapi kita berproses melihat apa yang kita yakini. Mencapai tangga haqqul yaqin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bermula dari adanya tantangan dan problem hidup, disitulah daya keimanan tengah dicoba. Apakah kita bisa bersabar dengan kenyataan pahit yang tengah menerpa. Sabar sebagai senjata luar biasa yang bisa mengantarkan manusia menuju kesuksesan. Kesabaran berasal dari keyakinan bahwa seluruh rangkaian peristiwa tidak pernah luput dari sentuhan Kekuasaan Allah, dan Kekuasaan Allah didasari oleh kehendak-Nya, Kehendak-Nya berlandaskan pada ilmu-Nya, sementara ilmu Allah terbingkai oleh kasih sayang Allah tanpa batas. Kristalisasi kesadaran itu akan meneguhkan kesabaran kita dalam mengarungi tantangan hidup. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ujian kesabaran datang dari berbagai arah, yang lazim dari kesulitan ekonomi dan gangguan manusia. Dalam konteks ini, kita akan membincangkan bagaimana bisa bersabar menghadapi gangguan manusia. Tak sedikit orang merasa sakit secara psikologis ketika bertemu malah satu kantor dengan orang yang suka mengganggu, dan menyakiti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sosok mulia tidak pernah sepi dari ujian manusia, malah andaikan ada seorang ulama’ belum mendapatkan ujian dari sesama, terkesan belum teruji keulamaannya. Di tengah menekuni dakwah, mungkin ada orang yang menebar berita negatif soal kita, bahkan sampai pada tataran memfitnah, merusak nama baik. Tetapi berlian tetaplah berlian, kendati diinjak ia tidak akan pernah berubah. Karena tidak berubah, maka daya tarik orang-orang berhati nurani tetap saja semakin kuat. Bahkan saat mendapatkan terpaan cacian dari orang lain, keindahan dirinya semakin terpancar besar. Al-Qur’an sendiri memberikan tuntunan bagi kita, ketika mendengar perkataan jelek, berupa cacian, yang mengarah pada kita dengan pesan yang amat anggun.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzammil [73]: 10).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Lalu apa kesadaran yang harus dibangun untuk menumbuhkan keyakinan dalam kesabaran itu? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pertama, meyakini Allah selalu Ada. Allah tidak pernah berpisah dengan kita. Tinggal kita meyakini kesadaran tersebut. Kalau kita belum meyakini bahwa Allah selalu bersama kita, niscaya akan berdampak pada rapuhnya keberanian kita bertindak dan menghadapi masalah. Bukankah orang hanya merasa takut ketika sendirian? Bahkan kendati ada teman, tetapi temannya sama-sama takut, justru tidak bergelora api keberanian di jiwanya. Dia ikut berani ketika orang yang menemaninya seorang pemberani, perkasa, dan mampu melerai masalah sebesar apapun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketika kita sudah merasa bersama Allah Yang Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Tahu, dan Maha Kasih Sayang, maka hati tak tersentuh kekhawatiran sedikit pun. Seperti isyarat Sayyidina Muhammad SAW pada sahabat karibnya, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, “jangan cemas, Allah bersama kita.” Perkataan Sayyidina Muhammad SAW yang memancar dari lubuk keyakinan mendalam, tentu akan memantulkan vibrasi keyakinan pula pada diri Sayyidina Abu Bakar ra. Kita mungkin tidak memiliki pembela dalam menegakkan kebenaran, jangan pernah sedikit pun merasa gentar, karena ada Allah Yang Maha Menjaga dan Maha Menolong hamba-hamba-Nya yang bertawakkal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bukankah orang begitu sedih lantaran selalu bergantung pada kebaikan makhluk, atau terlalu fokus pada keburukan makhluk. Tetapi ketika terus menghadapkan wajahnya pada Allah yang selalu ada bersamanya, niscaya dia akan merasakan ketenangan. Lewat ketenangan mendalam maka akan memantul kerja-kerja yang lebih produktif. Semangat kita juga melambung ketika selalu merasa diawasi bahkan ditolong Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kedua, dalam kesulitan ada kemudahan. Keyakinan itu harus mengkristalisasi di ruang kesadaran kita. Kesulitan tidak selamanya menghuni kehidupan kita, ada saatnya cahaya kemudahan akan terbit. Bahkan kesulitan hanya sebagai pintu awal menuju kemudahan demi kemudahan, jika kesulitan itu dijelang dengan kesabaran yang teguh. Kita berusaha meresapi pesan Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;“karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]:5-6).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya. Kasih sayang Allah amat luas, tak ayal kesulitan yang dihadiahkan mengantarkan kita pada gerbang kemudahan demi kemudahan. Sikap tepat menghadapi kesulitan adalah sabar. Bukankah kesabaran menghadirkan cahaya yang menunjuki kita pada kemudahan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketiga, suatu yang tidak mungkin menurut hukum kebiasaan tidak mustahil bagi Allah। Pengetahuan manusia terbatas, tetapi keyakinan manusia tidak terbatas, karena tertuju pada yang tak terbatas, Allah Azza Wajalla. Pikiran cenderung membatasi rahmat Allah, tetapi keyakinan menyadari rahmat Allah tak terbatas, bergantung prasangka hamba-Nya. Manusia akan memeroleh apa yang diyakini. Ketika keyakinan pada Allah terpatri kuat di hati, niscaya hidupnya tidak pernah tersentuh kekhawatiran, dan pesimisme. Yang memancar adalah optimisme yang tak pernah redup. Dia lebih yakin pada kekuasaan Allah daripada siapapun, bahkan pada pikirannya sendiri. Bukankah pikiran sering berperan sebagai monster yang kerap menakut-nakuti manusia untuk bertindak besar, tetapi keyakinan akan siap menerobos halangan sebesar apapun dengan bersandar total pada Allah SWT. Ketika orang telah dihuni keyakinan di hatinya, maka dia akan melakukan tindakan-tindakan melampaui rasio. Tindakan-tindakan melampaui rasio inilah yang sering menorehkan sejarah agung dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Keempat, berbuat ihsan pada sesama. Perbuatan ihsan amat disukai Allah, bahkan nilai ketakwaan seseorang tercermin dari spirit ihsan yang memancar pada perilaku dan sikap hidupnya. Ihsan dalam bahasa lain memberikan tambahan kebaikan. Seperti halnya, ada orang yang menjual sayuran di pasar, ketika para pembeli membeli beberapa ikat sayuran, penjual tersebut menambahinya dengan lombok atau kecambah. Tambahan itu disebut ihsan. Ihsan tidak hanya menggerakkan orang berbuat baik, tetapi berbuat lebih baik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketika orang sudah masuk dalam tataran ihsan, tidak hanya memberikan maaf pada orang yang mengganggu dan memfitnah, bahkan dia berani berbuat baik pada orang yang nyata-nyata berbuat jahat padanya। Ada seorang ulama yang dikecam dan dicaci maki seorang yang bersebrangan, karena menganjurkan tradisi Maulidur Rasulullah SAW. Orang yang mencaci maki tersebut tidak sepakat bahkan menganggap maulidur rasul sebagai suatu tradisi bid’ah. Maka suatu ketika sang ulama bertemu dengan orang itu di sebuah pertemuan, seusai mengungkapkan salam, ulama itu langsung mencium tangan orang tersebut, dengan penuh kerendahan hati. Sontak, orang itu menangis tersedu-sedu, bagaimana mungkin ulama besar mencium tangannya, sementara puteranya sendiri saja tidak pernah mencium tangannya. Inilah sebuah formula akhlak indah yang dicontohkan Sayyidina Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mari kita teguhkan kesabaran dengan kesabaran yang berlipat-lipat, disana sedang menunggu rahmat Allah yang begitu luas, keridhaan-Nya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Syaikh Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ditranskripsi: Khalili Anwar  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-8804874159285636766?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/8804874159285636766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/12/bersabar-dalam-iman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8804874159285636766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8804874159285636766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/12/bersabar-dalam-iman.html' title='BERSABAR DALAM IMAN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-321205605970427709</id><published>2010-08-22T21:15:00.000-07:00</published><updated>2010-08-22T21:17:48.705-07:00</updated><title type='text'>RAMADAN DAN FACEBOOK</title><content type='html'>B&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;ermain facebook, suatu yang lumrah bagi orang yang hendak memperkaya jaringan dan pertemanan. Setiap insan diberi naluri bergaul dan memperbanyak sahabat dari berbagai stratifikasi sosial, hanya saja kadangkala facebook membuat orang kecanduan “ekshibisionisme” memerlihatkan karya-karya, bahkan tak urung domain pribadi kadang sering diungkapkan di facebook. Terjadilah curhat dari satu facebooker ke facebooker lainnya. Respons berbalas respons inilah yang terus membuka ruang berkomunikasi yang saling terhubung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Facebook tidak menjadi masalah sepanjang kita mampu mengendalikan penggunannya dengan baik. Ia menjelma sebagai gurita membahayakan manakala membuat kita kegandrungan, bahkan hati merasa gelisah jika belum mengetahui berapa orang yang meng-contact, meng-add, atau memberikan komentar terhadap status kita. Hasrat tampil dan ingin diketahui sering menyeruak dari hati, sehingga selalu terpacu show of force setiap saat. Banyak kata yang dilekatkan di dinding sebagai status, adalah kata-kata indah, memukau, puitis, bahkan membikin orang tergoda, walau sejatinya kata-kata yang diungkapkan belum tentu jadi gambaran sejati orang tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Andai kita bisa menebar kata-kata mutiara yang menggugah rasa, insya Allah itu menjadi saluran berbagi kebahagiaan। Tapi, anehnya facebook sering menjadi saluran mengekspresikan perkataan remeh-temeh, tidak berbobot, dan hanya sebatas seliweran, sehingga setiap tulisan yang ditampilkan tidak mengantarkan pesan indah di hati orang lain. Ada lagi yang lebih berat, tulisan status dan komentarnya tidak mendidik, kotor, dan perkataan dari comberan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Puasa membimbing kita agar pandai menjaga ungkapan, baik secara oral atau tulisan, agar amunisi yang dikeluarkan tidak sia-sia। Bukankah kesia-siaan hanya menumpukkan kotoran di hati, berikut memantulkan penyakit ke dalam hati. Puasa mengajak kita mengurangi berbicara dan menjalin pergaulan duniawi, namun kehadiran facebook malah kian mempermudah kita menjalin hubungan dengan banyak orang, bahkan bisa melampaui batas negara. Kita boleh tidak keluar rumah, namun tembok rumah sudah tidak lagi jadi sekat agar terhubung dengan banyak orang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Apakah berarti kita tidak boleh main facebook di bulan Ramadan ini? Kita boleh main facebook sepanjang masih memiliki manfaat bagi kehidupan, dan mengurangi dari perkataan sia-sia। Rasulullah SAW bersabda, “paling baiknya orang keislamannya adalah meninggalkan suatu yang sia-sia.” Ramadan sejatinya mendidik kita agar bisa mengurangi aktivitas yang menjebak pada kesia-siaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ramadan menjadi lahan istimewa guna menanam suatu yang istimewa yang punya efektifitas terhadap kehidupan ruhani kita. Andaikan facebook itu dipandang bisa memberikan kejernihan bagi batin, silahkan gunakan facebook. Namun, kalau kita merasa bahwa facebook hanya mewarisi “ketidakbermaknaan” dan kehampaan ke dalam hati, alangkah baiknya kalau kita menilai kembali kegunaan facebook, demi bisa memanfaatkan kesempatan Ramadan secara optimal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Jiwa setiap orang ingin terus terhubung dengan orang lain, suka suasana ramai, tidak menyukai kesepian. Ketahuilah, hawa nafsu sering merangsang manusia untuk berpadu dengan keramaian, alias tidak menyukai kesepian. Manakala orang terus gandrung masuk di dunia “keramaian facebook” tanpa kontrol, kekuatan nafsu akan mengembang. Padahal penderitaan itu bermula dari pemenuhan terhadap apa yang disukai hawa nafsu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bulan Ramadan kita harus lebih sering bersentuhan dengan situs-situs yang menyuburkan pertumbuhan ruhani. Bertemu dengan al-Qur’an sembari menafakuri, menjalani zikir, menulis, dan andaikan mau berselancar di facebook, usahakan agar setiap apa yang diungkapkan selalu bisa menumbuhkan ruhani kita.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: verdana;"&gt;Tulisan ini hanya memperingati diri sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-321205605970427709?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/321205605970427709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/ramadan-dan-facebook.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/321205605970427709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/321205605970427709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/ramadan-dan-facebook.html' title='RAMADAN DAN FACEBOOK'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7257414333481315605</id><published>2010-08-20T18:02:00.000-07:00</published><updated>2010-08-20T18:12:47.491-07:00</updated><title type='text'>DENDAM</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dendam sebagai akumulasi kebencian yang mengurat dalam hati. Andai dendam menduduki dan mencabik-cabik hati manusia, niscaya akan gampang terbakar dan menyemburkan bahaya besar. Perang, pembunuhan, dan pembantaian berakar dari dendam yang terus menggelapkan batin. Batin gelap hanya bisa menampilkan dan memantulkan kegelapan semata-mata. Tak ada ketenangan yang menetes di hati orang yang berbalut dendam. Yakinilah, orang yang telah tertembus perasaan dendam tidak mendapati oasis cinta universal dan meluas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Penyakit dendam tidak sebatas menjangkiti kalangan awam agama, bahkan bisa diidap kelompok elite agama, dimana agama sendiri belum bisa diposisikan sebagai cahaya petunjuk jitu di pengarungan kehidupannya. Agama hanya dijadikan kedok dan topeng membalut citra apik di hadapan sesama, namun hatinya dipenjara dendam yang sulit diredam. Mungkin saja sesama tokoh masyarakat terjebak dalam penyakit batin ini, sehingga tidak pernah bisa menata keselarasan spirit mendidik dan mengarahkan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Dendam superbahaya bagi lestarinya rasa kasih sayang. Penyakit inilah yang turut menggerus spirit cinta yang mengembang di masyarakat, dan makin menebar fitnah yang berujung pada pembunuhan karakter hingga pembunuhan fisik. Ketika dendam merasuk ke jantung hati manusia, niscaya dia tidak bisa mencari sisi cahaya pada orang yang amat dibenci tersebut. Bagaimana agar kita bisa kebal virus dendam ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pertama, Jauhi prasangka buruk. Dendam tumbuh dari bibit kebencian, dan kebencian terlahir prasangka buruk. Via prasangka buruk tersebut, orang tergerak menghimpun sisi negatif yang ada pada orang lain. Himpunan citra negatif itulah yang mamantik kebencian dalam hati, apalagi kemudian bergesek di pergaulan sehari-hari. Jika orang yang dibenci itu, melakukan sedikit kesalahan saja, niscaya hatinya menjadi kian terbakar dan panas. Rasa panas yang memenuhi dinding hati inilah yang nantinya akan berakibat fatal, dan membuat pengidapnya akan terus didera kepanasan batin. Dendam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Agar dendam tidak menembus relung batin, kita berusaha membersihkan dinding hati ini setiap saat dengan proses muhasabah yang intens. Kalau biasanya kita kerap terjebak dengan prasangka negatif ihwal orang lain, kita berusaha agar terampil menggali dan menangkap sisi positif yang melekat pada perilaku orang lain. Kala kita terampil memotret sisi positif orang, niscaya kita telah berhasil menghiasi batin kita dengan spirit positif yang insya Allah akan membuahkan kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Jika dulu kita lebih suka memotret pribadi orang lain dari angle negatif, kini berusaha memotret sisi positif yang tidak hanya membuat kita bahagia, orang lain pun turut terluapi kebahagiaan. Andaikan, tiba-tiba terpantik pikiran negatif tentang orang, buanglah jauh-jauh, dan memandangnya sebagai kotoran, yang dikhawatirkan mengkristal sebagai kanker spiritual bagi hati. Berlatihlah melihat orang lain dengan cahaya terbaik yang menghasilkan ketenangan. Bagi orang yang selalu melihat orang lain dari kegelapan pikiran, akan memantulkan derita ke ruang hati. Sebaliknya, orang yang terampil melihat sisi baik, maka akan terpantul kebahagiaan ke relung hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kedua, melakukan muhasabah. Kita selalu menjelajah siapa sejatinya diri kita? Mungkinkah kita bisa menangkap dan memotret sisi gelap yang berteduh di batin kita? Andaikan ada kotoran dan kegelapan yang memenuhi batin, sadarilah dan segera hapus dengan penyesalan mendalam. Kunci muhasabah adalah menelisik sisi negatif yang masih nangkreng di hati, berikut menghapus dan berupaya tidak mengotori hati kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Muhasabah amat penting agar virus negatif tidak meresapi relung hati. Bukankah setiap pikiran, sikap, dan perbuatan kita akan memantul pada diri kita sendiri. Tidak ada sikap dan perbuatan kita yang membahayakan orang lain, hanya membahayakan diri sendiri. Bahaya terbesar yang merusak manusia, adalah bahaya penyakit hati. Agar kita bisa selamat dari penyakit hati, muhasabah menjadi jalan efektif untuk bisa menelisiki sisi negatif yang menunggangi hati. Ingatlah, timbulnya prasangka negatif karena orang terlena menilai orang lain, dan setiap menilai orang melulu tertuju pada sisi negatifnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Saking pentingnya muhasabah, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “matilah sebelum mati, dan hitung-hitunglah dirimu sebelum diperhitungkan।” Kita tidak bisa menjadi pribadi yang mengalami lompatan dalam perbaikan, jika kita belum memperbaiki onderdil-onderdil batin yang masih rusak. Adapun perbaikan onderdil batin itu dimulai dengan proses diagnosa. Bila ternyata saat diagnosa tersebut ditemukan ada piranti-piranti yang terkena virus, segera dibersihkan dan dibenai, niscaya akan sehat kembali. Andai “mesin batin” kita baik, insya Allah seluruh diri ini pun akan mengalami perbaikan. Bagaikan kendaraan, mesin sebagai komponen penting yang membuat kendaraan bisa melaju kencang. Bila mesin rusak, kita akan mengalami kendala di perjalanan. Mesin diri manusia adalah hati, ketika hati ini baik, insya Allah keseluruhan diri menjadi baik dan akan bisa terbang indah dalam perjalanan menuju Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketiga, menyadari dendam hanya menghancurkan hati. Dendam sebagai bentuk kegelapan pekat, dan penyakit kronis yang memiliki daya ledak besar, bahkan menghancurkan sendi-sendi batin manusia. Bila kita mengetahui akan bahaya dendam, maka kita tidak bakal pernah sedikit pun mendekati wilayah tersebut. Apa wilayah yang mendekati dendam, itulah kebencian. Dia tidak pernah menanam bibit kebencian di hati, karena pasti nantinya berbuah dendam. Dendam tak hanya membuat hati manusia gelap, bahkan rusak, kemana-mana ia membawa hati yang penuh sakit. Sedikit saja ketemu dengan orang yang dibenci, maka jantungnya gampang berdegup kencang, dan bisa jatuh shock. Itu disebut dengan spiritual shock.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Andai kita mengalami gejala dendam, memerlukan tiga langkah untuk menyembuhkannya, pertama memaksa diri untuk bisa melihat sisi positif orang, karena setiap orang pasti dilekati kebaikan walau setitik. Kedua, terus melakukan muhasabah ke sisi dimensi batin kita sendiri, karena muhasabah bisa membuat kita tercerahkan dari kotoran yang kerap menyangkut ke relung batin. Ketiga, menyadari akan bahaya besar yang dibawa oleh penyakit dendam, sehingga kita selalu menjauh dari wilayah-wilayah yang memerangkap diri pada dendam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Semoga kita bisa menemukan terang cahaya batin, ketika dendam berikut benih-benih yang menumbuhkannya telah tergerus dan dibersihkan.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7257414333481315605?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7257414333481315605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/dendam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7257414333481315605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7257414333481315605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/dendam.html' title='DENDAM'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-4902542607987195517</id><published>2010-08-16T23:48:00.000-07:00</published><updated>2010-08-16T23:50:30.800-07:00</updated><title type='text'>MARAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Puasa mendidik upaya pengendalian hawa nafsu, baik yang berbentuk nafsu wadhab (keserakahan), atau nafsu syahwat. Betapa banyak orang berhasil mengendalikan dan mengontrol orang lain, tetapi gagal mengontrol dirinya sendiri. Diam-diam mengalir kebanggaan di hati kala berhasil melumpuhkan atau menguasai orang lain dengan kekuatan hujah atau kekuasaan formalnya. Tetapi, dia sendiri mengalami kerapuhan batin, karena kerap mengalami kekalahan dengan dirinya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mungkin ada yang bangga ketika orang bisa memarahi bawahannya, dan bahkan merasa menang sehingga orang mengikuti apa yang diperintahkan dengan nada marah tersebut. Padahal, kalau ditelusuri lebih mengkristal, sesungguhnya orang marah telah mengalami cedera batin, mengapa demikian? Karena letupan kemarahan itu bukan berasal dari hati nurani yang lembut bercahaya, namun menyembur dari hawa nafsu yang selalu menggerakkan manusia pada keburukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ada laki-laki memohon pada Rasulullah SAW, “nasihatilah Aku,” katanya. Rasulullah SAW bersabda, “janganlah kau marah!, diulang berkali-kali. Beliau bersabda,”Janganlah kau marah.” (HR. Bukhari). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Memetik sabda Nabi Agung tersebut, betapa posisi kedewasaan ruhani seseorang terlihat dari kemampuannya mengendalikan kemarahan yang kapan saja bisa meledak. Jika orang belum bisa mengendalikan kemarahan, artinya gampang menebar kemarahan dimana-mana, berarti dia belum menggapai kedewasaan secara ruhani. Bukankah sikap marah berasal dari karena terbatasnya pikiran mencari jalan keluar terbaik, yang bisa menyentuh orang lain. Marah sebagai jalan yang kerap ditempuh orang-orang dangkal, lantaran tak bisa menyampaikan hujah yang bisa memantik kesadaran bagi orang lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kala manusia gampang marah, niscaya tidak menghiasi batinnya dengan kelembutan, malahan jiwa terus ditumbuhi kekasaran dan kemeranggasan. Ketika jiwa kasar dan angkuh telah tumbuh di lahan batin manusia, niscaya dia tidak bisa mencerap spirit keindahan dan kebahagiaan hakiki yang tersedia dalam batin manusia. Bila orang punya jiwa kasar, dia tidak bisa merespons sisi kelembutan yang melekat pada setiap orang. Bukankah hanya yang berjiwa kasar yang selalu bertemu dan menyapa kekasaran, dan jiwa lembut hanya bisa menangkap dimensi kelembutan yang tumbuh dari lubuk kedalaman dirinya. Orang terjebak dalam kemarahan demi kemarahan, sejatinya dia telah ditaklukkan dan dikendalikan kekuatan nafsu yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Apa saja bahaya yang akan menjangkiti hati orang yang punya kebiasaan marah? Marah adalah kekuatan api, yang bisa membakar batin manusia sendiri, dan menjulurkan kebakaran hingga keluar dirinya. Kala orang yang dimarahi punya kekuatan redam dan sejuk dalam memadamkan api kemarahan, api kemarahan itu tidak bisa membakar orang tersebut. Namun, andai orang yang dijadikan obyek kemarahan tersebut tidak memiliki kekuatan air yang sejuk, maka akan mudah dilalap bakaran api kemarahan tersebut, menjelma pada perselisihan dan permusuhan yang amat sengit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketahuilah orang yang dadanya selalu dibakar kemarahan, niscaya tidak bisa menemukan ketenangan. Bagaikan orang yang tersekap di rumah yang sempit dan panas, dia akan selalu didera kegelisahan, kesesahan, dan tidak pernah bisa istirahat dalam ketenangan. Siapa yang kerasan bermukim di rumah yang panas, apalagi rentan mengalami kebakaran yang bisa melalap seisi rumah, sehingga orang hanya melihat kegelapan di rumah “hati” kebakaran tersebut. Padahal pikiran dan hati yang gelap itulah yang kerap menggerakkan manusia melakukan kekerasan dan bahkan pembunuhan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Adalah hidup dua keluarga bertetangga dengan strata ekonomi yang berbeda, satunya seorang pengusaha yang berhasil mengelola bisnisnya secara cemerlang, dia memiliki mesin yang bisa menernak uang secara produktif. Sebelahnya, hidup seorang pegawai yang punya prestise hidup luar biasa. Ikon pegawai menjadi kebanggaan bagi orang ini, tetapi kehidupan ekonominya biasa-biasa saja, tak bisa mengejar kesejahteraan yang telah didulang sang pengusaha tersebut. Merasakan realitas hidup yang kontras tersebut, membuat hati si pegawai ini mengerut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kerutan-kerutannya itu menggumpal membikin hati makin kasar, sehingga timbul kedengkian, kemarahan, bahkan dendam dengan melejitnya kesuksesan yang diperoleh pengusaha tersebut. Demi meluapkan kemarahan tersebut, suatu ketika keluarga dari pengusaha itu lewat ditepi jalan, dengan kalap, si pegawai menabrakkan sepedanya ke sang nenek, beberapa menit nenek yang ditubruk tersebut langsung tewas. Demikianlah hasilnya kalau kemarahan membimbingnya menjadi dendam kesumat yang telah menjadi raja dalam dirinya, hanya dengan sedikit pancingan api, maka api yang lebih besar langsung melalap seluruh bangunan. Memang ketika kacamata manusia sudah gelap, maka dia akan terus tertipu dan ditipu oleh keadaan, bahkan menganggap seluruh keadaan hanya kegelapan tanpa cahaya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kala orang dijangkiti kemarahan, dia tidak bisa melihat cahaya rahmat Allah, yang ada hanya kutukan yang menggelapkan jiwanya sendiri. Memang, marah melahirkan Naar (api), dan mengendalikan kemarahan akan bisa mengelola Naar (api) menjadi Nuur (cahaya). Kita sekarang berusaha mengelola potensi api menjadi cahaya. Bagaimana caranya bisa mengendalikan medan hati agar tak tersentuh kemarahan yang tak terkontrol.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pertama, memproduksi cahaya dalam diri. Agar api melenyap dari dalam kesadaran kita, maka kita harus banyak memproduksi cahaya. Bagaimana cara memproduksi cahaya? Sering mempraktikkan zikirullah. Bukankah zikir menjelmakan cahaya. Setiap cahaya selalu memendarkan keteduhan dan ketenangan setiap jiwa. Bukankah hanya orang yang sering berzikir yang bakal bisa menjaring ketenangan dalam hidupnya, yang berarti tidak gampang terbakar kemarahan. Makanya, kita bisa menemukan orang yang ahli zikir itu selalu berada dalam keteduhan, tidak sering menyemburkan “rasa panas” pada lingkungan sekitarnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Lho, kok ada orang yang sudah terbiasa berzikir, masih kerap dijangkiti energi marah, berarti belum benar-benar mengkristalisasi zikir hingga ke relung hati yang dalam. Zikir hanya menjadi ritual yang terungkap lewat lisan, tidak terpatri hingga ke batin yang lembut. Kendati, demikian kita terus mempratikkan zikir dari lisan hingga dalam bentuk kehadiran hati (hudhuril qolbi). Ketika zikir telah memendari hati, insya Allah yang memenuhi ruang batin hanya kelembutan, tanpa kemarahan. Kendati kemarahan itu meletup, pasti masih berada dalam kendali hati yang bersih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kedua, mencari tempat bercermin yang lebih rendah dalam hal duniawi. Marah berkunjung karena kita sering bertemu dengan orang yang kuat, yang gampang menebar dan melemparkan bola api kemarahan dimana-mana. Bayangkan, sang majikan begitu gampang melemparkan marah pada karyawan atau pelayannya. Mengapa mereka gampang marah, karena menganggapi si karyawan sebagai yang butuh dan bergantung padanya. Kita akan mudah melemparkan kemarahan jika menganggap orang lain sebagai bawahan kita. Lebih daripada itu, mungkin kita sering bergaul dengan orang elite yang turut menyumbang kegersangan hati. Karena itu, perlu kiranya membangun jalinan kasih dengan orang-orang lebih rendah secara duniawi, seraya berharap bisa melembutkan hati. Kala hati sudah lembut, maka ekspresi yang keluar memantulkan cahaya. Bergaul dengan orang yang bermukim di tepi jalan, sambil berjualan, tanpa pernah kehilangan senyum yang menghias bibirnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bertemu dengan orang-orang yang berada di bawah kita dalam tataran duniawi akan menumbuhkan bibit kelembutan yang berada dalam hati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Sekarang, kita terus mengasah kelembutan dalam diri, sembari perlahan-lahan mengikis potensi marah yang kerap menyeruak dari dalam hati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-4902542607987195517?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/4902542607987195517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/marah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4902542607987195517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4902542607987195517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/marah.html' title='MARAH'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-3466165042909956791</id><published>2010-08-16T23:35:00.000-07:00</published><updated>2010-08-16T23:36:54.298-07:00</updated><title type='text'>THE POWER OF SURRENDER</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ikhlas adalah energi yang tak terlihat, namun memberi sumbangan besar bagi kehidupan. Seperti udara, tidak terlihat, tapi tak perannya tidak boleh diremehkan dalam memelihara kehidupan. Bayangkan, andai orang tidak menghirup udara beberapa menit saja, apa kiranya yang akan terjadi? Ikhlas itu termasuk udaranya ibadah. Tanpa keikhlasan mendalam, ibadah tak lebih sebagai karangka tanpa ruh. Ada gadis cantik rupawan, hanya saja nyawanya sudah terpisah dari raga. Kendati gadis itu begitu rupawan, ia tak menebar daya tarik bagi siapapun, karena tubuhnya yang elok telah berubah menjadi jenazah yang malah mengingatkan manusia pada kematian. Ketika gadis itu hidup bisa jadi memantik kesegaran hawa nafsu birahi, tetapi ketika kematian telah merenggut nyawanya, niscaya memutus warna-warni keinginan hawa nafsu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kalau demikian agar bisa memikat daya tarik batin setiap manusia, maka hiasilah batin kita dengan keikhlasan mendalam, sehingga setiap apa yang diungkapkan melahirkan inspirasi dan hikmah mendalam. Udara tidak mau kelihatan, tetapi akan selalu dirasakan kehadirannya. Kehadiran orang ikhlas menghadirkan pencerahan bagi kemanusiaan. Boleh jadi perkataan yang disampaikan amat sederhana, tetapi karena dibarengi energi keikhlasan, akan terasa berdampak di hati manusia. Kata-kata itu berdampak karena bukan berupa kata bangkai, tetapi kata yang disertai makna yang dalam dan menjulang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kata-kata yang terlahir dari keyakinan yang kuat dan teguh akan memberikan keteguhan bagi siapapun yang mendengarkan. Berbeda halnya, perkataan yang berhiaskan kata mutiara, namun karena tidak berasal dan ikhlas, maka perkataan yang berbunga-bunga dan serat puitis itu tidak bisa menyentuh sisi terdalam pendengar, sehingga tidak bisa memberikan bekas apapun terhadap mereka. Kata masuk dari telinga kanan-keluar dari telinga kanan, masuk dari telinga kiri-keluar dari telinga kiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mengapa perkataan, perbuatan, dan sikap hidup orang ikhlas bisa memancarkan makna yang indah pada manusia? Karena orang ikhlas selalu mendulang pertolongan dari Allah. Kala orang menjadikan Allah satu-satunya sebagai tujuan, niscaya Allah yang akan membimbing untuk bisa sampai pada tujuan tersebut. Dari diri menuju Allah, bahkan dari Allah menuju Allah. Dia telah menerabas batas-batas “rapuh” yang mewarnai manusia. Orang ikhlas amat kuat, karena selalu bersama dengan Yang Maha Kuat. Segala kekurangan usahanya akan dicukupi Allah, karena setiap aktivitas yang mendapati sentuhan dari Allah langsung, niscaya akan memancarkan bekas kemuliaan yang terus bersinar dimana-mana.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bayangkan, bagaimana dampak kekuatan ikhlas yang dibuktikan para wali dalam menebar syiar agama. Kita mengetahui, kemuliaan mereka melampaui ruang dan waktu yang dijejakinya, bertahun-tahun lamanya, kesan indah dan kemuliaan ihwal mereka masih tertancap indah dalam memori bersama masyarakat. Mengapa mereka masih punya nama yang masyhur di dalam hati masyarakat, karena mereka sendiri berjuang dengan spirit ikhlas. Perbuatan, perkataan, dan sikap mereka didasari semangat ikhlas dan berarti keyakinan yang kuat pada Allah SWT. Bukankah setiap keyakinan akan memancarkan pengaruh melampaui batas pikiran manusia, dan bahkan akan kekal selamanya, karena bersandarkan pada Yang Maha Kekal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bagi Anda yang hendak merasakan indah kekekalan energi, maka bersandarlah pada Yang Maha Kekal, dan janganlah sedikit pun bersandar pada suatu yang semu dan sementara. Siapapun yang bersandar pada yang semu, dia hanya merasakan sepah-sepah kesemuan. Hari ini dia mendapatkan pujian yang semarak, dia bisa menghimpun sekian pujian dari masyarakat, tetapi pada saatnya dia mendapati segala pujian itu seperti tanaman yang menghijau, tetapi pada saatnya mengalami kekeringan dan akhirnya diterpa angin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Habis.. segala hal yang berasal dari sesuatu yang semu dan sementara, dan hanya mencari muka manusia, maka itu tidak akan diperoleh secara terus-menerus. Bisa jadi orang yang amat doyan memuja kamu, kini memilih untuk mencacimu. Bukankah hati cuaca hati manusia sering berubah-ubah, lalu mengapa kita selalu menyandarkan diri pada suatu yang berubah-ubah. Kita tidak bakal menemukan ketenangan pada hal  yang berubah-ubah, perlu mencari sumber yang tak pernah berubah, kekal, dan universal, sehingga kita bisa merasakan kebahagiaan hakiki dan abadi dalam hidup ini.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-3466165042909956791?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/3466165042909956791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/power-of-surrender.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3466165042909956791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3466165042909956791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/power-of-surrender.html' title='THE POWER OF SURRENDER'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7437441036560658929</id><published>2010-08-16T23:28:00.000-07:00</published><updated>2010-08-16T23:32:56.560-07:00</updated><title type='text'>MELUASKAN KESABARAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kesabaran membentuk batin menjadi lebih kuat, tangguh, dan perkasa. Bagi yang kesabarannya terbatas, berarti dia telah membatasi rahmat Allah. Jika Anda hendak menggapai rahmat Allah yang tak terbatas, maka hadapilah dengan kesabaran akan setiap ketentuan Allah yang mengalir di sungai kehidupan Anda tanpa batas. Karena ternyata kejayaan itu diperoleh dengan kesabaran prima. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kita bisa berkaca pada orang sukses yang telah menggapai kedigdayaan di bidang duniawi dan spiritual, mereka telah menjadikan sabar sebagai menu harian bagi ruhaninya. Sabar memuat vitamin yang amat luar biasa bagi batin ini. Tetapi bagi orang yang belum bisa bersabar dengan kenyataan, sembari bersikap mengeluh, maka dia telah menyediakan diri sebagai korban dari setiap peristiwa dan kenyataan yang hadir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setiap orang mendambakan kebahagiaan, berarti mendamba rahmat dari Allah SWT. Rahmat adalah kekayaan yang tergenggam di tangan Allah, dan hanya diperoleh orang yang mendapati izin dari Allah SWT. Kendati demikian, orang bisa mencapai hidup dalam liputan rahmat, manakala dia memenuhi dadanya dengan spirit sabar. Itu artinya, sabar sebagai pasangan dari rahmat Allah. Kalau kita ingin dihampiri rahmat Allah, maka sediakan hati untuk bersabar akan segala kenyataan-kenyataan yang menyembul di dataran kehidupan kita. Bagaimana bisa bersabar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pertama, menyadari setiap kenyataan sebagai sebuah proses yang harus dijalani. Manusia tidak bisa merubah keadaan dan kenyataan yang ada di luar dirinya, sebagaimana orang tidak bisa merubah rotasi matahari. Saatnya matahari terbit, kita tak bisa memaksa agar tenggelam. Ketika matahari mencapai puncak tengah teriknya, kita tak bisa meminta agar dia terbit dari ufuk timur. Apalagi saat matahari tenggelam kita memaksa agar tetap bersinar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kenyataan dan peristiwa di hadapan kita tidak bisa dirubah, kita hanya bisa mengubah keadaan batin kita. Keadaan batin yang positif akan memberikan keluasan rahmat Allah, keadaan batin yang negatif cenderung menutup diri dari rahmat Allah SWT. Itu berarti derita dan bahagia sepadan dengan sikap batin kita akan realitas yang melompat ke ruang kehidupan kita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kedua, menyadari bahwa seluruh kenyataan berasal dari Allah yang Maha Kasih Sayang. Setiap perbuatan didasari sifat-sifat-Nya. Jika mindset dasar orang itu baik, maka seluruh perbuatannya memantulkan kebaikan. Sifat terpantul dalam perbuatannya. Dan perbuatan pantulan dari sifat-sifat yang melekat pada orang tersebut. Jika Allah itu Maha Kasih dan Sayang, berarti setiap perbuatan-Nya yang menyembul ke permukaan didasari rasa kasih sayang Allah. Andai ada kenyataan buruk yang dihadapi, yakini itu mengalir dari lautan kasih sayang Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Allah kebaikan mutlak, maka setiap peristiwa yang bersumber dari Allah, pasti menyimpan kebaikan. Hanya saja ada kebaikan itu dirasakan secara spontanitas, ada kalanya kebaikan itu baru disadari setelah melewati waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kehidupan itu tidak acak, seluruh kenyataan dan peristiwa yang mengada di hadapan kita terhimpun dalam desain dan rancangan dari Allah SWT. Keyakinan akan kebaikan Allah akan menjaga sikap batin kita terhadap luberan masalah yang hadir di hadapan kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketiga, realitas berpasangan. Dualitas kehidupan yang mewarnai perjalanan manusia sejatinya diciptakan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Seperti halnya, laki-perempuan, kanan-kiri, sehat-sakit, untung-buntung. Dua realitas yang berbeda tersebut tidak saling bermusuhan, tetapi berpasangan. Karena berpasangan, maka keduanya saling membutuhkan. Demi menghadirkan kebaikan, kadang harus disembulkan keburukan. Demi terlaksananya pembangunan, harus diadakan penghancuran terlebih dahulu. Rumah yang dihancurkan oleh bulldozer, jangan dikira hanya dihancurkan, bahkan itu awal mula akan terciptanya sebuah pembangunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bertaut dengan pemahaman tersebut, maka kita tidak akan mengalami kegundahan yang mendalam, manakala didera masalah buruk, dan tidak terlalu senang bila dihampiri oleh kebaikan. Semuanya mengalir dalam sungai kehidupan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Terpenting sikap kita yang harus dijaga dengan cara terbaik. Kita harus “kaya” alasan untuk bisa bersabar akan setiap masalah yang bertandang ke rumah kehidupan kita. Sehingga Allah akan mencurahkan kekayaan batin bagi kita. Insya Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7437441036560658929?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7437441036560658929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/meluaskan-kesabaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7437441036560658929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7437441036560658929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/08/meluaskan-kesabaran.html' title='MELUASKAN KESABARAN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-3491264063513985064</id><published>2010-07-13T19:09:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T19:13:11.679-07:00</updated><title type='text'>BERBICARA DALAM SEPI SUNYI</title><content type='html'>Tak sedikit orang merasakan suasana hambar di keramaian, karena hanya bersentuhan dengan hal semu dan temporal. Padahal piranti ruhani merindukan yang hakiki dan abadi. Apakah orang menemukan yang hakiki dan abadi lewat jalan keramaian? Di sisi lain, orang-orang besar mendulang kearifan dan turut membangun istana kebahagiaan di hatinya, karena memilih keluar dari kemewahan dan kemegahan hidup yang mengitarinya, lalu berusaha memerhatikan sisi kekayaan yang terbenam di hati. Karena tak jarang orang memerhatikan kekayaan di luar, luput memerhatikan kekayaan yang ada di dalam batinnya, sehingga terjebak ke dalam kebangkrutan ruhani. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibrahim bin Adham, seorang pangeran masyhur dari Balkan rela melepaskan baju kemegahan sembari menapaki jalan sunyi penuh derita duniawi. Disana Ibrahim bin Adham tak menyisakan sedikit pun kuasa hawa nafsunya, sehingga terus berada dalam penjara derita yang begitu pedih secara fisik. Walau dia merasakan kepedihan secara lahiriah, diam-diam mengalir keanggunan dan kedamaian universal di medan batinnya. Seiring berjalannya waktu, beliau berhasil melewati tangga-tangga penderitaan demi menggapai kebahagiaan sempurna. Dari beliau menghabiskan seluruh perbekalan untuk disedakahkan pada setiap orang yang ditemui, hingga menggadaikan dirinya sebagai budak demi bisa memberikan makan pada perempuan renta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pernah mengenal Tolstoy, tokoh sastrawan yang berhasil membesut karya sastra yang memikat, dan berhasil merekam kearifan universal lewat karya tulisnya yang mencengangkan. Dia menggeser kebiasaan hidupnya yang dikitari kemewahan dan keramaian, ke rumah yang amat sederhana dan sepi sunyi. Dalam sepi sunyi yang sempurna, dia bisa memahatkan inspirasi dalam tulisan-tulisan menggerakkan.&lt;br /&gt;Mulailah merubah dunia ramai dengan memahami dunia sepi-sunyi. Inspirasi dan ilham sering datang di ranah-ranah kesunyian yang menawarkan ketenangan dan kedamaian tak berbatas. Bagi orang yang berkomitmen menebarkan kasih pada kemanusiaan, perlu kiranya menempuh jalan-jalan sunyi dan mempersedikit bersentuhan dengan dunia ramai. Memang, seorang pejuang selalu berada dalam sunyi bersama Tuhan. Mula-mula, dia mengalami sepi keseluruhan, dari fisik, pikiran, hati menuju Yang Maha Sunyi. Setelah mengalami pencerahan, dia telah bersenggama dengan sunyi, dan keramaian fisik tidak akan merampok suasana sunyi di medan hati. Kendati berpapasan dengan beragam latar manusia, dia tetap menyatu dalam kesunyian mendalam. Sunyi-sepi telah terintegrasi dalam dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik ibadah sehari-hari melatih manusia tenang dalam sepi-sunyi, fokus pada satu tujuan final. Dialah Allah SWT. Semisal dalam menunaikan shalat, ingatan kita hanya tertuju pada Allah, merasa bahwa Allah selalu menyaksikan setiap gerak-gerik fisik dan batin kita. Lewat kesadaran akan penyaksian berikut kehadiran Allah, kita akan ditarik ke medan sunyi, perhatian pada selain-Nya akan punah dan tenggelam. Ketika pikiran dan hati telah tersetrum pada tujuan utama, yang lain tersingkir dari ingatan. Bagaikan orang terpesona dengan rembulan, kendati ada nyamuk menghinggapi kulitnya, seakan tidak terasa. Lolongan anjing, seakan tidak menggangu perhatiannya, bahkan perkataan teman seakan tidak terdengar. Seluruh perhatian tersedot pada semburat cahaya rembulan yang amat memesona. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sikap orang yang telah mengalami sunyi batinnya? Dalam sunyi akan tergelar kedamaian semesta. Tak ada sedikit pun yang mampu menginterupsi setiap gerak-gerik orang ini. Dia telah menyatu dengan kedamaian tanpa terusik. Dia telah menyelam di kedalaman lautan yang disana hanya ada mutiara kedamaian yang terus berkilauan. Ia tak lagi terpesona dengan fluktuasi luaran, dengan kesadaran bahwa di luar hanya memengaruhi sisi luar, tak bisa memengaruhi sisi terdalam. Ketika orang berselancar di laut yang sarat arus gelombang, arus gelombang akan membuat keadaannya bergerak tak beraturan, tidak tetap, orang akan ringkih berada diantara arus gelombang, karena dipermainkan oleh gelombang itu sendiri. Berbeda halnya, ketika orang telah berhasil mengalami diving ke dalam, niscaya disana ditemukan kebahagiaan tak bertepi, tak tersentuh pasang surut gelombang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita telah bermukim dalam ruang sunyi penuh pesona, disana dia bakal memeroleh sekian ilham yang bisa ditebarkan pada seluruh kemanusiaan. Bayangkan, Rasulullah Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul, menapaki jalan sunyi sepanjang 7 tahun lamanya. Tujuh tahun berteman dengan sunyi, beliau SAW memeroleh wahyu yang bisa meradiasikan kesadaran suci ke seluruh orang tanah Arab, dan menyebar ke seluruh pelosok dunia. Memang, demi bisa menebarkan kebajikan, kita harus berjalan dalam ruang sunyi, yang didalamnya diisi dengan tafakkur, merenungi dunia luar dan dijalinkan dengan gema suara yang menyembul dibalik kesunyian. Dalam sunyi orang akan menemukan mutiara dalam dirinya, berikut menemukan cara bagaimana bisa memperluas manfaat mutiara bagi kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Rasulullah SAW harus berada di gua, ruang gelap pekat, guna menjaring ilham berupa wahyu dari Allah? Ternyata orang menemukan cahaya batin, enlightenment di saat berada di ruang gelap pekat. Seperti halnya orang akan bisa mengaktivasi mata batin, ketika telah menutup mata lahiriah. Pun, ketika mata lahir tidak bisa melihat, saat itu mata batin akan mengalami keterbukaan. Kalau begitu, gelap lahiriah sebagai teman bagi terangnya jiwa. Mengapa demikian? Ketika orang terpesona pada terang yang berada di wilayah lahiriah, niscaya dia tidak bakal memerhatikan pesona terang yang terpancar di wilayah batin. Padahal terang batin lebih abadi ketimbang terang di luaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalam sunyi orang tidak lagi berbicara pada wajah lahir, tetapi berbicara pada wajah batin. Ketika terang di luar, orang sibuk bercermin untuk melihat wajah lahiriah, tetapi ketika dia akan tertarik untuk mengoreksi dan mengaca sisi batin. Ketika orang sering berkaca batinnya, insya Allah akan mengalami pencerahan dan kebeningan terus-menerus. Bagaimana cara agar batin ini bisa berkaca? Ini sering disebut muhasabah. Ketika orang sering menjalani muhasabah, menghitung-hitung apa yang terlintas dari hati dan pikiran terus-menerus, jika melihat dari lintasan itu keburukan, dia langsung beristighfar disertai penyesalan. Bedanya, kalau orang melihat wajahnya baik, maka dia berhenti membersihkan. Ketika orang ingin batinnya senantiasa baik, maka jangan pernah merasa baik. Karena merasa baik sendiri akan membuat wajah batin dihinggapi kotoran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdialog dengan diri sendiri di malam sunyi amat efektif untuk menguak diri hakiki, apakah masih sering ditebari kotoran, atau berbalutkan kedamaian yang indah. Qolbun salim tanda hati telah menggapai kebersihan penuh cahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-3491264063513985064?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/3491264063513985064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/07/berbicara-dalam-sepi-sunyi_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3491264063513985064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3491264063513985064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/07/berbicara-dalam-sepi-sunyi_13.html' title='BERBICARA DALAM SEPI SUNYI'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-2474222218848020202</id><published>2010-07-13T18:41:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T18:44:20.362-07:00</updated><title type='text'>DAHSYATNYA SHALAT</title><content type='html'>Ketika Rasulullah SAW bersama sahabatnya dicekal dan diembargo kafir Quraisy yang dirancang sepanjang 3 tahun, berbentuk penghentian distribusi logistik menuju kaum muslimin, tak ayal ada sebagian sahabat mengalami kelaparan. Intimidasi, penyiksaan dan aneka perbuatan keji mewarnai kaum muslimin saat itu. Itulah perbuatan keji yang dilancarkan kafir Quraisy demi menurunkan spirit Rasulullah SAW dan para sahabat secara perlahan-lahan. Seakan tantangan mulai menjelma dan meraksasa demi menguji keteguhan iman para sahabat Rasulullah SAW. Peristiwa memedihkan itu tidak memupus iman sahabat, bahkan iman mereka kian membaja dan perkasa. Usaha melumpuhkan kaum muslimin tidak berhasil, dan mereka gagal total, ditandai dengan remuknya piagam pemboikotan oleh serangan beribu-ribu rayap, sehingga masa pemboikotan yang diproyeksikan 3 tahun hanya bisa bertahan 3 bulan. Kecuali nama-nama Allah tetap menempel terang dalam piagam tersebut, sementara seluruh klausul pemboikotan yang menempel di dinding Ka’bah melepuh oleh gigitan rayap-rayap yang terus berkerumun. Subhanallah. &lt;br /&gt;Berlanjut kesedihan Rasulullah SAW bersama sahabat kala ditinggalkan dua sosok terkemuka yang berperan sebagai tameng, perisai, bahkan benteng bagi perjuangan Rasulullah SAW, dialah Sayyidah Khadijah Al-Kubro, dan Abu Thalib. Istri dan paman Rasulullah SAW berkontribusi besar terhadap penyebaran agama Allah di bumi Mekah. Wafatnya mereka berdua tidak hanya menyisakan duka, tetapi membuat kafir Quraisy kian beringas dan keji memperlakukan sahabat Rasulullah SAW. Mereka tidak hanya berani menggangu Rasulullah SAW, malah sampai pada titik mengancam nyawa Rasulullah SAW. Dari lintasan fakta itu, kita bisa membayangkan pamor dan peran Sayyidah Khadijah Al-Kubro dan Abu Thalib untuk membentengi keselamatan Rasulullah SAW dan keberlanjutan dakwah Islam. &lt;br /&gt;Wafatnya mereka berdua membekaskan kedukaan mendalam bagi Rasulullah SAW. Seakan perisai manusia telah terbelah dan tumbang, namun lewat peristiwa memedihkan itu Rasulullah SAW mendapat kabar gembira lewat peristiwa Isra’ Mi’raj. Sandaran manusia telah rapuh, tidak langgeng, dan bisa pupus oleh kematian. Namun, Allah Selalu Ada dan Maha Berdiri Sendiri, siap membantu kapan saja. Islam kian kokoh jika selalu tersambung dengan Allah SWT. &lt;br /&gt;Shalat adalah media penghubung (konektor) dengan Allah. Isra’ Mi’raj mengandung pesan kewajiban shalat. Shalat yang didirikan secara sungguh-sungguh, akan menghadirkan dukungan (mu’ayyadah) Allah. Berarti, shalat sebagai media efektif mengundang dukungan Allah SWT. Andaikan shalat menjadi media menghubungkan kita dengan Allah SWT, orang yang melakukan shalat dengan benar dan khusyuk akan memeroleh kekuatan dahsyat. Keimanan menancap kukuh dan mengkristal bisa mengantarkan pada kemenangan hakiki. &lt;br /&gt;Menggapai Kemenangan Lewat Shalat&lt;br /&gt;Shalat melahirkan kekuatan ajaib manakala didirikan dengan benar dan khusyuk. Bukankah hanya shalat khusyuk yang mengantarkan pada keberuntungan, kemenangan, dan kemuliaan. Petikan firman Allah memperterang itu “sungguh beruntung orang mukmin yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun [23]:1-2)&lt;br /&gt;Khusyuk dengan dialiri getaran kehadiran Allah SWT berperan mengisi cadangan iman ke dalam hati ini. Dan tindakan yang disusupi spirit iman yang teguh akan membuahkan hasil efektif. Mengapa orang bisa menggapai kemenangan lewat shalat? Karena shalat memediasi kita agar terus tersambung dengan Allah SWT. Kita menggapai kejayaan, lantaran memeroleh kekuatan dari Allah SWT. Kita bisa bercermin pada peristiwa perang Badr, dimana para sahabat dengan jumlah 300 lebih sedikit bisa mengalahkan secara telak kafir Quraisy yang membawa pasukan tiga kali lebih besar daripada pasukan kaum muslimin kala itu. &lt;br /&gt;Keajaiban itu bukan karena usaha tentara muslimin semata, tetapi karena Allah menurunkan pertolongan, sehingga menggetarkan dan merapuhkan rasa yakin di hati orang Kafir Quraisy, sembari meneguhkan iman kaum muslimin. Tentara tak terlihat pun turun membantu tentara muslimin saat itu. Di detik-detik menjelang perang Badr, di malam harinya Rasulullah SAW menghabiskan waktunya bermuwajahah dengan Allah lewat shalat. Beliau menangis, merendahkan diri, karena perang Badr memang menjadi penentu masa depan Islam. Tangisan Rasulullah SAW itu meruntuhkan kekuatan musuh dan mengantarkan kemenangan gemilang di kalangan kaum muslimin.&lt;br /&gt;Shalat ampuh sebagai kunci mencapai kemenangan, baik secara individual atau jamaah. Jika belum merasa beruntung menjalani hidup, perlu kiranya mengoreksi kualitas shalat, karena kualitas shalat seseorang ditandai dengan merasakan bintang keberuntungan dalam hidupnya. Sekali lagi al-Qur’an menegaskan, “sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, menyebut nama Tuhan-nya, dan melakukan shalat.”(al-A’la [87]:14-15).&lt;br /&gt;Kita bisa menumbuhkan kualitas shalat prima bila kita mempersepsi shalat sebagai media meneguhkan akar iman yang sambung pada Allah SWT. Kita sambung saat kita mengingat Allah (zikrullah). Jika shalat belum menjadi momen meneguhkan rasa ingat pada Allah, berarti shalatnya belum powerful. Karena tidak handal, maka shalat tidak bisa diandalkan dalam merengkuh kemenangan. Ketika menjalani shalat, seringkali ingatan kita ngacir kemana-mana, walhasil shalat tidak punya daya pengaruh terhadap pembentukan karakter bening dan kukuh. &lt;br /&gt;Sepanjang shalat kaum muslimin belum sempurna (khusyuk) dan ajek, masih jauh kemungkinan Islam mengalami kebangkitan dahsyat. Ketakutan musuh terhadap Islam, bukan karena banyaknya umat Islam, tetapi berkaitan dengan keteguhan umat Islam dalam menegakkan shalat, terlebih shalat berjamaah. Adalah tokoh Yahudi sempat sesumbar, “Kami tidak takut pada orang Islam, hingga shalat subuhnya sama dengan shalat jum’atnya.”&lt;br /&gt;Mereka melihat kekuatan Islam dari kekompakan menegakkan shalat berjamaah. Bagaimana potret shalat berjamaah kita saat ini? Apalagi shalat subuh. Masjid megah, terbangun dengan biaya miliaran rupiah, berapa shaf kiranya yang berjejer ketika shalat subuh ditegakkan. Kesadaran shalat berjamaah, terlebih subuh, masih amat minor, tak ayal kita jarang menemukan kedahsyatan efek dari shalat untuk meneguhkan daya umat, sebagai umat terbaik. Ringkas kata, umat Islam tidak bisa menggapai kebangkitan (restorasi) secara totalitas sebelum memerhatikan shalat dalam spektrum yang benar dan ajek.&lt;br /&gt;Saatnya kita kembali menegakkan shalat dengan benar, lalu disempurnakan dengan shalat berjamaah. Ketika kita bisa menegakkan shalat secara benar dan ajek, maka akan menyembul power dari dalam, tindakan pun akan berdampak dan kukuh. Dengan shalat tindakan kita akan punya “ruh” dan efektif dalam menggerakkan perubahan. Andai kita ingin menggapai sukses, maka bersungguh-sungguhlah dalam menegakkan shalat. Sukses mulia akan menjelma secara dahsyat.&lt;br /&gt;Shalat membuat kita punya akar hubungan yang kuat dengan Allah SWT apabila dilakukan secara dawam (ajek). Akar kekuatan itu mengantarkan manusia menggapai kemenangan sempurna, baik secara lahiriah atau secara batiniah. Mengapa ada orang tidak shalat, tetapi dikarunia kejayaan, berupa kekayaan melimpah? Mereka boleh mendulang kekayaan meruah, tetapi ketahuilah dia mengalami kerapuhan batin, sehingga berjarak amat jauh dengan kebahagiaan. Keberlimpahan duniawi boleh mengitari hidupnya, tetapi dia mengalami kebangkrutan secara ruhani, dalam bentuk dicabutnya berkah harta tersebut. Tak jarang kekayaannya yang melimpah perlahan-lahan menggiringnya ke jurang kesesatan dan kehancuran. &lt;br /&gt;Kini, kita kaitkan kekuatan shalat dengan kehidupan kita sehari-hari. Andaikan kita masih kerap merasa didera derita dan kesedihan, atau merasa belum menggapai keberuntungan hidup, perlu kiranya mengoreksi dan menjajaki kualitas shalat yang kita tegakkan selama ini. Apakah shalat telah kita dirikan secara khusyuk dan dawam, atau masih sering dibuat sebagai permainan, dan sambil lalu. Karena dianggap permainan, maka tidak menyisakan kristal-kristal kebahagiaan ke ranah batin. Allah tidak pernah menyalahi janjinya. Mari kita dengarkan, ikuti, dan agungkan seruan-Nya yang digetarkan lewat lisan muadzzin, Hayya ‘alashshalah, hayya ‘alal falah.  “Mari dirikan shalat dan mari gapai kemenangan”. &lt;br /&gt;KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi&lt;br /&gt;Pentranskripsi: Khalili Anwar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-2474222218848020202?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/2474222218848020202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/07/dahsyatnya-shalat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/2474222218848020202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/2474222218848020202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/07/dahsyatnya-shalat.html' title='DAHSYATNYA SHALAT'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6868403065135469873</id><published>2010-05-31T19:37:00.000-07:00</published><updated>2010-05-31T19:39:22.320-07:00</updated><title type='text'>GUNUNG YANG TINGGI, JURANG YANG DALAM</title><content type='html'>Pada mulanya orang yang berdiam di kaki gunung, mendamba bisa mendaki puncak gunung yang amat indah, gagah, dan penuh misteri sukses, dia membanggakan gunung yang amat tinggi yang biasa dibilang sebagai pencakar langit. Banyak orang hebat yang telah berhasil menaiki gunung tersebut, hanya saja diri sendiri masih belum mampu “menundukkan” gunung. Karena impian yang kuat berikut didorong oleh daya tarik atas kemegahan gunung tersebut, dia mempersiapkan diri untuk mendaki sang gunung, ada sela-sela bisikan yang menyentuh hatinya, andaikan nanti bisa menapaki gunung tersebut, tentu akan ada kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Bukankah orang yang telah sampai di puncak gunung, dia akan lebih tinggi dari gunung tersebut. Dia mendapati gelar sebagai penakluk gunung. Dia pun berjuang mendaki gunung tersebut dengan pengagungan yang terhadap gunung, walau pun yang dituju akhirnya untuk meraih keagungan diri lewat pendakian tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, dengan usaha yang amat keras, tanpa lelah, disertai impian besar yang tertancap di pikirannya, membimbing dirinya sampai ke puncak gunung. Hanya saja setelah sampai di puncak gunung, kesadarannya hanya tertuju pada puncak gunung, berikut kebanggaan yang menyelimuti dirinya. Dia tak ingat lagi, darimana dia berasal. Dia berasal dari kaki gunung yang landai dan rendah. Karena dia hanya menyadari telah sampai di puncak, tanpa menyadari darimana dia berasal, maka dia berjingkrak-jingkrak di atas gunung tersebut. Karena lalai akan kesuksesan sampai di puncak gunung, tanpa menyadari berada di ketinggian, dia pun terjatuh ke jurang yang amat dalam. Akhirnya dia mati dalam kehinaan. Ketinggian gunung telah membuatnya terjungkal jatuh ke dalam lembah yang amat curam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Lukisan kisah ini diharapkan bisa menyajikan inspirasi yang indah di hati kita, bahwa orang jangan pernah sombong dengan perolehan hidup yang telah dicapainya. Karena kesombongan itu tidak akan membawa manusia kemana-mana kecuali jurang kehancuran. Ada sebuah perusahaan yang menggembar-gemborkan strategi dan manajemen bisnisnya, sebagai manajemen yang canggih, dan meyakini dengan manajemen tersebut perusahaannya bisa bertahan selamanya, bahkan bisa mengungguli perusahaan papan atas sekalipun. Seluruh promosi dan kesombongannya ternyata berbalas dengan kegetiran, bisnis itu tidak bisa bertahan lama, bahkan akhirnya hancur. Seluruh stakeholder perusahaan saling menyalahkan satu sama lain. Mengapa perusahaan itu hancur berkeping-keping? Perusahaan itu dihancurkan oleh sikap mengagungkan caranya sendiri, sehingga dia tidak mau berendah diri untuk mempelajari strategi perusahaan lain. Orang sombong telah merasa berada di batas ujung kehidupan, seperti berada di batas puncak sukses. Dia tak bisa mendaki kembali, akhirnya orang itu tak bakal bisa tumbuh dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era persaingan yang amat ketat ini, orang atau perusahaan yang diduduki direksi yang sombong tidak bakal bisa melambung dengan sukses yang luar biasa. Mengapa? Karena dia tidak bisa bergerak mengikuti ritme keadaan yang berubah cepat. Dia fanatik dengan kunci-kunci master yang telah mengantarkan dia pada puncak kesuksesan, padahal strategi dan manajemen akan terus berubah, seiring dengan perubahan arah psikologi pasar. Bisa jadi manajemen sukses yang digunakan, sekarang sudah kadaluwarsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti orang merasa sukses, dan kemudian terpaku dengan cara-cara lama menggapai sukses akan mudah ditinggalkan pesaingnya. Sukses harus, tetapi merasa sukses tidak boleh. Karena merasa sukses sendiri telah menghentikan langkah untuk pertumbuhan diri. Bukankah orang yang tidak merasa sukses berarti tidak bersyukur? Orang yang merasa sukses berarti membatasi rahmat Allah. Kita tetap bersyukur dengan hasil yang diperoleh, hanya saja bagaimana setiap hari kita harus bertumbuh mendekati cahaya (Allah). Rahmat Allah begitu luas tak terbatas, tak boleh dibatasi oleh perasaan sukses kita, karena hanya menghentikan langkah untuk melakukan yang terbaik dari hari ke hari. Apa sikap orang yang telah sampai di stasiun sukses?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, orang yang sukses adalah orang yang bisa membiakkan satu kesuksesan menuju kesuksesan berikutnya. Dia tidak hanya mengejar rahmat Allah, tetapi turut menebarkan rahmat Allah dimana-mana. Kesuksesan yang diraih mengalami pertumbuhan yang terus meningkat, sehingga tidak hanya menggapai sukses, tetapi kemuliaan. Bagaimana cara menggapai kemuliaan, kemuliaan bisa digapai ketika manusia merasa belum apa-apa, menyadari rahmat Allah lebih banyak daripada apa yang telah diperolehnya, sehingga tak ada alasan bagi dirinya terputus dari rahmat Allah. Bukankah orang yang terputus dari rahmat Allah, berarti terputus dengan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati dia telah sampai pada puncak kesuksesan, dia tetap membayangkan berada di bawah, sehingga kesuksesannya terus menanjak dan berkembang setiap saat. Dia bertanya kemana-mana untuk bisa meningkatkan pertumbuhan dirinya. Dia tidak hanya bertanya pada orang yang telah menggapai sukses cemerlang, dia berani bertanya pada orang yang pernah terdepak kegagalan. Bukankah dengan disadarkan akan sebuah kelemahan, orang akan tergerak untuk memperbaiki diri, menambah input, dan bertumbuh setiap saat. Karena kerendahan hatinya, dia bisa belajar kepada siapapun, berarti dia bisa melihat cahaya sukses dimana-mana, karena seluruh kehidupan berada dalam liputan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ia merasa masih berada dalam kerendahan, walau telah menggapai sukses, maka semua orang bisa menyentuh dan disentuh dia. Bahkan Allah pun bisa melibatkan diri dalam setiap aktivitas yang dijalani. Bukankah Allah berjanji meninggikan derajat orang yang merendahkan diri? Mungkin, tanpa dia sadari banyak masukan-masukan mengalir untuk perbaikannya. Mereka memberikan masukan tanpa pamrih sedikit pun. Semua orang sepertinya suka memberikan konsultasi gratis padanya. Karena masukan-masukan banyak orang, ia bakal terus berbenah diri dan bertumbuh, bagaimana bisa memberikan manfaat lebih besar lagi bagi sesama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pribadi ini tidak hanya sekadar telah mencapai sukses yang gemilang, tetapi telah mencapai kemuliaan di sisi Allah SWT. Mengapa? Ia tidak merasa sukses dan mulia, seluruh apa yang diperoleh karena pertolongan Allah SWT, yang wujudnya digerakkan banyak orang membantu dan menyokong bisnisnya. Ya, Allah hanya memuliakan orang yang merasa hina, mengangkat orang yang merasa rendah, mengayakan orang yang merasa fakir di hadapannya, mencurahkan ilmu bagi orang yang merasa bodoh. Rasakan kerendahan dirimu, insyaAllah kemuliaan hidup bakal meliputimu. Rasakan kefakiran dirimu, niscaya Allah akan memberikan kekayaan padamu. Rasakan kebodohan dirimu, niscaya Allah akan mencurahkan ilmu dari sisi-Nya. Tetapi berangsiapa yang telah merasa tinggi, ketahuilah dia akan terjatuh ke jurang yang paling menghinakan. Insya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6868403065135469873?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6868403065135469873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/05/gunung-yang-tinggi-jurang-yang-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6868403065135469873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6868403065135469873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/05/gunung-yang-tinggi-jurang-yang-dalam.html' title='GUNUNG YANG TINGGI, JURANG YANG DALAM'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-5760564454961054181</id><published>2010-05-31T19:36:00.001-07:00</published><updated>2010-05-31T19:36:57.786-07:00</updated><title type='text'>KEBAHAGIAAN ADA DALAM MENCINTAI</title><content type='html'>Cukupkah kebahagiaan dengan mencintai? Bagaimana ketika yang dicintai tak membalas cintanya pada Anda, masihkah kebahagiaan berbalut dalam hati? Bukankah Anda akan merasa sakit ketika engkau dibenci bahkan dicaci maki oleh orang yang Anda cintai, mengapa kau harus tetap mencintainya, jika dekat dengannya malah mendapatkan dampratan dan cacian? Pertanyaan ini mungkin tersusun rapi sebagai bentuk paradoks atas ide besar yang terpampang di judul tulisan ini. Selama ini orang merasa bahagia ketika dicintai, tetapi ketika tidak dicintai akan merasa sedih. Seakan kebahagiaan ada ketika dicintai, dipeluk, dan dihargai orang lain. Tapi,  ketika cinta, pelukan, dan penghargaan pupus, yang tersisa hanya puing-puing derita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya, perlu dibangun kesadaran, kita tidak bisa mengarahkan agar orang mencintai kita, lebih tepatnya memposisikan diri yang dicintai. Bukankah suasana hati orang sering berubah, kadang sekarang begitu mencintai kita sepenuh hati, maka kita mendapatkan kebahagiaan yang full. Pada kesempatan lain, dia menunjukkan cinta yang setengah full, berdampak pada kebahagiaan yang juga setengah, dan bila dia tak lagi menunjukkan selera cinta, membuat kebahagiaan kita lenyap dan hilang, berganti derita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak bisa mengarahkan mata angin cinta agar tetap mengarah pada kita, tetapi kita bisa mengarahkan diri sendiri untuk menyesuaikan dengan angin cinta itu. Kita tak bisa menuntut dan mengarahkan agar orang mencintai kita, tetapi kita bisa memilih untuk mencintai orang lain tanpa batas. Kita bisa merancang iklim cinta kita sendiri, mengapa kita tidak terus memancarkan cinta pada orang lain tanpa batas. Ketika kita mencintai orang lain, niscaya kita akan bahagia. Mengapa? Karena dalam cinta, kita hanya menemukan kebaikan dan kesejukan. Andaikan suatu saat, orang yang kita cintai membenci, mencaci, memfitnah kita, tentu tidak selayaknya mengurangi kualitas rasa cinta kita padanya. Karena cinta kita pada orang tersebut bukan karena dia mencintai kita, tetapi memang berangkat dari cinta kita padanya. Orang yang mencintai melampaui bentuk tubuh dan bentuk perbuatan. Dia selalu melihat fitrah suci yang tertanam dalam diri yang dicintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya ketika mencintai sesuatu, tertanam dalam lubuk sanubari sikap sabar dan ikhlas. Sabar dalam menerima beragam ujian dalam cinta, ikhlas dengan apa pun yang dikorbankan, tidak pernah mengungkit-ungkit pemberian pada orang yang dicintai, yang bakal menghapus rasa cinta itu sendiri. Dia tidak melihat apapun dari yang dicintai, kecuali kebaikan. Bukankah ketika orang memikirkan kebaikan, yang ada hanya surga. Rasulullah bersabda, “Jujurlah, karena jujur menunjukkan pada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan pada surga.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mencintai tak pernah berpikir apa yang diperoleh dari yang dicintai, tetapi apa yang bisa diberikan pada yang dicintai. Karena dia tak berharap apapun pada yang dicintai, andaikan dia mendapatkan senyum ketulusan, atau mendapatkan cacian maka bagi pencinta tidak ada bedanya. Mengapa? Karena fokusnya bukan pada sikap yang dicintai padanya, tetapi sikap dia pada orang yang dicintai. Makin sering dia memberi, maka dengan sendirinya akan tumbuh dan tumbuh rasa bahagia. Ia begitu tulus mencintai, karena baginya mencintai makhluk hanyalah saluran mengekspresikan cinta pada Allah. Karenanya sang pencinta tidak merasa disakiti, bahkan dia terus merasa bahagia. Cacian dan senyuman bagi sang pencinta, hanyalah cara orang yang dicintai menunjukkan perhatiannya pada kita. Ketika orang telah berhasil mencintai seperti itu, niscaya cinta bukan jalan derita, tetapi cinta adalah jalan menggapai kebahagiaan yang hakiki. Karena tujuan cinta kebahagiaan, maka perjalanan cinta pun bertabur bunga kebahagiaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan cinta Rasulullah SAW bisa dijadikan acuan bagaimana agar bisa mencintai dengan focus pada kebaikan yang dicintai. Mencintai yang membuat kokoh, bukan karena orang yang dicintai, tetapi mencintai karena Allah. Mengapa mencintai karena Allah akan menjadi kokoh dan kuat? Ya karena Allah sandaran yang tidak pernah berubah dan sempurna. Ketika kita menyandarkan pada yang sempurna, maka semua pernak-pernik yang dialami dalam cinta sempurna datang dari Allah, dan disambut dengan cinta penuh bahagia. Ketika cinta telah disandarkan pada Allah, maka cinta itu akan terus terasa bahagia. Tetapi kalau disandarkan pada sesuatu selainnya, maka itu akan terasa rapuh, dan kebahagiaan dalam persahabatan tidak bakal bertahan lama. Mencintailah karena Allah, maka kebahagiaan tidak akan berhenti mengalir ke dalam hati kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya, kita belajar mencintai tanpa syarat pada apapun, ketika kita bisa mencintai tanpa syarat, bahkan kebahagiaan gratis terkirim ke dalam tangki hati kita. Ketika orang mencintai tanpa syarat, niscaya kebahagiaannya pun tanpa syarat. Ketika orang mencintai tanpa batas, sama kebahagiaannya pun tanpa batas. Makin luas cakupan cintamu, makin luas cakupan kebahagiaan di hatimu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-5760564454961054181?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/5760564454961054181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/05/kebahagiaan-ada-dalam-mencintai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5760564454961054181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5760564454961054181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/05/kebahagiaan-ada-dalam-mencintai.html' title='KEBAHAGIAAN ADA DALAM MENCINTAI'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-4983369447117167857</id><published>2010-03-16T18:02:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T18:05:24.311-07:00</updated><title type='text'>THE AWARENESS OF JOYOBOYO</title><content type='html'>Terang-gelap, untung-rugi, bertemu-berpisah, sehat-sakit dan lainnya merupakan cakram putaran dualisme kehidupan yang akan dihadapi setiap insan. Itulah yang disebut JOYOBOYO. Sejak awal perlu dipatrikan di lubuk kesadaran kita, bahwa kita tidak bisa bersikap status quo (kemapanan) dalam suatu keadaan. Ingin sehat terus, sehingga membenci sakit, ingin untung terus, dan selalu ingin menyingkirkan rugi, merangkul pertemuan, tetapi melemparkan perpisahan. Kedua sisi tersebut dihadapi dengan kesadaran bahwa disitu ada pengalaman yang begitu bermakna. Sementara kemapanan tidak bakal memberi warna pelajaran dan hikmah dalam kehidupan ini. Bukankah kita suka dengan pelangi yang berwarni-warni, harusnya kita juga suka dengan warna-warni peristiwa dan kenyataan yang mengecat kanvas kehidupan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, kendati warna peristiwa yang membalut kehidupan beraneka ragam, kita tetap tertuju pada warna dasar kehidupan, yakni putih. Disinilah, makna dari ikhlas, sabar, bahkan syukur yang akan menorehkan warna terang bagi kehidupan kita. Itu artinya, dasar dari seluruh anugerah Allah adalah putih. Lekatkan mata pikiran kita untuk melihat titik putih tersebut, niscaya semua sisi yang negatif akan menyingkir dari hati kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan pergelaran besar, pasti ada agenda yang mewarnai pergelaran tersebut. Dari pembukaan, hingga penutupan. Dari opening hingga closing. Andaikan opening dan closing telah diagendakan, maka muatan yang mengiringi keduanya pasti telah diagendakan dengan rapi dan teratur oleh sang perencana. Contoh pergelaran teater, Anda akan menyaksikan bagaimana plot cerita yang mewarnai drama teater tersebut, mungkin Anda melihat plot cerita yang diwarnai decak kebahagiaan, menari-nari penuh suka cita, bahkan disertai tertawa cekikikan. Namun, ada tahapan, kesedihan, suasana kelam, kehancuran yang tak terperihkan mewarnai pemandangan dalam teater tersebut. Begitulah cermin rangakaian agenda yang mengiringi kehidupan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu kesempatan guru yang mulia berkata, “kelahiran tidak kita undang, dan kematian juga tidak kita pesan.” Kata tersebut menancap dalam kesadaran saya, “diantara kelahiran dan kematian ada kehidupan, harusnya menghadapi kehidupan dengan sikap tawakkal, dan menghadapi kematian dengan berserah diri,”lanjut beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang hanya orang yang tidak mengerti hakikat kelahiran dan kematian yang selalu didera dan dipenjara perasaan gelisah, resah, dan keluh kesah, karena menyandarkan kehidupan pada dirinya sendiri, tidak ada spirit penyerahan diri (surrender) di medan kesadarannya. Berbeda halnya, ketika orang telah memahami dan meresapi makna kelahiran dan kematian, maka ia selalu tersuluhi cahaya terang, bahwa di antara batas kelahiran dan kematian Allah telah menetapkan bagi kita masing-masing, kapan kita berada di momen kejayaan dan kapan terkapar dalam keruntuhan. Kejayaan dan keruntuhan suatu keadaan yang bersifat eksternal, yang keduanya bisa menyeret kita dalam kubang penderitaan atau menggiring ke istana kebahagiaan. Apa yang membuat kita tertelungkup dalam penjara derita dan bersuka cita dalam kursi bahagia (the happiness chair)? Tiada lain sikap kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi terkuak sebuah pertanyaan, benarkah kenyataan jaya-runtuh, sehat-sakit telah ditentukan? Anda bisa menelaah QS. Al-Hadid:22 “tiada bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lawh Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut mematrikan pesan, setiap kejadian dan peristiwa yang mewarnai hari-hari kita telah ditetapkan oleh Allah, kita tidak bisa mengelak ketika kejadian itu sudah hendak berkunjung, dan tidak bisa mendesak kala kejadian itu belum saatnya hadir. Semua telah dijadwal oleh Allah SWT. Kita bisa menelaah juga QS. Ali-Imran: 140 “…..Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir), dan supaya sebagian kami dijadikan gugur sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“jika Anda berada di hari Rabu, Anda tidak bisa melompat ke hari Jumat, pun tidak bisa meloncat ke hari Senin,”jelas guru yang mulia. “padahal peristiwa dan kejadian menempel pada hari-hari itu, kalau kita tidak bisa mengelak dan menarik hari, pun tidak boleh mengelak dan menghindar dari kejadian peristiwa yang hadir,”lanjutnya. “kita hanya perlu mempersiapkan dengan sabar, bukan keluhan, karena mengeluh bukan sikap orang beriman, muslim saja tidak. Orang muslim itu bersikap sabar, mukmin bersikap ridha, orang muhsin bersikap syukur. Serendah-rendah sikap orang muslim adalah sabar, dan orang yang mengeluh ciri karakter orang kafir,” nasihat beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita perlu mempersiapkan senjata batin untuk menghadapi kejadian dan peristiwa yang hadir tanpa diundang, sehingga semua kejadian itu bisa didaurulang menjadi kenyataan positif dalam batin, dan meningkatkan derajat kita di sisi Allah SWT. Kita dikunjungi musibah, maka respons dengan sikap sabar, ridha, bahkan tidak kehilangan rasa syukur. Ketika diapit kejayaan, pancarkan sikap sabar tanpa batas. Sikap tersebut terbungkus sebagai ibadah batin, ibadah batin inilah yang bisa melejitkan potensi ruhani manusia, dan mengantarkannya untuk menggapai maqam yang tak bisa dilalui dengan ibadah-ibadah lahir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita merangkai kedamaian melalui awareness of Joyoboyo  (kesadaran akan jaya-bahaya), dan memantulkan kedamaian itu pada sesama, dengan menebarkan kesadaran bahwa kehidupan ini adalah tugas untuk mengikuti jadwal Allah SWT yang didalamnya berisi JOYOBOYO, dan tak ada JOYOBOYO tersebut kecuali demi mengantarkan manusia ke dalam samudera kebahagiaan. Andaikan ada orang terus tersungkur dalam penderitaan, berarti ada kezaliman yang dilakukan pada dirinya sendiri, karena Allah tidak pernah berlaku dzalim pada hambaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-4983369447117167857?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/4983369447117167857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/awareness-of-joyoboyo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4983369447117167857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4983369447117167857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/awareness-of-joyoboyo.html' title='THE AWARENESS OF JOYOBOYO'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6389346962281237261</id><published>2010-03-16T13:42:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T13:45:18.936-07:00</updated><title type='text'>MERENDA CINTA RASUL BERSAMA HABAIB</title><content type='html'>Cinta Rasul tidak boleh padam, karena ketika cinta pada Rasulullah SAW padam, maka gairah islam pun bakal redup, pada ujungnya kita tidak bakal mencecap kelezatan ruhani dalam menjalani agama. Ada orang yang tekun beribadah, tetapi karena tidak disertai energi cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, niscaya ia tidak bisa merengkuh mutiara agama dari cangkangnya. Bahkan tak jarang ada orang yang dibelenggu oleh konflik yang muncul dari dalam dirinya sendiri, sehingga tidak bisa menjalin harmoni yang indah dengan diri dan sesama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kisah yang amat menarik, ada orang yang tekun beribadah, bahkan dia mengklaim hidupnya dipandu al-Qur’an dan Hadist, hanya saja kenyataan hidup dirasakan tetangganya tidak pernah memancar kedamaian darinya, terbukti dia tidak pernah bisa mengambil hati tetangga. Dia terkenal oversensorship terhadap ajaran-ajaran yang dikatakan tidak selaras dan al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, cara dakwah yang dilakukan tidak mengundang simpati, malahan menuai kontroversi dan kebencian dari masyarakat sekitar. Karena dia tidak bisa memoles dan menikmati suasana kondusif, dia sering pindah dari satu perumahan ke perumahan yang lain, dari satu kota ke kota yang lain. Mengapa mereka mengalami konflik batin, ya karena tidak pernah tersambung dalam jalinan cinta pada Rasulullah Muhammad SAW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta Rasul menjadi modalitas untuk bisa menumbuhkan cinta dalam diri setiap orang, yang kemudian merambat pada sesama dan kehidupan. Bagaimana bisa memekarkan bunga cinta pada Rasulullah Muhammad SAW dalam hati? Saya diajak teman untuk menghadiri maulid yang digelar para habaib, kebetulan maulid diselenggarakan di rumah seorang habib yang ceramah-ceramahnya menggetarkan jiwa, meruntuhkan kebekuan iman, dan membuka gerbang kesadaran baru tentang kecintaan pada Rasul yang Agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berangkat dari kos ke tempat penyelenggaraan acara, tepatnya di Ampel 30 menit sebelum maghrib. Saya sampai disana pas adzan maghrib, sehingga bisa mengikuti shalat berjamaah di masjid Sunan Ampel. Seusai shalat sunah ba’diyah, saya langsung menuju tempat penyelenggaraan acara, saya bertemu dengan habib Husein, putera Habib Najib. Melihat penampilan busananya saya mengingatkan Habib di Malang, yang meniru gurunya yang agung Hb. Umar bin Hafidz. Mata saya tertuju pada sosok Hb. Najib yang begitu mempesona dengan kesederhanaan yang melekat pada penampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit sampai di tempat tujuan, acara langsung dimulai diawali dengan tahlil, disertai dengan pembacaan manaqib beberapa sosok mulia untuk dikirimi doa. Masuk acara shalawat Maulid yang diiringi dengan rebana. Sungguh, saya mendapatkan pantulan Rasulullah SAW dari para keturunan yang disucikan. Para jemaah yang hadir begitu khusyuk mengikuti lantunan shalawat yang dibawakan dengan lagu yang lama, mengikuti irama yang telah dibagikan para salafus saleh. Memang lagu-lagu lama lebih mengena dan menyusup ke jantung, ketimbang lagu yang dikreasi dengan sentuhan-sentuhan modern. Bertemu dengan habaib saat memuja-memuja Rasulullah SAW meresapkan kebahagiaan tersendiri bagi diri ini. Tercermin dari wajah yang berseri-seri dan kelembutannya  dalam berdakwah dan mengajak orang, tak ada wajah sangar yang saya lihat dari habaib yang hadir. Mereka telah disuluh dengan cahaya kelembutan Rasul, karena itu dakwah yang dilakukan mereka lebih mengedepankan akhlak luhur dan sikap yang punya daya interesting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat acara itu, saya membayangkan akan mendapatkan sentuhan motivasional cinta Rasul dari Hb. Najib, namun yang dipersilahkan untuk memberikan materi ceramah saat itu, Hb. Zainal dari Pasuruan. Kalau ceramah Hb. Najib tidak pernah mengundang gelak tawa, tetapi Hb. Zainal ceramahnya kerap diselipi guyonan yang tak jarang membuat jamaah tertawa. Memang, setiap jamaah punya kecenderung masing-masing. Ada yang mendahulukan isi daripada kemasan, mereka membutuhkan sentuhan-sentuhan ceramah yang serius tapi membahana dengan motivasi. Ada banyak jemaah yang suka dengan ceramah yang diselipi goyunan. Namun, ketika melihat wajah Habaib saya merasa makin masuk dalam jantung kecintaan pada Rasulullah Muhammad SAW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai acara ceramah, acara tersebut diwarnai dengan penyelenggaraan akad nikah. Berikutnya ada acara makan bersama. Saya mengira jemaah yang hadir hanya sedikit, tetapi ternyata meluber hingga ke jalan raya. Mungkin ada ratusan atau mungkin mendekati seribu orang di acara cinta Rasul, kendati acara dikemas dengan begitu sederhana, tetapi dibalik kesederhanaan menyimpan pesona Rasul yang Agung. Hal itu baru saya sadari, pada saat panitia membagikan makanan yang dihidangkan dengan baki. Setiap baki terdiri nasi, lauk-pauk, dan buah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat begitu lamanya pembagian, saya meyakini jemaah mendekati seribu orang. Dari momen ini, saya tidak hanya diperkenalkan tentang cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, tetapi menyibak tirai keajaiban keturunan Rasulullah yang tidak pernah lepas dari busana akhlak yang dipergunakan beliau SAW, salah satunya dermawan. Kedermawanan Hb. Najib terasa dalam acara tersebut, dan beliau benar-benar berusaha bagaimana bisa memuaskan jamaah yang hadir. Kebanyakan jamaah yang hadir tanpa mendapatkan undangan langsung, hanya mungkin melihat woro-woro yang tertempel di dinding atau papan pengumuman. Tapi, alhamdulillah makanan yang dihidangkan cukup. “kendati jemaah yang hadir begitu banyak, saya tak pernah mendapati persediaan konsumsi kurang, sehingga ada yang tidak makan,”kata teman saya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin akhlak Rasulullah SAW sebagian bisa dilihat dari akhlak yang terlukis dari keturunan beliau. Dan kalau kita mencintai Rasulullah SAW, maka kita harus mencintai keturunannya. Karena dari keturunan Rasulullah, ilmu hikmah mengalir dengan deras yang membikin orang menemukan keindahan agama, tanpa harus merasa kesulitan. Bergaul dengan keturunan Rasulullah SAW, kita bakal mendapati agama yang humanis, mengedepankan akhlak yang agung, tak pernah sedikit pun menyalahkan apalagi mencemooh orang lain. Rasa cinta pada beliau SAW makin bergelora ketika melihat pantulan akhlak Rasulullah yang terpancar pada pribadi-pribadi Habaib. Saya melihat senyum indah melulu menghiasi wajah mereka. Ada keguyupan dan kebersatuan dalam komunitas mereka, selain mereka dengan suka cita berbaur bersama orang-orang di luar komunitas habaib. Ini membuktikan, demi bisa menggelar dakwah lebih luas diharuskan berbaur dengan masyarakat yang berbeda latar belakang tradisi, tetapi tetap mengacu pada cara-cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Islam dicitrakan sebagai agama inklusif, terbuka terhadap tradisi dan latar belakang apapun. Mengapa demikian? Karena islam digelar oleh utusan yang berprinsip rahmatal lil ‘alamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti maulid tidak sekadar bisa mengejawantahkan rasa kerinduan dan cinta pada Rasulullah Muhammad SAW lewat pembacaan shalawat bersama, tetapi bisa membangun jalinan ukhuwah atau pergaulan dengan orang yang berasal dari trah yang mulia, trah Rasulullah Muhammad SAW. Bukankah yang ditinggalkan Nabi ada tiga, yakni al-Qur’an, Hadist, dan keturunan beliau yang suci. Al-Qur’an dan hadist sebuah konsep agama yang mati, tetapi keturunan beliau yang dipasoki nilai-nilai agama tetap hidup, dan mengikuti jalan dakwah yang pernah dirintis beliau Saw. Semoga kita makin bisa meneguhkan cinta pada Rasulullah Muhammad SAW dengan cara bershalawat dan diperkenankan bergaul dengan keturunan Nabi Saw yang suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6389346962281237261?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6389346962281237261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/merenda-cinta-rasul-bersama-habaib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6389346962281237261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6389346962281237261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/merenda-cinta-rasul-bersama-habaib.html' title='MERENDA CINTA RASUL BERSAMA HABAIB'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-8581480528906697742</id><published>2010-03-16T13:00:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T13:03:01.459-07:00</updated><title type='text'>KERJAKU, BEBANKU</title><content type='html'>“tumpukan dan tekanan kerja membuat kepala jadi judeg,”kata saudaraku yang sudah setahun bergelut di karir finansial. Dia mengutarakan sekian problem kerja yang membelit dirinya. Sehingga dari waktu ke waktu, terasa beban yang dipanggul kian berat. Kendati demikian, karirnya begitu cepat menanjak, dari sales jalanan, kini dipercaya sebagai supervisor hanya dalam tenggat waktu setahun. Perihal finansial sudah tidak menjadi kerisauannya sebagaimana halnya pada saat dia baru lulus kuliah. Secara finansial dia telah merasa aman, apalagi belum menikah, sehingga kebutuhan tidak terlampau banyak. Tetapi diam-diam, dia merasa ada suatu di dalam dirinya yang telah dirampas oleh perusahaan. Apa itu? Itulah kemerdekaan intelektual, psikologis, terlebih kemerdekaan ruhani yang menjadi pijakan dasar orang merengkuh kebahagiaan sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kegundahannya itu, ia bersilaturrahim pada saya, seraya berharap bisa mencurahkan segenap kejudegan dan menimba pencerahan, sehingga gumpulan kesedihan yang telah membetot hatinya, mencair, dan dia bisa kembali menemukan makna hidup yang mencerahkan dan membahagiakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tekanan yang kurasakan makin berat. Tekanan dari manager, dan juga dari anak buah yang kurang bisa bekerja secara cepat. Dengan berbagai benturan itu, saya kadang jengkel sendiri, dan bahkan akhirnya pasrah, tidak apa-apa kalau saya keluar dari pekerjaan ini. Sebelumnya saya sempat ditawarin oleh pihak direksi, untuk menjadi analis, tetapi saya dalam keadaan gundah, menolak tawaran tersebut, dan memilih fokus mengelola pekerjaan yang kutangani. Saya tidak ingin meninggalkan pekerjaan yang masih berpelepotan beragam masalah. Setiap hari saya bermain dengan strategi, perencanaan, dan target-target, kadang membuat pikiran jadi buntu,”tandasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem seperti itu tidak sekadar dialami oleh saudara saya tersebut, bisa saja dialami oleh setiap karyawan yang hari-harinya dipacu oleh target dan rencana yang moving. Semuanya menggunakan pikiran rasional, dan jarang mendapatkan sentuhan “the power of spiritual.” Ketika kita terus berjibaku dengan persoalan harian yang meletup dari pikiran-pikiran luar, dan tidak mendidik hati agar bisa memiliki mental terbaik, niscaya pekerjaan akan menjadi beban, bahkan racun yang akan mematikan sisi ruhani. Ketika ruhani mati, atau setidaknya sakit, niscaya akan menguap kehampaan, perasaan kering, gersang, dan nurani jadi tumpul untuk menggali makna terindah dari setiap momen yang terlintas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat tidak percaya dengan penelitian, bahwa ada sufi di korporat, karena korporat yang telah menjadikan kapital berikut mengumpulkan modal material sebagai tindakan sehari-hari, karenanya sulit menggapai sufi yang sejati. Kendati tak bisa dipungkiri, ada juga sosok sufi yang dilahirkan dari sebuah komunitas di perusahaan. Ketika perusahaan, dan orang yang berada di perusahaan hanya terpancing untuk mencapai keamanan dan kestabilan keuangan, niscaya kesucian ruhani sulit untuk bisa dirangkai secara efektif. Jarang sekali kita melihat perusahaan yang bisa melahirkan sufi-sufi handal, karena cara kerjanya di-create kental orientasi materialistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan ada gairah memunculkan nilai dan semangat spiritual dalam perusahaan, pada akhirnya diarahkan untuk bisa meningkatkan pendapatan yang lebih besar. Kita bisa bercermin pada pelayanan perbankan, pelayanannya begitu anggun, senyum tersimpul indah menghiasi wajah setiap teller, costumer service, dan bahkan security yang menyambut para nasabah. Hanya saja, dari wajah batinnya terpancar bahwa sikap dan penampilan mereka sepertinya tidak muncul dari kejernihan hatinya, tetapi diformat oleh sistem yang dikembangkan perusahaan. Mereka bersikap indah, interesting, elegan selaras dengan tuntutan perusahaan, yang bertujuan menarik pelanggan agar betah bersama pelayanannya, dan pada akhirnya bisa meningkatkan aggregasi pendapatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perilaku, sikap, dan performance yang pada ujungnya berharap pada terpenuhi materi bukanlah spiritual. Kendati disebut spiritualitas itu bersifat spiritual semu (pseudo-spiritual). Karena bagi orang yang berorientasi spiritualitas, maka duniawi dengan segenap aksesorisnya hanyalah jalan, menuju kejayaan ruhani, berujung pada upaya mendulang tambang kebahagiaan yang begitu berharga yang diproduksi dari dalam dirinya sendiri. Mereka bahagia, karena telah diberi kemampuan oleh Allah untuk mewujudkan panggilan jiwa yang terus menggedor batinnya. Ada orang yang begitu bahagia, setelah melalui kekayaan yang didapatkan, dia bisa memberi lebih banyak lagi pada orang yang membutuhkan, bisa membuat yayasan kusta yang diperuntukkan bagi orang yang terjangkit kusta. Mereka bahagia bukan karena kekayaan itu, tetapi karena telah bisa memenuhi panggilan jiwanya untuk bisa membantu orang yang membutuhkan dengan panduan hatinya yang suci.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan menjadi beban, dan menjadi lahan yang begitu menarik, tidak bergantung pada perolehannya, tetapi misi atau prinsip yang tertanam dalam pekerjaan tersebut. Ketika misi yang tertanam mulia dan indah, maka kerja dan seluruh prosesnya terasa indah. Seperti orang hendak rekreasi sebuah tempat yang begitu indah nan eksotis, tentu saja tidak ada cemberut yang menjelma dari wajahnya, bahkan senyum terus disertai gurauan kecil mengiringi perjalanan tersebut. Apalagi ketika telah sampai pada tujuan, maka kebahagiaan itu seperti telah menyatu ke dalam hatinya. Atau ketika orang hendak berkunjung pada sang kekasih, sebelum tiba di rumah sang pujaan hati, masih hendak berangkat atau berada dalam perjalanan menujunya, sepertinya simfoni kebahagiaan terus mengalun indah dari hati ini, bahkan ketika dalam perjalanan itu diwarnai siulan, nyanyian merdu yang melukiskan suasana hati yang indah dan penuh bahagia, bahkan telah membayangkan momen indah yang bakal terjadi dalam persuaan dengan sang kekasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang dipasoki nilai-nilai ruhani otentik dalam hatinya, maka dia akan selalu meresapi, menghayati, dan berpelukan dengan kebahagiaan. Dia bisa merasakan pantulan kristal-kristal kebahagiaan memancar dari seluruh sudut kehidupannya. Karena memang, hatinya telah dihiasi taman yang indah, dia tidak terpengaruh dengan kotoran yang ada di luar dirinya, karena dia telah merasakan taman indah yang tak bakal terganggu oleh siapapun, kecuali dia sendiri yang mengizinkan untuk diganggu. Karena dia telah punya alam hati yang bertatahkan taman indah, dia tidak sekadar menikmati kebahagiaan, tetapi berusaha menebarkan dan membagikan kebahagiaan itu pada lingkungan sekitarnya. Dengan menatapnya, banyak orang yang mengalami kegersangan spiritual, tiba-tiba terasa mendapatkan hujan spiritual dari wajahnya sehingga kegersangan itu berakhir, berikut bisa menumbuhkan bibit-bibit kebaikan yang bersemi dalam dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang sudah berpelukan dengan kedamaian, bahkan benturan, intrik, dan taktik yang terjadi dalam perusahaan tidak pernah bisa merampas kebahagiaan yang telah berdiam dalam dirinya. Bahkan seluruh suasana gelap itu akan menjadi terang dalam sudut pandangnya, bahkan mencerahkan. Dia terampil mengelola suasana yang semberawut menjadi suasana yang rapi dan melahirkan aneka hikmah. Sikap dan perilakunya sering membawa cahaya, dan mengilhami orang lain untuk berbuat yang terbaik. Tindakan dan sikap hidupnya lebih bernas dampaknya ketimbang kata-katanya. Karena hatinya telah ditumbuhi sakinah, maka dalam kondisi apapun dia selalu berada dalam keadaan sakinah, tak pernah terusik sedikit pun. Bekerja pun menjadi aktivitas yang enjoy, karena bekerja dipandang menjadi instrumen untuk mendapatkan kebahagiaan, juga membagi kebahagiaan yang didambakan oleh setiap insan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-8581480528906697742?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/8581480528906697742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/kerjaku-bebanku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8581480528906697742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8581480528906697742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/kerjaku-bebanku.html' title='KERJAKU, BEBANKU'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7826683148096275978</id><published>2010-03-15T19:01:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T19:03:28.294-07:00</updated><title type='text'>MENYIBAK CAHAYA BAHAGIA</title><content type='html'>Saya sempat bertemu dengan bapak yang sudah berumur, yang tengah didera persoalan yang amat kompleks. Istri dan anaknya sudah tidak lagi bisa dijadikan pandangan yang menyejukkan mata, tatapan tetangga dirasa sebagai ajakan permusuhan, perilaku orang-orang sekelilingnya terasa kurang bersahabat. Dia mempersepsi tak ada lagi tempat berteduh untuk mengungkapkan perasaan dan gelora kegundahan yang membungkamnya. Saat saya bertemu dengannya, saya berusaha menjadi pendengar dan teman bicara terbaik, mau berempati untuk mendengarkan seluruh keluh-kesah, dan kekecewaan yang sepertinya membetot seluruh perasaannya. Dia berusaha mengungkapkan permasalahan yang menghadang dan mendekap dirinya. “saya mendapatkan ujian yang besar dari Allah, keluarga tidak lagi punya perhatian dan welas asih padaku, semua orang seakan telah memusuhi diriku. Karenanya aku berusaha meninggalkan mereka sementara waktu untuk bisa menyadarkan mereka. Tetapi sayang, mereka tidak juga sadar, “katanya dengan wajah penuh kerisauan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“setiap hari saya berusaha menjaga perasaan, saya tidak sebatas diremehkan oleh keluarga, tetapi tetangga pun kerap melemparkan pandangan kecut terhadap saya. Saya tidak pernah merasa berbuat salah pada mereka, saya tidak pernah mengambil hak mereka, atau saya mengemis pada mereka. Sama sekali tidak pernah, tetapi mengapa mereka memandang saya dengan sikap merendahkan,”lanjutnya dengan nada agak meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dia melemparkan kesalahan ke banyak orang. Walau dia sendiri tidak lupa menyebutkan kebaikan pada pihak yang lain. Hanya saja ketika dia memadang buruk orang lain, dia mempreteli keburukan itu lebih telanjang. Ketika berbicara kebaikan orang lain, maka dia pun mengungkapkan seluruh kebaikan yang tiada terperihkan. Saya sendiri sedih, kalut mendengarkan sekian pembicaraan yang dilontarkan, memang banyak penuturannya yang masuk akal, hanya saja ketika dia terbelenggu dengan suasana seperti itu, dia tidak akan mengecap kebahagiaan hakiki dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuturkan padanya, kesalahan dan masalah tidak berada di luar diri kita. Kesalahan dan masalah yang kita nilai dan persepsi itu ada dalam hati kita sendiri. Betapa agung pribadi manusia ketika dia berusaha menyalahkan bahkan menertawakan diri sendiri, ketimbang menyudutkan dan menertawakan orang lain. Makanya ketika kita terus meracau menyalahkan orang lain, maka berhentilah sejenak, diam, dan merenung, apakah benar kesalahan yang dialamatkan pada orang lain benar-benar kesalahan, atau ternyata pikiran kita yang selalu memandang dari sudut pandang yang keliru dan salah. Padahal ketika orang terjebak untuk menyalahkan orang lain, dia telah memasokkan api dalam dirinya sendiri, lebih tepatnya menyalakan neraka di dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tidak ada orang yang tersakiti, kecuali dia mengizinkan dirinya untuk disakiti. Dan adanya masalah yang kita lihat pada orang lain, karena mata kita bermasalah. Ketika mata kita bermasalah, maka setiap sudut menampilkan layar masalah. Ketika kita berjalan dalam keadaan pincang, jangan buru-buru menyalahkan tanah yang dijadikan tempat berpijak sebagai tidak rata, tetapi sesungguhnya yang bermasalah adalah kaki kita sendiri. Dan andaikan ada orang buta berjalan di sebuah auditorium yang ditata berjejer di dalamnya kursi dan meja, kemudian si buta berjalan, dan membentur meja dan kursi yang tertata secara rapi, jangan buru menyalahkan bahwa meja dan kursi tidak ditata secara rapi dan diletakkan tempat benar, tetapi karena matanya buta, sehingga tak bisa melihat jalan yang harus dilewati. Masalah tidak berada di luar diri kita, tetapi tengah bercokol dalam hati kita sendiri,” kata saya tanpa beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apa yang harus aku lakukan?” ujarnya meminta nasihat dariku. &lt;br /&gt;“Ingatlah Pak, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Lembut. Tidak ada kejadian dan peristiwa kecuali berada dalam kekuasaan Allah, kekuasaan-Nya terbungkus dalam keinginan- Nya yang suci, dan keinginanNya dibungkus dengan ilmuNya Yang Luhur, dan ilmu-Nya dibungkus dengan hikmah yang penuh kasih sayangNya yang tak terbatas. Ketika orang mampu menatap kasih sayang Allah dibalik kenyataan pahit yang dialami, niscaya dia akan selalu berusaha mendekat pada Allah yang menyediakan jalan keluar dari setiap masalah. Ketika keluarga sudah tidak lagi memberikan perhatian, tetangga tidak lagi memberikan energi positif dan senantiasa memandang apa yang kita lakukan keliru, maka sesungguhnya Allah membuka gerbang-Nya selebar-lebarnya agar kau kembali pada-Nya. Fafirruu Ilallah….! Berlari pada Allah SWT. Mengungsi pada-Nya. Mungkin kita pada mulanya melekat pada anak istri, pada harta yang dimiliki, bahkan pada kedudukan, tetapi tidak selama hiasan dunia itu menyertai kita. Setelah kematian menjemput, seluruh hiasan itu pun tanggal dari diri kita. Janganlah kita melekat semelekat-melekatnya pada selain Allah, karena niscaya kita akan dibuat menderita karenanya. Ada orang yang begitu mencintai anaknya, sehingga dia memberikan apa saja yang diinginkan, maka pada saat dewasa anak ini akan tumbuh sebagai orang yang membuat si ayah menderita, karena anak tidak tumbuh secara dewasa, karena sejak anak-anak dia selalu mendapatkan fasilitas dari sang ayah.” Kataku, sembari dia mendengarkan dengan begitu seksama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bagaimana bisa berlari pada Allah?”tanyanya&lt;br /&gt;“Ketika orang berlari menuju pada Allah, maka dia bertobat. Menyesali segenap aktivitas dan kemelekatan pada makhluk yang menariknya lupa pada Allah SWT. Bertobat itu kuncinya pak, banyaklah membaca istighfar. Istighfar itulah yang banyak memberikan pencerahan ke dalam hati-hati yang gelap. Kalau kita sudah beristighfar, memohon ampun pada Allah, juga disertai keberanian memaafkan orang-orang yang dianggap bersalah pada kita. Bukankah dengan memaafkan, api kemarahan dan kejengkelan akan padam seketika? Juga membuang kotoran-kotoran busuk yang masih menempel dalam dinding hati kita. Mungkin ada kedengkian menjejali hati, keangkuhan yang mengeraskan jiwa, atau merasa berkuasa daripada orang lain, semua kotoran itu harus dihilangkan. Ketika hati sudah bisa dibersihkan, maka hati sudah siap memantulkan kebaikan semata. Hanya saja, membuang kotoran itu tidak bisa, sebelum program kotoran yang datang dari pikiran dihentikan. Bagaimana cara menghentikannya, ya harus menekuni uzlah, menyingkirkan diri sementara dari pergaulan sehari-hari. Menjauhi kebiasaan berbaur dengan sesama untuk sementara waktu, agar menghadap sepenuhnya pada Allah SWT. Uzlah dilakukan orang suci untuk membersihkan hati, Nabi Musa 40 hari berada di bukit Tursina, membersihkan hati sembari mendapatkan cahaya wahyu dari Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW lama bertahannuts di gua hira’ membersihkan hati, mempersiapkan diri mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Tak ketinggalan para wali yang diperankan sebagai penyebar dan penguat agama melakukan uzlah selama bertahun-tahun. Semoga bapak nantinya bisa mendapatkan pencerahan dengan melakukan uzlah, dan menjadikan istighfar sebagai alat membersihkan kotoran yang masih mengerak dalam hati.”lanjutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga nasihat sederhana dari orang dungu ini bisa mewariskan pencerahan ke hati sang Bapak, sehingga dia bisa bertemu dan bersua dengan kedamaian dimana saja, berikutnya dia bisa berjalan menjadi cahaya yang mencerahkan sesama. Diri yang juga masih dalam perjalanan menuju taman kebahagiaan ini ingin sekali membagi kebahagiaan dimana pun saja, agar orang bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tak sebatas dipikirkan, tetapi meresap dalam perasaan hatinya yang halus, lembut, merembes ke sumsum kesadarannya. Ketika orang telah merasakan kebahagiaan, niscaya dia tidak bisa menguraikan dengan kata-kata, walau mampu menguraikannya, pasti tidak bisa menggambarkan secara persis. Kiranya siapa yang bisa menggambarkan rasanya susu, persis dengan rasa yang dicecap, rasa tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rata-rata orang merengkuh kebahagiaan puncak setelah menapaki penderitaan yang begitu menggetirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7826683148096275978?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7826683148096275978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/menyibak-cahaya-bahagia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7826683148096275978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7826683148096275978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/menyibak-cahaya-bahagia.html' title='MENYIBAK CAHAYA BAHAGIA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7196138338269074650</id><published>2010-03-15T18:48:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T18:54:42.770-07:00</updated><title type='text'>MENGULITI CAHAYA BAHAGIA</title><content type='html'>Saya sempat bertemu dengan bapak yang sudah berumur, yang tengah didera persoalan yang amat kompleks. Istri dan anaknya sudah tidak lagi bisa dijadikan pandangan yang menyejukkan mata, tatapan tetangga dirasa sebagai ajakan permusuhan, perilaku orang-orang sekelilingnya terasa kurang bersahabat. Dia mempersepsi tak ada lagi tempat berteduh untuk mengungkapkan perasaan dan gelora kegundahan yang membungkamnya. Saat saya bertemu dengannya, saya berusaha menjadi pendengar dan teman bicara terbaik, mau berempati untuk mendengarkan seluruh keluh-kesah, dan kekecewaan yang sepertinya membetot seluruh perasaannya. Dia berusaha mengungkapkan permasalahan yang menghadang dan mendekap dirinya. “saya mendapatkan ujian yang besar dari Allah, keluarga tidak lagi punya perhatian dan welas asih padaku, semua orang seakan telah memusuhi diriku. Karenanya aku berusaha meninggalkan mereka sementara waktu untuk bisa menyadarkan mereka. Tetapi sayang, mereka tidak juga sadar, “katanya dengan wajah penuh kerisauan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“setiap hari saya berusaha menjaga perasaan, saya tidak sebatas diremehkan oleh keluarga, tetapi tetangga pun kerap melemparkan pandangan kecut terhadap saya. Saya tidak pernah merasa berbuat salah pada mereka, saya tidak pernah mengambil hak mereka, atau saya mengemis pada mereka. Sama sekali tidak pernah, tetapi mengapa mereka memandang saya dengan sikap merendahkan,”lanjutnya dengan nada agak meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dia melemparkan kesalahan ke banyak orang. Walau dia sendiri tidak lupa menyebutkan kebaikan pada pihak yang lain. Hanya saja ketika dia memadang buruk orang lain, dia mempreteli keburukan itu lebih telanjang. Ketika berbicara kebaikan orang lain, maka dia pun mengungkapkan seluruh kebaikan yang tiada terperihkan. Saya sendiri sedih, kalut mendengarkan sekian pembicaraan yang dilontarkan, memang banyak penuturannya yang masuk akal, hanya saja ketika dia terbelenggu dengan suasana seperti itu, dia tidak akan mengecap kebahagiaan hakiki dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuturkan padanya, kesalahan dan masalah tidak berada di luar diri kita. Kesalahan dan masalah yang kita nilai dan persepsi itu ada dalam hati kita sendiri. Betapa agung pribadi manusia ketika dia berusaha menyalahkan bahkan menertawakan diri sendiri, ketimbang menyudutkan dan menertawakan orang lain. Makanya ketika kita terus meracau menyalahkan orang lain, maka berhentilah sejenak, diam, dan merenung, apakah benar kesalahan yang dialamatkan pada orang lain benar-benar kesalahan, atau ternyata pikiran kita yang selalu memandang dari sudut pandang yang keliru dan salah. Padahal ketika orang terjebak untuk menyalahkan orang lain, dia telah memasokkan api dalam dirinya sendiri, lebih tepatnya menyalakan neraka di dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tidak ada orang yang tersakiti, kecuali dia mengizinkan dirinya untuk disakiti. Dan adanya masalah yang kita lihat pada orang lain, karena mata kita bermasalah. Ketika mata kita bermasalah, maka setiap sudut menampilkan layar masalah. Ketika kita berjalan dalam keadaan pincang, jangan buru-buru menyalahkan tanah yang dijadikan tempat berpijak sebagai tidak rata, tetapi sesungguhnya yang bermasalah adalah kaki kita sendiri. Dan andaikan ada orang buta berjalan di sebuah auditorium yang ditata berjejer di dalamnya kursi dan meja, kemudian si buta berjalan, dan membentur meja dan kursi yang tertata secara rapi, jangan buru menyalahkan bahwa meja dan kursi tidak ditata secara rapi dan diletakkan tempat benar, tetapi karena matanya buta, sehingga tak bisa melihat jalan yang harus dilewati. Masalah tidak berada di luar diri kita, tetapi tengah bercokol dalam hati kita sendiri,” kata saya tanpa beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“apa yang harus aku lakukan?” ujarnya meminta nasihat dariku. &lt;br /&gt;“Ingatlah Pak, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Lembut. Tidak ada kejadian dan peristiwa kecuali berada dalam kekuasaan Allah, kekuasaan-Nya terbungkus dalam keinginan- Nya yang suci, dan keinginanNya dibungkus dengan ilmuNya Yang Luhur, dan ilmu-Nya dibungkus dengan hikmah yang penuh kasih sayangNya yang tak terbatas. Ketika orang mampu menatap kasih sayang Allah dibalik kenyataan pahit yang dialami, niscaya dia akan selalu berusaha mendekat pada Allah yang menyediakan jalan keluar dari setiap masalah. Ketika keluarga sudah tidak lagi memberikan perhatian, tetangga tidak lagi memberikan energi positif dan senantiasa memandang apa yang kita lakukan keliru, maka sesungguhnya Allah membuka gerbang-Nya selebar-lebarnya agar kau kembali pada-Nya. Fafirruu Ilallah….! Berlari pada Allah SWT. Mengungsi pada-Nya. Mungkin kita pada mulanya melekat pada anak istri, pada harta yang dimiliki, bahkan pada kedudukan, tetapi tidak selama hiasan dunia itu menyertai kita. Setelah kematian menjemput, seluruh hiasan itu pun tanggal dari diri kita. Janganlah kita melekat semelekat-melekatnya pada selain Allah, karena niscaya kita akan dibuat menderita karenanya. Ada orang yang begitu mencintai anaknya, sehingga dia memberikan apa saja yang diinginkan, maka pada saat dewasa anak ini akan tumbuh sebagai orang yang membuat si ayah menderita, karena anak tidak tumbuh secara dewasa, karena sejak anak-anak dia selalu mendapatkan fasilitas dari sang ayah.” Kataku, sembari dia mendengarkan dengan begitu seksama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bagaimana bisa berlari pada Allah?”tanyanya&lt;br /&gt;“Ketika orang berlari menuju pada Allah, maka dia bertobat. Menyesali segenap aktivitas dan kemelekatan pada makhluk yang menariknya lupa pada Allah SWT. Bertobat itu kuncinya pak, banyaklah membaca istighfar. Istighfar itulah yang banyak memberikan pencerahan ke dalam hati-hati yang gelap. Kalau kita sudah beristighfar, memohon ampun pada Allah, juga disertai keberanian memaafkan orang-orang yang dianggap bersalah pada kita. Bukankah dengan memaafkan, api kemarahan dan kejengkelan akan padam seketika? Juga membuang kotoran-kotoran busuk yang masih menempel dalam dinding hati kita. Mungkin ada kedengkian menjejali hati, keangkuhan yang mengeraskan jiwa, atau merasa berkuasa daripada orang lain, semua kotoran itu harus dihilangkan. Ketika hati sudah bisa dibersihkan, maka hati sudah siap memantulkan kebaikan semata. Hanya saja, membuang kotoran itu tidak bisa, sebelum program kotoran yang datang dari pikiran dihentikan. Bagaimana cara menghentikannya, ya harus menekuni uzlah, menyingkirkan diri sementara dari pergaulan sehari-hari. Menjauhi kebiasaan berbaur dengan sesama untuk sementara waktu, agar menghadap sepenuhnya pada Allah SWT. Uzlah dilakukan orang suci untuk membersihkan hati, Nabi Musa 40 hari berada di bukit Tursina, membersihkan hati sembari mendapatkan cahaya wahyu dari Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW lama bertahannuts di gua hira’ membersihkan hati, mempersiapkan diri mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Tak ketinggalan para wali yang diperankan sebagai penyebar dan penguat agama melakukan uzlah selama bertahun-tahun. Semoga bapak nantinya bisa mendapatkan pencerahan dengan melakukan uzlah, dan menjadikan istighfar sebagai alat membersihkan kotoran yang masih mengerak dalam hati.”lanjutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga nasihat sederhana dari orang dungu ini bisa mewariskan pencerahan ke hati sang Bapak, sehingga dia bisa bertemu dan bersua dengan kedamaian dimana saja, berikutnya dia bisa berjalan menjadi cahaya yang mencerahkan sesama. Diri yang juga masih dalam perjalanan menuju taman kebahagiaan ini ingin sekali membagi kebahagiaan dimana pun saja, agar orang bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan tak sebatas dipikirkan, tetapi meresap dalam perasaan hatinya yang halus, lembut, merembes ke sumsum kesadarannya. Ketika orang telah merasakan kebahagiaan, niscaya dia tidak bisa menguraikan dengan kata-kata, walau mampu menguraikannya, pasti tidak bisa menggambarkan secara persis. Kiranya siapa yang bisa menggambarkan rasanya susu, persis dengan rasa yang dicecap, rasa tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rata-rata orang merengkuh kebahagiaan puncak setelah menapaki penderitaan yang begitu menggetirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7196138338269074650?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7196138338269074650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/menguliti-cahaya-bahagia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7196138338269074650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7196138338269074650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/menguliti-cahaya-bahagia.html' title='MENGULITI CAHAYA BAHAGIA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-1581174915877992666</id><published>2010-03-15T18:24:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T18:33:41.691-07:00</updated><title type='text'>RASUL, KEMANA AKU BERTEDUH</title><content type='html'>tiga minggu kemarin, saya pulang memenuhi permintaan Ibunda tercinta yang sudah lama didera kerinduan. Saya pulang berbarengan dengan momen yang ditunggu orang madura, momen Maulidur Rasul. Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW mendapatkan sambutan yang begitu meriah di sekitar kampung saya, mungkin juga berlaku di setiap lapisan pelosok di Madura. Semarak kemariahan Maulid tidak hanya bergema di Mushalla, Masjid tetapi berdentum dari rumah ke rumah. Nyanyian shalawat sebagai pantulan kerinduan pada Rasulullah berembus dari rumah-rumah secara bergantian. Saya pulang tepat hari Senin, saya diundang ikut maulid di rumah sepupu. Malam berikutnya di rumah saya sendiri, dan malam berikutnya diselenggarakan di rumah tetangga. Saya begitu bahagia melihat kebiasaan kampung saya yang mempersembahkan cinta pada Rasulullah SAW dengan menyelenggarakan Maulidnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menghadiri acara maulid di rumah sepupu, saya mendapatkan uraian hikmah yang menggugah hati dari guru agama saya pada saat berada di bangku MTS An-Najah. Namanya KH. Khozin. Beliau membeberkan dengan renyah dan menggunakan bahasa yang gampang ditangkap pendengar (mustami’in). Beliau mengutarakan tentang adanya hadis dari Rasulullah SAW, kendati diakui dhaif,”Barangsiapa yang mengagungkan kelahirkanku, maka dia mendapatkan syafaat pada hari kiamat,” selain itu beliau juga membabarkan perkataan Imam Jalaluddin As-Sayuti “Barangsiapa yang membacakan shalawat maulid di rumah, maka penghuninya akan dihindarkan dari kefakiran.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat raut wajah orang yang hadir di dalam majelis penuh keberkahan itu, rata-rata memancarkan kebahagiaan yang tak terkira. Kendati banyak diantara mereka tidak mengerti landasan syariat Maulid, baru begitu bahagia bisa menyelenggarakan kelahiran Rasul yang Agung. Kendati mereka hidup dalam keadaan sederhana, mereka masih berani menyelenggarakan Maulid Rasul, hanya sebagai bentuk ekspresi kecintaan pada Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan momen tersebut, saya tidak hanya sekadar bisa bertemu ibunda dan ayah yang begitu saya cintai, saya merasakan keguyupan bersama masyarakat kampung, yang kadang jarang saya nikmati. Disana saya bisa bertemu guru yang mengantarkan pendidikanku di MI hingga MTS. Saya bisa mencium tangan mereka. Sikap mereka masih tetap sama, menganggap diriku sebagai murid, dan saya pun mengekspresikan keta’dziman padanya. Merekalah cermin-cermin sosok Rasulullah SAW yang hidupnya dipersembahkan di jalan Allah dengan cara mengajarkan agama melalui sekolah, juga membuka mushalla untuk mengajari anak-anak kampung ngaji al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Menilik begitu meriahnya peringatan Maulid Rasulullah SAW, saya merasa mendapatkan wawasan ruhani, betapa banyak cara orang mengekspresikan kecintaan pada Rasulullah SAW. Kemudian bagaimana kalau kita tidak punya cinta pada Rasulullah SAW, padahal seluruh ibadah yang kita tegakkan belum tentu bisa menjamin kita masuk surga, karena betapa banyaknya cecat dari persembahan ibadah yang kita lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya bermodalkan cinta pada Rasulullah SAW, kita akan bersama dengan beliau. Keyakinan ini terekam dari perbincangan beliau dengan Arab Baduwi yang disaksikan oleh sahabat Rasul yang Agung. Menurut sebuah riwayat, ketika Rasulullah hendak shalat maghrib, sekonyong-konyong orang Arab Baduwi bertanya pada Rasul Yang Luhur, “kapan kiamat?” tetapi karena hendak sholat, Rasulullah mempersilahkan dia untuk shalat terlebih dahulu. Selepas shalat Rasulullah memanggilnya, “Kamu bertanya kapan hari kiamat, apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambutnya?” kata Rasulullah SAW. “Saya tidak mempersiapkan hal tersebut dengan banyak shalat, puasa, dan sedakah, tetapi saya mencintai Allah dan Rasulnya,”kata Arab Baduwi. “Seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintai.”seru Rasulullah Muhammad SAW dengan penuh gairah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Rasulullah SAW itu mendapatkan tanggapan yang begitu antusias dan bergairah dari para sahabat. Hanya dengan bermodalkan cinta, orang bisa bersama dengan orang yang dicintai. Rasulullah Muhammad SAW sendiri berada di maqam yang tertinggi di surga, kita harus mengungkapkan terima kasih karena perlahan-lahan kita diajarkan oleh ulama dan orang tua agar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ketika cinta pada Allah dan Rasul-Nya telah terbenam di dalam hati manusia, maka nantinya akan berbuahkan akhlak yang luhur dan agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika cinta sudah meresap ke dalam hati insan, niscaya dia akan selalu mengingat yang dicintai. Kalau kita mengaku mencintai Rasulullah Muhammad SAW, maka kita harus memperbanyak membaca shalawat padanya dengan hati yang diluapi rasa cinta. Siapa yang banyak membaca shalawat untuk baginda Rasulullah SAW, niscaya dia akan menjadi orang yang dekat pada Rasulullah Muhammad SAW saat hari kiamat. Selaras dengan sabda beliau yang saya petik dari Jamius Shaghir, “sesungguhnya seutama-utama manusia kedudukan di sisiku pada hari kiamat adalah orang yang banyak membaca shalawat.” Saatnya kita membaca shalawat pada beliau, dengan semangat cinta, dan menghayati shalawat seperti kita bersua dan berjumpa dengan beliau SAW. Semoga nanti di hari kiamat kita dipayungi oleh syafaat Rasulullah Muhammad Saw. Lebih daripada itu, sebelum bisa memandang Allah, semoga kita diizinkan untuk memandangi wajah Rasulullah SAW yang amat mempesona. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, demi Rasulmu Muhammad SAW, turunkan pada hamba yang begitu hina ini rasa cinta pada Rasulullah Muhammad SAW, kendati diri ini hina, sebuah kenikmatan yang begitu besar jika Engkau pernankan mencintai sosok yang begitu agung dan luhur di hadapanmu, sebagaimana engkau telah menggelarkan pujian pada beliau, “sesungguhnya engkau benar-benar berbusanakan akhlak yang agung.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-1581174915877992666?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/1581174915877992666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/rasul-kemana-aku-berteduh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1581174915877992666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1581174915877992666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/03/rasul-kemana-aku-berteduh.html' title='RASUL, KEMANA AKU BERTEDUH'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-2147020891905501294</id><published>2010-02-09T19:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-09T19:19:00.252-08:00</updated><title type='text'>RAKYAT MEMBUNUH PEMIMPIN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Saya amat sedih setelah meng-update berita dari radio Elshinta, hari selasa, 3 Februari 2009. Diberitakan soal peristiwa gaduh dan demo bernuansa kekerasan yang dilakukan oleh sebagian massa di kantor DPRD Sumatera Utara. Massa merangsek ke ruang gedung diadakannya sidang paripurna, dan polisi pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan dan menghalangi bergeraknya ratusan massa tersebut. Dalam hitungan berapa menit saja, massa bisa mengepung dan menguasai kantor DPRD, dan menduduki tempat pelaksanaan sidang paripurna. Tak ayal, anggota DPRD yang tengah mengadakan rapat, menghentikan terlebih dahulu rapatnya. Massa pun sontak mengepung seluruh anggota DPRD Sumatera Utara yang tengah mengadakan rapat bersama instansi pemerintahan propinsi Sumatera Utara. Demo amat brutal itu berakhir dengan kematian ketua DPRD Sumatera Utara, Abdullah H. Supangkat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kejadian tersebut menjadi potret gelap dari demokrasi yang berkembang saat ini. Apakah demokrasi benar-benar bisa membangun rakyat yang makin elegan, berakhlak baik, atau ternyata membuat rakyat makin jauh dari semangat menghargai pemimpin? Benarkah demokrasi itu menyuarakan hati nurani rakyat, atau sebatas mengejawantahkan kepentingan pribadi tokoh politik? Apakah demokrasi itu telah berhasil membangun sebuah kepemimpinan yang kharismatik, atau kepemimpinan sebatas dalam tataran simbol, dan tidak mengakar di hati rakyat? Banyak pertanyaan berkembang lewat tragedi 3 Februari 2009 tersebut. Perlulah kiranya, kita mengevaluasi perjalanan pola demokrasi yang berkembang di Indonesia. Andaikan ditanya dari sekian massa yang bergabung untuk menduduki kantor DPRD Sumatera Utara, kiranya berapa personal yang mengerti dengan seksama pokok permasalahan yang berkembang di Sumatera Utara? Dan berapa yang sebatas ikut-ikutan dan menyertai keramaian demonstrasi tersebut? Apakah mungkin dalam demo tersebut benar-benar datang dari kehendak rakyat secara umum, atau hanya kepentingan politik segelintir orang semata? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Andaikan kejadian itu berawal dari ulah satu orang sebagai otak intelektual, berarti gerakan tersebut tidak berkembang di ranah demokrasi? Harusnya demokrasi berasal dari rakyat, tetapi mengapa inisiatif tersebut hanya datang dari segelintir orang saja? Kalau begitu, demokrasi hanya cocok untuk kalangan orang yang berpengetahuan, berwawasan luas, dan memang cerdas tentang politik. Namun, kenyataannya masih banyak rakyat kita belum memahami soal platform politik pimpinan negara saat ini. Banyak masyarakat masih bodoh soal politik, dan sangat memprihatinkan ketika kebodohan rakyat itu dijadikan alat untuk memenuhi syahwat politik segelintir orang. Memang hanya orang-orang pintar yang bisa memperdaya dan membodohi orang bodoh. Ketika gencar-gencarnya pemilahan legislatif, betapa banyak calon legislatif yang mendekat pada rakyat. Mereka hanya sebatas ingin mendapatkan suara, dan kedudukan yang didambakan bisa diraih dengan ampuh. Memang hanya dengan dukungan rakyat, mereka dipilih. Tetapi apakah rakyat yang memilih itu, memilih dengan disertai kesadaran politik, atau tanpa sadar sedikit pun. Ya, hanya dengan mendapatkan cipratan uang, mereka mau-mau saja memilih calon wakil rakyat, yang nantinya bahkan dia bakal mengeruk lebih banyak dari uang yang ditaburkan untuk rakyat. Korupsi sebagai akibat dari obsesi keliru yang menguasai hati wakil rakyat. Apakah itu menandakan bahwa yang bersalah adalah rakyat yang telah memilih pemimpinnya? Jangan gampang menyalahkan rakyat. Orang yang melakukan sesuatu tanpa dilandasi kesadaran dan pengetahuan tidak boleh disebut salah. Hanya karena dibujuk oleh para pelaku politik itulah, rakyat pun ikut memilih, walau pun ia tidak pernah sadar apa efek yang bakal diterima setelah memilih tokoh politik tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pun demikian peristiwa yang terjadi di Sumatera Utara. Massa dari akar rumput jangan dipersalahkan, karena mereka hanya mereaksi provokasi panas yang dilemparkan oleh para otak intelektual kejadian tersebut. Orang pintar memiliki seribu alasan untuk bisa meyakinkan rakyat. Dan ingatlah rakyat selalu dijadikan alat dan berada dalam posisi dirugikan dalam hal apapun. Saya belum bisa memahami, apakah demokrasi yang berkembang saat ini memang untuk rakyat atau hanya untuk kepentingan politisi dan pelaku ekonomi yang berada di tataran previlage? Wallahu a’alam bish showaab. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-2147020891905501294?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/2147020891905501294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/02/rakyat-membunuh-pemimpin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/2147020891905501294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/2147020891905501294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/02/rakyat-membunuh-pemimpin.html' title='RAKYAT MEMBUNUH PEMIMPIN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-5275425653860777547</id><published>2010-02-03T12:19:00.002-08:00</published><updated>2010-02-03T12:25:08.520-08:00</updated><title type='text'>ISTIGAMAH DALAM KEBAHAGIAAN</title><content type='html'>Suatu pagi yang cerah, di hari Jumat Agung, dimana mentari pagi tengah mengumbar senyumnya dari ufuk timur, kami bersama teman-teman baru menyelesaikan wirid pagi petang. Sebelum shalat isyraq, guru yang mulia hendak pergi RSAL (Rumah Sakit Angkatan Laut), menjenguk guru yang wajahnya terus bersinar (tanawwirul wajh), KH. Mas Yusuf Muhajir. Sejak dua hari sebelumnya, setelah mendengar beliau sakit, saya sudah terpikirkan untuk membesuk beliau di rumah sakit. Ada kerinduan yang membuncah pada beliau. Seakan wajahnya yang tergelar bahagia terbayang di kelopak mata ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah janjian sama teman-teman jamaah membesuk pada hari sabtu, tetapi diundur jadi hari Minggu. Beliau memiliki kemiripan cara pandang dengan guru yang mulia. Kalau guru yang mulia kerap memberikan pencerahan dalam bentuk filsafat-filsafat agama yang mendalam dan menyentuh, sementara KH. Mas Yusuf Muhajir mengungkapkan keterangan lewat cerita-cerita renyah, bahkan gurauan-gurauan penuh hikmah. Pandangan beliau berdua sama, hanya cara mengekspresikan yang berbeda. Diakui guru yang mulia, beliau berdua memiliki cara pandang yang sebangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking membuncahnya kerinduan pada KH. Mas Yusuf, di malam harinya saya sempat bermimpi beliau tengah menggelar pengajian. Beliau menyapa saya dengan senyum indah, tulus, dan begitu akrab, tetapi tetap berwibawa. Saya makin yakin, bisa membesuk beliau di hari jumaat tersebut. Alhamdulillah, dengan izin guru yang mulia, saya pun membesuk beliau. Lebih dahulu guru yang mulia berangkat dari griya, saya menyusul bersama mas Misbach dengan menggunakan kendaraan sendiri. Kami berdua lebih dahulu sampai ke RSAL, kami mencari-cari ruang Paviliun III belum ketemu, hanya Paviliun II dan I. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah mungkin Paviliun III itu ruang yang paling istimewa mas, jadi agak sulit nyarinya,”kataku, guyon pada mas Misbach. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ini Paviliun II dan I, pasti juga di wilayah sini,”katanya. Sekejap kemudian saya melihat KH. Mas Yusuf duduk sendirian di beranda rumah sakit sambil menelepon. Hatiku bergetar, merasa bahagia melihat beliau nampak bugar, raut wajah kebahagiaan masih tetap menyelimuti wajahnya. Saya pun langsung menuju ke tempat beliau, sungkem. Seolah ada getaran kehangatan yang menyusup ke dalam hati ini bisa bertemu beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum,” kami berdua manyapa beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaikum salam,”sambut beliau &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kyai, apa sudah semakin sehat,”muncul saja dari lisan yang kotor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, sudah ada kemajuan,”kata beliau, sambil menelepon.&lt;br /&gt;Saya masih tercekat, sambil menyimak perbincangan beliau. Beliau menyanggupi orang yang akan menggantikan  beliau untuk menyampaikan ceramah di teman-teman Hizbut Tahrir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya lama sekali diminta oleh kawan-kawan Hizbut Tahrir untuk mengisi ceramah setiap tiga bulan sekali, tetapi saya hanya menyanggupi satu tahun sekali. Maka terjadilah ngenyang-ngenyan (tawar-menawar), akhirnya saya sanggup satu tahun 2 kali,”ujar beliau dengan wajah yang terlihat sumbringah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak kapan kyai Mas sakit?”tanya Mas Misbach penuh empatik.&lt;br /&gt;“sejak seminggu yang lalu, tetapi saya tidak memberitahukan ke banyak orang, kecuali pada beberapa orang termasuk ustadz Qushwandhi,”katanya “Saya ini tidak merasa sakit, hanya melihat dari obat yang saya konsumsi, saya ini sakit,”lanjutnya dengan senyum tanpa keluhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang sakit itu mengikuti alam pikiran. Orang bahagia atau menderita, sedih-gembira bahkan sakit-sehat itu karena alam pikirannya sendiri,” tukas beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh, kata beliau, seorang anak yang berada diantara permainan yang amat asyik, dia larut dalam permainan tersebut. Saking larutnya dia melalaikan perintah si ayah, maka ayah memberitahu, kalau tidak segera menghentikan permainan tersebut, nanti akan disuntik, maka anak itu kehilangan akan keasyikan permainan tersebut, yang terbayang dalam pikirannya hanya jarum suntik. Kebahagiaan oleh karena permainan telah dilenyapkan oleh jarum suntik yang menguasai pikirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kita melihat ada anak yang terkilir, kakinya terluka dan berdarah. Darah yang mengucur tersebut membuatnya menangis keras, tetapi untuk menenangkan si anak, sang ayah bilang, nak sudah menangisnya, kita nanti ke Giant. Jika anak tersebut pernah ke Giant, maka di batang pikirannya tergambar bagaimana keadaan Giant, yang disana disediakan permainan yang menghibur. Saat itu pula tangisan anak itu reda, karena alam pikirannya tidak lagi tertuju pada luka, tetapi tertuju pada permainan yang ada di Giant. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, bagaimana kehidupan orang sudah dekat pada Allah SWT, niscaya tidak ada kekhawatiran dan kesedihan bagi mereka. “sesungguhnya kekasih-kekasih Allah tidak pernah tersentuh kekhawatiran dan kesedihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya dilihat dari gejalanya, saya ini sudah lama sakit, tetapi tidak pernah dirasakan, dan saya mengerti sakit setelah dibawa ke rumah sakit,”ujar beliau dengan nada guyon, kami pun tersenyum ta’dhim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang beberapa menit beliau berbicara dengan kami, guru kami yang mulia tiba bersama Mas Kholid dan Mas Januar. Kami sungkem pada guru yang mulia, dan beliau pun duduk bersama kami di beranda tersebut. Terjadilah perbincangan yang hangat dan cair diantara kedua guru suci ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ini ustadz, saya tadi bilang ke teman-teman ini, kalau derita-bahagia itu mengikuti alam pikiran,” Kyai Mas bertutur, guru yang mulia mengangguk sambil tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, tadi saya SMS seorang, saya bilang sekarang Ustadz Qushwandhi sedang menggencarkan kampanye anti-kristenisasi di Sumbersekarsari Malang, beliau yang langsung bertanggung jawab. Seperti dulu, pada saat saya melakukan hal yang sama di Mojokerto,” tutur Kyai Mas yang memang selalu berpikir tentang umat.  “tapi dia hanya membalas, saya mendukung,”lanjutnya. “Yah itulah orang yang agung, tetapi tidak benar-benar agung jiwanya,” kata beliau lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya benar, ini kyai Mas saya mengirimkan SMS pada aktivis disana, agar memasang spanduk yang berisikan pesan-pesan yang keras dan tegas, seperti stop kristenisasi di pemukiman komunitas Muslim Sumbersekarsari, dsb,”ucap guru yang mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“orang khusus tetapi hatinya tidak juga tercermin pada sosok yang punya berjibun jamaah, tetapi cara berpikirnya bukan seperti orang besar. Ketika dia sakit, dia bilang semoga cepat sembuh. Banyak orang yang mendoakan dia agar cepat sembuh, tetapi ketika datang orang Sidosermo, dia mengungkapkan dan mendoakan kata berbeda, katanya, semoga selamat. Jadi bukan minta sembuh, tapi minta selamat. Minta sembuh tingkatan yang amat rendah, orang kafir pun menginginkan sembuh, tapi orang beriman yang diinginkan adalah selamat. Demikianlah banyak orang yang terbilang sebagai orang khusus, terpandang di mata umat, tetapi ketika hatinya dibedah ternyata tidak khusus”tandas Kyai Mas Yusuf. Semenjak perbincangan pertama, kami selalu mendengar dengan seksama perbincangan Kyai Mas Yusuf yang selalu menarik, dan diluar ungkapan orang-orang pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar kyai mas, kita selalu berdoa, allahumma antas salam waminkassalam wailaika ya udussalam, fahayyina rabbana bissalam…, maksudnya kita selalu minta kesalamatan. Waras dan selamat itu sepertinya punya kemiripan, tetapi selamat itu punya makna lebih mendalam ketimbang waras,”tanggap guru yang mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abuya itu tidak pernah nyahut ketika ditanya soal sakit, tetapi ketika ditanya persoalan umat dan agama, beliau selalu memberikan jawaban. Suatu saat, beliau berbincang seputar persoalan agama, padahal saat itu Abuya dalam kondisi sakit. Kalau ditanya soal agama dan umat beliau tertarik berbincang, tetapi ketika ditanya perihal sakitnya, Abuya bilang, “Saya sakit tah mat?””kisah kyai Mas tetap dengan wajah yang selalu sumbringah, sembari disambut tertawa tipis beberapa teman yang hadir disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“terus terang saya tidak mengabarkan sakit saya ke orang-orang, kecuali orang yang senafas dengan saya, termasuk ustadz Qushwandhi. Musyafak menanyai saya pertelpon, apakah benar saya ada di rumah sakit. Saya bilang, saya ada di rumah. Dia mengerti saya di rumah sakit dari orang yang hendak mengundang saya untuk menghadiri ceramah Maulid, saya tidak ada di rumah, tetapi di rumah sakit, “kata Kyai Mas Yusuf. “tetapi kadang-kadang orang seperti dia juga dibutuhkan untuk nafas yang lain,” lanjut beliau sambil tersenyum, sambil beliau pamit sebentar ke kamar rawat inap, mengambil makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menunggu Kyai Mas, guru yang mulia memberikan tafsir atas apa yang telah disampaikan Kyai Mas. “beliau tidak memberikan pelajaran yang terlalu bertele-tele, tetapi yang diberikan adalah rumusan tentang hidup. Tidak memberikan ikan, tetapi memberikan pancing. Bagaimana rumus menghadapi masalah itulah yang terpenting. Terkait dengan soal, Anda bisa mencari sendiri dalam perjalanan hidup Anda, saya dan kyai Mas hanya menawarkan rumus bagaimana menghadapi persoalan, dan itulah yang kerap disampaikan dalam pengajian-pengajian yang saya selenggarakan,”tutur guru yang mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis bercerita panjang lebar, Kyai mas datang dengan membawa minuman. Sejenak setelah itu beliau pamit untuk disuntik, dan kami pun pamit pada beliau. Saya merasa menemukan kepuasan bertemu dengan beliau. Saya mendapatkan pesan-pesan indah yang membuat diri selalu hendak bersyukur setiap saat. Syukur bagi Kyai Mas bukan sekadar lontaran kata, tetapi telah membadan dalam hidupnya. Semoga saya bisa memodel beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-5275425653860777547?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/5275425653860777547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/02/istigamah-dalam-kebahagiaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5275425653860777547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5275425653860777547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/02/istigamah-dalam-kebahagiaan.html' title='ISTIGAMAH DALAM KEBAHAGIAAN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-8891168186590172001</id><published>2010-01-27T02:06:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T02:09:36.520-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>KENDALA, JALAN KESUKSESAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh pernak-pernik kegagalan yang kita lewati menjadi jalan menuju kebahagiaan. Apakah ada diantara Anda menganggap bahwa kesuksesan hanya ditaburi oleh keindahan, prestasi demi prestasi, tanpa diwarnai oleh kegagalan? Ingatlah tanpa kegagalan, niscaya kesuksesan tidak akan terlahir begitu dahsyat. Seseorang menggapai kesuksesan gilang-gemilang, karena telah berhasil melewati kegagalan dengan jiwa besar, dan berupaya bagaimana kegagalan itu menjadi bahan untuk bisa menumbuhkan kesuksesan luar biasa dalam hidupnya. Kalau begitu, andaikan sukses menjadi suatu hal yang penting bagi kehidupan manusia, maka kegagalan juga harusnya dipandang suatu yang penting. Mengapa demikian? Karena kegagalan juga sebagai jalan menuju kesuksesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat saya mendapatkan kiriman SMS dari adik kelas saat di bangku kuliah. Setelah lulus dari kampus, dia melamar pekerjaan di Jawa Pos, dan diterima sebagai jurnalis. Saya sempat menduga, dia bisa mengikuti jalan sukses seniornya yang telah menjadi jurnalis hebat di media yang sama. Namun, karena saking beratnya waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan sebagai kuli tinta tersebut, dia berpikir untuk keluar dari pekerjaannya. Pekerjaan itu menguras tenaganya dari jam 8 pagi, hingga larut malam, karena selalu dituntut bisa memburu berita terbaik, dan up to date.  Karena tidak kuat dengan kebijakan waktu yang diambil perusahaan, dia pun mengambil keputusan resign, dan memilih untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih ringan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengeluhkan kehidupannya, di tengah tuntutan mendapatkan penghasilan, tetapi tenaga tidak sanggup untuk membayar kendala tersebut. Di tengah beragam keluhan yang diungkapkan,  saya hanya berujar, kalau Anda punya tujuan menggapai bintang, maka kendala juga sebagai proses untuk bisa mengantarkan Anda pada titik bintang. Sadarilah Allah tidak akan pernah menghadirkan kendala dan tantangan kecuali untuk membuat Anda menjadi hebat. Yakinilah, tidak ada dibalik setiap ujian yang Anda peroleh kecuali Anda akan dipoles menjadi manusia hebat. Manusia-manusia hebat, pasti mengalami masa-masa pahit, yang kata orang sebuah kegagalan, tetapi dengan batu bata kegagalan, dia bisa membangun menara kesuksesan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya meminta doa pada saya agar tetap diperkuat di jalan ini. Saya hanya terus menaruh harapan adikku yang cerdas ini mendapatkan kesuksesan yang membuatnya semakin mulia dan agung di sisi Allah SWT. Tanpa saya sadari, saya kembali membuka memori perbincangan dengan adikku tersebut. Saya tergelitik untuk menyuguhkan kebijaksanaan sederhana agar kita tetap kukuh dan kuat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang begitu kompleks, sehingga kita terus bisa berjalan di atas jembatan kesuksesan yang telah dirancang Tuhan SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah saudaraku, Allah tidak pernah mengharapkan hamba-hambaNya berada dalam penderitaan. Dia selalu menginginkan hamba-hambaNya bahagia dan sukses. Hanya saja, sering kali pilihan-pilihan manusia untuk menggapai kebahagiaan tidak selaras dengan panduan yang ditetapkan Allah SWT. Sudah jelas, Allah telah menyajikan resep ampuh untuk mendapatkan kebahagian melalui al-Qur’an, dan ditunjuknya Rasulullah Muhammad SAW untuk mengungkapkan risalah kenabian yang dilanjutkan oleh ulama’-ulama yang dipercaya, tetapi jarang manusia bergabung dengan al-Qur’an, juga dengan ulama’ yang telah menjadi penyuluh obor kenabian. Andaikan kita mau mengikuti jalan kenabian, maka kita akan dibuat terkejut, betapa jalan-jalan mendapatkan pusaka kejayaan dan kemenangan perlu mengalami masa keletihan yang panjang. Mereka menyediakan amunisi kesabaran yang berlipat-lipat dalam menghadapi beragam cobaan, ujian, dan berbagai kendala yang sepertinya menghambat harapan dakwahnya. Namun, semuanya menjadi sebuah jalan kian mengukuhkan keyakinan akan jaminan Allah, memenangkan hamba-hambaNya yang bertakwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda harus berjarak berapa zaman dengan para Nabi untuk bisa mengambil keteladanan yang nyata dari mereka, dalam menghadapi tantangan bahkan kegagalan untuk menggapai kesuksesan cemerlang. Kita coba menelusuri para pebisnis berjaya, siapakah pebisnis yang tidak menghadapi kendala dalam menjemput kesuksesan? Mungkin Anda kenal dengan pengusahan muslim, Purdi E. Chandra, pengusaha Primagama. Beliau membesut bisnisnya dari sebuah rumah kos-kosan, tanpa menggundul gelar apapun. Pada mulanya, dia harus merawat anak-anak tetangga agar bisa belajar di tempat les-lesannya. Pikiran Anda juga pasti masih ingat dengan pengusaha kesohor, Bob Sadino, yang merintis bisnisnya dengan sebutir telur, dan pernah menghadapi masa sulit bersama istri tercintanya. Namun, semua kegagalan kecil ternyata berperan mewariskan kesuksesan yang besar. Mungkin karena merasakan sakit yang begitu dahsyat, dia mampu membuat lompatan kejayaan yang juga amat dahsyat. Tak ayal, dia pun sekarang bergelar sebagai Raja Sayuran. Anda juga tidak pernah pangling dengan pengusaha muslim yang beridentitas sebagai raja poligami, pengusaha Ayam Bakar Wong Solo, Puspowardoyo. Beliau sebagai bekas guru yang bertekad untuk memulai bisnis di Medan. Di dalam keprihatinan dia pun melompat untuk mencatat kesuksesan yang nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, sosok-sosok tangguh itu menggapai kesuksesan nyata, karena mereka telah berhasil menikmati masa-masa pahit sebagai penguat untuk menggapai kesuksesan. Kesuksesan yang dilandasi dengan kebesaran jiwa dalam menghadapi kendala atau tantangan hidup yang dahsyat memicu orang untuk mendapatkan kepuasan nyata. Yang terpenting bagaimana aktivitas yang dilakukan selaras dengan prinsip hidup yang mengakar dalam hati kita. Sehingga semua aktivitas yang dilakukan sebagai proses untuk menggapai kesuksesan yang alami, indah dan memiliki kesan yang kekal dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-8891168186590172001?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/8891168186590172001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/01/kendala-jalan-kesuksesan-seluruh-pernak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8891168186590172001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8891168186590172001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/01/kendala-jalan-kesuksesan-seluruh-pernak.html' title=''/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7805244800105613420</id><published>2010-01-25T01:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T02:00:01.875-08:00</updated><title type='text'>MULAI HARI DENGAN CINTA</title><content type='html'>Cinta tak pernah bisa dilukiskan hanya dengan polesan kata, lukisan sketsa, juga gubahan syair. Semua instrument untuk menggambarkan cinta tidak bakal bisa memberikan ilustrasi secara efektif dan sempurna perihal cinta itu sendiri. Karena cinta bermuara dari rasa, sementara kata-kata hanya produk logika. Logika dan rasa suatu hal yang berbeda, kendati penggambaran bentuk logika bisa menyentuh rasa, namun tidak bisa menggetarkan rasa yang sejati dari cinta itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena cinta tidak bersumber dari medan logika, maka cinta tak mampu sebatas diungkapkan dan diekspresikan dengan kata, namun harus menjadi pengalaman hidup yang membekas dalam sanubari jiwa. Anda tidak bisa mengerti makna cinta yang hakiki, kecuali Anda mengalami dan bergulat dengan cinta itu. Bagaimana getaran cinta menyentuh seluruh relung sanubari Anda. Apakah hanya bisa dituturkan dengan kata. Maka berlatih untuk mencintai sebagai jalan efektif untuk bisa merasakan cinta. Menyentuh dan menemui segala sesuatu dengan cinta akan membawa jiwa kita terbang di altar-altar kedamaian, karena cinta inilah yang membikin manusia bisa masuk ke ruang yang paling indah, tak bisa dilukiskan dengan kata yang bersumber dari pikiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda melihat bunga yang tengah bermekaran, menyajikan ketulusan senyum di pagi hari, Anda menyapanya dengan penuh cinta, seolah bunga itu berbicara keindahan, kemurnian, ketulusan, dan kedamaian pada Anda. Saat itu, Anda hanya melihat bunga sebagai magnet kebahagiaan. Manakala Anda bersua dengan kendaraan Anda, yang Anda tumpangi setiap hari, dan membawa Anda pergi kemana Anda hendak menuju, mengapa Anda tidak coba berikan elusan dan belaian cinta, seakan dialah sahabat yang telah membentangkan peluang Anda untuk semakin melebarkan sayap pergaulan. Saat itu meletup rasa cinta pada kendaraan, cinta bukan karena nafsu, namun sebentuk cinta yang membawa Anda pada kecintaan semesta. Anda bertemu dengan teman kerja di kantor, sapalah mereka dengan cinta, sebagaimana Anda pun mendambakan sapaan cinta dari sesama. Yakinilah, ketika Anda menebar ucapan-ucapan cinta yang meletup dari hati yang tulus, niscaya Anda bakal mendapatkan cerapan-cerapan kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, Anda makin mengalami kematangan dalam bercinta, ternyata cinta menjadi indah ketika dilandasi ketulusan, dan tanpa syarat. Hanya dengan ketulusan, maka butir-butir kedamaian seperti mewarnai kondisi hati Anda. Kedamaian Anda setimbang dengan volume cinta yang ada dalam tangki hati Anda. Tebarkan cinta pada siapa saja, maka kebahagiaan pun bakal memantul pada hati Anda jua. Bagaimana menghadapi seorang musuh yang kerjaannya hanya mencemooh, mencaci, memaki Anda? Anda harus bersikap tetap mencintainya, karena sesungguhnya cemoohan tidak ampuh membikin Anda menderita, bahkan pelontar cemoohan itu yang telah sengaja menjebak dirinya di jurang derita. Cinta akan selalu mendekatkan kebahagiaan bagi ahlinya. Karena itu, jangan pelit Anda menebarkan cinta dimana-mana, karena cinta sendiri akan memberikan kepadatan kebahagiaan dalam hati Anda sendiri, bahkan bisa mengilhami orang lain menggapai kebahagiaan yang hakiki. Lepaskan cinta Anda dimana saja engkau berada, niscaya engkau bakal memanen kebahagiaan di sana, dan andaikan ada orang yang hendak membuat Anda tersandung derita, derita sendiri tidak akan pernah mendekati orang yang tengah jatuh cinta, apalagi telah terbang bersama cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memulai hari dengan cinta begitu penting, agar sepanjang hari Anda mendapatkan kebahagiaan terus-menerus. Orang yang dipanah cinta, akan selalu berpikir untuk bisa memberikan yang terbaik. Ketika Anda terpacu untuk memberi, maka kebahagiaan akan terus melekat dalam hidup Anda. Bahkan ketika Anda belum bisa memberi secara materi, Anda akan bisa memberikan keindahan senyum, pencerahan, dan pengabaran-pengabaran baik pada orang lain. Memberi memang membangkitkan potensi cinta yang terbenam dalam hati Anda. Memberi sendiri seperti pupuk yang akan menyuburkan cinta, yang pada gilirannya akan berbuahkan kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah cinta disebarkan dimana saja? Cinta melampaui syarat dan batas. Ketika ada syarat cinta akan terbatas, dan ketika ada batas maka berarti kebahagiaan juga bakal terbatas. Padahal cinta yang diharapkan bisa melambungkan orang menuju cinta yang tak terbatas, seperti orang yang mengepakkan sayap keindahan di antara langit-langit kehidupan.  Cinta datang dari bumi, tetapi buahnya menggantung di langit yang tak terbatas. Pada mulanya orang mungkin mengujarkan cinta yang bersifat terbatas yang tumbuh dari bumi batinnya, tetapi berikutnya dia akan terus bertumbuh dan berkembang, sehingga mencapai pada buah yang menggantung di langit. Bisa diketahui, jika ada orang cinta begitu ceket dan sempit, berarti cintanya belum bertumbuh, ujungnya kebahagiaan pun tidak meluas ruang lingkupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebuah kegelisahan orang yang tengah belajar bercinta dalam arti yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7805244800105613420?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7805244800105613420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/01/mulai-hari-dengan-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7805244800105613420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7805244800105613420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2010/01/mulai-hari-dengan-cinta.html' title='MULAI HARI DENGAN CINTA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-3362506793658543924</id><published>2009-12-21T02:16:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T02:23:56.165-08:00</updated><title type='text'>TERIMA KASIH</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih bagaikan petikan dawai yang terdengar indah dan merdu di telinga. Bagaikan sentuhan harpa di siang hari. Bagaikan kucuran oasis di tengah savanna yang kering gersang. Setiap orang suka kata indah itu. Apakah terima kasih hanya bertengger dalam kata, tak mengakar di tubuh batiniah? Kata terima kasih pada hakikatnya gema suara yang terlahir dari hati. Hamzah Fansuri mengungkapkan, terima kasih berasal dari dua rangkaian kata, yakni kata terima dan kasih. Terima diartikan sebagai menerima segala apa yang datang dari Allah tanpa mengeluh. Dan kasih, mengasihkan atau mempersembahkan kembali apa yang diterima pada Allah kembali. Sementara selain Allah hanyalah sebagai the channel of thanksgiving (saluran pengungkapan terima kasih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima, berarti menerima segala hal yang datang pada dirinya, dan disadari sebagai kebaikan yang datang dari Allah SWT. Tak ayal, karena merasa semuanya datang dari Allah SWT, maka pantulan yang berkumandang ke dalam hatinya hanya kebahagiaan semata. Mengapa bahagia? Ya, karena dia selalu bertemu dengan Sang Pemberi Hadiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak terpukau dengan hadiah yang diberikan Allah, tetapi selalu merasa disambangi, disertai, dan diperhatikan Allah SWT. Merasakan kehadiran Allah setiap saat itulah yang turut memantik kebahagiaan di dalam hatinya. Orang yang bermental “terima”, maka setiap kejadian dan peristiwa yang menyapanya akan selalu menitipkan kekayaan ruhani. Bukankah kekayaan itu hanya melekat pada orang yang menerima. Tanpa protes, tanpa mengeluh, tanpa marah, yang terpancar hanya kesukacitaan menerima setiap realitas sebagai suguhan dan sajian maha lezat dari Allah SWT. Mental “terima” inilah yang juga disebut dengan sikap ridha. Ridha bakal melahirkan kelapangan bagi setiap insan, sehingga tergerak untuk berbagi pada sesama. Orang yang ridha, akan berimbas pada perilaku “kasih.” Orang yang ridha bakal bahagia, dan orang bahagia bakal selalu tergerak membagikan kebahagiaannya pada sesama. Begitulah mental kasih itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mental “kasih”, berusaha mengasihkan apa yang ada di tangannya pada Allah. Semua dipersembahkan demi mendekatkan diri pada Allah SWT. Pribadi ini telah kehilangan “rasa kepemilikan,” yang terbenam dalam jiwanya, pemilik hakiki hanya Allah SWT. Tak ada pilihan lain, bagi yang tidak merasa memiliki, kecuali menyerahkan kembali apa yang diterima pada Pemilik Hakiki, melalui saluran-saluran yang disukai Pemiliknya. Artinya, kita mengasihkan apa yang kita terima pada makhluk-makhlukNya. Karena kita bisa melayani dan mempersembahkan sesuatu pada Allah dengan melayani makhluk-makhlukNya. Jika kita telah sampai di peringkat terima kasih, maka kita bakal menemukan kebahagiaan dan keberkahan hidup. Bukankah al-Qur’an sudah menjanjikan akan menurunkan keberkahan (ziyadah)  bagi orang-orang bermental “terima kasih”. Bahkan kalau kita berusaha menggali ke kedalaman, orang bermental terima kasih tidak hanya menuai berkah, bahkan berkah telah membadan pada dirinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-3362506793658543924?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/3362506793658543924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/12/terima-kasih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3362506793658543924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3362506793658543924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/12/terima-kasih.html' title='TERIMA KASIH'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-9019794072365261370</id><published>2009-12-07T00:56:00.000-08:00</published><updated>2009-12-07T00:58:42.328-08:00</updated><title type='text'>DOSA, JALAN SUTERA MENUJU KEKASIH</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dosa sebingkah kata yang begitu menakutkan. Saking besarnya rasa takut, tanpa disadari kita tak jarang terjebak pada dosa itu sendiri. Kita membenci dosa, namun kita kerap terjaring dalam perbuatan dosa. Makin takut pada dosa, dan fokus pada ketakutan itu, membuat orang makin terjungkal. Seumpama orang yang berada di puncak ketinggian gunung, sembari melihat jurang yang curam. Jika fokus perhatiannya pada jurang yang curam tersebut, maka perhatiannya terdorong pada jurang, dan bisa jadi tanpa disadari akan terjatuh ke kawah tersebut. Semua orang mendamba hidup tanpa dosa, tapi kendati demikian manusia harusnya mengarahkan fokus pada penggapaian kebajikan. Sehingga setiap saat, hanya menghimpun kebajikan yang turut menerangi jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, perlu kiranya kita memahami secara utuh, apa hakikat dosa. Bagaimana agar dosa tidak sekadar menyetorkan derita, tetapi bisa menjadi jalan menggapai kebahagiaan hakiki, bahkan bersua kekasih. Mungkinkah orang bisa menemukan kebahagiaan lewat dosa? Sepertinya sih dosa hanya produktif mengirimkan derita ke ranah batin, dan dimaklumi akan selalu menyeret pelakunya ke ruang kegelapan, kekacauan, dan kerusakan. Sebagaimana dimaklumi, dosa sama dengan kegelapan, dan di setiap pojok kegelapan kita tidak akan bisa melihat kebenaran. Lain halnya, ketika manusia dipenuhi pahala, niscaya bakal berkilauan, sehingga akan selalu bersentuhan dengan kebajikan. Apakah benar dosa membuat orang terseret dalam kegelapan, dan pahala membikin orang mudah menjaring cahaya? Apakah benar orang yang mengumpulkan pundi-pundi pahala menggapai kebahagiaan, dan orang yang berdosa selalu tersorong suasana derita yang tak pernah memudar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa dan pahala sebuah akibat perbuatan. Sementara kita berusaha menggali sebabnya sebab, dan akibatnya akibat. Ketika kita berusaha menjejaki medan dualitas, niscaya kita tak pernah menggapai kedewasaan ruhani. Kedewasaan ruhani bukan diukur seberapa besar pahala yang direngkuh, tetapi seberapa agung sikapnya di setiap momen peristiwa dan kejadian yang hadir. Dari sudut kearifan, keagungan seseorang tidak diukur kaya dan miskin secara materi, tetapi diukur dari keagungan dan kemuliaan dalam bersikap. Memang, yang membuat orang namanya terus menjulang adalah sikap-sikap agung yang ditampilkan dikala bertegursapa dengan peristiwa dan kejadian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada dosa pasti juga ada pahala, dan benarkah pahala menjadi hal mutlak orang bahagia, dan dosa selalu meringkus manusia dalam penjara derita? Sungguh, kebahagiaan itu bergantung sikap kita dari setiap perbuatan yang mengalir. Kita sadari, sesungguhnya perbuatan buruk itu bukan kehendak hati nurani kita, tetapi terilhami hawa nafsu. Pada hakikatnya hati nurani selalu mendorong kita pada kebajikan, dan hawa nafsu cenderung merongrong dan menyeret manusia pada keburukan. Apa padam nafsu ketika berdosa, dan mulai menggelegar kembali hawa nafsu saat menumpuk pahala. Kadang, ketika manusia telah berbuat kebajikan meletup perasaan puas, sembari membanggakan diri. Seolah perbuatan baik yang ditampilkan murni datang dari kekuatan dirinya. Sikap egoisme yang melambung tinggi lantaran perbuatan bajik yang dilakukan telah meruntuhkan seluruh kebajikan yang telah dijalani. Merasa bajik akan melunturkan, bahkan menghapuskan kebajikan itu sendiri. Tapi orang yang merasa berdosa, akan menghapus dosa itu sendiri. Karena dosa dihapus dengan rasa bersalah dan menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Kini, diantara Anda bakal bertanya, bagaimana dosa membuat orang dekat dengan kekasih. Bukankah dosa sendiri suatu yang dibenci oleh Kekasih? Dosa suatu yang berlawanan arus dengan harapan kekasih, tetapi sesungguhnya lebih dari sekadar itu, Allah melihat apa sikap yang dicetuskan setelah berbuat dosa itu. Andai dosa dilakukan dengan sikap penuh kebanggaan disertai rasa tak bersalah, niscaya makin menambahkan dosa kembali. Namun, ketika dosa disertai perasaan menyesal, sehingga bertobat, sungkem, dan merintihkan tangisan istighfar pada Allah akan dosa yang dilakukan, niscaya dosa menjadi batu lompatan orang menggapai kedekatan dan dicintai Allah SWT. Sebagaimana cuplikan firman Allah, “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan membersihkan diri.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kaitannya dosa, tobat, dan cinta? Bila kita melihat secara gamblang, seolah tak ada kaitan. Namun, ketika kita berusaha merenungi secara mendalam, maka akan ditemukan kaitan yang amat dialektis antara ketiganya. Ingatlah, saudaraku cinta diperoleh karena tobat, tobat muncul lantaran merasa ada dosa. Dosa sendiri hanyalah tesa, tobat antitesa, dan cinta adalah sintesa. Karena itu, tak ada alasan bagi orang beriman pupus harapan akan rahmat Allah. Karena sesungguhnya kalau mau dikuak secara mendalam, sesungguhnya rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Bahkan perbuatan dosa yang dilakukan manusia juga disertai rahmat Allah di dalamnya. Bagi orang yang menyadari ini, maka dibalik segala sesuatu tidak pernah berpisah dan terlepas dari rahmat Allah. Bahkan ketika kita tengah menjalani keburukan, disana meresap rahmat Allah. Karena itu, tak ada alasan bagi seorang hamba berpikir buruk pada Allah. Pantas saja, pupus harapan itu hanya disandangkan pada orang kafir, yang terhijab dalam pengenalan pada Allah SWT. Betapa banyak orang yang nyungsep dalam perbuatan dosa, kemudian bangkit  untuk menghadap pada cahaya pengampunan. Merintih, menangis, dan bertobat, kemudian dari kegelapan yang pekat dia dipendari cahaya yang membuatnya makin dekat pada Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang disusupi rasa berdosa, maka akan terus berusaha menghapus dosa, dengan tobat, terbetik rasa sesal yang mendalam, disertai amal kebaikan-kebaikan lain, sembari terpancar rasa optimis  bahwa Allah akan mengampuni segenap dosa-dosanya, setelah meyakini sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al-Afuwwu), bahkan Yang Maha Penghapus Dosa (Al-Ghaffar). Melihat diri yang berlumur dosa, maka akan terbersit perasaan rendah diri dan hina, dan ketika memandangi kasih sayang Allah, maka hidup menjadi optimis atas anugerah pengampunanNya yang tak terbatas. Merasa gelap penting, tetapi jangan terpaku oleh kegelapan, karena kita tak menemukan cahaya apapun. Kita boleh merasa gelap, tapi disertai rasa optimis bahwa cahaya pun bakal hadir. Begitu juga ketika kita berbuat dosa, janganlah merasa terpaku, dan terjebak untuk terus memikirkan segenap dosa, tanpa memandang horizon pengampunan Allah Yang Maha Luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang terjebak dalam dosa, dan merasa bahwa dia tak berkuasa sedikit pun untuk mengendalikan dan menguasai diri, hanya karena kehendak Allah semata perbuatan baik terlahir, niscaya dia akan ditolong Allah untuk makin dekat dengan kebajikan yang diharapkan, yang berarti dekat dengan Allah itu sendiri. Dan dia telah digerakkan Allah bisa mendaurulang keburukan sebagai kebajikan. Keburukan dosa-dosa telah menjadi sarana makin dekat pada Allah SWT. Karena orang-orang yang bertobat senantiasa dicintai Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,” Sesungguhnya orang yang bertobat adalah kekasih Allah, dan orang yang bertobat adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saatnya kita mencintai Allah dengan jalan bertobat terus-menerus, dengan merasakan tumpukan dosa, dan disertai rasa optimis  bahwa Allah akan menganugerahi pengampunan sebagai tanda sifat kasih sayang dan pengampunanNya yang tak terbatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-9019794072365261370?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/9019794072365261370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/12/dosa-jalan-sutera-menuju-kekasih.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/9019794072365261370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/9019794072365261370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/12/dosa-jalan-sutera-menuju-kekasih.html' title='DOSA, JALAN SUTERA MENUJU KEKASIH'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6575002994394738760</id><published>2009-12-04T02:35:00.000-08:00</published><updated>2009-12-04T02:39:23.471-08:00</updated><title type='text'>SAYA MENDAMBA JADI MANUSIA PRIMITIF</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah kesempatan,  guru kami yang mulia meluncurkan kearifan yang turut meniupkan kesegaran ke dalam hati. Menurut beliau, primitif bermakna asli, berakar dari bahasa Yunani Primus, dan diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi Prime, yang berarti utama. Saya pun segera mencerna pemikiran yang didulangkan guru yang mulia. Andai primitive itu diartikan sebagai yang asli, original, otentik, berarti layak jadi gaya hidup yang terhormat. Tak ayal, sifat itu menjadi dambaan terdalam setiap insan? Ciri manusia primitive gampang berkata jujur, sulit berkata dusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, kita menginginkan orang yang jujur, tidak berpura-pura, tidak gampang tipu sana-sini, dan selalu berkata polos. Kita menginginkan teman yang jujur, partner bisnis yang polos, mendamba relasi yang tak berbalutkan intrik. Dengan berbekal kejujuran dan keaslian, manusia bakal selalu menemukan terang dimana saja. Tuhan bermukim di hati orang yang jujur. Bukankah hanya orang yang berpikir dan berbuat apa adanya yang bakal selalu menemukan keindahan dalam hidup. Dan hanya orang yang mengada-ada, penuh pretensi yang melulu dibajak kekecewaan dan kepedihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, selama ini kita sudah meremehkan manusia primitif dengan kesan sebagai manusia terbelakang, dan lebih akrab dijuluki manusia Jadul (jaman dulu). Mengapa mereka dianggap jadul. Ya, mereka dipandang jadul, lantaran ketika orang beramai-ramai bermain intrik dan menebar fitnah, dia masih sanggup berjuang dalam pusaran pengaruh integritas diri yang berisikan jujur. Ketika orang berlomba-lomba mengejar kedudukan bergengsi dengan beragam cara tuna nilai, dia hanya terlihat termangu-mangu dan merasa asing. Ketika orang bersaing membalut citra diri palsu, dia tetap memilih untuk menunjukkan apa adanya. Dia menyadari, balutan citra hanya kemasan sementara, ada saatnya kemasan itu bakal robek, dibuang, sehingga yang terlihat hanya isi semata. Apakah sama antara citra kemasan dan isi yang terbungkus? Disanalah integritas dan kejujuran dipertaruhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah manusia primitif identik dengan orang yang tertinggal dalam informasi, teknologi, dan trendsetter bisnis? manusia primitif tidak terkait soal ketinggalan informasi, tetapi berkait dengan keteguhan memandang hati nurani sebagai panduan utama dalam melangkah. Dia masih menjadikan hati nurani sebagai commander yang mendorongnya bergerak dan berbuat. Pikiran, dan tindakan terpandu secara integral oleh hati nurani. Manusia yang masih tersambung dengan kejernihan hati nurani disebut manusia primitif (manusia utama) yang berada dalam arus sejarah. Karena mereka punya panduan lekat, berupa hati nurani yang jernih, maka perbuatannya selalu terarah menuju kebahagiaan. Kejujuran, penuh integritas, dan kredibilitas telah melekat kuat dalam dirinya, tak pernah sedikit pun bergeser antara suara hati dan perbuatannya. Karena perbuatan yang tergelar sebagai ekspresi yang dituangkan hati nurani. Tepatnya, perbuatan sebagai cetakan nyata dari hati nurani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, terasa sekali bahwa jujur dan polos hanya layak dikenakan orang yang bermental terbelakang. Kejujuran terasa langka, bahkan dusta telah menjadi habit publik sebagaimana dipertunjukkan berbagai saluran media yang ada. Dari kebohongan pengusaha, hingga pejabat tinggi, mungkin rakyat kecil juga tertulari penyakit dusta tersebut. Di suatu kesempatan, saya chatting dengan teman semasa Madrasah Aliyah di Madura. Panggil saja namanya, Vinda Rosyidi. Di sekolah, dia termasuk siswa yang cerdas, vokal, dan selalu menguasai debat. Saya sebagai teman akrabnya, menyukai gaya bicaranya  yang fasih dan segar, kadang-kadang disertai diplomasi. Tepat di awal tahun 2000 saya berpisah dengannya. Dia melanjutkan studi ke IAIN Syarif Hidayatullah, sementara saya sendiri melanjutkan ke kampus swasta di Surabaya. Sejak awal, saya menduga dia akan jadi politisi, setidaknya politisi kampus, terlihat dari keterampilannya mempengaruhi teman-teman aktivitas sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya tidak ketemu dia. Setelah saya punya akun facebook, alhamudlillah saya bisa menjalin komunikasi kembali dengannya. Di dalam percakapannya, dia mengutarakan bahwa hidup di Jakarta membutuhkan keberanian untuk tidak jujur. Siapa yang jujur akan hancur. “orang jujur tidak punya opportunity untuk bisa sukses, “ tambah dia lagi. Kata-kata itu sempat menyentak perasaan saya. Tersentak bukan karena perkataan itu, tetapi dia sendiri bersikap permisif dengan penyakit dusta yang mewabah selama ini. Di zaman sekarang, terasa manusia primitif –manusia yang dipandu dengan kejernihan hati—semakin langka. Ketika sikap primitive berupa kejujuran, integritas, dan krediblitas telah memudar dari horizon kehidupan manusia, pertanda semangat agama mengalami senjakala, ditelan peradaban yang beroientasi duniawi. Padahal kebahagiaan hanya berpihak pada orang yang berperilaku primitif tersebut. Orang yang penuh intrik dan dusta justru makin jauh dari medan kebahagiaan yang diharapkan. Alih-alih menggapai kebahagiaan yang sempurna, malahan terjebak dalam derita sepanjang masa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kita selalu berusaha menjadi manusia primitif yang mau memegang teguh nilai-nilai universal yang bersumber dari hati nurani dan diperkuat oleh agama. Kita harus tetap teguh kendati berada di tengah kepungan manusia modern yang menyingkirkan spirit kejujuran. Mari kita berlatih dengan keyakinan, menjadi manusia primitive itu lebih bahagia. Karena manusia primitive manusia berkesadaran hati nurani.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6575002994394738760?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6575002994394738760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/12/saya-mendamba-jadi-manusia-primitif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6575002994394738760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6575002994394738760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/12/saya-mendamba-jadi-manusia-primitif.html' title='SAYA MENDAMBA JADI MANUSIA PRIMITIF'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7539507154890129553</id><published>2009-11-30T20:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-30T20:29:40.068-08:00</updated><title type='text'>IDUL QURB DAN THANKSGIVING DAY</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja, tanggal 10 Zulhijaah 1430H – tepat 27 November 2009—kita jelang Idul Qurb, sebuah perhelatan akbar tahunan yang menjadi momentum ekspresi syukur suci pada Allah SWT. Takbir, tahmid, dan tasbih terus berkumandang dari masjid, musholla, bahkan di jalan-jalan. Para remaja mengadakan takbir keliling, radio tak lupa menyebarluaskan gema takbir, televisi menyisipkan tagline-tagline berhembuskan takbir. Memang, hari raya Idul Qurb memberikan kesan mendalam bagi setiap pejalan ruhani. Karena, Idul Qurb, seumpama rute perjalanan, adalah stasiun terakhir perjalanan manusia. Idul Qurb, berarti kembali pada kedekatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita terus berjuang agar kembali dekat? Saudaraku, pada mulanya, ketika berada di alam arwah –saat masih berupa janin—kita bersinggasana di ruhul qudsiyah, meresapi kenyamanan, ketenangan, dan kedamaian tak terperikan bersama Allah SWT.  Ketika orang telah bersama Allah, sesungguhnya dia telah merasakan surga hati. Bukankah surga pantulan keindahan, kedamaian, dan ketenangan yang tak bisa dilukiskan oleh logika. Dan tidak ada ucapan yang meluncur dari lisan ahli surga, kecuali ekspresi rasa syukur. Memang, syukur sebagai sikap puncak (peak performance) dari sosok yang telah menghayati keindahan surgawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kebahagiaan bagi pencinta kecuali perjumpaan dengan kekasih. Bagi lajang, kerinduan terhadap kekasih begitu membara, dan dia terus melukiskan kriteria yang bakal menjadi penghangat jiwanya tersebut. Ketika belum bersua, dia terus menuturkan dalam beragam ekspresi, kadang kata-kata, kadang lukisan, kadang senyum yang terus terkulum indah dari bibirnya. Akan tetapi, dikala dia bersua, berjumpa, dan beradu mata dengan kekasih yang dicarinya,  bahkan hingga memadu kasih, maka tak ada yang bisa diekspresikan kecuali terima kasih, sebagai tanda kebahagiaan yang tak lagi bisa diekspresikan. Akal jadi lumpuh di hadapan kekasih, pikiran jadi lemah di hadapan sang kekasih, tetapi hati menjadi benderang, bagai memperoleh pasokan cahaya yang lebih besar. Hanya ucapan terima kasih yang melulu mengalir dari lisan orang yang telah menggapai pertemuan agung dengan kekasihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pertautan antara syukur idul Qurb. Jika Idul Fitri sebagai ekspresi cinta yang terus bergolak dalam hati, maka Idul Qurb manandai adanya kedekatan dengan yang dicintai. Jika Idul Fitri mengekspresikan cinta dengan memberikan hadiah dan maaf, maka menjelang Idul Qurb, kita perlu mengungkan rasa syukur, karena yang dilihat hanya keindahan semata. Karena itu, ada sebagian ruhaniwan yang mengemukakan, Idul Qurb menjadi ajang mengekspresikan ucapan terima kasih pada siapapun dan apapun yang telah berjasa dalam hidup kita.  Rasa terima kasih tak hanya diungkapkan pada sahabat dekat yang telah menguatkan perjalanan, perlu juga dihaturkan pada orang yang belum dikenal, tetapi tanpa kita sadari mereka juga berkontribusi dalam menjaga kehidupan ini tetap dinamis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatutnya kita belajar berterima kasih pada orang-orang terdekat yang turut menguatkan perjalanan kita, berterima kasih pada sahabat, berterima kasih pada alam yang tidak pernah bosan memberikan kehidupan pada kita. Bayangkan, bagaimana rasanya ketika matahari pensiun berhari-hari, tak lagi memancarkan sinarnya? Berterima kasih pada air, yang dari air kita bisa mempertahankan kehidupan. Berterima kasih pada hewan ternak yang telah membantu mengurangi beban hidup. Apakah berterima kasih pada selain Allah tidak dekat dengan syirik? Ingatlah saudaraku, rasa terima kasih yang kita haturkan pada siapapun dan apapun bersumber dari rasa terima kasih mendalam pada Allah SWT.  Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak bersyukur pada manusia, berarti tidak bersyukur pada Allah.” Dan Allah pun berfirman yang artinya, “Bersyukurlah kepadaKU dan kepada orang tuamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pitutur itu cukup untuk dijadikan landasan mengungkapkan rasa syukur pada siapapun dan apapun yang telah berjasa pada kita. Apakah kita hanya bersyukur pada orang-orang yang berlaku baik pada kita? Kita harus menebarkan syukur pada seluruh kehidupan, karena kehidupan ini telah dirancang secara interdependen. Apakah kita pantas mengungkapkan syukur pada musuh? Ya, kita masih layak menuturkan rasa syukur pada musuh, karena lewat gangguan musuh rasa sabar kita tertempa dengan baik, bahkan musuh itulah yang telah membentuk kematangan ruhani kita. Tak aneh, untuk melejitkan derajat seorang hamba, Allah kadang mengirimkan musuh yang menebarkan fitnah sana-sini, dan ia sendiri dipandu Allah untuk bisa bersikap sabar dengan aneka fitnah, berikut dipertemukan dengan mutiara hikmah yang menyegarkan dan mendewasakan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Idul Qurb tiba, tidak ada alasan tidak berterima kasih pada siapapun. Mungkin konglomerat kaya raya, tidak pernah terikat bisnis secara langsung dengan petani, tetapi ia setiap hari makan nasi, dan nasi itu dari padi yang ditanam para petani. Kendati tidak berhubungan langsung dengan petani, selayaknya konglomerat tersebut mengirimkan pesan syukur pada petani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Saat kita menghayati rasa syukur yang dibagikan pada  siapapun dan apapun, niscaya akan terbersit kesadaran dari hati nurani terdalam, pada hakikatnya kita, alam, dan seluruh jagat semesta ini satu. Karena itu Allah telah mengikat kita secara interdependen, saling membutuhkan satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencerna pesan suci yang terbungkus di Idul Qurb itu, maka saya meyakini Islam sebuah agama yang sempurna yang memandu umatnya agar punya kualitas sikap luhur dan tinggi, tak perlu menunduk-nunduk, dan meniru dan minder pada bangsa lain yang pada hakikatnya terbelakang. Jika barat baru menemukan thanksgiving day, sesungguhnya Islam telah menyodorkan Idul Qurb, media untuk mengekspresikan rasa syukur. Wallahu A’lam Bis Showaab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7539507154890129553?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7539507154890129553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/11/idul-qurb-dan-thanksgiving-day.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7539507154890129553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7539507154890129553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/11/idul-qurb-dan-thanksgiving-day.html' title='IDUL QURB DAN THANKSGIVING DAY'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-1503021835612163719</id><published>2009-11-28T22:00:00.000-08:00</published><updated>2009-11-28T22:04:01.280-08:00</updated><title type='text'>IDUL FITRI DAN IDUL QURB</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya terbagi dua, hari raya Fitri dan hari raya Qurb. Adakah sama pesan dibawa dari dua hari raya tersebut? Apa makna yang bisa ditangkap di dua hari raya tersebut dalam konteks pertumbuhan keimanan kita? Kita berusaha membedah dengan hati-hati pesan agung yang tersirat di dua hari raya tersebut, seraya berharap kita bisa merengkuh pencerahan agung, yang membuat kita merasakan kebahagiaan bersama Allah SWT.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, kita mendapati kesan, hari raya tanda sebuah pesta kegembiraan, kebahagiaan, dan kemakmuran. Orang mendapati kegembiraan dan kepuasan setelah menjalani beragam pernak-pernik masalah yang menghujani selama ini. Tabrakan masalah telah membentuk kepribadian hidup lebih matang, dan beragam masalah itu pula yang terus membuat jiwa tumbuh pesat. Ya, hanya karena berhasil melewati sekian tantangan hidup, manusia merasakan kepuasan. Lebih dari itu, akar kesuksesan adalah kesabaran. Tepatnya, kesuksesan bersembunyi dibalik kesabaran. Manakala orang telah berlaku sabar, insya Allah bakal merasa kesuksesan benar-benar nikmat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kesabaran tak ada kesuksesan, bahkan hanya sebentuk kesuksesan instant yang tak pernah membekaskan kebahagiaan mendalam ke dalam hati. Mengapa? Karena kesuksesan tanpa dilandasi kesabaran tidak meniupkan makna. Padahal hanya makna yang membawa manusia pada kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hari raya dihelat lantaran manusia menjalani masa-masa sulit guna mencapai tujuan hidup yang hakiki, berupa kebahagiaan. Jadilah hari raya sebagai momen untuk mempersembahkan syukur yang tulus pada Allah SWT yang telah menggenapi manusia dengan beragam anugerah. Anugerah terbesar yang perlu dirayakan berupa anugerah iman. Karena hanya dengan iman yang kuat, manusia akan merasa keamanan. Maksudnya keamanan internal. Dan bagaimana iman bisa mencapai pembuahan, maka diperlukan sebuah kesabaran dan ketekunan. Tanpa kesabaran justru iman, alih-alih berbuah, malahan akan mandul. Memang, hanya dengan ikhlas yang berakar dari kesabaran,  iman akan berproses menjadi pohon, batang, cabang, bunga, dan akhir berbuah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya diadakan lantaran manusia telah berhasil menapaki perjuangan yang menggetirkan. Berarti tidak ada hari raya tanpa perjuangan. Apa perjuangan yang harus dijalani kita sehingga pantas menghelat hari raya? Hari raya selalu didahului dengan puasa. Hari raya Idul Fitri dimulai dengan puasa Ramadhan, dan Hari raya Idul Qurb diawali dengan puasa 1-10 zulhijah. Apa pesan yang bisa dipetak dari kedua hari raya tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Idul Fitri bagi Idul Qurb, bagai hubungan tanah bagi bangunan, wudhu bagi shalat. Hanya dengan mencapai suci, manusia menggapai kedekatan dengan Allah SWT, hanya dalam keadaan suci manusia bisa sambung dengan Allah SWT. Meminjam hadis Rasulullah SAW, “kesucian adalah syarat dari iman.” Orang yang belum suci secara batiniah, berarti iman belum menyusup ke dalam hatinya. Padahal hanya dengan iman itulah manusia bisa menjaring keamanan, kenyamanan, dan kebahagiaan yang bersifat internal dan personal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri: Proses Penyucian Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah saudaraku mendengar, Ramadhan yang kita jalani setiap tahun sekali bermakna pembakaran. Maksudnya, pembakaran dosa-dosa yang menempel dalam hati. Hanya ketika dibakar, maka akan ada pembersihan. Bagaikan tumpukan kotoran yang menggunung di halaman rumah, maka cara membersihkan adalah dengan membakarnya. Adapun kotoran yang tersangkut ke dalam hati berkaitan bersumber dari hawa nafsu. Ketika manusia berhasil membakar hawa nafsu, berarti hati telah bersih dan mencapai penyucian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, andaikan kita pernah mengonsumsi makanan haram, maka untuk membersihkan makanan “terlarang” yang mungkin telah mendarahdaging dalam tubuh kita, bisa dibersihkan dan disucikan dengan puasa. Ketika manusia telah menggapai kesucian, dan berarti hawa nafsu sudah tidak lagi bercokol, maka hati nurani yang menggemakan kesucian bakal terus mengalun merdu. Dan buahnya adalah ketenangan hidup. Ketika orang dikepung kotoran, niscaya terus didera rasa sumpek, gelisah, dan pikiran negatif, namun ketika kotoran itu telah terbakar dan lenyap, maka kebahagiaan personal bakal bergulir sejuk bak salju ke dalam kalbu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya Qurb: Menjalin kedekatan dan Keintiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qurb berarti dekat. Dekat tanda orang punya gelora cinta di dalam hatinya. Tanpa cinta, kedekatan tidak bakal dirasakan. Dan cinta sendiri adalah suatu yang suci. Maka tak bisa orang mengotori cinta, cinta tak bisa disentuh dengan suatu yang kotor. Cinta hanya keluar dari hati yang bersih, jernih, dan indah.  Ketika cinta telah berkumandang dari hati, maka akan menjadi kompas, juga penarik untuk makin dekat pada Allah SWT. Ya, hanya dengan modal cinta mendalam, manusia akan diarahkan untuk makin mendekat pada Allah SWT.  Bukankah hanya dengan magnit cinta yang jauh jadi dekat, yang berpisah jadi menyatu? Karena itu, ketika kita hendak merasakan kedekatan sedeka-dekatnya dengan Allah, maka perlu terlebih dahulu ditanamkan bibit cinta di dalam hati. Ketika cinta telah menghiasi hati kita, maka tanpa kita sadari terus dituntun menuju kedekatan pada Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tanda orang telah menggapai kedekatan dengan Allah? ketika orang dekat pada Allah, maka akan timbul dua perasaan. Pertama, perasaan damai. Bukankah kebahagiaan seseorang berbanding lurus dengan kualitas kedekatan dengan yang dicintai? Dan kita tidak bisa melukiskan perihal perasaan damai, karena saking personalnya perasaan yang tertiup ke dalam hati kita. Ketika damai terus menerus bermukim dalam hati ini, berarti kedekatan telah memenuhi hati. Dimana ada rasa kedekatan, disana damai tengah menumbuhkan kebahagiaan tak terukur dan tak berbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, merasakan kesatuan. Ketika rasa kedekatan telah memenuhi batin ini, maka kesatuan dengan Allah amat dirasakan. Telah berhasil melampaui dualitas dekat dan jauh. Karena dekat dan jauh sendiri sebagai cermin masih ada keterpisahan antara hamba dan Tuhan. Sementara sesungguhnya, manusia yang telah berada dalam samudera kesatuan, akan selalu merasa menyatu dengan Allah dimana saja. Saat rasa kesatuan itu telah terbenam dalam hati, maka kebahagiaan tidak pernah berhenti meluap-luap, dan kita terasa selalu berada dalam perhelatan pesta raya setiap saat. Lebih tepatnya, kita menjadi selebritis setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-1503021835612163719?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/1503021835612163719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/11/idul-fitri-dan-idul-qurb.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1503021835612163719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1503021835612163719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/11/idul-fitri-dan-idul-qurb.html' title='IDUL FITRI DAN IDUL QURB'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-5020065195816038619</id><published>2009-11-10T16:51:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T16:58:06.690-08:00</updated><title type='text'>MENYEGARKAN KEMBALI PIKIRAN YANG LAYU</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lebih saya tak mengekspresikan perasaan dan gagasan jernihku lewat tulisan. Terasa ada kerinduan yang membuncah dari hati ini, untuk kembali bisa bertemu komputer sederhanaku, agar bisa menghaturkan kebajikan-kebajikan yang pernah kulihat, pernah kualami, atau pernah kurasakan saat bergaul dengan beberapa sahabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lamanya, saya berusaha mengondisikan hati untuk melewati hari-hari di medan tafakkur disertai adanya sebuah dorongan yang kuat di hati ini untuk mewakafkan diri di jalan dakwah secara ikhlas, dikala banyak orang meninggalkan medan dakwah ini. Jalan dakwah memang jalan sunyi yang ditempuh sedikit orang, jalan yang harus bisa menumbuhkan keikhlasan, dan tantangannya adalah bagaimana mengikis sikap tidak ikhlas yang cenderung melintas dari hati dan pikiran. Hanya saya yakin, Allah Maha Tahu usaha saya untuk melewati jalan-jalan yang sarat tantangan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun makin mantap untuk menekuni dakwah melalui keterampilan menulis dan berbicara di depan umum. Semoga dua keterampilan tersebut dialiri spirit Ilahi juga kerinduan yang tak pernah surut pada Rasulullah Muhammad SAW yang sapatutnya dijadikan model dari zaman ke zaman. Kendati demikian, saya menyadari bahwa menulis dan berbicara hanyalah pantulan dari perasaan (dzauq) yang membuncah di rongga hati ini. Semoga Allah menuntun pembicaraan saya, dan semoga pembicaraan itu terlahir dari kejernihan perilaku batin ini. Sungguh, orang yang sering menulis dan berbicara, namun tak selaras dengan semangat batin dan sikap hidupnya, maka tulisan dan pembicaraan yang diungkapkan hanya menambah kesempitan bagi jiwanya. Kemudian, bagaimana orang yang jiwa dan hatinya sempit dan gelap bisa menghadirkan kelapangan dan pencerahan pada orang lain. Bukankah hanya orang yang punya lampu yang bisa menerangi kegelapan? bukankah hanya orang yang punya air yang bisa memberikan air? Dan bukankah hanya orang yang punya uang yang bisa memberikan uang? Berarti, hanya orang yang memiliki pencerahan di dalam hatinya yang bisa menyuguhkan pencerahan ke hati orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, cara efektif untuk bisa memberi pencerahan adalah dengan berusaha memenuhi diri dengan pencerahan lewat perenungan dan mendekati orang-orang yang telah mendapati pencerahan dalam hidupnya. Membaca Qur’an sembari merenungi pesan-pesannya, juga bisa lewat  membaca buku-buku yang mengandung pencerahan amat penting untuk memantik pencerahan dalam hati sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana yang terpenting dari semua itu. Semuanya penting. Ya kalau kita bertanya mana yang penting dari semua itu, memang semuanya penting. Namun, ada yang amat penting dan menjadi perihal primer dari semuanya adalah al-Qur’an yang hidup, yakni guru,  yang tak hanya sebatas menginspirasi kita lewat kata, tetapi juga lewat perilaku dan sikap hidup yang dipantulkan. Guru amatlah penting selaku tempat bercermin sekaligus hati bagi seorang murid. Bukankah ketika hati baik, insya seluruh organ menjadi baik adanya. Ketika guru yang dijadikan cermin hidup berkarakter baik, insya Allah murid pun terpandu ke jalan kebajikan seperti yang ditempuh para suci. Bagi saya, guru adalah sumber mata air jernih yang mengalir, sementara hatiku dipenuhi kotoran yang terpercik dari comberan. Alangkah baiknya, kalau aku membasuh lekat-lekat kotoran dengan mandi di sumber yang jernih tersebut, sehingga mendapati wajahku yang penuh kotor berubah menjadi bening dan jernih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, bisa dimaklumi bahwa guru adalah pemandu ruhani yang bisa memasukkan nilai-nilai indah ke dalam hati. Sehingga keterampilan yang melekat pada diri bisa menjadi lebih bermakna dan menebarkan manfaat yang lebih luas lagi. Beberapa kali guru yang mulia sering meyakinkan saya untuk tetap menekuni dunia tulis menulis. Semoga spirit beliau senantiasa mamantul di setiap ekspresi kalam dan qalam saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-5020065195816038619?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/5020065195816038619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/11/menyegarkan-kembali-pikiran-yang-layu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5020065195816038619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5020065195816038619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/11/menyegarkan-kembali-pikiran-yang-layu.html' title='MENYEGARKAN KEMBALI PIKIRAN YANG LAYU'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-8422163647251916067</id><published>2009-11-04T16:29:00.000-08:00</published><updated>2009-11-04T16:35:31.632-08:00</updated><title type='text'>IKHLAS SEPERTI AKAR</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Andaikan pohon, buah dari sikap hidup kita adalah syukur dan akarnya adalah ikhlas. Buah memantulkan semangat syukur, sehingga tak ada yang dilakukan kecuali memberi, tanpa meminta sedikit pun terhadap kehidupan. Adapun ikhlas adalah prinsip akar yang sejatinya memiliki peran yang amat besar bagi pertumbuhan pohon hingga menghasilkan buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ulasan sederhana ini, saya hendak menguak semangat ikhlasnya akar. Bagaimana akar sebagai simbol ikhlas. Ingatlah, ikhlas adalah wajah kembar dari kesabaran. Dalam usahanya dia terus berusaha memberi tanpa pamrih, dan tak pernah memperlihatkan diri sebagai yang amat berjasa terhadap pertumbuhan pohon hingga mencapai pembuahan. Bahkan ketika pohon semakin besar dan tinggi akar makin menghunjam ke tanah, demi bisa meneguhkan posisi pohon. Namun, ketika sudah berbuah, mungkin perhatian orang terlepas pada akar, dan hanya tertuju pada buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah diperkenalkan kemana-mana, ke banyak orang, tergelar di pasar tradisional, pun bisa melanglang ke gerai-gerai supermarket, supermall, sementara akar tetaplah menghunjam ke tanah sembari berusaha meneguhkan pohon agar sanggup menghaturkan buah kembali. Saking ikhlasnya akar, dia tak pernah sedikit pun mau terlihat sebagai yang berjasa, hingga pohon itu ditebang, akar pun tak mau terlihat, bahkan dia masih berusaha menyalurkan energi positif agar pohon yang sudah tumbang bisa tumbuh kembali. Seperti akar jambu, kendati pohonnya sudah ditebang, dia berusaha menumbuhkan pohon kembali. Betapa akar memiliki jasa yang amat penting bagi pertumbuhan pohon, tetapi tidak pernah sedikit pun terbersit untuk pamer dan menunjukkan sebagai yang paling berjasa. Dia hanya ingin terus memberi dalam kesunyian dan kerendahan dirinya di tanah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Perlu kiranya kita belajar pada kearifan akar untuk peneguhan keikhlasan. Semakin banyak memberi, bukan makin mendongak, malahan makin merendahkan diri. Mengapa mereka merendahkan diri? Karena merasa bahwa ia dianugerahi peluang untuk memberi bukan lantaran usahanya tetapi oleh karena rahmat Allah. Memang, manusia hanya sebatas alat peraga Allah untuk menyalurkan cinta dan kasih sayang-Nya. Tak sepatutnya orang bersikap pamer dan haus pujian dengan aneka jasa yang dipersembahkan. Bahkan terus menghadapkan hatinya pada Allah dengan semangat ikhlas yang utuh, sembari menyadari semua kekuatan untuk bisa memberi bukan karena datang dari dirinya, tetapi karena kasih sayang Allah. Lebih dari itu, terbetot dalam kesadaran, apa yang diberikan dan sifat dermawan hingga dia bisa memberi bukanlah kehendak personal semata, namun merasa telah didesain dan dirancang oleh Allah SWT. Andaikan Allah mau, bisa jadi kita tak diberi kemampuan memberi apapun, bahkan walau yang diberikan ada, kadang kita tercegah untuk memberi karena sifat kelembutan berupa dermawan dan belas kasih belum menyusup ke dalam hati ini. Terbukti, ada orang yang telah menjalani hari-hari sebagai pengemis dari pintu ke pintu, sehingga tak terilhami sedikit pun untuk memberi pada sesama, lantaran dia masih kekurangan dan berjungkir-balik untuk sekadar bisa mengais makanan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada orang yang telah dianugerahi kekayaan yang berlimpah, namun tak disaluri sifat belas kasih dan dermawan, hingga kekayaan harta menjadikan jiwanya makin sempit, tak pernah terbersit sedikit pun untuk memberi pada sesama, bahkan dia didera rasa haus untuk bisa menumpuk dan menimbun harta sebanyak-banyaknya. Walau dia kaya secara lahiriah, tetapi miskin secara ruhani. Tak ada sifat qanaah dalam hatinya, akibatnya dia terus diterpa rasa khawatir, takut harta yang diperoleh hilang, juga didorong semangat untuk mendapat lebih banyak lagi. Pun, andai dia memberi tak jarang disertai harapan untuk mendapatkan lebih banyak. Spirit ikhlas tidak tertanam kuat dalam hatinya, padahal tanpa ikhlas orang akan berada dalam keadaan batin yang goyah. Seperti pohon tanpa akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti mendamba sebagai pohon yang berakar, sehingga hari-hari kita terus diselimuti semangat keikhlasan yang tak terbatas. Bukankah hanya dalam semangat ikhlas orang melulu mencerap kebahagiaan yang hakiki, karena saat ikhlas manusia tengah “bergandengan” dengan Allah SWT. Makanya, begitu bahagia orang-orang yang hatinya diluapi spirit ikhlas. Pekerjaan orang ikhlas adalah memberi, dan kebahagiaan memantul saat bisa memberi. Dan lebih bahagia lagi, ketika pemberian itu hanya diketahui Allah SWT. Dari waktu ke waktu kita harus terus memproses diri agar tersaluri spirit ikhlas, dan selalu bergerak untuk memberi lebih banyak tanpa disertai kehendak sedikit pun untuk mendapatkan pujian dan sanjungan. Karena orang yang terpana dan silau dengan pujian dan sanjungan, akan mengalami kegoyahan iman. Dan orang yang memberi tanpa disertai ikhlas, berarti memberi tanpa disertai iman. Padahal hanya amal yang disertai iman yang bakal meneguhkan jiwa dekat pada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-8422163647251916067?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/8422163647251916067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/11/ikhlas-seperti-akar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8422163647251916067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8422163647251916067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/11/ikhlas-seperti-akar.html' title='IKHLAS SEPERTI AKAR'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-4008639350248116984</id><published>2009-10-22T03:17:00.001-07:00</published><updated>2009-10-22T03:18:27.506-07:00</updated><title type='text'>MALAM PURNAMA SEMPURNA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tepat malam 15 Ramadhan, hatiku berbunga-bunga menyambut bulan yang memendarkan cahayanya yang purnama. Saat itu, bibirku tak henti-henti melantunkan salawat Nuril Anwar, sambil menghayati kehadiran Rasulullah SAW sebagai sosok yang selalu dipersonifikasi sebagai rembulan. Kupandangi lekat-lekat, bulan itu ternyata dalam keadaan duduk tasyahud, seperti berdialog dan menyaksikan Tuhan dengan seluruh kemuliaanNya yang sempurna. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Tak luput, kulihat bunga-bunga, pohon-pohon, dan pelangi seakan turut memanjatkan tasbih menyambut rembulan yang terus memancarkan sinarnya yang sempurna. Aku pun berada dalam suasana dialog dengan purnama malam bersama seluruh jagat semesta yang khusyuk karena terpesona pada cahaya rembulan. Kala menatap rembulan, saya terus mengingat Rasulullah SAW yang telah berperan sebagai penerang yang nyata bagi kehidupan. Lantaran kehadiran Rasulullah SAW di jagat semesta inilah, begitu terasa adanya kehidupan rahmat yang memancar di setiap kisi-kisi kehidupan yang kualami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku berbunga-bunga menatap purnama, seakan cahaya rembulan itu menjadi dambaan setiap makhluk termasuk diri ini. Saya pun bertanya, mungkinkah cahaya rembulan yang begitu sempurna itu bisa menghiasi langit-langit hati yang gelap ini? Bisakah cahaya purnama itu terbit dari kesadaran terdalam ini? Bisakah diri ini menjadi rembulan yang kemana-mana hanya bisa menebarkan cahaya kelembutan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinar rembulan, saya menatap kelembutan Allah, yang gampang membuat orang terpesona dan masuk ke dunia spiritual yang amat dalam. Memang, manusia hanya bisa memandangi rembulan dengan cermat, tidak bisa melihat matahari. Bahkan ketika manusia berusaha menatap matahari yang memancarkan teriknya, niscaya matanya akan silau. Dan rembulan sendiri sebagai ekspresi dari cahaya matahari. Kedudukan rembulan di hadapan matahari, seperti kedudukan hamba yang paling terpuji Rasulullah Muhammad SAW di hadapan Allah SWT. Karena itu, untuk bisa mengenali matahari, maka manusia harus mengenali rembulan terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan ruhaniku, matahari adalah perlambang sifat jalal Allah, dan rembulan adalah perlambat sifat jamal Allah. Makanya, tak aneh untuk mengekspresikan kelembutan cinta, sepasang kekasih selalu menggunakan simbol rembulan bersama cahayanya yang memukau. Karena sinar cahayanya yang lembut, sebagai simbol kasih sayang dan keindahan Allah SWT. Karena itu, Rasulullah SAW yang dilahirkan sebagai mahkota kehidupan bersematkan citra kepribadian yang lemah lembut dan penuh belas kasih.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah Rasulullah Saw benar-benar menggunakan kepekaan hati, dan adapun modus kekerasan (tegas) hanya dipergunakan ketika menghadapi orang kafir yang berlaku dzalim dan menyerang Islam. Rasulullah SAW menjalani dakwah lebih sering menggunakan cara-cara kelembutan dan kasih sayang, tak ayal jika para sahabat sering merasa tenteram dan dimabuk cinta kala bertemu Rasulullah SAW. Tak ada sedikit pun sikap Rasulullah SAW yang menyakiti sahabat, semua perilaku beliau terpandu dengan akhlak qur’ani. Senada dengan jawaban siti Aisyah ketika ditanya sahabat perihal akhlak Rasulullah, dia berkata semua perilaku Rasulullah SAW menakjubkan, dan berakhlak dengan akhlak al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, akhlak Rasulullah seindah rembulan purnama, tak sedikit pun terlihat cecat yang melekat padanya. Purnama hanya sebatas simbol keindahan akhlak Rasulullah SAW, namun pada hakikatnya rembulan itu tidak bisa mewakili keindahan akhlak Rasulullah SAW yang sempurna. Kalau kita begitu kagum dan terperangah dengan bulan purnama, niscaya akan lebih terperangah ketika melihat langsung cahaya akhlak Rasulullah SAW yang berkilau-kilau, yang siap membuat siapapun terpesona memandangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat purnama malam, terasa api kerinduan menggelora dari hati ini. Mungkinkah saya berjumpa dengan Rasulullah SAW, merasakan ditatap oleh beliau? Merasakan belaian kelembutan beliau? Saya benar-benar ingin bertemu dengan beliau, semoga pertemuan agung itu bisa kurasakan sepanjang hayat saya. Bukankah ada dari para kekasih Allah yang bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan Rasulullah SAW. Mungkinkah orang yang serba terbatas ini bisa bertemu dengan beliau? Sungguh, diri ini begitu terbatas dalam segala hal, ibadah terbatas, ilmu terbatas, keyakinan terbatas, bahkan kezuhudan terbatas. Mungkinkah diriku pantas bertemu dan berdialog secara intim dengan Rasulullah SAW yang menjadi pijar cahaya rembulan bagi kehidupan ini. Apakah Rasulullah berkenan menemui diri yang papa dan hina ini atau tidak, terpenting saya terus memenuhi hati dengan kerinduan tanpa akhir pada Rasulullah SAW, sang rembulan yang terus bercahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-4008639350248116984?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/4008639350248116984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/10/malam-purnama-sempurna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4008639350248116984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4008639350248116984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/10/malam-purnama-sempurna.html' title='MALAM PURNAMA SEMPURNA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-4300682859902976768</id><published>2009-10-14T21:06:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T21:09:04.304-07:00</updated><title type='text'>SOSOK MUSLIMAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertegur sapa dan bergaul kendati hanya selintas, tetap saja membekaskan kesan yang indah di dalam hati. Keindahan ini tidak bertaut dengan keindahan yang menguap dari hawa nafsu, namun berasal dari kesadaran terdalam. Saya terus berusaha meraba cermin indah dari setiap sosok yang kutemui agar bisa membersihkan dan menghias hati ini. Kadang-kadang saya merasa malu dengan pancaran akhlak dan kontribusi orang-orang sekitar saya. Salah satunya yang membuat saya terhenyak saat melihat sikap hidup mulia yang ditampilkan seorang ibu. Saya memanggil perempuan itu dengan Bunda Farhan, dikarenakan kami merasa amat diperhatikan dan dihormati beliau sekeluarga. Bunda ini punya 3 anak puteri yang paling tua, Nur Laili, ada di bangku SMP, putri kedua, Amelia, kelas 1 SD, dan putri ketiga, Anissa, masih baru berada di bangku TK. Pada mulanya, saya menganggap Bunda Farhan sebatas ibu rumah tangga yang mencurahkan tenaganya guna mendidik dan membimbing anak-anaknya, juga melayani suaminya. Namun, dibalik kesederhanaan yang ditampilkan, dia ternyata sosok hafidzah yang begitu pandai dan luwes bergaul dengan ibu-ibu yang berada di sekitar perumahan Sengkaling. Bunda Farhan bersama keluarga menempati perumahan tersebut beberapa minggu sebelum puasa. Sebelumnya, beliau bersama keluarganya tinggal di Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menakjubkan di hati saya, kendati Bunda ini beberapa minggu tinggal di perumahan itu, begitu gampang berbaur dengan ibu-ibu yang lain. Dan dia selalu berusaha menebarkan aura kebajikan pada ibu-ibu, agar bisa mengaji al-Qur’an dengan baik dan benar lewat aktivitas tadarus. Semangat berbagi kebajikan itulah yang membikin saya menaruh kekaguman pada orang ini. Saya optimis, dia menjadi pelopor dakwah bagi kalangan ibu-ibu, bahkan saking padatnya kegiatan ibu-ibu yang ada di Sengkaling pada bulan puasa, saya menaruh harapan, bisa jadi akan berdiri masjid megah dan sekolah di  perumahan tersebut. Bermula dari keyakinan, ketika ruh jihad telah menyusup ke dalam hati setiap umat, insya Allah dakwah sekaligus fasilitas dakwah bakal gampang terealisasi. Sebagian jamaah berujar, “Kami bersyukur beberapa bulan ini komunitas perumahan mendapatkan keberkahan dengan hadirnya orang-orang saleh, seperti keluarga pak Dhiya’ (guru kita yang mulia) dan keluarga Pak Farhan. Semoga ini menjada isyarat baik bagi perumahan Sengkaling, menjadi perumahan yang lebih agamis.” Kata Pak Moga menaruh harapan selaku aktivis dakwah di perumahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di perumahan banyak orang-orang saleh yang selalu fokus melayani umat, tanpa pamrih sedikit pun. Saya mengenal ada Ustadz Nur, seorang hafidz, lantunan al-Qur’an-nya terasa begitu syahdu menyusup hati. Hanya saja Ustadz Nur belum bisa terlibat aktif di Mushalla. Jika ada waktu kosong, beliau shalat berjamaah. Mungkin aktivitas dakwahnya padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Bunda Farhan. Sosok ini begitu telaten mengajari ibu-ibu, bahkan dia berazam melahirkan ustadzah yang bisa mendidik anak-anak TPQ yang selama ini tidak terkelola dengan baik, kalau tidak mau disebut terlantar. TPQ tidak mengalami kemajuan, karena masih ditangani dengan cara konvensional, tanpa menggunakan metode belajar al-Qur’an yang mudah dan cepat, selain ustadzah-nya tidak benar fokus memberikan perhatian terhadap pertumbuhan anak didik di TPQ tersebut. Saya hanya bisa mendukung langkah yang bakal dirintis Bunda Farhan, karena saya belum merasakan kejituan metode yang dipergunakan. Adapun metode yang dipergunakan Bunda Farhan dalam mendidik anak-anaknya adalah metode UMMI. Saya melihat perkembangan anaknya yang masih kelas 1 sudah bisa membaca al-Qur’an Juz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengajari ibu-ibu mengaji, dia juga mengundang ustadz yang bisa mengajari ibu-ibu tarjim al-Qur’an, dengan harapan para ibu tidak hanya bisa mengaji al-Qur’an dengan fasih, juga memahami makna yang terkandung di dalamnya, sehingga akan terbangun semangat untuk merenungi (tadabbur) atas ayat yang tersirat dalam al-Qur’an tersebut. Tarjim al-Qur’an memadukan kegiatan belajar bahasa Arab dan mengkaji al-Qur’an. Tujuan pamungkasnya, bagaimana ibu-ibu bisa belajar al-Qur’an secara menyeluruh, tidak hanya mengaji tetapi juga bisa mengkaji al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain aktivitas tadarus, menerjemah, dan mengkaji al-Qur’an, Bunda Farhan juga mengadakan pengajian ibu-ibu yang dihadiri salah satu dosen dari UNMUH, Malang. Saat pertama kali ketemu dosen ini, saya begitu antusias lantaran ada orang yang mau mengisi pengajian di sebuah Mushalla kecil. Saya sempat berbincang sebentar dengan ustadz tersebut, kemudian dia segera membuka pengajiannya. Saya menguping kajian-kajiannya  di dalam kamar. Hanya saja, saat masuk ke materi pembicaraan, dia banyak menjlentrehkan tentang taghut, dengan gampang mengalamatkan klaim-klaim syirik pada saudara muslim yang lain. “meletakkan tulisan doa di daun pintu itu syirik, meminum air doa itu syirik, juga meminta tombo ke Ponari syirik,” kata si ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka ucapan yang berbau syariat begitu kental berikut menyalahkan praktik pemahaman kelompok lain membuat hati tidak basah dan sejuk, malah semakin kering dan panas. Uraian-uraiannya yang tidak pernah menyentuhkan kesegaran ke dalam batin, membuat diriku tergerak untuk berbicara dengan Bunda Farhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlintas dari pikiranku sebuah peristiwa, dimana ada komunitas NU yang membangun Mushalla di sebuah perkampungan. Hanya karena kesadaran agama komunitas itu menyusut, masuklah kawan salafi (bukan salafiyah) untuk memakmurkan masjid tersebut. Karena uraian-uraiannya yang sering menyalahkan kalangan NU, maka semua aktivis Salafi yang tinggal di Masjid tersebut diusir oleh warga. Saya tak berharap komunitas muslim Sengkaling terpecah lantaran perbedaan pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari selepas pengajian itu berlalu. Tepat habis shalat dhuhur, saya minta izin ke Pak Farhan untuk bersilaturrahim ke rumahnya. Pak Farhan mempersilahkan dengan senang hati. Namun, sekitar jam 2, saat saya mengajari adik-adik TPQ, saya dipanggil Bunda Farhan. “Katanya Abi, antum mau silaturrahim ke rumah selepas Ashar. Mohon ma’aaf, saya nanti mau silaturrahim ke sahabat saya, dan sudah kadung janjian, “katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya rencananya, hanya ingin silaturrahim, ada hal yang hendak disharing-kan,” ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ya, maaaf kalau saya bersama keluarga ada kesalahan,”dengan jiwa merendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama-tama menyinggung perkembangan tadarus ibu-ibu, dan masa depan pendidikan al-Qur’an di Mushalla. Beliau berbicara begitu antusias, dan saya mendengarkan sambil menunduk ta’dzim. Setelah beliau berbicara panjang lebar tentang mengaji al-Qur’an, saya pun masuk pada perkara inti yang hendak kuungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari jumat kemarin, saya mendengarkan ceramah dari ustadz yang didatangkan dari UNMUH. Sebagian besar materinya baik, hanya saja ada beberapa catatan yang perlu dikoreksi. Saya kira semua hujah yang diungkapkan beliau bisa benar menurut sumber yang diperoleh.”  “Namun, suatu hal yang perlu dikritisi ketika menyinggung ritual pandangan golongan lain keliru, dan hanya golongannya saja yang benar. Saya yakin Muhammaddiyah menjalani ritual keagamaan berdasar pandangannya sendiri yang bersumber dari al-Qur’an dan hadist, NU juga memiliki pandangan sendiri yang bersumber dari al-Qur’an, hadist, dan Qiyas.” Lanjutku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pun bisa jadi golongan yang lain punya pemahaman sendiri. Perbedaan dalam umatku adalah rahmat, sabda Rasulullah SAW. Bagaimana perbedaan ini mencitrakan bangunan Islam yang indah. Bukan perbedaan dijadikan ajang saling menuding kesalahan kelompok lain. Kita semua ingin melihat Islam yang bersatu, rekat, dan rukun karena sikap kedewasaannya memandang perbedaan yang menghiasinya.”Kataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa perihal yang tidak berkenan bagi ustadz?”tanyanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sempat terhenyak ketika seorang ustadz mengomentari praktik-praktik keagamaan yang dipandang syirik. Meletakkan tulisan doa di daun pintu disebut syirik, meminum air doa disebut syirik, mungkin berziarh ke kubur syirik. Menurut pandangan ahli tauhid yang disebut syirik adalah menganggap ada selain Allah yang bisa memberikan manfaat secara independent. Jika kita mengganggap air itu yang membuat kita sembuh, itu syirik, atau karena tulisan itu yang membuat kita selamat, berarti syirik. Bahkan ketika seorang pasien mengalami kesembuhan, berpikir karena dokter yang memeriksa atau obat yang dikonsumsi yang membuat sembuh. Itu pun syirik. Dalam pandangan saya syirik tidak melekat pada benda-benda, tetapi ada di pikiran. Bunda mungkin pernah mendengar penemuan terakhir Prof. Ermuto perihal kekuatan air. Dia meneliti ketika air dimarahi, maka memunculkan butir-butir kristal yang jelek, namun ketika dilontarkan kata yang penuh belas kasih, kristal-kristalnya menjadi membaik. Apalagi ketika dibacakan al-Qur’an kristalnya menjadi amat baguuuus. Dari penelitian tersebut, terasa ada hubungan yang menarik antara doa dan air. Dan saya pernah mendengar sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya doa bisa merubah takdir,” uraiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya ustadz kemarin menjelaskan tentang syirik tersebut agar orang hati-hati. Mungkin bagi orang yang tauhidnya sudah kuat, tidak perlu mendapatkan nasihat seperti itu. Saya juga berlatar keluarga NU, saya suka dengan tahlil, hanya kurang sreg ketika tahlil harus mengeluarkan banyak biaya untuk memberikan makan orang yang tahlil. Zikir (jahr) juga sepaham,” selorohnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hanya kasihan pada umat, apalagi mushalla ini baru aktif beberapa tahun. Kita berharap kebersamaan dan kebersatuan jamaah jangan dikoyak lantaran didera hasrat untuk memperuncing perbedaan yang ada. Rasulullah SAW selalu mengedepankan akhlak dalam berdakwah, dan kita harus betul-betul berusaha meramu perbedaan sebagai keindahan yang menyejukkan. Ada yang qonut atau tidak saat subuh, tak perlu dipermasalahkan. Mereka punya standar pemahaman sendiri-sendiri. Kalangan NU bermazhabkan imam Syafi’ie, tetapi kalau mau melacak sejarah, sejatinya tahlil tidak difatwakan Imam Syafi’I, tetapi difatwakan Imam Hanafi. Sudah saatnya kita luwes menghadapi perbedaan, berikut menonjolkan kebersamaan,”tuturku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ya terima kasih atas sarannya ustadz. Saya berusaha menjaga kebersamaan itu. Sebenarnya, saya juga tidak mengerti latar belakang ustadz itu (yang memberikan ceramah), saya hanya diperkenalkan teman saya saat taklim.” Kata bunda Farhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf bunda, jika perkataan saya menyinggung perasaan bunda. Tetapi itu semua bermula dari semangat untuk bisa mempersatukan komunitas muslim Sengkaling ini, hingga makin rukun dan akrab satu sama lain,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jazakallah, atas masukannya. Semoga saran tersebut jadi kebaikan bagi jamaah yang ada di sini,” ujar Bunda Farhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun melanjutkan mengajari adik-adik TPQ, dan Bunda Farhan pun melanjutkan aktivitas tadarusnya. Saya berharap saran yang kusampaikan akan dilanjutkan pada ustadz yang kumaksud. Alhamdulillah, seminggu setelah pengajian itu berlalu. Ustadz itu hadir, memberikan pengajian kembali. Materi pengajian lebih soft dan umum, dan tidak lagi menyinggung perbedaan yang ada. Semoga kerukunan diantara umat tetap terjaga di perumahan Sengkaling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saban ada kesempatan, Bunda Farhan selalu menanyakan seputar persoalan agama pada saya. Dan saya menjawab sebatas yang kuketahui. Saya berharap dia bersama keluarga akan menjadi sparring partner bagi guru kita yang mulia untuk menegakkan dakwah di perumahan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-4300682859902976768?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/4300682859902976768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/10/sosok-muslimah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4300682859902976768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4300682859902976768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/10/sosok-muslimah.html' title='SOSOK MUSLIMAH'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-8107107161293138529</id><published>2009-10-12T17:25:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T17:31:11.885-07:00</updated><title type='text'>DARI GUNUNG HINGGA TAUHID</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang Ramadhan saya banyak belajar. Belajar pada bunga yang sedang merekah indah, gunung yang menunjukkan kelembutan dibalik keagungannya, air yang terasa dingin, mengalirkan kesejukan keseluruh pori-pori. Kurasakan semua keadaan yang mengitari diriku tanpa resistensi sedikit pun. Ketika saya berusaha menyelami beberapa ayat Tuhan apa adanya, dan meninggalkan pikiran yang dualitas, seolah ada cerapan-cerapan nutrisi mengalir ke dalam kalbu. Karena itu pencerahan memendar dari momen ke momen. Pandanganku terpaku pada gunung puteri tidur, yang di bawah kaki sang putri berdiri kukuh gunung paderman. Dua gunung tersebut menggambarkan kepatuhan seorang anak pada sang bunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu ingat nasihat guru kami yang mulia, saat puasa tiba, layaknya dijadikan momen merenungi ayat-ayat Tuhan baik yang tergulung dalam Qur’an atau tergelar di alam ini, agar bisa mendulang hikmah suci. Bukankah ketika orang bisa mendulang hikmah, berarti dia mendapati yang banyak? Sebagaimana firman Allah, “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah itu, ia telah benar-benar dianugerahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS. Al-Baqarah [2]:269)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari saya selalu mencari obyek yang bisa direnungi, demi bisa mengenal Allah lebih dekat lagi. Bukankah dari merenung kita bisa menyalakan pelita dalam hati kita sendiri? Dan ketika hati telah bercahaya, berdampak pada kecermatan menangkap hikmah dibalik setiap peristiwa dan kejadian yang meruyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hari-hari pertama, berada di Malang, saya berusaha menyibak tabir rahasia dibalik gunung puteri tidur. Ada sedikit sentilan, andaikan ada orang yang bertanya gunung apa yang paling tinggi, tak ayal pikiran kita akan tertuju pada gunung Himalaya atau Everest, namun sesungguhnya gunung yang tertinggi adalah gunung puteri tidur, kata sebagian sahabat. “Tidurnya saja sudah tinggi, apalagi kalau ia terbangun dan berdiri dari tidurnya” canda sang sahabat. Ingatlah, guyonan ini tak perlu direnungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saya tak menghayati gunung tersebut, saya mungkin tak menemukan makna sakral yang melekat. Gunung yang ditumbuhi pohon, mampu menyerap air hujan dan memprosesnya, mengalirkan ke sungai, kemudian dibawa ke lautan. Ketika manusia telah berhasil menghujamkan iman di dadanya, maka dia akan menemukan kearifan yang mengembang indah. Di gunung tersebut tumbuh rerimbun tanaman yang menawarkan kesejukan bagi mata, dan matahari yang bersinar terik terserap pepohonan yang berjejer indah menghias gunung. Sehingga rasa panas yang potensial menyengat kulit tidak terasa, bahkan suasana alam terus berlingkup dalam suasana dingin.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran gunung menguatkan bumi, agar tak gampang mengalami goncangan. Memang, gunung memberikan manfaat yang besar untuk keberlangsungan hidup manusia. Bayangkan, andaikan Allah menciptakan bumi tanpa dipaku gunung, mungkin banjir bandang sering terjadi di dunia. Dalam pandangan ruhaniku, gunung adalah iman. Ketika iman tegak kokoh berdiri, maka manusia bakal mudah tersambung dengan Rasulullah SAW, dan manakala orang telah tersambung dengan Rasulullah, niscaya akan dihantarkan pada pengalaman ketuhanan yang lebih mendalam. Gunung adalah potret pribadi beriman. Gunung sebagai gambaran tegaknya iman yang mengalir ke sungai cinta pada Rasulullah SAW, kemudian dibawa ke lautan tauhid. Iman yang kokoh mengarahkan kecintaannya pada Rasulullah yang digambarkan sebagai sungai, dan Rasulullah Saw akan membimbing mereka kepada Allah, lautan penyerahan diri. Kita harus berproses agar bisa menggapai kebersatuan dengan Allah SWT. Dengan cara apa? Ya selalu berusaha menguatkan iman di dada, kemudian memancarkan cinta suci pada Rasulullah SAW, insya terbimbing untuk bisa menggapai pencerahan yang hakiki dalam hidup ini. Puncak pencerahan adalah penyatuan dengan Allah SWT dalam ikatan tauhid.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah, lewat gunung saya berpikir rentetan makna yang tersimpul di dalamnya. Saya merasa gunung telah memberikan pelajaran agung, bagaimana pribadi beriman berhasil membebaskan dirinya hingga bisa menyatu dengan samudera luas. Melalui keyakinan kukuh yang mengakar kuat dalam diri, harus berhasil menyalakan spirit cinta, berujung pada pertalian atau kebersatuan dengan Allah, berupa kristal-kristal tauhid. Citra orang yang telah menyatu dengan Allah, adalah selalu berserah diri atas setiap ketentuan Allah yang menghinggapinya. Tak ada lagi sekat yang membatasi antara dia dengan Allah, karena dia sendiri telah berhasil meruntuhkan tembok keakuan yang kerapkali menghalangi perjumpaan seorang hamba dengan Sang Khaliq, antara seorang pencinta dengan Yang Dicintai. Orang yang telah sampai pada samudera tauhid, bersemai dari jiwanya penyerahan diri tanpa reserve. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-8107107161293138529?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/8107107161293138529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/10/dari-gunung-hingga-tauhid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8107107161293138529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8107107161293138529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/10/dari-gunung-hingga-tauhid.html' title='DARI GUNUNG HINGGA TAUHID'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-1048001918428152360</id><published>2009-10-10T17:41:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T17:43:27.091-07:00</updated><title type='text'>SOSOK MUDA YANG MENGAGUMKAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selama bergaul dengan masyarakat Perumahan Puncak Mutiara Sengkaling, Malang, saya mendapati kenyataan indah yang selalu membuat hati ini bahagia. Di sana, saya bersua dengan sosok yang berhiaskan tawadhu’ mendalam, namun memancarkan spirit izzah yang menjelma dari bongkahan jiwanya. Semakin hari saya melihat akhlaknya bersinar, tak ayal saya pun merasa malu dengan perilakunya yang begitu anggun dan mempesona. Saya mungkin bisa mempesona orang lewat kata-kata yang padat dengan muatan makna, namun penampilan dan sikap hidup yang ditunjukkan seperti telah menutupi pesona kata-kata yang kukatakan. Begitulah, kata-kata akan tertutupi cahaya penampilan dan sikap hidup. Mengapa kata-kata bisa kalah terhadap perbuatan dan sikap hidup? Ya, karena kata-kata hanya berupa ilmu yang potensial, sementara perbuatan atau sikap hidup sebagai realisasii ilmu itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih berkutat dengan kata-kata, sementara dia telah berhasil merealisasikan kata-kata menjadi fakta. Saya menekankan pentingnya menumbuhkan rasa kasih sayang pada sesama, terlebih anak yatim, yang tidak punya tempat bersandar untuk memenuhi hidupnya, kecuali hanya terus memanggil Allah.. Allah… Allah. Sementara dia telah berhasil memungut anak yatim piatu, dan sekarang berhasil menyekolahkannya ke tingkat SMA tanpa meminta bantuan pada siapapun. Ia menanggung biaya hidup anak yatim dengan kemampuan ekonomi sendiri. Sebuah potret hidup yang amat menakjubkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat sikap hidupnya yang begitu bersinar, saya tergerak untuk bisa belajar banyak tentang prinsip hidup yang mendasarinya dalam mengarungi tantangan yang begitu keras. Kendati saban harinya dia menekuni bisnis yang amat keras, selain jadi dosen di UNMUH Malang, tapi pancaran wajahnya tak pernah terlihat sebagai pribadi yang keras, malah kulihat ada keteguhan yang memancar dari wajahnya. Cahaya kelembutan pun selalu memantul di setiap tutur kata dan perilakunya. Dia pernah berkata penuh akrab pada saya, bahwa dia berproses dengan kehidupan yang pasang surut, yang telah membentuk jiwanya makin kuat dan tegar. Memang, dari situ kedewasaan hidupnya bisa terbentuk, sehingga dia tak pernah sedikit pun khawatir hidup yang dijalani, karena meyakini jaminan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari, dia menghadiri pengajian yang saya asuh. Perasaan yang mengalir di batinku, “orang ini telah berhasil melampaui setiap kata-kata yang kuucapkan, dia hadir sebatas memantapkan semangat tawadhu’ terhadap siapapun.” Dia begitu terbuka belajar terhadap siapapun sepanjang selaras dengan prinsip-prinsip hidup yang diyakini. Keterbukaan dalam menerima ide-ide baru dan pencerahan positif, membuatnya makin tumbuh berkembang sebagai pribadi matang. Saya meneliti setiap kata yang terlontar dari lisannya, tak pernah sedikit pun menyinggung dan menghakimi orang lain. Saya merasakan betap pikiran dan hatinya begitu jernih dan bening, sehingga kata-kata yang diungkapkan, selalu menghadirkan keteduhan dan kesejukan bagi yang mendengarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usianya yang sudah kepala 3, dia terus berusaha menggali potensinya secara maksimal. Di tengah kesederhanaan hidupnya, dia amat suka berbuat dermawan pada siapapun, sembari memiliki rasa hormat yang mendalam pada siapapun, tak terkecuali pada saya yang hadir sebagai tamu di masyarakat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari kedua, saya sampai ke perumahan tersebut, dia diperkenalkan oleh salah satu jamaah pada saya. Mulanya dia terkesan pendiam, tetapi memancarkan kharisme yang positif. Beberapa jam, dia mengantarkan spring bed ke kamar penginapan, sehingga sempat terbetik di pikiranku, “Waduuh jadi tidur terus nich, mujahadah jadi gagal ya.” Kendati demikian saya tetap bersyukur, dengan perhatian yang diberikan olehnya. Sejak saat itu, saya terdorong untuk mengerti orang ini dari dekat. Makanya pada saat kunjungan ke rumah-rumah jamaah, saya mengkhususkan lawatan ke rumahnya terdahulu, saya berbincang banyak hal dengan dia. Saya menyinggung tentang pentingnya seorang guru yang akan menjadi pemandu untuk mencapai pengenalan pada Allah SWT. “Walau pun al-Qur’an sudah bisa dipelajari secara digital, buku-buku berlimpah, internet menyediakan sekian pengetahuan keagamaan, audio-visual yang memudahkan orang belajar agama lebih cepat, ada satu hal yang amat penting dari itu semua, yakni guru,” ujarku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebanyak apapun pengetahuan kita, tanpa dibimbing guru yang dekat pada Allah SWT, maka pengetahuan itu hanya menjadi pengetahuan semata, tidak tumbuh menjadi kesadaran yang indah di dalam hati kita. Nabi Muhammad mencerap ruh wahyu dengan belajar pada Malaikat Jibril, karena itu umat Nabi SAW juga harus belajar pada buku yang hidup, yakni guru” “lebih dari itu, sesungguhnya kerangka ilmu itu tersebar di berbagai perangkat pengetahuan, buku, audio-visual, internet, dan bahkan bisa kita cerap melalui televisi, namun sesungguhnya ruh ilmu itu terpendam di dada setiap guru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sosok yang mengagumkan ini setiap harinya tak pernah lepas dari buku. Dia selalu membaca buku untuk menyegarkan dan meluaskan cakrawala berpikirnya. Setelah kukatakan kata-kata itu, dia pun mengiyakan, betapa sesungguhnya belajar tanpa guru seperti orang punya peta, tanpa pemandu arah,  niscaya cenderung akan membuatnya tersesat. Ada sebagian jamaah yang menimpali, “bukankah ketika orang belajar tanpa guru, yang mengajari mereka adalah setan.” “benar sekali,” sahutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun beralih pada tema yang lain, saya memperkenalkan siapa diri saya. Saya memberitahukan bahwa saya bukanlah seorang penceramah atau dai, saya hanya tukang jual kripik singkong, yang biasa mengantarkan kripik dari toko ke toko, dari sekolah ke sekolah. Adapun saya mendapatkan tugas berdakwah, sebenarnya hanya belajar untuk bisa menjalani proses tarbiyah menurut Nabi SAW. Rasulullah menggunakan pola mengajar ilmu dari sanad ilmu yang benar, menyucikan hati agar terpantul akhlak yang luhur, dan terakhir memiliki tanggung jawab untuk berdakwah. Artinya, berdakwah sebagai tugas dari majelis yang menerapkan pembelajaran ala Rasulullah Muhammad SAW. Berdakwah tidak harus berbicara di depan umum dengan cara menggebu-gebu, namun mempraktikkan ilmu dalam pergaulan sehari-hari juga bagian dari dakwah. Bahkan dakwah lewat pergaulan antar pribadi lebih efektif, ketimbang berbicara di massa yang berjubel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar saya hanyalah seorang sales kripik singkong, tentu saja dia menanggapi amat antusias, karena dia memang mendukung anak-anak muda yang hendak menekuni dunia wirausaha. Ia pun bercerita, berbisnis seperti menjadi bagian dari petualangan yang dijalani sejak kuliah. Saat masih mahasiswa dia pernah mendirikan bisnis rental komputer, sekarang dia menekuni bisnis loundry dengan memberdayakan anak-anak muda, juga bisnis perumahan. Memang, berbisnis harus menjadi semangat yang harus menyala di hati anak muda, demi bisa mewujudkan kebangkitan bagi bangsa ini. Ketika dia berbicara bisnis terasa ada getaran antusiasme yang saya tangkap, namun bisnis yang telah menjadi mindset dalam dirinya adalah bisnis yang berlandaskan akhlak islami. Walau dia seorang pebisnis tak pernah nampak dari guratan wajahnya bahwa dia seorang yang berorientasi duniawi. Karena saya menyaksikan sendiri, hampir sebagian materi kekayaannya diperuntukkan membantu sesama, dan bahkan saya dengar dari salah satu jemaah disana, dia salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian Mushalla yang saya tempati. Inilah sosok pebisnis yang dididik dengan ruh iman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-1048001918428152360?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/1048001918428152360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/10/sosok-muda-yang-mengagumkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1048001918428152360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1048001918428152360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/10/sosok-muda-yang-mengagumkan.html' title='SOSOK MUDA YANG MENGAGUMKAN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-2283419950887778682</id><published>2009-08-04T18:02:00.000-07:00</published><updated>2009-08-04T18:06:17.015-07:00</updated><title type='text'>MERAWAT BUNGA DALAM HATI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Allah telah menaburkan benih bunga “fitrah” di taman hati kita, namun karena kita jarang merawat, sehingga bunga itu tidak tumbuh, bersemai, berkuncup dan merekah. Kita jarang memerhatikan benih bunga yang tertanam dalam hati, lantaran kita cenderung mengalihkan perhatian pada bunga yang tumbuh di taman-taman duniawi yang meliarkan hawa nafsu. Harusnya keindahan bunga yang bertebar di luar menginspirasi kita untuk bisa menumbuhkan bibit bunga yang terbenam di dalam hati ini. Apa bibit bunga yang terbenam dalam hati kita? bibit bunga itu berupa kedamaian dan keindahan. Setiap pribadi pasti merindukan kedamaian dan keindahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kerinduan terpantik dari dalam hati, sesungguhnya hendak mengabarkan pada kita bahwa apa yang dirindukan itu bersemayam dan bersembunyi dalam hati, hanya saja mungkin belum mengaktualisasi. Jika bunga batin belum tumbuh, rangkaian bunga hias yang bermekaran dan dicerap oleh indrawi tersebut tidak ampuh mengalirkan kedamaian dalam hatinya. Terbukti, banyak orang melakukan rekreasi demi melepaskan keletihan yang mengungkung hatinya, tetapi ternyata setelah menikmati pemandangan indah bersifat indrawi yang terbentang di taman rekreasi itu kadang tidak membekaskan kedamaian dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat bercerita pada hamba, suatu saat keluarganya pergi rekreasi ke luar kota dengan harapan bisa menangguk kedamaian dan ketenangan hidup yang didambakan selama ini. Saat keluar dari rumah, kebahagiaan terasa merekah terlihat dari wajahnya yang berbinar-benar, dan mereka pun melacu pergi ke tujuan wisata. Pastinya di tempat wisata, mereka bertemu dengan keindahan dan bunga yang tumbuh di setiap taman rekreasi yang dikunjungi. Kedamaian dan ketenangan hidup yang diajarkan bunga di teman rekreasi mungkin bisa dibawa ke rumah dalam bentuk jalinan keluarga yang lebih harmonis. Sesampai dirumah, alih-alih keluarga yang berekreasi membawa kedamaian dan ketenangan, malah membuat suasana keluarga tidak kondusif dan tidak harmonis. Ada teriakan-teriakan bernada mencaci, menghina, memojokkan, dan sarkasme terdengar begitu keras. Sehingga bekas yang diterima keluarga yang lain hanya rasa sakit dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekilas cerita itu, saya bisa merengkuh pelajaran, keindahan bunga yang hanya dinikmati hawa nafsu tidak mewariskan kedamaian ke dalam batin kita. Namun, ketika keindahan bunga itu dicerap oleh lahan batin kita, berikut mengilhami tumbuhnya benih kedamaian di taman hati, maka kedamaian yang diajarkan bunga itu akan berbekas, bahkan bisa turut menumbuhkan bunga-bunga di hati orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana benih bunga batin kita sudah tumbuh, bersemai, dan bermekaran, maka kemana-mana kita selalu diliputi kebahagiaan. Sudah merasa amatlah cukup anugerah Allah yang diberikan pada kita, berupa kebahagiaan itu sendiri. Kebahagian yang tumbuh berupa bunga batin ini, sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dijelajah dengan instrument indrawi, hanya bisa dirasakan oleh mata hati yang bening. Bunga kebahagiaan ini bakal tumbuh ketika terpantik perasaan cinta yang mendalam pada Allah, karena cinta itu sendiri ditandai oleh mengembangnya bunga kebahagiaan dalam hati kita. Tak salah kalau ada ungkapan “cinta berbunga-bunga.” Yah, cinta pada Allah membuat hati kita berbunga-bunga. Dan bunga batin ini tidak bisa ditukar oleh yang lainNya. Karena bunga ini menjadi inspirasi awal dari seluruh bunga yang tertanam di taman-taman rekreasi indrawi. Kalau di jagat alam ini tertanam bunga yang katanya bisa menyajikan kedamaian dan kebahagiaan, sesungguhnya di hati telah tumbuh bunga yang mendasari energi seluruh bunga dan bisa membekaskan kebahagiaan yang abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bunga batin ini sudah tumbuh dan bersemai, maka diri kita akan selalu diharu-biru kebahagiaan yang tak pernah memudar, bahkan kilatan cahaya kebahagiaan itu akan memancari orang sekeliling kita. Amatlah bersyukur, jika kita bisa memandu orang lain untuk bisa menemukan bunga dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tanda tumbuhnya bunga dalam hati? Jika hati kita dihiasi perasaan tawadhu’, merendahkan diri. Ketika sikap merendahkan dan menghinakan diri telah sempurna berikut mengagungkan kemuliaan Allah Yang Maha Tunggal, maka lahan hati ini akan berubah menjadi “gempur dan subur” untuk tumbuhnya bunga kebahagiaan. Rasakan kebodohan, kedunguan, dan rasa fakir di hadapan Allah, sehingga perlahan-lahan mekar rasa cinta yang mendalam pada Allah. Selain merendahkan diri, tumbuhnya bunga cinta ditandai oleh semangat beribadah yang makin bergelora, dan perasaan batin tidak pernah jenuh dan bosan untuk beribadah dan bermunajat padaNya. Bahkan mulai terasa kelezatan dan kemanisan munajat padaNya. Saat orang sudah merasakan kelezatan munajat, berarti bunga yang tertanam dalam hati sudah mulai tumbuh. Selain merasakan kelezatan munajat, tumbuhnya bunga batin ditandai pula oleh semangat memberi. Memberi akan melapangkan batin kita, bahkan dalam bingkisan pemberian itu terpantul kebahagiaan ke dalam batin. Karena itu, kita berusaha untuk rajin memberi dengan hati, demi tumbuhnya kebahagiaan dalam hati. Insya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutur dari Jalan Cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-2283419950887778682?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/2283419950887778682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/08/merawat-bunga-dalam-hati.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/2283419950887778682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/2283419950887778682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/08/merawat-bunga-dalam-hati.html' title='MERAWAT BUNGA DALAM HATI'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-5174363771057558867</id><published>2009-07-31T21:37:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T23:29:44.449-07:00</updated><title type='text'>BUNGA KEDAMAIAN TERTUNDUK LAYU</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hati bangsa bergetar kala mendengar ada ledakan bom yang berakibat tewasanya beberapa WNA dan WNI pada tanggal 17 Juli 2009. Jiwa kamanusiaan bangsa tergugah kembali, diminta hati-hati terhadap serangan tiba-tiba yang memporak-poranda bangsa di berbagai sudut. Rasa takut menyebar ke seluruh sisi negeri ini, dan WNA pun harus berpikir berkali-kali untuk memasuki negeri ini. JW Marriott dan Ritz-Cariton saksi tercecernya darah kemanusiaan, dan menggugat  keamanan wilayah ini. Kedamaian menjadi kebutuhan dasar bagi setiap orang. Tanpa rasa aman, maka tersebar virus rasa takut yang luar biasa di hati setiap warga, dan merasa kematian bisa menjemput kapan saja dan dimana saja dengan kondisi keamanan yang amat lemah. Jiwa-jiwa benderang digugah turun ke jalan mendeklarasikan kembali keamanan negeri ini, dan melebarkan perasaan cinta. Mengetuk hati-hati yang gelap lantaran tersumbat kebencian tak beradab. Apakah sayap-sayap cinta sudah lumpuh di negeri ini, atau memang ada orang yang ingin menancapkan realitas baru, negeri ini telah kehilangan rasa cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sejuk dan damai tengah dibutuhkan negeri ini, diharapkan siapapun merasakan kesejukan setelah berkunjung ke negeri yang terbentuk dalam keanekaragaman ini. Segenap pemimpin bersinergi membingkai Indonesia yang melahirkan warna sejuk di hati rakyat. Tak ada lagi kekerasan agama meletup, tak ada lagi bom meledak, tak ada lagi baku hantam antarsuku, kita mengupayakan kejernihan yang menerbangkan setiap jiwa menuju medan universal, tak tercabik-cabik oleh perbedaan yang amat dangkal. Pasalnya, kalau kita mengerti jiwa yang universal ini, sungguh lebih banyak kesamaan daripada perbedaan yang melekat pada seluruh manusia. Lalu mengapa permusuhan dan dendam sejarah harus terus diabadikan? Sudah saatnya akal sehat perlu kembali dioptimalkan, sehingga tak ada pembenaran atas kekerasan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri pencinta ini tak perlu menuduh siapa terkait kejadian yang menggetarkan itu, namun perlu menjadi bahan koreksi mendalam atas apa yang dilakukan pemimpin kita.  Apakah karena keamanan negera yang lemah, sehingga dengan gampangnya teroris memberangus wajah kemanusiaan Indonesia. Atau karena deposito cinta negeri ini telah terkuras habis, dan yang tersisa hanya permusuhan yang tak pernah berakhir? Seluruh warga dan pemimpin ini pasti mendambakan kedamaian dan kesejukan. Tak perlu kita jadi ladang empuk bagi kekerasan, karena semua warga kita mencintai kelembutan dan keramahan. Teroris membuat wajah negeri ini menjadi angker, beringas, dan seakan monster yang gampang menumpahkan darah kemana-mana. Padahal, cinta itu terus tumbuh dan bersemai di negeri ini, dan hanya sosok-sosok tak beradab yang keluar dari ideologi keindonesiaan yang damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kembali digaungkan ke seluruh warga dunia, Indonesia adalah negeri damai, negerinya para pencinta yang berusaha memberikan yang terbaik bagi kehidupan. Indonesia tak berwajah beringas, tetapi begitu ramah dengan siapapun, terbukti Indonesia meraih gelar negeri murah senyum menurut survey smiling report 2009. Senyum adalah jelmaan keindahan dan kesejukan. Boleh orang merusak bangunan indah, tetapi tak bisa merusak keindahan yang tengah mekar di hati bangsa ini. Mungkin mereka berhasil mengebom dan meledakkan tempat penjualan, restoran, dan hotel tetapi mustahil menjarah kedamaian yang menempati lubuk hati setiap personal bangsa ini. Kesantunan dan keramahan Indonesia tercermin dari kesanturnan pemimpin bangsa yang selalu mengedepankan sikap terbaik dalam menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terorisme memang menjarah terlalu banyak bunga keindahan yang bermekaran, yang membikin warga dunia tak tertarik pada negeri yang multi-kultural ini. Negeri ini dikitari belantara alam yang begitu indah, dan keindahan alam ini harusnya menginspirasi negeri menjadi indah secara batiniah. Keindahan alam tanpa ditopang keindahan batiniah bangsanya, niscaya hanya nampak wajah hipokrit yang hanya mencoreng-moreng negeri ini. Keindahan utuh senantiasa dinanti warga dunia. keindahan Indonesia tak hanya sebatas permukaan, tetapi di dalamnya juga indah. Pemimpin pun tidak hanya permukaanny terlihat indah, tetapi sikap batinnya juga harusnya terlihat indah. Bila keindahan holistik dan hakiki itu telah bersemai di hati pemimpin, maka akan memancarkan keindahan ke seluruh atmosfir kehidupan masyarakat. Keindahan di hati pemimpin tak hanya tertuju pada Presiden sebagai kepala negara, bahkan seluruh tokoh bangsa harus berhati indah, untuk memancing mata dunia tertarik kembali menyapa dan bergaul dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terorisme hanyalah oknum kecil yang mencitrakan Indonesia sebagai negeri yang menakutkan, namun sosok pemimpin dan tokoh bangsa yang sejuk lebih memiliki daya tarik ketimbang kejadian menakutkan itu. Jika keindahan telah menjelma di setiap hati pemimpin dan perangkat negara, tercermin dari ketulusan untuk membawa negeri ini ke ranah yang damai, berikut dapat mengikat rasa cinta yang tulus pula dari rakyat, tak ayal seluruh warga dunia akan menaruh cinta dan kagum pula pada negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri yang tengah berduka ini akan menjelma kembal sebagai pesona keindahan dunia, manakala setiap pribadi yang berada di dalamnya, berpikir memberi, memberi, dan memberi. Jiwa memberi yang memasuki sudut hati setiap rakyat Indonesia, niscaya akan membuat negeri ini lebih damai dan aman. Kerusakan negeri ini juga mulai dibangun dengan saling memberikan maaf dan menyatukan kembali negeri yang berkeping-keping dalam budayanya dengan rasa kasih tulus yang terjalin diantara seluruh komponen bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-5174363771057558867?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/5174363771057558867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/bunga-kedamaian-tertunduk-layu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5174363771057558867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5174363771057558867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/bunga-kedamaian-tertunduk-layu.html' title='BUNGA KEDAMAIAN TERTUNDUK LAYU'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6285984883898404258</id><published>2009-07-18T07:43:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T08:04:27.250-07:00</updated><title type='text'>CINTA MEKAR DARI TANAH KEDUKAAN</title><content type='html'>Setiap insan mendambakan energi cinta. Pasalnya, cinta membersitkan kebahagiaan hakiki di hati. Kehadiran cinta menjadikan setiap momentum sarat inspirasi. Namun, apakah cinta hanya bisa dijala saat dikitari kesenangan semata, dan saat derita menjerat hari-hari kita, berarti cinta tak berkunjung bahkan pudar dari ruang hati ini? Nikmatnya cinta tak sebatas dirasakan pada saat manusia dihias oleh kesentosaan dan kemakmuran. Pun saat derita, duka, dan bencana mendera, pintu-pintu cinta terbuka di balik lubuk sanubari. Dari pintu derita kadang cahaya cinta terbit menghampiri manusia dengan penuh daya tarik. Bahkan adikarya cinta terlahir dari rahim derita yang dijalani dengan tulus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begawan cinta lahir dari kota penuh derita, bayangkan Syekh Jalaluddin Rumi berhasil melahirkan karya mengharukan setelah beliau ditinggal sang guru, pemasok cahaya cinta di dadanya, Syamsuddin Tibriz. Kahliel Gibran mampu mengobarkan adikaryanya di bawah arakan awan derita yang dialami lantaran tak bisa bertemu sang kekasih. Kegetiran dan kepahitan jiwanya telah mengantarkan karya agungnya. Kalau kita memetik kemblai dawai spirit perjalanan cinta Laila—Majnun, terekam kesimpulan bahwa di tengah derita yang mencengkram sepasang kekasih tersebut, cahaya cinta menemaninya terus-menerus, bahkan Laila—Majnun merasa menikmati percintaan agung saat derita itu mengharu-biru. Manusia Agung, Rasulullah Muhammad SAW, yang hingga hari ini telah menggelar cinta semesta, menjalani masa kegetiran, dibentur tantangan demi tantangan, sehingga beliau pun didapuk sebagai pencinta sejati, dan bergelar rahmat bagi seluruh alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat perjalanan tokoh pencinta agung tersebut, saya menyimpulkan, mutiara cinta sering ditemukan dalam kedukaan yang berkecamuk di dada. Seorang pencinta sejati bakal merasakan asupan energi cinta, bila telah berhasil melewati ranjau derita yang amat menggetirkan. Tak ada pencinta yang dilahirkan dalam kemudahan dan serba fasilitas. Pejalan-pejalan cinta menelusuri perjalanan hidupnya penuh kedukaan, dari kaki derita inilah ia mengumpulkan keteguhan untuk menguatkan jiwanya agar sampai di puncak gunung maha daya cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru kami yang mulia pernah menegaskan, “tanpa duka, suka kehilangan maknanya,” beliau mencontohkan seperti dua orang yang sama-sama sampai di puncak gunung. Yang pertama sampai ke puncak gunung dengan menaiki hilokopter, tepat terbang di atas gunung, ia pun turun dari hilokopter menuju puncak gunung itu. Yang kedua, ia sampai ke puncak gunung, setelah melewati proses pendakian amat meletihkan, melewati batu terjal yang siap menggores kaki hingga berluka, atau berhadapan dengan binatang berbisa yang tiba-tiba menyergap dan mamatoknya. Kiranya, kebahagiaan hakiki itu berpihak pada siapa? Maka kebahagiaan itu berpihak pada orang yang kedua. Karena telah melewati kedukaan luar biasa, maka kesuksesan itu menjadi begitu bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pencinta, menyambut kedukaan amatlah antusias sebagaimana ia menyambut kesenangan. Dia merespons nikmat dan musibah penuh syukur, karena meyakini dibalik semua yang tergelar itu bisa menumbuhkan bibit cinta yang masih terbenam di dada. Respons yang membuat kita membutuhkan dan merindukan Allah bakal memantik maha daya cinta dalam diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan orang, penderitaan dan kedukaan yang dialami para pencinta begitu memperihatinkan, karena mereka melihat kebiasaan-kebiasaan di luar orang kebanyakan. Di kala banyak orang menghambur-hamburkan uang untuk memenuhi perut, sang pencinta harus menahan sekuat tenaga dari makan, melewati hari-harinya dengan puasa. Ketika banyak orang tidur terlelap, dia memilih untuk bangun dan terjaga, mengadukan kebutuhan dan kerinduan pada Allah. Disana dia merasa tak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan, sehingga dia selalu mengadu, merintih, dan meraung-raung di hadapan Allah SWT. Di tengah banyak orang terbuai dalam keramaian sarat kesenangan, dia memilih menyendiri, mengunci diri dalam kesunyian, menyatu dalam medan tafakkur perihal kekuasaan Allah yang Maha Luas. Dia mendera fisik dan hawa nafsu agar tak merasa nyaman, bahkan berteriak begitu lantang atas setiap perbuatan yang diilhami hawa nafsu. Dia berhasil menundukkan hawa nafsu di hadapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualang sarat tantangan itu dilewati semata-mata guna menumbuhkan bibit cinta. Tanpa ditempa dan didera, terasa sulit membuat gumpalan keakuan meleleh. Seperti membakar besi, maka keakuan juga harus dibakar dan ditempa agar meleleh. Kala keakuan telah meleleh dan lunak, maka cinta pun berkunjung ke dalam hati yang penuh damai. Saya menyadari bahwa mengarungi samudera cinta harus berhadapan dengan ombak derita yang bisa jadi tiba-tiba menghantam, dan membuat diri terjungkal dalam derita nestapa. Untuk menunjukkan cinta memang membutuhkan pengorbanan. Seperti kedelai yang dibenam dalam tanah, maka untuk bisa tumbuh dan mekar, bahkan berbuah, ia harus melewati perjuangan yang luar biasa, bagaimana caranya agar bibit yang tumbuh dan mekar harus menembus kerasnya tanah yang mengatup. Berapa besar perjuangan bibit biji kedelai itu agar bisa menjulangkan daunnya? Disanalah perjuangan cinta diuji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejalan-pejalan sunyi selalu menghibur dirinya kala didepak derita bertubi-tubi. Mereka menganggap derita yang membakarnya tengah memproses dirinya menjadi sang pencinta hakiki. Sang pencinta bakal cepat hampir pada yang dicintai, ketika bisa tersenyum dalam derita, tanda bersinarnya cahaya ridha. Ketika kita berani tersenyum dengan tulus atas derita yang menghujam, maka Sang Pencinta pun akan tersenyum dan menaruh perasaan haru pada pejalan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pencinta akan memeluk derita sama eratnya dengan memeluk kenikmatan. Bahkan sang pencinta menganggap semuanya adalah anugerah, sehingga ia memeluk erat-erat semua yang datang padanya, dan tinggal dia mendapati kejutan-kejutan yang membuatnya tertawa, dan Tuhan pun ikut tertawa. Ketika senyum mengembang dari bibir sang pencinta, sesungguhnya menjadi  refleksi senyum Allah yang memancari makhluk dengan penuh kasih tanpa syarat tanpa batas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6285984883898404258?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6285984883898404258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/cinta-mekar-dari-tanah-kedukaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6285984883898404258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6285984883898404258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/cinta-mekar-dari-tanah-kedukaan.html' title='CINTA MEKAR DARI TANAH KEDUKAAN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-1839765281699524428</id><published>2009-07-14T20:26:00.000-07:00</published><updated>2009-07-14T20:33:44.376-07:00</updated><title type='text'>MENIKMATI SETIAP MOMEN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setiap momen dan keadaan telah dirancang dengan akurat dan bijaksana oleh Allah SWT. tak ada kekeliruan dibalik beragam kenyataan yang tersuguh di hadapan kita, bahkan dibalik itu meresapkan makna bagi orang-orang yang berpikir jernih. Manakala saya tahu ada makna dibalik kejadian, niscaya saya akan menikmati dan sontak menemukan keindahan di dalamnya.  Karena makna sendiri saripati yang dituju dari setiap kejadian. Namun, ketika saya merasa tak mendapati makna dibalik kejadian, maka di hati ini sesak oleh kegelisahan, kegundahan, dan rasa jengkel yang tak bisa dielakkan. Suasana hati itu bergumpal menjadi kehampaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri, kenikmatan yang saya peroleh selama ini lebih banyak didorong oleh kehendak nafsu rendah, sehingga tak bisa merengkuh kenikmatan di setiap keadaan. Padahal setelah ditelusuri kenikmatan model hawa nafsu berbeda dengan kenikmatan menurut hati nurani. Ketika nurani nikmat, maka seluruh keadaan menjadi nikmat. Namun, keniikmatan nafsu cenderung memilih, dan memilah. Tak ayal, ada sisi yang berlawanan, berlingkar dalam dualitas semu yang tak pernah berakhir. Terlintas dari hawa nafsu cantik-buruk, bertemu-berpisah, sehat-sakit, untung-rugi, dan segala keadaan yang berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan sendiri, ketika kenikmatan dirasakan saat memeroleh perihal positif menurut pikiran dan hawa nafsu, seperti mengambil bertemu dan melepas berpisah, meletakkan sehat dan membuang sakit, merangkul untung dan menolak rugi, maka kenikmatan yang kuperoleh tak lebih sebagai kenikmatan yang semu, berputar-putar dari satu keadaan ke keadaan yang lain, sehingga jiwaku terasa letih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya harus berputar-putar pada keadaan di luar yang datang silih berganti? Ya karena sepanjang hidup diri ini hanya terbetut dengan keadaan luaran, tertarik dengan gerakan permukaan yang menyuguhkan beragam keadaan baru. Dari luar, banyak hal berubah tumbuh dengan cepat, belum merasakan yang satu sudah datang suguhan berikutnya. Pikiran makin terarah keluar, menyemburkan keinginan, padahal banyaknya keinginan sumber dari segala derita. Ya, tetapi mengapa pikiran terlalu berpihak pada beragam kenikmatan luaran? Dan apakah diri ini harus terbelenggu dalam  keadaan berjungkir balik terus-menerus? Sudah saatnya saya memendam keinginan dan tak terlalu risau dengan tebaran gaya hidup yang datang silih berganti. Karena banyaknya keinginan itu, saya tak bisa menikmati momen demi momen yang kulewati sebagai anugerah dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering saya meremehkan anugerah Allah, dengan berpikir pada anugerah yang lain. Padahal, kalau dicerna dengan hati lembut, seluruh anugerah itu telah diramu oleh Allah sendiri. Apakah ada suguhan yang diramu langsung oleh Pencipta yang Maha Agung tidak nikmat? Semua suguhan yang diramu Allah pasti nikmat dan mendamaikan, kecuali orang-orang yang sakit. Ketika orang berkunjung ke sebuah restoran ternama, disana dihidangkan menu yang paling mahal, namun ketika menu itu sudah berada di depan meja, orang tersebut tak bisa menikmati dengan lahap, suguhan itu tak berasa dan kurang nikmat. Bisa jadi suguhan itu nikmat, hanya saja mungkin  orang tersebut sedang sakit fisik, hatinya sedang sakit, dipenuhi rasa jengkel dan marah-marah, atau memang dia tidak bisa menikmati menu tersebut lantaran pikirannya sesak oleh pekerjaan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering saya tidak menikmati hidangan yang datang dari Tuhan. Saya bersusah payah membeli makanan di sebuah warung, tetapi tiba-tiba ketika makanan sudah terhidang di depan mata, pikiran saya melompat pada perkara lainnya, sehingga tak bisa menikmati menu tersebut. Padahal, sebelumnya makanan tersebut menjadi pikiran saya ketika perut berkriuk-kriuk. Seharusnya shalat harus dinikmati, tetapi saat shalat tengah dijalani kadang terlintas di pikiran untuk membaca sebuah buku yang baru saja kubeli, dan ketika buku sudah berada di hadapanku, kemudian kubaca, pikiranku melayang ke perkara yang lain. Akhirnya, saya tak bisa menikmati momen demi momen yang kulalui dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat merugi diri ini, jika tidak pernah menikmati dengan sungguh akan setiap jengkal ruang yang ditempati, setiap waktu yang dilalui, dan setiap momen yang ditempuh. Padahal pertumbuhan pribadi manusia bermula dari sikap yang dipancarkan di setiap momen yang dilalui. Ketika kita bisa menikmati momen demi momen degan efektif, niscaya bakal tergelar inspirasi yang luar biasa di setiap momen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita berusaha menikmati shalat, menikmati bersedakah, menikmati makanan, dan menikmati hal positif lainnya agar semua aktivitas yang kita lakukan bisa menghadirkan inspirasi dan kedamaian ke dalam jiwa. Kita insya Allah bisa menikmati segala sesuatu dengan baik ketika kita bisa menghadirkan hati di setiap momen yang kita lalui. Hadirkan hati, maka disana kita mendapati beragam rahasia yang membuat kita makin kagum pada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-1839765281699524428?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/1839765281699524428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/menikmati-setiap-momen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1839765281699524428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1839765281699524428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/menikmati-setiap-momen.html' title='MENIKMATI SETIAP MOMEN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-5846237790442413343</id><published>2009-07-06T00:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T00:46:44.369-07:00</updated><title type='text'>MENDENGARKAN BISIKAN HATI NURANI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dawai cinta itu terus mengalun dibalik hati yang jernih nan bening. Manakala hati telah berlabur dan berhias cinta, maka seluruh sisi batiniah ini melulu menggemakan nyanyian indah, mengalirkan kedamaian ke prana jiwa. Gema nyanyian dalam hati tidak identik dengan nyanyian yang memekakkan telinga, namun berupa nyanyian yang selalu mengalunkan kesyahduan dan perasaan rindu tak terperikan pada Allah SWT. Nyanyian itu mengantarkan denyut kerinduan, impresi batin, dan perasaan hendak menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian jiwa berupa hymne kudus yang dikidungkan  semesta, malaikat, dan para Nabi sebagai tanda pengagungan pada Allah Azza Wajallah. Namun tidak semua orang bisa mendengarkan hymne kudus ini. Hanya segelintir orang bisa merasakan getaran hymne yang sudah menyatu dengan kosmik. Karena dari kosmik inilah terpancar nyanyian kudus yang dialunkan begitu merdu, menembus batas kesedihan dan kesusahan yang kerap merenggut jiwa. Bagi saya, sebagai pemula di jalan ini, demi mendengarkan nyanyian kudus itu masih harus melewati aral tantangan yang amat besar. Terutama, tantangan dari dalam diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan nurani seperti bisikan lembut yang bisa diterima orang-orang lembut, berteduh dalam keheningan, menelusuri tapak-tapak yang terbuka di ruang jiwa. Tak ayal, ada orang begitu peka menerima suara kejernihan yang terbuka dari langit-langit batin, sehingga gampang menitikkan air mata, mudah terpengaruh pesona yang tersebar di langit-langit batin ini. Saat kita merasakan kesyahduan batin tersebut, seolah pikiran menyentuh arasy, menyatu dengan kosmik yang terbentang melampaui penyaksian lahiriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita bisa mendengarkan atau bahkan mengalunkan nyanyian kudus yang terhantar oleh hati nurani? Bisakah kita terus bernyanyi demi meneguhkan jiwa yang rapuh ini? Dimana kita mencari nyanyian itu, dan bagaimana bisa memperdengarkan bisikan nurani yang syahdu tersebut pada orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian kudus tak bisa dihantarkan dalam keadaan hati yang dongkol, jengkel, marah, atau remuk redam. Pendeknya, hati gelap, kering, dan dangkal tak bisa mengantarkan nyanyian pengabar kedamaian ke prana batin ini. Pasalnya, kegelapan dan kedangkalan hati yang ditandai dengan amukan kemarahan, kejengkelan, dan dendam hanya bertemu dengan kasarnya hawa nafsu. Manakala hawa nafsu masih mendominasi dan mengitari jiwa dengan kuat, maka nyanyian kudus itu tersumbat dan tak bisa didengarkan dengan indah. Perlulah kita melunakkan hawa nafsu, memadamkan bara hasrat. Bagaimana cara melunakkan hawa nafsu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata para ahli bijak, melunakkan hawa nasfu hanya dengan mengendalikan pikiran, jika orang bisa mengendalikan pikiran, insya Allah bisa mengendalikan keinginan dan hasrat nafsu yang kerap mengembara tanpa kendali. Janganlah sampai kita dibuai oleh pikiran, sehingga kita tidak pernah menyadari dengan kesadaran nurani atas hal yang diperbuat. Ketika pikiran tak terkontrol, emosi pun ikut tak terkontrol, sehingga perbuatan tak terarah, dan minus makna. Pikiran, sebagai jerat setan yang memerangkap manusia dalam perbuatan yang nihil. Apakah berarti pikiran berbahaya? Pikiran diperlukan sebagai pelayan, bukan sebagai master, atau tuan dari kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pikiran diposisikan sebagai pelayan, tentu selalu berada dalam kontrol diri kita, ketika pikiran terkontrol, maka aktivitas yang kita lakukan juga terkontrol secara efektif, sebagai pertanda mengikuti jalan cahaya. Apa pengontrol pikiran? Zikir menjadi pengontrol pikiran yang mudah, namun sulit bagi orang yang tidak memiliki komitmen berdzikir. Dan komitmen berdzikir sebagai rahmat dari Allah. Kala berzikir, terasa ada energi ketenangan menyusup ke dalam dinding hati kita, goncangan-goncangan kecil yang beriak di hati akan mereda, dan terasa ketenangan mengalir luas ke lubuk batin ini.  Zikir berarti ingat, mengingat Allah dengan kesadaran jernih. Mengingat Allah dalam hati, sekaligus merasakan kehadiran Allah terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali kita juga perlu memerhatikan kerja pikiran. Seringkali kerja pikiran melebar kemana-mana, bayangkan kalau berbicara dengan teman, kadang melompat-lompat, dari satu tema ke tema yang lain, alur pembicaraan terputus dari topic perbincangan ke topik lain yang tak relevan. Berbicara burung piaraan, hingga perseteruan elite politik. Dari bisnis ngalantur ke perkara jodoh. Pembicara yang ngalur-ngidul menandakan fokus pikiran terganggu, dan setiap pembicaraan terkesan out of context.  Padahal, rasa-rasanya tanpa disertai fokus, kerja apapun terasa tidak maksimal, dan kurang bisa memberikan kepuasan optimal. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, kalau tidak mau disebut gampang, menulis. Menulis, tanpa disertai semangat fokus dan gairah yang positif, kadang sering keseleo, ide berkelana tanpa tujuan yang jelas. Dan mungkin ide menjadi buntu, ngadat. Alangkah indahnya ketika bisa memfokuskan diri dan menikmati setiap aktivitas agar membekaskan kenikmatan mendalam bagi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patutlah kita menyisakan waktu membaca pikiran kita, apa yang dipikirkan sang pikiran ini. Apakah benar-benar fokus, atau sering ngelantur. Bagi orang yang tidak menjejakkan perhatian pada satu fokus, berarti pikiran masih terus berterbangan tanpa arah yang jelas. Kalau kita mengenali dengan akrab kerja pikiran, semoga menjadi pemicu kita untuk mengoptimalkan pikiran pada perihal yang bermanfaat. Selain itu, kita memiliki kuasa mengendalikan pikiran, sehingga ada saatnya pikiran dipergunakan, dan adakalanya diistirahatkan. Saat pikiran istirahat, maka suara nurani insya Allah melengking merdu dengan nyanyian kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh tuturan yang berpanjang-panjang, saya meyakini untuk mendengarkan bisikan nurani, perlu mengatur dan mengendalikan pikiran, bahkan ada saatnya mengistirahatkan pikiran agar bisa berteduh dalam kedamaian sembari mendengarkan bisikan nurani tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-5846237790442413343?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/5846237790442413343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/mendengarkan-bisikan-hati-nurani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5846237790442413343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5846237790442413343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/mendengarkan-bisikan-hati-nurani.html' title='MENDENGARKAN BISIKAN HATI NURANI'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-3124363333871707367</id><published>2009-07-03T01:38:00.000-07:00</published><updated>2009-07-03T02:18:57.086-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;MERENDAHKAN DIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang tak berkenan direndahkan “harga” dirinya. Selama ini kita dicekoki kepercayaan, setiap orang harus memiliki harga diri yang tinggi (high-selfesteem), sehingga jika ada yang merendahkan, bisa saja naik pitam, bersikap dongkol, berujung pada pertengkaran yang sengit. Memang, harga diri menjadi perjuangan setiap orang untuk meneguhkan egonya, hanya sebagian kecil manusia yang emosinya tetap tenang kala direndahkan. Hanya orang-orang yang menyadari siapa dirinya yang semakin menundukkan diri dan kata yang merendahkan bisa mengalirkan kesadaran yang jernih soal bertumpuknya dosa yang melekat pada dirinya. Mereka pun memandang bahwa cacian dan makian itu sebagai bentuk utusan dari Allah agar semakin gigih memperbaiki diri secara tulus dan jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merendahkan diri bukan tanda kehinaan, tapi tanda kemuliaan. Pun kerendahan diri bukan tanda sikap hidup pesimis, mediocre, atau pecundang, bahkan merendahkan diri sebagai refleksi keteguhan diri yang tertanam kuat dan menjadi bentuk sikap optimis yang membersit dari kesadaran nurani terdalam. Saya sering menemui sosok yang bersikap merendahkan diri di hadapan orang lain. Alih-alih dari sikap tersebut mendapatkan kehinaan, malahan menarik sikap respek orang lain terhadapnya. Saya bertemu dengan putera seorang kiai yang amat terkenal di negeri ini. Sebelum mengenal beliau lebih dekat, saya tak melihat tanda-tanda beliau seorang putra kiai, hanya saja beliau selalu berlaku sopan, lembut, dan bersikap mau melayani tamu dengan tulus. Bahkan, beliau sempat menyapa dengan suara lembut, merendah, dan mempersilahkan saya untuk mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Karena saya belum mengetahui beliau yang sebenarnya, saya bersikap biasa saja, “mungkin dia pelayan ndalem?” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat berikutnya, beliau ternyata tidak sebatas melayani, namun ikut melontarkan usulan-usulan cerdas di forum, dan beberapa peserta yang hadir memanggilnya Gus. Saya pun tergugah untuk bertanya, siapa sejatinya sosok yang amat cerah dan tulus tersebut? Setelah bertanya, saya mendapatkan jawaban mengejutkan dan membuka rasa hormat saya pada beliau. Beliau adalah putra kiai ndalem yang insya Allah akan menjadi pengganti kiai ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari kerendahan diri “Gus” saya mengambil kesimpulan, ternyata merendahkan diri tak bisa menghacurkan kehidupan kita, malahan meneguhkan kejayaan dan membangkitkan kecemerlangan yang terselubung dalam diri kita. merendahkan diri bukanlah refleksi rasa putus asa, bahkan sebagai pemancar rasa optimis yang bisa menebarkan energi positif bagi orang-orang sekitar kita. Rasulullah SAW bersabda, “ Barang siapa yang bersikap sombong niscaya akan direndahkan oleh Allah, dan siapa yang bersikap merendahkan diri niscaya akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita mengembangkan sikap merendahkan diri tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Pandanglah orang lain sebagai yang terbaik. Ketika Anda bertemu dengan seseorang, pandanglah dia sebagi sosok cemerlang dan memiliki prestasi luar biasa. Pendek kata, diposisikan sebagai sosok terhormat di hadapan Anda. Pancarkan rasa syukur Anda, lantaran  bisa bertemu orang yang begitu luar biasa tersebut, sembari berharap Anda bisa memeroleh pelajaran berharga darinya. ketika Anda menilai orang itu luar biasa, maka akan timbul rasa apresiasi yang tinggi, dan selalu menikmati pertemuan itu sebagai momen istimewa. Ketika orang diperlakukan istimewa dan terhormat, selain mengalirkan kebahagiaan pada orang tersebut, pun hati Anda dipenuhi dengan energi kebahagiaan yang tak terbatas. Dari situ, orang yang diperlakukan terhormat akan menaruh sikap hormat terhadap Anda. Gamblangnya, sikap orang lain terhadap kita adalah pantulan sikap kita terhadap orang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengenali diri Anda dengan segenap kelemahan yang melekat. Allah Maha menutupi cacat yang ada pada makhlukNya. Dia telah menutupi cacat kita, andaikan Allah membuka selubung cacat yang melekat pada kita, mungkin banyak orang yang akan menjauhi kita, hingga mengisolasi kita dalam pergaulan. Hanya dengan kasih sayang Allah, cacat kita tak terungkap, pun Allah menuntun kita untuk melakukan kebaikan. Memang hanya dengan rahmat Allah semata kita bisa berbuat baik. Sesungguhnya kita tidak kuasa untuk berbuat yang terbaik, dan kebaikan yang melekat pada kita hanya sebatas anugerah dari Allah. Betapa banyak pelajaran yang bisa digali dari realitas hidup yang terbabar di sekitar kita, ada orang yang pada mulanya bersungguh-sungguh berbuat baik, kemudian terperangkap dalam perilaku jahat. Pada mulanya begitu tekun shalat berjemaah di masjid, tapi tanpa mengerti apa sebabnya, dia pun menjauhi kegiatan-kegiatan masjid. Dari situ, saya berkesimpulan, hanya dengan rahmat Allah kita bisa berbuat kebajikan. Karena itu, tak pantas kesombongan melekat pada diri manusia, karena seluruh kedirian manusia terhantar oleh rahmat Allah SWT semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merendahkan diri perlu dikristalisasi dalam kesadaran kita, sehingga kita akan mendapati keagungan dan kemuliaan. Bukankah yang tempat yang rendah yang akan ditempati genangan hujan. Hanya hati yang merendahkan diri yang insya Allah akan selalu dialiri rahmat Allah SWT. Karena itu, tak layak kita mempersepsi merendahkan diri refleksi keringkihan mental, bahkan itu keteguhan mental, karena kala merendahkan diri, dia bersua dengan keagungan Allah yang tak tertandingi. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-3124363333871707367?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/3124363333871707367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/merendahkan-diri-setiap-orang-tak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3124363333871707367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3124363333871707367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/07/merendahkan-diri-setiap-orang-tak.html' title=''/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-3614496199412223800</id><published>2009-06-20T07:24:00.000-07:00</published><updated>2009-06-20T08:12:50.175-07:00</updated><title type='text'>JANGAN BERPALING DARI CAHAYA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Cahaya tak pernah tenggelam atau tertelan  kegelapan, karena cahaya akan tetap bersinar kendati ada awan yang menutupinya. Hanya benda yang terhalang oleh cahaya yang tak bakal mendapati cahaya. Bunga ketika diletakkan di halaman rumah, kemungkinan mendapatkan cahaya lebih besar ketimbang bunga yang dibiarkan hidup dalam rumah. Mengapa bunga yang berada dalam rumah peluangnya kecil mendapati cahaya? Karena rumah menjadi sekat untuk sampainya sinar cahaya pada bunga. Padahal kita tahu sendiri, ketika bunga jarang mendapati cahaya, cenderung menjadi layu, daun-daunnya berguguran, dan berujung pada kematian sang bunga. Kehadiran cahaya matahari serasa sangat penting, pun kemunculan cahaya rembulan bisa menumbuhkan bibit,  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Ketika kesenyapan malam, ditembusi setitik cahaya remang-remang, ternyata menumbuhkan kehidupan bagi tanaman. Kenyataan ini pernah saya amati ketika saya menyertai ibu bertani di ladang, melihat tanaman padi, pertumbuhan terjadi ketika telah melewati malam. Berarti malam hari pun menebar pertumbuhan lewat cahaya malam. Memang cahaya membuat hidup lebih termaknai, tanpa cahaya tanaman tidak tumbuh, pun manusia tanpa mendapati sinaran cahaya, akan terlihat loyo, demotivasi, dan tak memiliki gairah positif untuk melejitkan potensinya yang luar biasa. Pendek kata, memang pada asasnya seluruh kehidupan ini bersenggama dengan cahaya. Dari cahaya tumbuh jagat kehidupan ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Mari kita tarik metafor lahiriah yang terbentang di alam besar tersebut ke jagat batin kita yang amat lembut. Mungkinkah kita merasa hati ini hidup tatkala cahaya hidayah tersumbat dan tak menembusi batin kita? Serasa hati disesaki gundah gulana, dikitari kesedihan, kesusahan, seperti orang yang mendaki gunung-gemunung yang tinggi, nafas pun tersengal-sengal. Perkara apapun yang menyesakkan dada menandakan energi negatif telah mengalir ke setiap zona batin kita. Negatifitas yang memenuhi batin itu menandakan tidak merasuknya cahaya ilahiah ke ruang kesadaran kita. Mengapa cahaya ilahiah tidak terserap ke dalam kesadaran? Ya, karena kita cenderung berpaling dari cahaya, atau menutup diri dengan kehadiran cahaya. Bukankah hanya pintu-pintu terbuka yang akan dimasuki tamu. Buka jendela atau  pintu batin kita untuk menerima kebenaran sejati, sehingga dari bilik batin kita akan berjejal selaksa cahaya kebenaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Cahaya tetap bersinar, bergantung kita yang mau menerima cahaya itu. Kiranya apa yang menjadi penghalang manusia bersua dengan Sang Cahaya. Dinding tebal yang menghalangi manusia untuk mendapati cahaya tersebut, adalah keakuan. Manakala manusia berhasil menjebol tembok keakuan yang membiakkan sifat riya’, dengki, dan sombong, insya Allah sinar cahaya Ilahiah bakal menerobos ruang batin, berikut cahaya kebahagiaan menghiasi ruang batin dan lahiriah kita. Gumpalan kegundahan  bakal mencair menjadi kehangatan dan kebeningan yang menyalakan kreativitas. Karya-karya pun bisa melejit secara dahsyat. Ya hanya cahaya yang bisa melepaskan belenggu manusia yang berada dalam kegundahan.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Kalau Allah memantulkan cahaya lahiriah melalui matahari, musti Allah juga mengutus cahaya batin yang bisa menghalau kegelapan yang menyergap kehidupan manusia. Menerbitkan optimisme tatkala manusia disandera kebekuan pesimisme, menyegarkan harapan yang sudah layu, menerangi kegelapan yang beku dan kaku. Allah mengutus cahaya pada manusia adalah para Nabi sebagai representasi cahaya agung, kemudian disalurkan pada para sahabat, para waliullah, dan ulama zuhud yang hidup saat ini. Itu berarti, agar kita bisa mencerap cahaya, perlu kiranya kita terus tersambung dengan cahaya “ulama” yang memilih terus menerangi kegelapan. Janganlah kita berpaling dengan ulama’, yang ada dalam benak kita ketika berada di hadapan ulama’ adalah mendengarkan dan mentaati. Ketika kita berada dalam kepatuhan yang teguh pada ulama’, insya Allah cahaya bakal terus memandu hidup kita. Insya Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Khalili Anwar, Penutur dari jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-3614496199412223800?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/3614496199412223800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/06/jangan-berpaling-dari-cahaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3614496199412223800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3614496199412223800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/06/jangan-berpaling-dari-cahaya.html' title='JANGAN BERPALING DARI CAHAYA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-4786041758617127388</id><published>2009-06-13T06:49:00.000-07:00</published><updated>2009-06-13T07:07:37.534-07:00</updated><title type='text'>Batas belajar Mencari Kebenaran.....</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ilmiah... sebingkah kata yang begitu akrab di telinga saya semenjak “menyusu” ilmu di Pesantren Annuqayah. Pesantren  ini menampung ribuan santri, terletak di ujung barat Sumenep, Jawa Timur. Di pesantren ini, kreativitas menulis puisi, prosa, cerpen, dan esai betul-betul digalakkan, seakan menjadi kultur harian yang kental mewarnai perbincangan dan penampilan ilmiah para santri. Saking kuatnya kesan ilmiah itu, kadang nasi yang sedang dilahap dianalisa secara ilmiah. Kata sebagian santri, “nasi pun mengandung filsafat.”  Awal mula mendengar kata ilmiah, begitu asing di telinga ini... terkesan perkara yang menuntut berpikir keras dan menggerakkan orang untuk bersua dengan kemurnian jiwanya. Mungkin hanya sosok yang memiliki kepekaan yang bisa menuturkan perkara ilmiah dengan apik. Kendati masih terlihat begitu asing dengan dunia intelektual, tetap saja harus ikut menekuni dunia menulis dan berdebat ilmiah. Dari pesantren itu, saya bertemu dengan pemikiran besar yang disajikan Gus Dur, Ahmad Wahib, Dawam Raharjo, Cak Nur, Cak Nun, Alwi Shihab, Muhammad Sobary, Quraish Shihab, Moeslim Abdurrahman, Annamarie Schammel, Sachico Murata, dan deretan sosok intelektual lainnya yang membedah Islam dengan pisau analisa yang amat tajam dan mendedah dengan kejernihan berpikir yang mengagumkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tersihir oleh pemikiran mereka yang begitu memukau tentang Islam yang inklusif. Membaca deretan pemikiran mereka, terekam kehalusan akal budi dan kejernihan berpikir, dan saya menyimpulkan, itulah makna dari intelektual. Tanpa saya sadari, saya tengah menelusuri lorong-lorong terang pemikiran pemikir besar yang dijelmakan dalam bentuk tulisan ilmiah. Sejak saat itu, saya terus bergulat, berperang, berdebat, bahkan bercinta dengan teks. Teks mencurahi ide-ide bernas, menerobos tradisi-tradisi yang kaku, dan berusaha mempola  perubahan dengan keindahan. Karena itu, tak aneh pemberontakan lewat intelektual lebih mengena bagi orang-prang cerdas, ketimbang kekuatan anarkis. Itulah yang diyakini para pemikir-pemikir handal yang masuk dalam kancah aktivitas intelektualisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pengetahuan ilmiah tanpa didasari pengetahuan agama yang mendalam, cenderung menyeret orang ke ranah kesombongan intelektual. Padahal mereka menyadari, pemikiran mereka terbatas dan terbukti kalah bila dibenturkan dengan pemikiran lain yang lebih mengakar ke dalam. Kita insya Allah bisa menggali dan menemukan kebenaran sejati, jika bisa memadukan ilmu dan agama. Filsafat berguna guna membuka eksistensi kebenaran, dan agama menjadi sumbu penggerak guna menyapa kebenaran tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, potensi berpikir yang rumit-rumit tersebut lama terkubur, karena sejak menginjakkan kaki di dunia perguruan tinggi lebih sering dipertemukan dengan teks-teks yang praktis, pelatihan-pelatihan praktis, dan membuat dimensi harus disajikan secara sederhana. Kesederhanaan, katanya, gampang dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Makanya saat jadi mahasiswa, saya lebih gandrung dengan daras pemikiran praktis, kendati mendalam, seperti karya Andreas Harefa, Gede Prama, Paulo Preire, serta buku motivasi yang dirajut dengan kata-kata yang amat sederhana, sehingga bisa dimengerti oleh khalayak yang lebih luas. Sejak saat itu, saya berpisah dengan pemikir besar, berikut mulai keranjingan dengan inspirasi para motivator yang memberikan sajian sukses belajar secara instan, menjadi pebisnis hebat, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan usai kuliah, saya kembali merindukan pemikiran mengakar ke dalam. Hanya saja pilihan yang saya ambil bukan pemikiran radikal bernuansa filsafat. Saya tergerak membaca karya-karya berdaras sufi. Kendati bukan pelaku sufi sejati, saya terus terang semakin hari menyukai karya-karya sufi yang menyajikan sebuah pola guna menggapai kebenaran dengan penyucian hati. Ketika hati suci, menurut para sufi, orang bakal bisa melihat, bahkan mengalami kebenaran yang sejati. Mereka meyakini kebenaran bermukim di dalam diri kita, tidak berada di luar dirinya. Yang membuat manusia terhalang memeroleh kebenaran, lantaran hatinya masih kotor. Apa tanda hati kotor? Hati yang kotor cenderung dihinggapi riya’, dengki, dan sombong. Hanya orang yang berusaha mengikis riya’, dengki, dan sombong itulah yang insya Allah bakal memeroleh cahaya kebenaran yang hakiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bisa memeroleh kebenaran, bukan sebatas wacana, tetapi berkait dengan pengalaman ruhani. Pengalaman ruhani ini masih rindu ingin saya jalani....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sebuah tutur....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-4786041758617127388?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/4786041758617127388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/06/batas-belajar-mencari-kebenaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4786041758617127388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4786041758617127388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/06/batas-belajar-mencari-kebenaran.html' title='Batas belajar Mencari Kebenaran.....'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-5126431100784663179</id><published>2009-06-11T02:27:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T02:30:05.271-07:00</updated><title type='text'>SABAR ITU…..</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suatu saat saya mengunjungi pertamanan yang ramai dengan orang-orang bersenam pagi. Di situ ada yang bertampang kakek-nenek, ibu-ibu, dan remaja. Di sebuah pagi yang indah itu, mereka mempergunakannya untuk senam pagi demi menyehatkan dan membugarkan tubuhnya. Mereka telah memilih untuk bersenam pagi demi sebuah tujuan yang jelas. Tetapi bagi orang yang malas-malasan kerap mempergunakan waktu pagi untuk tidur kembali selepas subuh, sembari menunggu datangnya mimpi indah di pagi hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang bersenam itu memiliki tujuan yang jelas, dan dia berusaha untuk mengalami dan merealisasikan tujuan tersebut secara maksimal. Ada mendambakan berbadan kekar, mendambakan makin singset, atau mendambakan makin sehat. Untuk mencapai tujuan itu dia harus menjalani proses dengan kesabaran, determinasi, kesungguhan, ketekunan, dan terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun dalam peningkatan spiritual, kita harus berlatih sabar dalam menjalani proses. Jika kita hendak mencapai maqam yang elit dalam persoalan duniawi saja harus terus berusaha dengan penuh kesabaran, apalagi mencapai maqam spiritual yang tinggi. Kesabaran sebuah upaya untuk melatih jiwa kita agar makin kuat dalam memegang amanah yang lebih besar. Jika kita bertekad untuk mencapai maqam bahagia, maka kita harus bersabar mendapatkan pelbagai ujian yang menimpa kita. Teruslah bersabar, pupuskan setiap perasaan yang membawa pada keputus-asaan. Setiap kali menghadapi sebuah problem maka kita berada di persimpangan antara sukses dan gagal, dan ketika kita sabar dalam menghadapi problem tersebut, insya Allah kita akan terbimbing untuk menggapai kesuksesan. Sebaliknya orang yang tidak sabar, bakal terus-menerus berada dalam kegagalan, alias gagal dalam bersikap. Dengan kesabaran kita bakal memeroleh pelajaran yang amat berharga dari setiap pengalaman yang dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu disadari, sabar (ash-Shabr) tidak sama dengan malas-malasan (al-kasl). Tetapi sabar mengandung makna  bersungguh-sungguh atau berjuang (al-jihad). Sabar bukan reaksi, tetapi respons yang mantap. Karena reaksi digerakkan oleh hawa nafsu, dan respons digerakkan oleh hati nurani. Respons disini berarti respons (able), atau bertanggung jawab, bukan melempar tanggung jawab. Pendek kata, orang yang bersabar selalu berusaha dan berhasil menundukkan hawa nafsu, dan mengedepankan hati nurani dalam menyelesaikan masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah saudaraku, tujuan tidak sebatas dipahami dan diyakini, namun memerlukan sebuah proses “aksi” yang mengantarkan kita sampai pada tujuan tersebut. Sabda guru, “Tujuan tidak cukup hanya dimengerti, namun perlu dialami.” Kata ini singkat, tetapi bisa menjadi pengungkit motivasi dahsyat bagi saya. Dalam menjalani proses, kita dituntut untuk bersabar, karena musti manusia menghadapi berbagai challenge (tantangan) untuk menggapai kesuksesan. Kebahagiaan dan kepuasan batin terletak saat berhasil melampaui tantangan demi tantangan untuk mencapai tujuan. Jika Anda bersabar menghadapi ujian dan tantangan hidup, maka di depan Anda terbentang kesuksesan yang luar biasa. Saya pun meyakini bahwa dengan bersabar menghadapi tantangan yang dianugerahkan oleh Allah, maka manusia bakal bisa melompati kesuksesan yang luar biasa. Orang bersabar tidak pernah berhenti dengan keadaan hari ini, dia terus berjalan untuk melampaui tantangan demi tantangan hingga dia mencapai kebahagiaan tanpa batas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kesabaran manusia tidak terbatas, maka dia akan memperoleh suatu yang tak terbatas pula dari Allah SWT. Ya, demikianlah ciri orang sukses, dia tidak pernah membatasi kesabaran. Hanya orang-orang pecundang yang selalu berkata, “sabar itu ada batasnya.” Manakala sabar dalam kebaikan itu ada batasnya, berarti dia telah membatasi rahmat Allah SWT. Karena sesungguhnya rahmat Allah memancar dibalik kesabaran “yang keras”. Allah berfirman, “…sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kesabaran yang tanpa batas, niscaya bakal memperoleh kesuksesan tanpa batas pula Wallahu a’lam bish showaab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-5126431100784663179?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/5126431100784663179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/06/sabar-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5126431100784663179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5126431100784663179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/06/sabar-itu.html' title='SABAR ITU…..'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6823710075178913591</id><published>2009-06-09T07:06:00.000-07:00</published><updated>2009-06-09T07:12:37.312-07:00</updated><title type='text'>KETIKA RUMAH DITINGGAL MERANTAU</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah keluarga yang bisa disebut mewah dalam ukuran orang desa. Kepala keluarga ini bernama Pak Jufri, bermula dari kesetiaan pada anak-anaknya, beliau selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik dan tak  ingin mengecewakan mereka. Beberapa tahun, beliau menikmati hidup yang berkecukupan, dan anaknya pun ikut mengecap kemewahan yang diperolehnya. Namun, sang anak yang tak pernah mengerti bagaimana kerja keras yang dilakukan sang ayah, sering berlaku tidak setia pada Pak Jufri, mereka lebih suka menguras pundit-pundi kekayaan Pak Jufri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak pertamanya, Sofar. Ia dikuliahkan ke Jakarta sama Pak Jufri, di sebuah Perguruan Tinggi elit. Hanya saja, di Jakarta, Sofar menghabiskan waktunya dengan aktivitas yang sia-sia, tidur, nonton film, dan cangkruk dengan teman-temannya. Ya kedua, Zainal, Zainal memilih hidup sebagai anak jalanan yang selalu gamang menentukan arah tujuan hidupnya. Memang, hidupnya tak pernah terarah dengan baik. Putera ketiga, Kamal. Kamal dipondokkan ke pesantren. Kamal hanya hobi nyantri, namun tak hobi ngilmu. Karena kamal sering pindah-pindah pesantren, akhirnya Kamal dipondokkan ke luar negeri, tepatnya sebuah pesantren Arab Saudi. Ia balajar disana bertahun-tahun, namun saya tak mendengar kemajuan Kamal dalam hal pengetahuan, yang terdengar dia masih seperti dulu, tak ada perubahan yang berarti. Pak Jufri sebenarnya berharap sekali Kamal fasih berbahasa Arab dan menjadi anak yang sholeh hingga bisa membimbing anak muda desa mengaji al-Qur’an dan membaca kitab kuning. Harapan pak Jufri tinggal serakan harapan yang tak terjalin dalam kenyataan.  Mungkin ada rasa kecewa yang meredam di dada Pak Jufri, melihat semua anaknya tidak seperti yang diharapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak harta yang dikeluarkan untuk menyekolahkan dan menyantrikan anak-anaknya, kini Pak Jufri harus merantau ke kota dekat Lombok sana bersama seluruh keluarganya agar bisa mendulang harta dan hidup mewah seperti dulu. Keputusan Pak Jufri sekeluarga merantau otomatis nasib rumahnya tak lagi berpenghuni. Bertahun-tahun Pak Jufri tenggelam dalam aktivitas perdagangan di luar pulau, sekarang rumahnya berjubel dengan rumput. Rumah yang tak terawat itu bertampang bak sawah yang ditanami beragam tanaman. Bisa jadi semak belukar yang mengelilingi rumah Pak Jufri telah menyulapnya menjadi hunian asri buat ular, tikus, kecoak, dan sebangsanya. Pak Jufri telah meninggalkan rumahnya dan merantau demi mencari kejayaan yang pernah diraihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari cerita tersebut, tanpa disadari kita seperti sosok Pak Jufri dan keluarganya yang telah meninggalkan hunian kita yang sejati tak terawat, lantaran ingin memuaskan keinginan yang bersifat sementara. Pak Jufri meninggalkan rumah jasadnya, namun kita telah meninggalkan rumah jiwa kita sendiri. Betapa setiap saat, kita meninggalkan orientasi akhirat demi sebatas memenuhi kepentingan duniawi yang bersifat sementara. Kita sering mati-matian memperbaiki hidup kita yang berada di perantauan (duniawi), ketimbang bekal hidup di akhirat nanti. Karena berupayalah agar amal-amal yang kita lakukan bisa membuat akhirat kita tertata asri dan membuat hati menjadi nyaman, yakni rumah akhirat yang menghadirkan suasana surgawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6823710075178913591?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6823710075178913591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/06/ketika-rumah-ditinggal-merantau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6823710075178913591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6823710075178913591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/06/ketika-rumah-ditinggal-merantau.html' title='KETIKA RUMAH DITINGGAL MERANTAU'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6444585132725780608</id><published>2009-05-30T07:13:00.000-07:00</published><updated>2009-05-30T07:17:50.455-07:00</updated><title type='text'>MELUMAT DIRI YANG KASAR</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…! mengapa begitu sulit melumat diri sendiri,” teriak batinku. Anda tahu sendiri setiap kata seolah memberi penerangan, namun mungkinkah ada lampu yang terang dalam hati? Kemunafikan kerap merongrong perasaan ini hingga sulit meraih kebeningan dalam setiap kata. Banyak kata belum menjelma sebagai perbuatan yang hakiki. Tak bisa dibayangkan, kalau diri saya seperti orang mengayak pasir, yang halus keluar, tetapi kerikil yang kasar masih melekat. Betapa sering terungkap kata-kata suci, sarat kearifan, meski sesungguhnya hati masih jauh dari kesucian dan kearifan itu. Mungkinkah ini yang dimaksud punguk merindukan rembulan? Masih sering menuding orang dengan segenap kesalahan, sehingga lalai akan kekeliruan yang lengket pada diri sendiri. Kerap kali berpikir perkara besar, namun lalai dengan urusan-urusan kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kebayang, saat publik tengah terpesona oleh perbincangan tentang Pilpres, saya juga terbawa-bawa untuk mengulas, menganalisa, dan memberikan penilaian tentang tokoh, tak kalah dengan pengamat politik yang beken di negeri ini. Bedanya, kalau pernyataan politisi dituliskan dan disiarkan media massa secara luas, sementara kata-kata saya hanya didengarkan diri sendiri. Bagaimana orang lain mau mendengarkan, kalau yang dikatakan membuat orang bingung dan gamang. Alih-alih mendapatkan pencerahan politik, hanya sebatas menyisakan kemarahan yang menggumpal menjadi kesusahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah sibuknya politisi meraih kekuasaan, saya kadang terlena menonton perang wacana yang dihelat mereka.  Makin terlena, otak ini dipenuhi beragam informasi yang membuat diri makin jauh dari ketenangan, berikut saya dinyatakan positif “political addictive”. Seolah kalau tak membumbui perbincangan dengan politik, pikiran ini jadi gatal, dan terus didorong-didorong berbicara politik. Kadang menyalahkan langkah politik partai ini, capres ini, dan kadang ikut-ikut meneliti jejak rekam para capres-cawapres, tak kalah dengan KPK. Saat mendengar berita, calon pemimpin itu kaya raya, bahkan ada satu sosok yang punya kekayaan trilliunan, hatiku bergidik. Seperti apa uang 1 trilliunan? Bolehkah saya memegangnya sebentaaar saja? “Kok jadi hubbud dunya gini ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau elit berpikir kekuasaan. Tetapi sahabat saya berpikir memenuhi hidupnya yang masih kempang-kempis. Lumayan, ia masih baru membangun rumah tangganya. Memang, ia cepat-cepat menikah, untuk mengurangi kemaksiatan. Dia sempat meminta pertimbangan saya sebelum menikah, kendati saya sendiri belum menikah. Setelah mengetahui akar permasalahannya, saya memintanya menikah. Ya, sahabat saya ini, bukan karyawan, hanya seorang pemelihara burung. Ia tidak bisa menaksir pendapatan yang diperoleh dari memelihara burung tersebut setiap bulannya. Meski demikian, dia memeroleh pendapatan lain dari antar jemput anak SD. Cukuplah bertahan hidup bersama istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, sahabat saya itu, sakit paru-paru. Memang, karena sudah bertahun-tahun berbatuk, dan batuk yang sekarang mengeluarkan darah mengental. Saat periksa di RS Dr Soetomo, dia mencari-cari pelayanan umum, yang kiranya memberikan pelayanan gratis. Eh, ternyata dia harus dirawat di kamar spesialis paru-paru. Namun, sebelum dirawat dia harus menandatangani perjanjian yang telah disediakan dokter. Melihat ada uang yang harus dibayarkan dalam perawatan tersebut, ia pun mengurungkan niat untuk diperiksa secara intensif. Kata dokter, “kamu harus dirawat inap, kalau tidak penyakitmu akan semakin parah,” “Biarlah dokter saya rawat di rumah saja, ketimbang harus mengeluarkan uang yang begitu banyak.” Ujar temanku dengan polos. “Mas, harus tetap dirawat disini, karena menurut UU Kesehatan, rumah sakit tidak boleh menolak pasien lantaran masalah uang, “tukas dokter lagi. “Enggak apa-apa pak, saya mau dirawat di rumah saja,” seloroh temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercermin pada temanku yang amat sederhana ini, saya terpaku memikirkan diriku sendiri yang masih bisa terbang bebas, belum berkeluarga, sehat wal’afiat, dan masih bisa mempertahankan hidup di Surabaya dengan karunia Allah yang begitu melimpah. Ya, mungkin secara lahiriah saya amat beruntung, namun secara batiniah, temanku mungkin lebih beruntung, karena dia telah menjalani rentetan kehidupannya dengan semangat sabar yang tak memudar. Dia mampu bersabar dengan segenap latihan-latihan yang menghantam, gurat-gurat kedewasaan mulai terpancar dari wajahnya yang terlihat polos dan penuh kejujuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tetap bersabar dengan musibah yang datang. Namun, saya masih harus berguru padanya guna melatih kesabaran. Temanku adalah guruku yang telah mengajari tentang arti kesabaran. Sabar tidak benderang dalam kata, tetapi menjadi cahaya dalam sikap keseharian. Memang, sabar tak cukup hanya dilontarkan oleh tebaran kata, namun harus menjadi bagian dari sikap hidup sehari-hari. Dan dengan kekuatan sabar itulah, saya meyakini bisa “melumat diri yang kasar.” Manakala saya sudah berhasil melumat dan menggusur yang kasar, maka kehalusan budi bakal menghias hidup ini. Insya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6444585132725780608?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6444585132725780608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/melumat-diri-yang-kasar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6444585132725780608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6444585132725780608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/melumat-diri-yang-kasar.html' title='MELUMAT DIRI YANG KASAR'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7821492552566108779</id><published>2009-05-28T20:55:00.001-07:00</published><updated>2009-05-28T21:01:31.011-07:00</updated><title type='text'>MARI MENONTON DIRI SENDIRI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beragam tontonan menguras perhatian kita selama ini. Betapa banyak diantara kita terbius oleh tontonan televisi, aneka pernak-pernik, kemilau duniawi yang serbaneka, pertunjukan para pemimpin yang tengah bertarung merebut kursi panas, dan seterusnya. Makin banyaknya tontonan yang tergelar sarat sensasi di hadapan kita, kadang membuat kita lupa menonton diri sendiri. Inilah saatnya kita menonton diri sendiri, memosisikan diri sebagai obyek yang ditonton. Bagaimana cara menonton? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton membutuhkan mata dan cahaya. Tanpa mata dan cahaya kita tak bisa menonton. Meski cahaya benderang menyinari kehidupan kita, namun tanpa didukung mata, niscaya obyek yang ditonton tak bisa dilihat. Sebaliknya,  andai mata sehat, namun tak ada cahaya yang membersit, kita pun tak bisa menonton. Karena itu, ketika hendak menonton perlu memadukan kekuatan mata dan cahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata perlambang dari mata hati (akal). Saat Anda hendak menonton diri sendiri, hidupkan mata hati sehingga bisa melihat secara gamblang film kehidupan Anda sendiri. Cahaya simbol dari cahaya Ilahi. Cahaya Ilahi berupa petunjuk Allah SWT. Bersandarlah sepenuhnya pada kebaikan Allah, semoga cahaya Ilahi itu membersit dalam hati kita. Andai cahaya Ilahi juga belum menghinggapi diri kita, berusahalah berdampingan dengan sosok mulia yang telah tersaluri cahaya Ilahi. Rasulullah bersabda, “Orang beriman adalah cermin bagi orang yang beriman.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin tempat kita berkaca tentang diri secara sederhana. Cermin akan memantulkan sosok kita yang sejati. Lewat cermin pula kita bisa mengukur, menimbang, dan menilai diri kita secara jernih. Sosok yang jernih dan terliput kebaikan patut dijadikan cermin, karena darinya terpancar magnet kebaikan yang berdaya pesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menonton diri sendiri, kita perlu menghidupkan mata hati dengan cara menggerus biji egoisme yang masih bersarang dalam kesadaran kita. Karena egoisme sering menghalangi mata hati untuk melihat diri secara gamblang. Buatlah kita berjarak dengan diri sendiri, kita menonton diri seperti menonton orang lain. Tataplah lekat-lekat diri kita dengan mata hati, maka kita akan mengetahui secara jernih, siapa diri kita yang sebenarnya. Boleh kita memutar kembali film masa lalu yang pernah ditapaki. Dari rentetan film itu, kita bakal memahami secara dekat karakter dan kebiasaan hidup kita. Setelah itu kita memeroleh pemahaman “siapa diri kita”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita terbiasa menonton diri dengan cara membuat jarak terhadap diri sendiri, maka kita tak akan terlalu terikat oleh keadaan yang datang silih berganti, entah musibah atau nikmat. Seperti kita menonton televisi, ada saja lintasan kesedihan dan kebahagiaan mewarnai penggalan demi penggalan adegan tersebut.  Ketika kita menonton diri sendiri secara utuh, akan ditemukan keindahan-keindahan yang tak terlukiskan kata-kata. Juga dengan menonton diri sendiri, kita bakal menemukan kenyataan menakjubkan yang tak bisa dikadar dengan akal yang berlimit. Kebiasaan kita menonton diri sendiri juga akan memandu kita untuk menggerus jalan setapak sempit “berupa keakuan” bergantikan jalan raya ditandai oleh terbangunnya jiwa universal, cinta universal. Dan hidup Anda tergabung dengan jiwa kemanusiaan, bahkan jiwa semesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7821492552566108779?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7821492552566108779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/mari-menonton-diri-sendiri_28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7821492552566108779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7821492552566108779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/mari-menonton-diri-sendiri_28.html' title='MARI MENONTON DIRI SENDIRI'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-6359137525439869009</id><published>2009-05-28T20:45:00.000-07:00</published><updated>2009-05-28T20:49:27.257-07:00</updated><title type='text'>YANG TERJADI ADALAH YANG TERBAIK</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kebaikan telah melekat pada segala sesuatu. Hanya orang yang tak bisa menelisiki kebaikan yang tak berhasil merasakan kebaikan dalam segala sesuatu. Mengapa setiap yang terjadi dipandang yang terbaik? Mesti diantara kita ada yang hendak protes, jika setiap kejadian dipandang suatu yang terbaik. Lantaran hidup terus didera kesulitan dan ditempa cobaan, menggerakkannya membuat kesimpulan, hidup tak terliputi kebaikan. Bagi seorang anak, yang dibangunkan sang ibu saat subuh tiba sembari diajak ke masjid untuk shalat berjamaah, maka akan muncul dua sikap. Jika tidur dianggap yang terbaik, niscaya si anak menilai perlakuan sang ibu – membangunkan dari tidur pulasnya – tidak baik. Sebaliknya, jika si anak menganggap perlakuan ibu untuk melatih kedisiplinan beribadah, maka itulah yang terbaik. Dan kalau disorot dari kacamata yang bening, motivasi sejati si ibu adalah untuk meneguhkan kedisiplinan si anak dalam beribadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan Allah itu melampaui kebaikan seorang Ibu. Setiap perbuatan Allah bagi makhlukNya telah diramu dengan spirit kebaikan. Hanya bagi orang  tidak menyadari rahasia kebaikan Allah, tergerak untuk protes atau berlaku jengkel dengan apa yang terjadi. Mengapa perasaan jengkel, marah, dan kesal kerap menyelubungi hati dalam bentuk respons negatif terhadap kejadian? Karena mereka menilai kebaikan dari lensa pikirannya yang terbatas. Karena itu, perlu kiranya kita bercermin pada firman Allah, “… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang belum dewasa secara spiritual, cenderung berlaku resisten atau menolak atas peristiwa atau kejadian pahit yang menimpa dirinya. Namun, bagi yang dewasa selalu menggemakan spirit “alhamdulillah” di setiap kesempatan, lantaran mereka telah melihat kebaikan di langit-langit kehidupan ini. Mereka berhasil meliput secara utuh bangunan kehidupan ini. Ya, ketika kita melihat hidup secara parsial, bisa jadi banyak nuansa yang memancing  kejengkelan, namun ketika melihat secara utuh, maka yang tersisa hanya kesan keindahan yang tak pernah pudar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan desain makro kehidupan itu kebaikan, mengapa banyak orang tidak bisa mencerap kebaikan dalam bentuk kebahagiaan? Yang membuat orang tidak mendapati kebahagiaan, lantaran lemahnya keyakinan yang berujung pada rapuhnya semangat berserah diri. Pribadi yang berserah diri telah memahatkan keyakinan dalam hatinya, Allah memiliki sifat Qudrah (Maha berkuasa), Iradah (Maha Berkehendak), Ilmu (Maha Tahu), dan Hayah (Maha Hidup). Lewat sifat Allah yang agung itulah peristiwa demi peristiwa dan kejadian demi kejadian menyeruak ke permukaan. Berarti, setiap peristiwa dan kejadian telah diramu dengan sifat-sifat Allah Yang Agung itu. Setiap peristiwa mencerminkan kuasa Allah, kuasa Allah mengikuti kehendak Allah, kehendak Allah mengikuti ilmu Allah. IlmuNya yang tak terbatas dan Maha Luas memantapkan keyakinan di hati, seluruh peristiwa dan kejadian telah ditata dengan ilmuNya. Manusia tak bisa menjangkau ilmuNya yang demikian luas. Lebih dari itu, setiap lekuk kehidupan terliput rahmat Allah yang demikian luas tak terbatas. “…Allah berfirman ‘Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu…” (QS. Al-A’raf [7]: 165).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak pada ayat diatas, pantaslah bagi kita memilih sikap berserah diri selaku refleksi keyakinan utuh atas kebaikan Allah, sembari menyadari segala sesuatu telah diliputi rahmat Allah. Pun terpahat dalam kesadaran sejati, tak ada yang salah dalam takdir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala kita menyadari bahwa yang terjadi itulah yang terbaik, niscaya kita bakal berhasil menikmati kehidupan dari waktu ke waktu, dari detik ke detik, dan dari momen ke momen yang terus berjalan. Tak pernah tersandera masa lalu, lantaran cuma masuk dalam figura kenangan semata, dan tak tertarik dengan masa depan, karena masa depan hanya dalam mimpi. Dan hari ini sebagai kenyataan pasti yang harus dihadapi dan dinikmati dengan mental syukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, andai kebaikan disandarkan pada keinginan manusia, niscaya kehidupan ini akan karut-marut, sembrawut, dan terus mengalami benturan satu sama lain. Mengapa? Lantaran setiap orang memiliki keinginan masing-masing. Bayangkan, tukang jas hujan menginginkan hari-hari tetap dalam keadaan hujan agar produknya laku keras, namun tukang jual es menginginkan setiap hari terik matahari yang membuat manusia haus, sehingga esnya terjual. Ketika desain kehidupan disandarkan pada keinginan manusia, niscaya kehidupan menjadi sembrawut karena setiap otak punya keinginan sendiri-sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh amat bijaksana, jika kebaikan bertumpu pada kehendak universal, yakni kehendak Allah SWT yang Maha Mengetahui rahasia kehidupan. Andaikan di depan kita telah dihidangkan menu makanan, kita tinggal melahap menu tersebut dengan jiwa syukur. Orang yang memiliki keinginan tak bisa hidup hari ini. Meski dia telah memeroleh apa yang diinginkan, niscaya akan tumbuh keinginan berikutnya. Betapa tersiksanya orang yang terpenjara oleh keinginannya. Jika ada orang yang hidup di istana bertatahkan emas, namun masih diberondong keinginan, maka kebahagiaan tidak memeluk dirinya. Dan ada gelandangan hidup di jalanan, namun ia tak terjebak dengan aneka keinginan. Bahkan, ia memilih untuk terus mengikuti arus takdir tanpa resisten sedikit pun. Dengan sikap tersebut, insya Allah kebahagiaan merambat ke dalam jiwanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun kebahagiaan sulit mengembang di rongga hati lantaran selalu fokus dengan tujuan. Andaikan Anda pergi ke Jakarta dengan menaiki kereta api, tapi di pikiran Anda hanya terfokus pada Jakarta, didera rasa penuh terburu-buru agar segera sampai ke tujuan, niscaya Anda tidak bisa menikmati dan menghayati perjalanan menuju Jakarta. Sungguh, amat disayangkan perjalanan yang harusnya menghadirkan kenikmatan telah terbajak keinginan yang belum tentu terjadi. Selayaknya Anda bisa menikmati perjalanan itu dengan melihat petak-petak sawah yang dihiasi tanaman hijau, memandangi deretan pohon bergelantungan buah yang berdiri kokoh di pinggir jalan, atau bisa memandangi petani yang tengah bermesraan dengan pertaniannya. Sungguh, andaikan Anda berusaha menghayati dan meresapi setiap lekuk perjalanan itu, niscaya kenikmatan akan terasa menerangi kesadaran Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patutlah kiranya kita tidak terlalu berlebihan memikirkan tujuan. Dikarenakan orang yang cenderung fokus memikirkan tujuan, akan terbajak dalam dunia ilusi. Dunia yang tidak membuatnya bisa hidup saat ini. Pikiran hanya tertuju pada impian, bayangan, dan ilusi masa depan yang belum tentu ditemui. Lantaran itu, mereka tidak pernah peduli dengan hari ini, apalagi menikmati. Meski pun hari ini menyodorkan emas, maka terasa sebagai tembaga. Meski disuguhkan makanan yang lezat, baginya terasa basi dan tak menggairahkan. Seberapapun uang berada di kantong, tanpa dijiwai dengan kekinian, niscaya kebahagiaan tak akan juga berkunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, ciri orang yang selalu terkurung dalam ilusi yang semu. Ilusi akan terus menyergap manusia dalam penderitaan dan kekecewaan, tak ayal wajahnya jauh dari kesumbringahan, keningnya pun terkesan selalu mengerut, sikapnya seolah selalu ditindih ketegangan demi ketegangan. Kalau demikian, darimana dia bisa merengkuh ketenangan atau kebahagiaan? Andaikan dia mengerti, ternyata kebahagiaan tak berada saat orang memikirkan yang akan datang. Kebahagiaan memantul kala manusia merenungi dan mensyukuri keadaan hari ini. Kebahagiaan akan mekar setara dengan semangat syukur yang mengembang atas keadaannya saat ini. Dalam syukur terbungkus kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun agar kita bisa menghayati dan menikmati hari ini, perlu kiranya dibenamkan dalam hati kita masing-masing untuk berserah diri pada Allah. Karena bercokolnya panglima pikiran dalam hidup kita, sikap berserah diri kadang sulit dijalani. Kendati demikian, kita terus berlatih berserah diri dengan melepaskan jerat pikiran yang cenderung memilah dan memilih sehingga mau menerima kenyataan yang hadir dengan lapang. Tidak timbul sedikit pun sikap resisten atas kenyataan yang berkunjung. Andai kita telah luruh di hadapan Allah dengan hidup tanpa resistensi sedikit pun, terkristalisasi semangat berserah diri, walhasil insya Allah kebahagiaan akan tercurah dalam hati kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bermakna dan pentingnya berserah diri, patut kiranya kita memungkasi tulisan ini dengan sepenggal kata hikmah penuh daya, “Ketika kita berserah diri dan menerima bahwa yang terjadi itulah yang terbaik, maka setiap saat akan menjadi saat yang penuh kebahagiaan.” Wallahu A’lam bis Showaab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi&lt;br /&gt;Pentranskripsi: Khalili Anwar &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-6359137525439869009?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/6359137525439869009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/yang-terjadi-adalah-yang-terbaik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6359137525439869009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/6359137525439869009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/yang-terjadi-adalah-yang-terbaik.html' title='YANG TERJADI ADALAH YANG TERBAIK'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-1418539605990913287</id><published>2009-05-26T09:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T09:39:47.175-07:00</updated><title type='text'>DESAH NAFAS KEBAHAGIAAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia tak bisa dilukiskan oleh tebaran kata-kata. Bahkan semakin dilukiskan, kebahagiaan itu tak berasa. Kebahagiaan melekat dalam kesenyapan dan diam. Saya merasakan bahagia kala berada antara tarikan dan hembusan nafas. Ketika saya menikmati dan menghayati hirupan dan hembusan nafas dengan detail dipandu kelembutan rasa, di ujungnya membersit kebahagiaan. Akan tetapi, bila saya tak meresapi dengan serius, setiap hirupan dan hembusan nafas, niscaya hidup yang kujalani seolah tak menyajikan makna bahagia. Bahkan cenderung menyodok di dataran kehampaan. Kunci memantik kebahagiaan adalah merasakan dan menghayati kekinian yang terus berjalan. Kebahagiaan berada antara lintasan awal dan akhir, bermukim di saat ini yang abadi. Kala kita bisa menikmati momen keabadian ini, kebahagiaan itu akan meluber dalam hati kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaknai desah nafas berguna untuk memahami arti hidup. Andai hidup tidak menempel pada diri kita, mungkinkah kita bakal merasakan keindahan dari setiap lintasan kejadian yang telah kita tapaki. Modal dasar bernama hidup telah mengantarkan anugerah lainnya, dan berujung pada kebahagiaan. Berarti, lantaran adanya hidup, kebahagiaan bersemai dalam diri kita. Hidup disini tidak hanya hidup jasmani, namun hidup yang mendasari hidup jasmani, yakni hidup ruhani. Andai ruhani kita hidup, insya Allah kebahagiaan akan mengalir ke muara hati kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tanda dan bagaimana menghidupkan ruhani? Ruhani hidup ditandai dengan rasa, ya merasa ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki. Bagaimana kala kita disalak kedukaan dan kesedihan? Kedukaan menyangkut hal duniawi menandakan matinya ruhani. Namun kedukaan lantaran merasa jauh dari Allah, adalah tanda hidupnya ruhani. Saya pernah bertutur pada teman saya, “Saat Anda merasa mengalami kematian ruhani, itu pertanda hidupnya ruhani.” Serupa dengan datangnya penyesalan pertanda terbitnya fajar kebahagiaan. Saat hati begitu lama terkurung dalam kegelapan, dan cahaya kebenaran menerobos bilik-bilik hati kita, maka kebahagiaan itu akan meresap di hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita merasakan kebahagiaan? Andai kebahagiana masih belum dirasakan, sepatutnya kita memeriksa diri sendiri, mungkin bertumpuknya dosa dan kesalahan telah menghalangi kita mencapai kebahagiaan itu. Atau mungkin keringnya rasa syukur di hati kita atas anugerah Allah yang amat berlimpah. Bukankah syukur sebagai resepsionis hadirnya kebahagiaan? Daya tarik berkunjungnya kebahagiaan ke dalam hati kita, lantaran hati kita selalu menyuguhkan rasa syukur yang tak pernah jeda. Kapan harus bersyukur? Syukur tak hanya digunakan saat menggapai kenikmatan, pun saat kejadian pahit menabrak, kita harus rela menyuguhkan syukur. Karena rumus yang hakiki, bukan kebahagiaan yang mengantarkan syukur, namun syukurlah yang mengantarkan kebahagiaan. Kalau kita hendak menyematkan kebahagiaan di hati, perlu kiranya kita membahanakan nyanyian syukur setiap saat, mengikuti tarikan dan hembusan nafas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tarikan dan hembusan nafas dialiri spirit syukur, insya Allah setiap tarikan dan hembusan nafas terasa ringan. Memang, dengan bermodalkan bahagia yang direnda dari syukur, insya Allah hidup bakal menjadi lebih ringan. Setidaknya mata tidak melotot, kening tidak mengerut, dan tangan tak mengepal. Yang terpampang penampilan diri berhiaskan senyum yang terus mengembang, wajah melulu menebarkan pancaran optimisme, dan tangan selalu berposisi terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saatnya saya menghayati kebahagiaan, bukan memikirkan kebahagiaan. Semoga Allah SWT mencurahkan hidayahNya pada kita semua agar terus bisa merasakan dan menghayati kebahagiaan lewat tarikan dan hembusan nafas. Wallahu A’lam Bisshowaab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-1418539605990913287?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/1418539605990913287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/desah-nafas-kebahagiaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1418539605990913287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1418539605990913287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/desah-nafas-kebahagiaan.html' title='DESAH NAFAS KEBAHAGIAAN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-3883408793946374703</id><published>2009-05-22T02:34:00.000-07:00</published><updated>2009-05-22T02:49:27.027-07:00</updated><title type='text'>SAATNYA NU INTROSPEKSI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan partai berbasiskan NU mengilhami para ulama &lt;br /&gt;mengintrospeksi diri secara kolosal. Introspeksi kolosal ini, selain &lt;br /&gt;diserukan pada kalangan ulama, juga seluruh warga NU. Pertemuan &lt;br /&gt;Langitan, Tuban, yang dihadiri 500 ulama se-Jawa Timur yang terdiri &lt;br /&gt;dari PBNU, pimpinan pondok pesantren, dan PWNU beberapa pekan yang &lt;br /&gt;lalu menghasilkan kesimpulan yang intinya menyerukan agar seluruh &lt;br /&gt;warga NU menyelamatkan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu &lt;br /&gt;dari paham ekstrem kanan atau kiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pilar besar kekuatan Islam di Indonesia, NU tengah &lt;br /&gt;menelan kenyataan pahit dengan semakin cairnya suara NU. Di berbagai &lt;br /&gt;daerah banyak pentolan NU yang memasuki gelanggang politik praktis, &lt;br /&gt;tetapi tidak memberikan hasil yang mengembirakan NU. Kita bisa &lt;br /&gt;merunut sejarah, Pilpres 2004 Kiai Hasyim Muzadi digandeng Megawati &lt;br /&gt;Soekarnoputri. Secara rasionalitas politik kombinasi antara &lt;br /&gt;nasionalis dan religius ampuh untuk menyedot massa pemilih, tetapi &lt;br /&gt;realitas politik lebih berpihak pada Yudhoyono-Kalla yang berangkat &lt;br /&gt;dari kalangan nasionalis bahkan ada yang menyebutnya neo-liberalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi debut pemilihan cagub-cawagub di Jawa Timur tahun &lt;br /&gt;2008, ketua PWNU saat itu, Ali Machsan Moesa seperti gadis cantik &lt;br /&gt;yang diperebutkan beberapa cagub, akhirnya berhasil dipinang &lt;br /&gt;Soenarjo. Akan tetapi, apa boleh dikata, ternyata pamor ketua PWNU &lt;br /&gt;tak bisa mengungkit suara dari grassroot NU. Kekalahan NU makin &lt;br /&gt;sempurna ketika memasuki gelanggang Pileg 2009. Betapa banyak suara &lt;br /&gt;warga NU berimigrasi pada partai yang berbasiskan non-NU. Sungguh, &lt;br /&gt;konstelasi demokrasi yang menjadi media menjajaki kekuatan dan &lt;br /&gt;soliditas warga NU itu perlu menjadi bahan renungan bagi kalangan NU &lt;br /&gt;sendiri, terutama kiai sebagai inspirator juga penggerak warga NU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Warga NU masih tetap memosisikan kiai sebagai model yang patron. &lt;br /&gt;Apa pun yang dilakukan mereka banyak terinspirasi oleh perilaku dan &lt;br /&gt;model hidup yang ditampilkan kiai. Jadi, andaikan ada perilaku &lt;br /&gt;politik yang keliru, semisal ada warga NU yang terjebak dalam politik &lt;br /&gt;uang, kiai yang harusnya mengoreksi terdahulu sebagai pemandu &lt;br /&gt;warganya. Apalagi politik uang tidak hanya menghiasi partai-partai &lt;br /&gt;berbasis nasionalis, bahkan partai berbasiskan NU juga terjebak dan &lt;br /&gt;terseret dalam kultur politik yang tak beradab itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum elite NU juga perlu menyadari bahwa apa pun yang dilakukan &lt;br /&gt;warga NU sebagai cermin dari elite NU yang kurang memerhatikan &lt;br /&gt;penguatan ruh Islami dalam berbagai ragam kehidupan, tak terkecuali &lt;br /&gt;berkaitan dengan politik praktis. Kita tidak menemukan brand yang &lt;br /&gt;membedakan gaya politik NU dan politik partai yang berbasiskan &lt;br /&gt;nasionalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika NU terjebak dalam jerat kekuasaan dan meninggalkan warisan &lt;br /&gt;visi besar dari para pendirinya, suatu saat NU hanya menjadi karangka &lt;br /&gt;tanpa ruh. Besar, namun tidak memiliki karisma dan magnet yang kuat &lt;br /&gt;dalam menggalang perubahan bagi bangsa ini. Faktanya, karena NU tidak &lt;br /&gt;bisa menunjukkan hujah yang kuat dan model yang sempurna di mata kaum &lt;br /&gt;muda NU, banyak kalangan muda yang jenuh ritual dan seremonial yang &lt;br /&gt;digalakkan NU. Sebagai pelampiasan dari kejenuhan itu, anak muda &lt;br /&gt;berijtihad untuk mencetuskan reformasi pemikiran di kalangan NU, &lt;br /&gt;dalam bentuk Islam liberal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kita tidak boleh menyalahkan anak muda yang haus ilmu dan melulu &lt;br /&gt;berhasrat menemukan gagasan keagamaan yang menarik, kendati ujungnya &lt;br /&gt;persinggungan dengan semangat dan ideologi yang mendasari NU. &lt;br /&gt;Merebaknya kelompok kiri Islam atau Islam liberal yang dibidani anak &lt;br /&gt;muda NU perlu menjadi bahan koreksi bagi tokoh NU sendiri agar fokus &lt;br /&gt;membumikan kembali ideologi dan pemahaman NU secara komprehensif &lt;br /&gt;sembari diperkuat dengan model yang elegan. Kita tidak membutuhkan &lt;br /&gt;kata-kata untuk menarik gerbong perubahan NU menuju yang sejati, &lt;br /&gt;tetapi mengharapkan model sejati yang bisa menginspirasi warga NU &lt;br /&gt;agar bisa bertindak ikhlas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komplikasi yang membelit NU bisa diurai lewat kesadaran kiai NU &lt;br /&gt;soal perannya yang membutuhkan kerja keras untuk terus mengusung visi &lt;br /&gt;dan nilai NU secara istiqamah. Tanpa kerja keras dari kiai NU, &lt;br /&gt;kebesaran NU kelak hanya menjadi onggokan sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas, Jumat 15 Mei 2009&lt;br /&gt;Khalili Anwar&lt;br /&gt;Penulis Muda, Tinggal di Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-3883408793946374703?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/3883408793946374703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/saatnya-nu-introspeksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3883408793946374703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3883408793946374703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/saatnya-nu-introspeksi.html' title='SAATNYA NU INTROSPEKSI'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-9068347582508843264</id><published>2009-05-22T00:38:00.000-07:00</published><updated>2009-05-22T00:56:01.003-07:00</updated><title type='text'>NEGERI KITA: THE SMILING COUNTRY</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula kita mendengar, Jakarta, sebagai ikon Indonesia mendapati julukan dari TIME sebagai kota terbaik guna melatih kesabaran. Baru-baru ini, saya mengunduh berita, Indonesia masuk tataran negara paling murah senyum dengan merebut sekor 98%. Untuk (pengucapan) salam, Indonesia menempati skor 98%, disejajarkan dengan Hongkong. (Detik,17/5). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kemelut, bangsa ini belum kehilangan senyum untuk disebarkan pada dunia. Jiwa agama seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, “senyum adalah sedakah” telah terbetot dalam kesadaran bangsa ini. Indonesia dikenal sebagai negara yang mengutamakan perasaan, sehingga setiap aktivitas selalu dicandra dari kacamata perasaan. Perasa selalu meraba perasaan orang lain, agar setiap apa yang dikemukakan dan dilakukan menghadirkan kehangatan bagi sesama. Tak ingin setiap celetukan mengundang kemarahan dan kejengkelan orang lain, malahan bagaimana setiap kata dan perbuatan menebarkan oasis yang menyejukkan dan menghangatkan hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga riset tentang peringkat seyum Negeri Indonesia dari AB Better Bussiness yang berbasis di Swedia itu benar-benar menyentuh ke seluruh sisi kehidupan bangsa ini secara nyata dan menyeluruh. Bukankah senyum jendela kebahagiaan. Dengan senyum seolah kebahagiaan akan mekar dari dalam hati ini. Persisnya, senyum adalah pembuka kebahagiaan yang terkatup dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum yang tulus menjadi pengungkit kreativitas pada diri manusia, karena senyum menjadi energi positif yang meresap pada tubuh, seraput pun otak ikut terbuka untuk menumbuhkan ide-ide kreatif. Berarti senyum harusnya membikin diri produktif, ketika senyum ini terpantik untuk hal-hal positif. Namun ketika senyum hanya diarahkan pada hal yang negatif, justru senyum hanya membuat diri berada dalam kehampaan. Alangkah baiknya, jika senyum menjadi pembangkit kesadaran untuk memaknai kehidupan yang penuh ajaib ini. Senyum menghadirkan makna luar biasa ketika dialiri dengan energi ketakjuban atas anugerah Allah yang begitu berlimpah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum pertanda kebahagiaan yang bersemai dalam hati. Meski demikian, Islam tidak sebatas mengajarkan senyum, juga dianjurkan kita terampil menebarkan salam. Rasulullah Saw bersabda: “Wahai manusia sebarkan salam dan berilah makanan pada orang yang membutuhkan, jalinlah silaturrahim, dan shalatlah di malam hari kala kebanyakan manusia tidur niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah salam memberikan energi positif untuk menularkan surga pada setiap orang, pun mempesona hati kita dengan cahaya surgawi. Janganlah pelit mengucapkan salam. Salam adalah pokok kehidupan. Andaikan kita mengucapkan salam, berarti kita telah memberikan suatu yang amat penting yang mendasari kehidupan. Betapa indahnya kala setiap lekuk kehidupan ini dihiasi perasaan salam (salam feel). Kita tidak menaruh curiga pada orang lain, dan orang lain tidak terpancing untuk mencurigai kita. Tak ada kedengkian yang meletup dari hati kita, pun orang lain merasakan ketenteraman bersama kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membudayakan senyum dan salam bukan suatu yang mudah. Hanya orang yang dipenuhi energi cinta yang senantiasa menularkan senyum dan menebar salam. Andaikan saya, engkau (terpadu dalam kita) belum pernah membiasakan dan membudayakan senyum, berarti hati ini masih kering dari energi cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-9068347582508843264?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/9068347582508843264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/negeri-kita-smiling-country.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/9068347582508843264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/9068347582508843264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/negeri-kita-smiling-country.html' title='NEGERI KITA: THE SMILING COUNTRY'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-4091306821101076107</id><published>2009-05-15T21:27:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T21:36:51.738-07:00</updated><title type='text'>ALLAH MENGHENDAKI KEBAHAGIAAN</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan menjadi harapan utama setiap insan, bahkan seluruh makhluk yang bermukim di jagat semesta ini tak luput dari kehendak menggapai kebahagiaan. Cacing yang hidup tanpa mata, tanpa telinga menyusur tanah sebagai makanannya, dengannya ia mempertahankan hidupnya.  Efeknya, tanah pertanian menjadi gempur, dan petani bisa bercocok tanam di lahan yang subur. Dari tanah yang subur insya Allah akan menghasilkan panen yang makmur. Tikus, ketika dikejar kucing, niscaya akan lari pontang-panting ke sarang pengaman demi mengelak bahaya yang mengancam. Ia lakukan karena menghendaki kebahagiaan. Pohon, kendati tidak ditanam dan disiram manusia, akan tetap tumbuh hingga berbuah. Seluruh fenomena perilaku makhluk yang tersaji di depan kita menandakan bahwa seluruh kehidupan ini menghendaki kebahagiaan. Siapakah yang telah menyusupkan kehendak bahagia itu? Siapakah yang betul-betul mengerti dan memahami cara untuk memeroleh kebahagiaan? Perlulah kiranya kita renungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pertanda Allah menghendaki makhlukNya bahagia, Dia telah menetapkan berbagai peraturan yang perlu dijalani manusia guna menempuh kebahagiaan. Kita menyadari kebahagiaan bukan suatu yang instant, seketika diperoleh. Sebagai sebuah kehendak, maka kebahagiaan menjadi cita-cita. Setiap cita-cita harus diperjuangkan, membutuhkan effort atau usaha yang keras. Demi menggapai cita-cita berupa bahagia, kita perlu menempuh pelbagai langkah yang telah ditentukan Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah adalah sentrum kebahagiaan. Tak ada yang dilakukan Allah kecuali demi kebahagiaan itu sendiri. Hanya saja, manusia sering berlaku inkonsisten antara kehendak bahagia yang hadir dari hati nurani dengan perilaku hidup yang ditampilkan. Katanya manusia ingin bahagia, tetapi kenapa perilaku hidupnya kerap kali kontras dengan kehendak agung tersebut? Dan mengapa pula, ada orang yag terus dibelit derita? Ya, manusia tersingkir dari lingkaran kebahagiaan lantaran melulu mengikuti kehendak hawa nafsu. Kalau kita renungkan, seluruh pergerakan hawa nafsu bukan untuk menumbuhkan kebahagiaan, hanya meneteskan secuil kesenangan yang akhirnya menurunkan kesedihan ke rongga batin. Kebahagiaan terikat pada kesungguhan manusia mengendalikan hawa nafsu, “Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS. An-Nazi’at [79]: 40-41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak pernah berbuat dzalim pada hambaNya kecuali hamba sendiri yang berlaku dzalim pada dirinya sendiri. Penderitaan menimpa kita lantaran perilaku dan sikap hidup kita sendiri. Adapun Allah hanya menghendaki kebahagiaan bagi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Allah tidak menghendaki kecuali kebahagiaan, maka segala hal  menempa dan menerpa kita hanya demi tercapainya kebahagiaan. Kita dianjurkan shalat guna bisa mencerap kebahagiaan dan merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Allah menetapkan kehendak tasyrik, berupa perintah dan larangan,  serta kehendak takwin, berupa qoda’ dan qadar, sesungguhnya menghendaki hidup kita berlimpah kebahagiaan. Pembatas-pembatas yang ditetapkan Allah tidak untuk menyandera kebahagiaan kita, bahkan bagaimana mempertahankan kebahagiaan yang bermukim dalam hati kita.  Puasa sebagai perisai pencegah dari perbuatan tercela diharapkan bisa mengukuhkan kebahagiaan itu sendiri. Andai manusia tidak berpuasa, justru akan mudah terseret ke dalam perbuatan maksiat. Dari puasa diharapkan ada sistem kontrol yang handal, sehingga manusia tetap terarah menjalani kebaikan. Dari situ, bisa disimpulkan bahwa kehendak dibalik kehendak Allah adalah kebahagiaan. Target dari semua target adalah kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Maha Mengetahui resep untuk meraih kebahagiaan, karena dariNya kebahagiaan itu dicurahkan. Ketika orang menyandarkan hidupnya pada Allah, niscaya kebahagiaan pun akan meliputinya. Namun, bila manusia telah berpaling dari Allah SWT, maka kebahagiaan tersingkir dari taman hatinya. Dari situ, kita bisa meneguhkan kesadaran akan kata-kata penuh daya, “Tuhanku, Engkaulah Tujuanku, RidhaMU yang aku cari.” Antara kebahagiaan sebagai tujuan dan Allah sebagai tujuan tidak bisa dipisahkan dan dibedakan. Allah menyatu dalam kebahagiaan, dan kebahagiaan menyatu padaNya. Tujuan yang integral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Allah menghendaki kebahagiaan bagi jagat semesta, maka seluruh peraturan syariat yang ditetapkan bagi manusia tidak pernah lepas dari kehendak inti tersebut. Andai kita menyadari secara mendalam akan kehendak dibalik kehendak Allah, kita akan selalu meluapkan rasa syukur yang tak pernah jeda atas karunia Allah yang terus mengalir dalam hidup ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita memahami, kehendak dibalik kehendak Allah adalah kebahagiaan, berarti kita bisa bahagia dalam setiap keadaan yang menghampiri kita. Karena itu, tidak ada kata yang patut kita serukan terus-menerus dalam setiap kesempatan, kecuali alhamdulillah, cermin spirit syukur yang tak pernah sirna dalam hati kita. Bagaimana cara kita memantik kebahagiaan? Ya, kebahagiaan terbungkus dalam syukur. Manakala kita meluncurkan semangat syukur setiap saat, maka kebahagiaan bakal menghias hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur salah satu jalan memeroleh kebahagiaan yang kekal dalam hati. Orang bersyukur karena dua faktor. Pertama, bersyukur karena nikmat yang diperoleh. Kedua, bersyukur karena mengingat yang menganugerahkan nikmat, yakni Allah SWT. Yang kedua ini, bersyukur dalam segala keadaan, karena terpaku pada pesona Allah SWT. Dia mengenal tentang sifat-sifat Allah yang full kebaikan. Tak heran,  ia masih bersyukur bahagia dalam keadaan yang tercepit sekalipun lantaran merasa Allah masih mencurahkan kasih sayangNya. Andai kita menyadari secara menyeluruh bahwa penciptaan alam semesta didasari rasa kasih sayang Allah, niscaya kita akan menemukan syukur di segala keadaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terpesona pada kasih sayang Allah yang meliputi seluruh jagat ini, maka orang-orang arif selalu memiliki alasan untuk melulu bersyukur pada Allah SWT. Ada seorang arif bertutur, “kalau ayam “nyeker-nyeker” untuk memeroleh sebutir makanan, sementara orang arif “nyeker-nyeker” untuk memperoleh alhamdulillah.” Dan orang arif selalu meraup spirit alhamdulillah di setiap kesempatan. Karena itu, ia selalu berhasil menangkap keindahan di setiap keadaan. Mengapa orang arif selalu bersyukur di setiap keadaan? Karena mereka meyakini secara mendalam bahwa sifat Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, telah mendasari setiap peristiwa dan kejadian yang menyembul ke permukaan. Andaikan ada musibah, bukanlah serta merta mengundang kesedihan yang mencekam bagi dirinya, malahan dia terus mengingat Allah dibalik musibah itu, mengingatkan kebaikanNya yang tak pernah pudar. Makanya ia peroleh kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita selaras dengan kehendak dibalik kehendak Allah berupa kebahagiaan, maka kita diharapkan selalu membudayakan syukur di setiap kesempatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH. Dr. M. Dhiyauddin Qushwandhi&lt;br /&gt;Pentranskripsi: Khalili Anwar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-4091306821101076107?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/4091306821101076107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/allah-menghendaki-kebahagiaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4091306821101076107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/4091306821101076107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/allah-menghendaki-kebahagiaan.html' title='ALLAH MENGHENDAKI KEBAHAGIAAN'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-7263427228433075197</id><published>2009-05-15T09:42:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T10:00:40.316-07:00</updated><title type='text'>MENGUAK SPIRIT MUDA</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberlanjutan kehidupan bangsa berada di genggaman anak muda. Andaikan anak muda penuh spirit dan terus bersinergi untuk melahirkan karya-karya genius dipadu dengan perilaku akhlak yang elegan, di hati terpancar harapan bangsa ini bakal mengalami kebangkitan. Pun tak bisa dipungkiri, kedigdayaan bangsa ditandai dari apresiasi yang dicurahkan para pemimpinnya pada kehidupan generasi muda. Sudahkah pemimpin kita menyokong gerakan anak muda yang hendak menelurkan karya? Kita bisa menilai sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah arus kebudayaan berbasis teknologi yang menjalar begitu cepat dan pesat, anak muda punya lahan yang lapang untuk melejitkan karya-karya yang luar biasa. Bacaan yang melimpah, fasilitas teknologi yang tersedia luas, disokong SDA yang amat kaya diharapkan bisa mengilhami generasi muda menyuguhkan karya-karya terbaiknya, dan berhasil melenyapkan jiwa ketergantungan yang berlebihan pada asing. Yang membuat kita melulu bergantung lantaran pudarnya rasa percaya diri dari dalam hati kita. Perlu dipahami, generasi muda punya full potensi yang bisa disebarkan dan dimanfaatkan bagi bangsa ini, cuma karena tidak ada kepercayaan diri, kita mudah terhempas pengaruh dari luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi kita minus percaya diri. Tidak pernah PD dengan bahasa sendiri, minder adat sendiri, kurang sreg dengan produk dalam negeri. Padahal percaya diri seperti akar, andai akarnya keimanan kita rapuh, niscaya eksistensi kita pun bakal mudah tumbang dihempas badai yang datang secara tiba-tiba. Perkuatlah akar keimanan sehingga badai apapun yang menghempas tidak akan menggoyahkan pohon kehidupan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya generasi muda muslim berpikir untuk menguatkan kembali akar keimanan yang sudah lama ditinggalkan, karena menimbang kekuatan yang datang dari luar. Manakala kita terlalu fokus dengan kekuatan eksternal, maka tidak bisa menyusupi kekuatan internal berupa keyakinan. Padahal keimanan berperan lebih besar ketimbang semuanya. Lewat keimanan semua kenyataan yang mewujud mewariskan inspirasi, menghadirkan hikmah, dan menyuguhkan pancaran kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi muslim tidak lagi memiliki kesempatan memperlemah diri yang berujung rapuhnya keimanan. Sudah mulai menghargai waktu, sebagai waktu yang produktif. Selaras dengan umurnya yang muda yang demikian produktif, maka mereka mengganggap setiap waktu adalah waktu produktif. Perpaduan antar umur yang produktif dan waktu yang produktif, akan melahirkan karya-karya yang dahsyat. Sudah tidak masanya generasi muslim diperbudak televisi yang tak pernah berhenti memborbardir kita dengan ragam tontonan sampah. Sudah tidak saatnya generasi muda muslim dijajah beragam kegiatan tak bermanfaat. Sudah saatnya generasi muda bangkit dengan karya unggulan dihiasi akhlak Qur’ani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah momen kebangkitan generasi muslim, dengan terus memacu diri menjadi lebih produktif dan bisa berkontribusi lebih besar bagi bangsa ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-7263427228433075197?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/7263427228433075197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/menguak-spirit-muda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7263427228433075197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/7263427228433075197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/menguak-spirit-muda.html' title='MENGUAK SPIRIT MUDA'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-8999362118841160769</id><published>2009-05-13T03:02:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T03:09:39.366-07:00</updated><title type='text'>KOMBINASI PESELANCAR DAN PENYELAM</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Hidup di permukaan kehidupan seperti peselancar. Jalan peselancar tak pernah lurus lantaran dia harus berselancar diantara kepungan gelombang yang tak pernah tenang, ” tutur guru yang mulia dalam kesempatan pengajian al-Hikam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menyelamlah ke dasar lautan, niscaya Kamu akan menemukan kedamaian yang tak terbatas,” Dawuh guru yang mulia di kesempatan berbeda di hadapan kami murid-muridnya.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                          ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermodal dua nasihat tersebut, saya hendak menafsirkan atau mengulas tentang karakter peselancar dan penyelam. Mungkinkah kita bisa mengombinasikan dua sikap itu dalam hidup keseharian yang terus berubah secara tiba-tiba? Tiba-tiba menyeruak kejadian yang amat mengejutkan. Di luar dugaan. Dan setiap hari kita bagai dikepung informasi yang melompat dan terus berubah. Kita memang tengah memasuki episode supercepat, akselerasi, dan instant. Serba seketika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan-kejutan dimungkinkan muncul di luar dugaan logika. Kamarin dia menikmati kekayaan yang demikian melimpah, tiba-tiba dikepung hutang yang menggunung. Kamarin memeroleh sanjungan bak pahlawan, kini didamprat cacian dan makian. Dulu berada di kursi terhormat, sekarang berada di kursi pesakitan atau kamar prodeo. Dulu sepasang suami-istri terjalin begitu mesra dan romantis, sekarang saling mencecar dan menguak aibnya masing-masing. Kemungkinan sarat dualisme akan terjadi dan menghantui manusia zaman ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi kehidupan yang didesain begitu cepat dan terus berubah secara dinamis telah memproduksi sikap stress pada beberapa kalangan, terutama di wilayah perkotaan. Jakarta sebagai pusat Indonesia, ditengarai kota yang dihuni banyak orang stress. Banyak orang terjerembab dalam stress, bisa jadi karena begitu padat dan mecetnya lalu lintas ibu kota yang tak bisa mengimbangi keinginan orang yang terburu-buru sampai ke tujuan. Makin kompleksnya permasalahan di kota, membuat jumlah orang stress membengkak. Majalah TIME pun menjuluki Jakarta sebagai kota terbaik untuk melatih kesabaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa stress? Ketika orang terus berselancar di ombak perubahan yang menghantam silih berganti, dan seluruh perhatiannya fokus pada permukaan, niscaya perlahan-lahan akan terpental dalam kubangan stress. Bukan berarti kita tak boleh bertindak dan berselancar. Kita harus berselancar dengan cara fair agar kita bisa menggapai tujuan yang diharapkan. Kendati demikian, jiwa kita tidak hanya dipenuhi nafsu untuk berselancar yang cuma menghadapi ombak demi ombak. Bila perhatian kita terserap pada berselancar, niscaya kita tidak bakal menemukan ketenangan batin yang memicu diri semakin produktif. Padahal ketenangan sebagai upaya menyemaikan produktifitas kerja. Kita juga menyelam guna menemukan kemurnian yang berada di dalam lautan hati kita. Penyelam terus menukik di kedalaman guna menemukan zona yang tenang dan menghadirkan kedamaian. Saat berselancar kita juga harus menyelam. Menyelam disini berarti mengingat Allah setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan kita bisa memadukan dua karakter peselancar dan penyelam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dinamisnya perubahan di zaman ini, kita tak boleh menghindar dari berselancar. Kita tetap berselancar dalam ombak perubahan yang sarat turbulensi. Berselancar terkait dengan pikiran dan fisik yang harus mencari cara bagaimana bisa berselancar dengan gagah menerobos ombak perubahan yang menghantam. Kadang kala kita harus mendobrak ombak perubahan, juga bisa memilih menghindarinya guna menggapai tujuan yang diharapkan. Disanalah seni hidup terasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran dan fisik boleh terus mengikuti arus kehidupan permukaan, namun hati sebagai sentrum kesadaran suci harus terus menyelam ke kedalaman dengan menyatukan kesadaran pada Allah. Hati tak boleh tersandera dengan keadaan permukaan, bahkan hati perlu menularkan pengaruh positif ke permukaan, agar pikiran dan fisik tetap bisa mengarungi kepungan ombak kehidupan dengan tenang. Penyelam mendapatkan mutiara. Sementara peselancar hanya mendapatkan kepuasan dan gengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai jiwa peselancar dan penyelam dipadukan, niscaya kita akan terus menapaki dan menggapai sukses yang sejati. Bagaimana? Jika mendapatkan kemenangan, mereka tidak bermegah-megah dan terlalu euforia, namun bisa menggali hikmah yang terbungkus dalam kemenangan. Pun ketika terdepak kekalahan tak membuatnya putus asa, bahkan mencari mutiara dibalik kekalahan tersebut. Dalam episode seperti ini, kadang kemenangan lahir merapuhkan batin lantaran kemenangan direspons dengan kesombongan. Kesombongan tak membawa ketenangan karena dibenci oleh Yang Maha Bahagia, Allah SWT. Dan kadang kekalahan lahir mengundang kekuatan dan kemenangan sejati, lantaran dari kekalahan bisa mendulang banyak hikmah yang turut meneguhkan jiwanya. Dalam artian, dari kekalahan ia bisa menyadari kehadiran Allah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rising star, jika memeroleh kemenangan yang cemerlang, dan disikapi dengan rendah hati, tawadhu’, dan dia menggapai mutiara hikmah dibalik kemenangan tersebut. Dia selalu merasa bersama Allah dalam setiap keadaan. Ketika semua telah disandarkan pada Allah, niscaya hidup menjadi ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselancarlah terus dengan raga dan pikiran Anda, dan menyelamlah ke kedalaman dengan kejernihan hati Anda dengan selalu menyadari Allahu... Allahu... Allahu.  Allah masuk dalam kesadaran kalbu kita. Boleh banyak masalah menghantam Anda, tetapi hati tetang tenang.  Ketika hati tenang, maka justru masalah menjadi begitu indah, seperti indahnya berselancar, dan masalah akan terurai dengan sendirinya. Insya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-8999362118841160769?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/8999362118841160769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/kombinasi-peselancar-dan-penyelam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8999362118841160769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/8999362118841160769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/kombinasi-peselancar-dan-penyelam.html' title='KOMBINASI PESELANCAR DAN PENYELAM'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-5506310775193163395</id><published>2009-05-10T04:36:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T05:19:13.287-07:00</updated><title type='text'>MEMULUNG HIKMAH DIBALIK PENGGUSURAN JAGIR</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat hari Sabtu, 9 Mei 2009, Usai shalat Ashar, saya sengaja melewati jalan sepanjang Jagir Wonokromo yang dikena penggusuran. Warga korban penggusuran, ada yang masih tetap bertahan di tempat hunian mereka dengan beratapkan terpal. Menatap wajah mereka menghadirkan rasa kasih yang begitu mendalam di hati ini. Mereka seakan tak memiliki pilihan, kecuali tetap melanjutkan hidup di antara reruntuhan bekas rumah mereka. Pada mulanya, melihat kenyataan menyedihkan itu, terasa mengalir kegeraman pada Pemkot Surabaya yang sewenang-wenang menggusur rumah warga Jagir yang nantinya akan digantikan dengan hutan kota. “Masak kebutuhan primer warga digantikan dengan kebutuhan sekunder?” Mungkin kata-kata ini hanya ingin meluapkan perasaan yang membuai diantara rongga dada ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selintas saya melihat tulisan “Nasib Turuku di Jl. Aspal.” Sepenggal kata itu sederhana dan bisa jadi sebagian orang menganggapnya keisengan, namun itulah curahan dari kegetiran yang bergumul dalam hatinya. Mereka tak punya pilihan lain kecuali menerima apa adanya. Uang mengontrak rumah di Surabaya mana cukup, numpang di rumah relasi, mana ada relasi. Wah mereka juga gak kenal, apa kata relasi. Relasi mereka ya setidaknya sesama korban penggusuran. Sampah serapah hanya seperti nyanyian berlalu. Hujatan-hujatan yang mendesis malah menambah sakit hatinya. Sesuai tingkat pemahaman mereka, kemungkinan besar kata-kata sarat hujatan pada Pemkot memuntah dari lisan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian meratapi nasib dan tenggelam dalam kesedihan tidak mengundang hikmah yang mencahayai hati. Andaikan hidup terus ditanami kegeraman pada Pemkot yang terkesan sewenang-wenang, malah membuat diri tidak produktif guna melampaui masalah tersebut. Makin fokus pada kesalahan yang diperbuat Pemkot Surabaya, niscaya mereka semakin jauh dari hikmah yang mengilhaminya untuk menyikapi masalah dengan kualitas terbaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat mereka sibuk mengemasi perabotan rumah yang tersisa, ada juga yang mengumpulkan beberapa besi-besi bekas tiang bangunan, memilih kayu-kayu yang masih bisa dipergunakan. Terlihat juga beberapa orang memilih tetap berteduh di bawah tenda yang sebatas beratapkan terpal, sambil berdiskusi, menyeduh kopi masih hangat, sambil makan, akan tetapi mereka seperti tidak menikmati keadaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan memilukan itu, saya yang bukan pejabat pemerintah, bukan pengusaha yang superkaya, juga bukan ahli ilmu yang bisa menebarkan pencerahan dan ketenangan bagi jiwa mereka, hanya bisa mengelus dada, berusaha menghubungkan batin ini dengan sumber perasaan yang mereka alami saat ini. Namun setibanya di kos-kosan, saya terus merenungi kejadian  itu berikut efek yang ditimbulkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mendasari pengamatan itu dengan kacamata logika argumentative, niscaya akan ada serentetan pemikiran yang membuat hati makin benci pada Pemkot. Tapi, andai disuluh dari sudut pandang hikmah, insya Allah saya bakal memeroleh aneka hikmah dari kejadian yang menghadirkan kegamangan di ratusan atau ribuan orang yang tergusur. Kalau saya mendasari pemahaman atas kejadian dari sudut pandang logika, niscaya hanya mewariskan rasa sakit hati dan terus menyalahkan keadaan, akan tetapi kalau saya mendasarinya dari sudut pandang hikmah, akan mengundang ketenangan bagi batin. Karena itu, saya memilih untuk bisa melihat dari sisi hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada paparan yang kerap dikemukakan oleh guru yang mulia, “HUJAN TURUN DIBALIK PETIR,” “DIBALIK KESULITAN ADA KEMUDAHAN’ “KEINGINAN BERSEMBUNYI DIBALIK SUATU YANG DIBENCI,” “TAK ADA PEMBONGKARAN KECUALI DISITU AKAN DIDIRIKAN BANGUNAN BARU” dan beberapa kata hikmah lain mengilhami saya untuk menjelajahi dan menunggu hikmah yang dihadirkan dari peristiwa tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mencari hikmah lantaran kita meyakini bahwa tidak ada suatu yang terjadi kecuali suatu yang dikehendaki Allah. Tak ada kehendak Allah kecuali kebaikan. Berarti apa yang terjadi, itulah yang terbaik. Sementara manusia hanyalah peraga untuk mewujudkan kehendak Allah yang sarat kebaikan itu.  Bisa jadi buruk dalam sudut pandang manusia saat ini, namun Allah Maha Mengetahui rahasia diturunkannya setiap musibah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar Jagir, sebagian pikiran kita tertuju pada suatu yang meruntuhkan sisi moral. Diharapkan lewat musibah itu, kita akan mendapati warga makin relegius dan makin merasa butuh pada Allah, dan perlahan-lahan citra kemaksiatan yang lekat di Jagir tergusur. Itu hanyalah cara Allah untuk membuat kita semua semakin baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, alangkah indahnya bila setiap inci kehidupan kita melulu diliputi ingat pada Allah. Kejadian per kejadian menggerakkan diri berzikir pada Allah sebagai refleksi syukur yang tak pernah jeda, dan kita bisa menuai hikmah dibalik kejadian tersebut. Zikir terus menghiasi dan terbawa dalam hidup kita, bila kita punya pemahaman yang benar dan menyeluruh tentang setiap kejadian yang dibungkus sifat baik Allah SWT. Zikir mengundang kenikmatan di hati, ketika disertai pengenalan pada sifat-sifat Allah yang tak pernah mengecewakan, malahan selalu menurunkan kepuasan batin bagi setiap yang memahami sifatNya secara utuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita menggali hikmah yang tersembunyi dibalik penggusuran tempat tinggal warga Jagir Wonokromo, tanpa disertai rasa prasangka buruk, baik pada Allah, pada warga Jagir, juga pada Pemkot Surabaya. Semoga Allah mewariskan hikmah di hati kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-5506310775193163395?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/5506310775193163395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/memulung-hikmah-dibalik-penggusuran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5506310775193163395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/5506310775193163395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/memulung-hikmah-dibalik-penggusuran.html' title='MEMULUNG HIKMAH DIBALIK PENGGUSURAN JAGIR'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-3678401376567024185</id><published>2009-05-08T00:13:00.000-07:00</published><updated>2009-05-08T00:35:52.329-07:00</updated><title type='text'>MENCARI KETENANGAN LEWAT ZIKIR</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya merasa masih amat belia dan bau kencur menguak tabir rahasia zikir. Selain pengetahuan agama yang minus, juga karena praktik mujahadah dan riyadlah yang masih lemah. Andaikan saya menuangkan secuil inspirasi saya tentang makna zikir, pasti itu bukan berangkat dari pengalaman ruhani, namun cuma sebatas penjajakan oleh tongkat bernama rasio atau logika. &lt;br /&gt;Meski demikian, saya harus menuangkan inspirasi mendesak soal zikir ini guna membabarkan sudut pandang saya tentang zikir merujuk pada beragam paparan yang pernah saya dengarkan. Jadi, andaikan saudara pembaca menangkap pelajaran dari artikel yang amat sederhana ini, semoga bisa menitipkan endapan positif di kalbu. Namun, jika ada kotoran yang menetes dari setiap tulisan ini, tolong direnungkan terlebih dahulu, di-delete, kemudian singkirkan dari ruang batin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan mengurai tentang zikir dan efek yang dihadirkan saat berzikir. Dan mengapa orang masih belum merasakan ketenangan di saat berzikir? Saya berusaha mengurai soal tersebut, semoga menghadirkan penyegaran ke dalam batin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tidak tenang karena tak dihiasi dzikir. Ada orang yang berzikir akan tetapi tidak bisa menyerap ketenangan batin. Lisan melantunkan zikir, ya mungkin hatinya belum berzikir. Jika hati belum menghayati zikir yang syahdu disertai pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam zikir, ketenangan batin sulit berkunjung ke ruang batin ini. Zikir, selaras dengan maknanya, ingat. Ingat disini berarti sadar. Sadar inilah yang membuat kita bisa menikmati setiap momen kehidupan ini. Sadar berada di sentrum diri kita, yakni hati. Zikir hanya bisa mengundang ketenangan, bila telah dihayati dengan hati. Kita perlu menghayati proses zikir, tanpa memedulikan segala hal selain kalimat dan makna dari zikir tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bisa menghayati zikir dengan sungguh-sungguh, berkat pertolongan Allah, perlahan-lahan kita akan merasakan kehadiran Allah, dan melepaskan seluruh ikatan-ikatan duniawi yang membonsai pikiran kita. Di saat seluruh kesadaran duniawi telah berganti dengan kesadaran ilahi, niscaya air ketenangan akan mengalir ke dalam jiwa kita. Namun, jika ikatan duniawi masih menyatroni pikiran dan hati justru ketenangan tidak akan mengalir ke dalam hati ini. Lupakan seluruh masalah duniawi yang menggelisahkan hati, membuka pikiran negatif, atau hanya menurunkan kesedihan, dan alihkan perhatian kita hanya mengingat Allah SWT. Ingatan pada Allah semoga bisa menelan seluruh ingatan-ingatan yang semu yang hanya mengundang kegelisahan tersebut, tak pelak bibit ketenangan bersemi dan menyembul dari hati kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati kita hanya memiliki satu wajah, ketika menghadap pada sesuatu maka melupakan suatu yang lain. Ketika hati kita menengadah pada kemilau duniawi, niscaya akan berpaling dari Allah SWT. Dan ketika hati kita menghadap pada Allah, niscaya akan berpaling dari duniawi. Karena itu, saat kita berzikir menghadapkan hati kita sepenuhnya pada Allah. Ketika sentrum kesadaran ini dipenuhi ingatan pada Allah SWT, itulah momen ketenangan bakal diraih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kesadaran pribadi  telah dihiasi ingatan pada Allah, niscaya dia akan terampil merespons segala hal yang terjadi dengan tenang lantaran menganggapnya sebagai anugerah dari Allah SWT. Setiap kejadian yang menimpanya dipandang menjadi instrument dari Allah guna mengungkit potensi yang bersemayam dalam dirinya. Ketika memeroleh anugerah berupa nikmat, maka dia menganggapnya sebagai lahan pengungkit potensi syukur. Ketika tertimpa musibah, dia menganggap sebagai lahan pengungkit potensi sabar. Ketika dia merespons kenyataan masa lalu dipandang sebagai lahan mengungkit potensi ridha. Dan ketika dia harus menatap masa depan yang penuh misteri, dipandang sebagai jalan pengungkit potensi tawakkal. Perlahan-lahan, dia akan menggapai pada respons tertinggi yakni bersyukur di setiap keadaan. Wallahu A’lam Bis Showaab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-3678401376567024185?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/3678401376567024185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/mencari-ketenangan-lewat-zikir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3678401376567024185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/3678401376567024185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/mencari-ketenangan-lewat-zikir.html' title='MENCARI KETENANGAN LEWAT ZIKIR'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-1644796776160024852</id><published>2009-05-04T20:21:00.000-07:00</published><updated>2009-05-04T20:39:51.834-07:00</updated><title type='text'>SELAMAT JALAN KAKAK-KU !</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di tengah riuh rendah pemainan politik yang menghias negeri. Di tengah maraknya koalisi antar partai yang kental dengan proses transaksi. Di tengah hiruk pikuk perbincangan kasus terbunuhnya Nasruddin yang menyeret-nyeret nama Antasari Azhar, ketua KPK, ada peristiwa yang memilukan hatiku. Peristiwa ini ditelan arus isu-isu elite, dan tak ada sedikit pun media yang menangkap peristiwa ini. Kendati tak ada media yang mewartakan peristiwa ini, akan tetapi di hatiku menjadi amat berkesan, dan menggoreskan hikmah yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa apa gerangan? Yang pasti saya bisa merajut pelajaran yang begitu bermakna dari peristiwa ini. Peristiwa meninggalnya kakak, sahabat, dan guru kehidupan saya, Kakak Mujahid Akbar. Beliau sosok yang begitu peduli dengan adik-adik yang berada dalam bimbingannya. Saya mengenal beliau yang kalem tapi tegas, semenjak saya kuliah dan bergabung dengan Unit Kegiatan Kerohanian Islam di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo). Saya bisa merengkuh banyak pelajaran seputar organisasi dan kedisiplinan dari beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku bagai tersengat, tatkala mendengar beliau meninggal dunia. Memang sekitar 1 tahun ini beliau bertarung dengan rasa sakit yang dideritanya. Dokter memvonis ginjalnya rusak, sehingga dia harus cuci darah 2 kali dalam seminggu. Kakak saya, Mujahid Akbar, sejak jadi aktivitas dakwah sudah ikut terlibat dengan aktivisme PKS, di saat organisasi kader dan massa ini masih hanya sebagai embrio di Jatim. Saya pernah diajak terlibat dalam kegiatan-kegiatan PKS, akan tetapi karena sudut pandang yang berbeda, saya memilih tidak ikut terlalu jauh akan kegiatan yang digelar PKS. Setelah lulus kuliah, sekitar tahun 2003, beliau langsung berkecimpung lebih serius di setiap kegiatan yang diselenggarakan PKS. Hidupnya begitu bersemangat dalam menularkan visi misi PKS pada adik-adik kadernya. Bahkan setiap minggu sekali, di tengah kesibukannya, beliau masih menyempatkan diri untuk menyambangi adik-adiknya yang ada di kampus, demi memantau seberapa jauh perkembangan kader-kader yang telah dididiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ia aktif di PKS, beliau pun aktif terlibat di wadah sosial yang didirikan PKS, yakni LMI (Lembaga Management Infaq dan Sedakah). Seluruh waktunya, beliau curahkan untuk membesarkan lembaga yang ditanganinya. Hampir 5 tahun beliau bergelut dengan LMI juga PKS Wilayah Jatim. Tepat awal 2007, beliau mengeluh sakit, dan setelah didiagnosis mengalami kerusakan ginjal. Kendati telah divonis mengalami gegar ginjal, beliau masih selalu optimis untuk menorehkan yang terbaik bagi masa depannya. Di dada beliau masih memancar semangat untuk bisa menegakkan agama Allah lewat kendaraan dakwah yang ditumpanginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sekilas perjuangan sosok muda yang penuh semangat Mujahid Akbar. Selaras dengan namanya, sosok ini memang sarat dengan semangat jihad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 3.30 usai shalat Ashar, hari ahad, 3 Mei 2009, kakak senior saya menyambangi saya ke kos-kosan, mengabarkan tentang meninggalnya sahabat dakwah ini. Ia pun mengajak saya dan langsung meluncur ke rumahnya di poliklinik SEHATI LMI yang bertempat di Bratang Gede. Di rumahnya sepi senyap, hanya ada 2 akhwat dan satu anak kecil yang berdiam di sana. Pikir kami, jenazah beliau sudah disemayamkan di rumahnya, ternyata masih berada di rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun meluncur ke RS Haji, tepat di depan kamar jenazah berkumpul beberapa anak muda, saya yakin dari kalangan PKS, terlihat begitu berduka ditinggal oleh sahabat seperjuangannya. Kami menyalami mereka, dan kami langsung menuju ke ruang jenazah, pelan-pelan saya membuka kain putih yang menutupi seluruh tubuh saudaraku ini. Beliau terlihat penuh semangat, dan senyum nampak tersirat dari wajahnya. Satu per satu sahabat-sahabatnya berdatangan, ikhwan dan akhwat dari PKS berdatangan hilir mudik di tempat tersebut. Kendati mereka bersedih, mereka rela melepaskan sang pejuang yang telah berjasa membesarkan PKS di Jatim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam, kami menunggu jenazah dimandikan oleh modin RS Haji, dan usai maghrib langsung disholatkan. Saat mengungkapkan salam terakhir lewat shalat ini, saya menemukan semangat ukhuwah yang begitu menggugah nurani saya. Terasa ukhuwah begitu kuat, dengan penuh sesaknya masjid RS Haji dengan petakziah yang akan mensholati kakak Mujahid Akbar. Saat disembayangkan itu, tak satu pun keluarga beliau yang datang lantaran panjangnya perjalanan yang ditempuh. Keluarga beliau tinggal di Tarakan, Kalimantan. Di Surabaya beliau hanya tinggal bersama istri dan 1 anak laki-laki.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebuah episode saya merenung. Yah merenungi tentang arti persaudaraan. Atau ukhuwah. Saya membayangkan, andaikan diriku yang meninggalkan tanpa ibu disampingku, dan bahkan tak ada saudara kandung di sekelilingku. Betapa tanpa saudara, mungkin hanya tetangga yang mau merawat jenazahku. Dari situ, saya amat mensyukuri punya saudara-saudara seiman, semoga bisa memperlakukan diri masing-masing seperti saudara yang saling penyayang, dan peduli. Karena sejatinya ukhuwah, adalah ukhuwah yang diikat dengan iman dan satu akidah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berjubelnya petakziah yang memenuhi rumah beliau, saya meyakini beliau adalah orang yang begitu baik pada seluruh saudaranya dalam berdakwah. Insya Allah sekitar 500 petakziah mengantarkan ke tempat persemayaman terakhir beliau. Semoga amal ibadahnya di terima di sisi Allah. Kendati jasadnya telah ditelan bumi, akan tetapi jiwanya tetap terkenang dalam kejernihan hati. Insya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalili Anwar, Penutur dari Jalan Cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9021883828513226417-1644796776160024852?l=versus-versi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://versus-versi.blogspot.com/feeds/1644796776160024852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/selamat-jalan-kakak-ku.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1644796776160024852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9021883828513226417/posts/default/1644796776160024852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://versus-versi.blogspot.com/2009/05/selamat-jalan-kakak-ku.html' title='SELAMAT JALAN KAKAK-KU !'/><author><name>Khalili Anwar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11966860500906001821</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9021883828513226417.post-4861459958151095318</id><published>2009-05-01T18:14:00.000-07:00</published><updated>2009-05-01T18:14:00.792-07:00</updated><title type='text'>MEMELUK KESUNYIAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dewasa ini terasa begitu sulit untuk memeluk kesunyian dan kesenyapan batin. Kesunyian menjadi mahal harganya, semenjak kita disuguhi beragam gebyar kehidupan yang menuhankan popularitas, kemegahan, kemewahan, dan suasana bombastis lainnya. Ada seorang sahabat bilang, “Ah tidak enak, sendirian terus di rumah, seakan hati dirambati kesedihan melulu.” Dia memersepsi bahwa kesenyapan dan kesunyian hanya memproduksi kesedihan dan penderitaan, dan gebyar keramaian akan melahirkan kesenangan (yang menurutnya kebahagiaan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah orang yang masih terkungkung dalam “hegemoni” hawa nafsu, cenderung menganggap kesunyianlah yang menurunkan kesedihan, karena memang nafsu menyukai keramaian. Untuk itu, betapa banyak anak muda melepaskan kesedihan yang mempermak  jiwanya dengan bermain di mall, di taman hiburan, dan sebangsanya. Padahal dalam keramaian sejatinya dia tidak bisa menjumput ketenangan dan kebahagiaan batin, hanya memeroleh kesenangan yang bersifat sementara. Setelah itu, kesedihan akan merambat dengan volume yang lebih besar. Tengok saja, betapa banyak sosok artis yang dikitari kuasa hiburan ternyata hidup dalam kebahagiaan yang semu. Tahu-tahu kita mendengar rumah tangganya retak, anak-anaknya tidak keurus, terjerumus ke dalam narkoba, dan semacamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian membuat orang makin terpukau dengan pelangi yang ada di luar dirinya, sehingga lupa menengok khazanah keindahan yang bersemedi dalam jiwanya. Keramaian dan warna pelangi yang berada diluar akan menyandera orang untuk tidak memeroleh keindahan yang berada dalam batin. Sebagaimana dituturkan oleh sang guru yang mulia “banyak orang berebutan kerang yang berserakan di permukaan lautan, padahal kerang itu tak berisikan mutiara. Dan mutiara yang sejati masih bersembunyi dalam kerang yang berada di dasar lautan.” Mereka menganggap bahwa setiap kerang dihuni oleh mutiara, padahal hanya kerang-kerang terpilih yang berisikan mutiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak memeroleh kebahagiaan lantaran salah menafsirkan atau mendefinisikan kebahagiaan dan kesenangan. Salah menyangka bedanya ketenangan dan kesenangan. Kesalahan itu bermula dari kesalahan mendifinisikan diri sendiri. Kesalahan memaknai diri sendiri, karena kita jarang tersambung dengan sumber kebahagiaan yang tinggal di dalam hati kita sendiri. Kita jarang berwisata ke dalam batin, karena kita melulu mendambakan berwisata ke luar diri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saatnya kita berwisata ke dalam taman hati kita sendiri, ternyata disanalah kebahagiaan itu bertempat tinggal. Berwisata ke dalam batin ini bisa dijalani bila kita berusaha untuk bersahabat dengan kesunyian. Kesunyian jasad, kesunyian pikiran, kesunyian hati, dan kesunyian jiwa.
